Skip to main content

KISAH SEJATI JASON BECKER


One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER


Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Jason Becker memainkan komposisi neo-classical nan indah, yang membuatnya layak disejajarkan dengan guitar hero-guitar hero sebelumnya. Komposisi yang dimaksud itu berjudul Serrena. -It is known as one of the world's greatest guitar works.- puji Mike Varney, pemilik Roadrunners Record, yang dikenal sebagai label terkemuka rekaman-rekaman Speed & Heavy Metal sampai saat ini.

Kalau ditanya : apa keistimewaan Jason Becker ? Saya akan menjawab : dialah gitaris neo-klasik yang bisa maen cepet sekaligus melodius dalam style appregio-nya. Not-notnya per lagu kedengeran begitu jelas, nggak cuma sekilas, sebagaimana teknik appregio rata-rata gitaris neo-klasik, macam Yngwie J Malmsteen, Chris Impelliteri atau sang perintis, Ritchie Blackmore. Cuma, kekurangan dia dibandingkan tiga gitaris yang saya sebutkan itu adalah masalah spirit dan keliaran. Sebagai gitaris rock dia terlalu rapih. Permainannya kurang bisa mengakomodir semangat rock atau metal yang betul-betul murni, sebagaimana seorang Yngwie, Impelliteri atau tentu saja, Ritchie Blackmore. -Kalau lu mau belajar maen speed sekaligus indah, Becker bisa lu jadiin referensi. Tapi kalau lu mau belajar maen bebas, cepat dan garang, jelas lo lebih baik banyak dengerin Blackmore atau Yngwie.-begitu kesimpulannya.

Saya pernah menduga, setelah Jason Becker gabung dengan David Lee Roth (jadi gitaris band-nya mantan vokalis Van Halen itu), karier Jason Becker akan melesat jauh meninggalkan atau minimal menyamai soulmate-nya di Cacophony, Marty Friedman. Jason secara start lebih unggul dari Marty, meskipun Marty kemudian merilis album solo yang dahsyat dan gabung dengan Megadeth. Bandingkan, di usia 20 tahun Jason sudah dipercaya jadi arranger dan gitaris utama di album David Lee Roth. Sedangkan Marty usianya sudah cukup matang waktu bergabung dengan Megadeth (28 tahun).

Toh, akhirnya, Allah berkehendak lain. Ketika album David Lee Roth rampung dan sukses di pasaran, waktu permainan Jason di album itu mengundang decak kagum banyak kritikus musik, Jason malah nggak bisa tampil di tour-nya David Lee Roth, yang bertajuk “A Little 'Aint Enough-World Tour 1991”. Jari-jari Jason tiba-tiba lemah dan bahkan nggak mampu untuk menggenggam sama sekali. Hasil diagnosa dokter kemudian : Jason positif terjangkit penyakit ALS-amyotrophic lateral sclerosis. Tanpa jari-jari yang kuat dan cepat, Jason nggak bisa memainkan materi album yang konon the best diantara solo albumnya David Lee Roth, dan nggak bisa memainkan Serrena atau lagu-lagu komposisi gubahannya seperti biasa. ALS telah merenggut kemampuannya bermain gitar, melemahkan kedua kakinya, dan membuat Jason tak sanggup berkata-kata dengan jelas. Yaah, sangat menyesakkan, memang. Gitaris dengan bakat besar, skill dan usia muda seperti dia harus sedini itu pensiun dari panggung rock.

Dalam penderitaannya, Jason tak sendiri. Gitaris-gitaris pengagum Jason, diantaranya gitaris belia asal Jepang yang dianggap paling nyeples permainannya dengan Jason, Hiroshi Tominaga, atau rekan bermusiknya gitaris Marty Friedman, kemudian menggalang dana untuk pengobatan Jason melalui project tribute album. (Tu project kalau nggak salah sempet melibatkan gitaris cewek asal Indonesia, yang saya lupa siapa namanya. Pernah sih sekali lihat fotonya. Kalau nggak salah, kayaknya masih punya darah cina, karena wajahnya juga sangat oriental).

Mungkin karena bakat dan reputasinya diwaktu sehat, musisi-musisi yang sempet kerjasama sama dia, atau mereka yang kebetulan care dengan semangat bermusiknya, memfasilitasi keinginan Jason Becker untuk bikin karya-karya lagi. Dengan bantuan perangkat komputer dan musisi-musisi lain, sekitar tahun 1995, Jason kembali berusaha membuat komposisi lagu. Proyek yang rada-rada eksperimental digagas, dimana dalam proyek eksperimen itu Jason menulis lagu dan merancang musik dibantu sistem sinyal, yang menangkap isyarat mata Jason dalam menuliskan not sebagai materi lagu. Sambil menekuni proses spiritual untuk memperkuat mentalnya, proyek eksperimen itu ditempuh dan kemudian menghasilkan sebuah album : Perspective (1996). Pasca peluncuran Perspective ini, tahun 1999 dan 2003 nomor-nomor unreleased dan demo-track Jason dikemas dalam dua album : Blackberry Jam dan Raspberry Jam. Sayang, ketiga album yang saya sebutkan itu kayaknya nggak sampe di sini, bahkan juga sulit didapet di negeri tetangga. Seorang teman yang coba mencari album-album itu waktu pergi ke Singapura juga pulang dengan tangan nihil. Wah, tambah penasaran saja saya. Kapan bisa denger materi-materi komposisinya Jason Becker, yang dirilis pasca dia menderita penyakit ALS ?

Tahun 2005 lalu, film true story-nya Jason Becker yang berjudul Mr. Tambourine Man -kok minjem judul lagunya Bob Dylan ya ?- katanya dirilis di Amerika. Dalam film tersebut, Matt Schulze, aktor yang menurut saya nggak mirip sama Jason Becker, memerankan sosok sang gitaris berbakat, yang kemundurannya dari dunia musik rock nggak kalah tragis dari kepergiannya Randy Rhoads, gitaris pertama band Ozzy Osbourne. Buat saya dan temen-temen band, yang dulu sering nginep di loteng rumah dan studio, pengen sekali bisa nonton film itu. Kali ini saya rada optimis, bakal bisa nonton film true story-nya Jason Becker itu. Menjamurnya DVD bajakan dan beberapa counter DVD bajakan yang jual film-film aneh, kemungkinan bakal ngejual film itu, meskipun mungkin nggak banyak-banyak banget stoknya. Dari kisah seorang rocker, gitaris berbakat yang tampaknya masih memendam banyak cita-cita yang belom kesampaian itu, kita mungkin bisa menyelami suatu hikmah. Entah hikmah apa. Setiap orang boleh menafsirkan, bebas mengintrepretasikannya.(eap)

Comments

toni marley said…
oh gitu ya pantes gak pernah kedenger kiprah gitaris ini salut deh sm ab bs kasih informasi yg jrg kayak beginio
Rackistha said…
aku selalu berharap akan ada grup spt cacophony lagi entah darimana munculnya, pokoknya aku pengen suatu saat denger permainan dahsyat seperti cacophony
BUNS said…
jason bukan seorang virtuoso terlalu berlebihan
rock master said…
emang sih dia jago, tapi belum layak disebut virtuosoo karyanya gak terkenal bahkan payah lagunya ya gitu2 aja, kiprahnyapun(sebelum)lumpuh biasa aja, jangan terlalu berlebihan deh..
gitarispembunuhvokal said…
gue dapet Cacophony n Tribut to Jason Becker nya dari taun 2004, n slama ini mpe skarang gue masih mencari album2 lainnya... klo ada yang punya gue mau donk... gue mau yang Perspective n Raspberry Jam... tapi gratisan yaakkk... klo gak gratis gue bunuh2in loe... btw, loe pada bukan vokalis semuanya kan... so, stay cool aja... thnx ya rockabilia
rigo stevenson said…
wah, payah, si buns ama rock master...coba liat digitaldreamdoor, situs polling nomer 1 di amrik sana...

si jason ini ...dari 100 gitaris rock terbaik...dia ada di urutan ke 17, diatas : chuck berry, brian may, steve howe, toni iommi.

untuk gitatis terbaik 80-an, dia masuk urutan 10. nggak terlalu berlebihan lah si edi ramone ini...
angin said…
filmnya lum keluar om, itu baru rencana. en kalo gak salah skenarionya baru setengah jalan. matt itu sohibnya jason, bisa gitar juga.salam

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

SMOKE ON THE WATER : HITS YANG MEMISAHKAN PARA PENCIPTANYA

Nggak ada atau jarang anak rock yang nggak tahu lagu Smoke On The Water. Yang nggak tahu bisa-bisa dikatain sok rocker, kalo sampe nggak tahu atau ngaku belum pernah denger itu lagu, padahal dia sendiri ngakunya rocker. Smoke On The Water bagaikan materi inagurasi. Syarat pentahbisan bagi siapapun yang ngaku musisi atau simpatisan heavy rock. Gitaris rock kudu hafal riff atau chord lagu ini, vokalisnya mesti hafal lirik lagu ini, dan minimal musisi-musisi pendukung band yang lain kudu bisa mengawal beat dan pattern lagu ini diatas panggung atau studio.

Smoke On The Water adalah lagu kelompok musik Deep Purple, salah satu dari triumvirat legenda band rock (Led Zep, Deep Purple, Black Sabbath), yang tidak hanya memegang rekor penjualan rekaman, melainkan juga pemegang rekor gonta-ganti personil. Saking seringnya gonta-ganti personil, sudah lumrah kalau hingga saat ini, sesama penggemar Deep Purple akan bertanya : “Sekarang sudah Mark berapa ya ?”-ketika mereka membicarakan eksistensi g…

ALLAH BLESS GITO ROLLIES

Alkisah, suatu sore, gue pulang sekolah bareng bokap, dijemput pake mazda kotak. Dalam perjalanan, seorang pengendara motor edan, menyalip mobil yang kami tumpangi dari sebelah kiri. Gila, gue yang waktu itu masih es-de, kontan kaget dan berteriak, mengingat mobil bokap nyaris menghantam pantat motor yang berpacu ugal-ugalan itu. Bokap, yang biasanya alim dan pendiam, pertamakalinya menghamburkan nama salah satu hewan, yang lazim diteriakkan disaat-saat manusia dihinggapi marah.

Seredanya bokap dari kemarahan, beliau bergumam, ”Emang Gito Rollies...” Gue mengernyitkan dahi,”Emang kenapa Gito...Pak ?” Singkat kata, bokap gue langsung menceritakan sebuah peristiwa heboh, dimasa-masa bokap muda dulu. Suatu peristiwa yang juga sohor ke seantero kota Bandung, tentang seorang pengendara motor yang ugal-ugalan pulang pergi Bandung-Lembang bertelanjang bulat. Nama pengendara motor itu adalah : Bangun Sugito, yang kemudian populer sebagai : Gito Rollies, salah seorang ikon musik rock dan pelop…