Friday, April 21, 2006

SMOKE ON THE WATER : HITS YANG MEMISAHKAN PARA PENCIPTANYA





Nggak ada atau jarang anak rock yang nggak tahu lagu Smoke On The Water. Yang nggak tahu bisa-bisa dikatain sok rocker, kalo sampe nggak tahu atau ngaku belum pernah denger itu lagu, padahal dia sendiri ngakunya rocker. Smoke On The Water bagaikan materi inagurasi. Syarat pentahbisan bagi siapapun yang ngaku musisi atau simpatisan heavy rock. Gitaris rock kudu hafal riff atau chord lagu ini, vokalisnya mesti hafal lirik lagu ini, dan minimal musisi-musisi pendukung band yang lain kudu bisa mengawal beat dan pattern lagu ini diatas panggung atau studio.

Smoke On The Water adalah lagu kelompok musik Deep Purple, salah satu dari triumvirat legenda band rock (Led Zep, Deep Purple, Black Sabbath), yang tidak hanya memegang rekor penjualan rekaman, melainkan juga pemegang rekor gonta-ganti personil. Saking seringnya gonta-ganti personil, sudah lumrah kalau hingga saat ini, sesama penggemar Deep Purple akan bertanya : “Sekarang sudah Mark berapa ya ?”-ketika mereka membicarakan eksistensi grup tersebut. Sebagai informasi, Deep Purple dengan personilnya saat ini : Ian Gillan (vokal), Roger Glover (bas), Ian Paice (drum), Steve Morse (gitar), dan Don Airey (kibor), memasuki Mark ke 10.

Balik lagi ke Smoke On The Water, lagu tersebut ada di album Deep Purple yang bertajuk Machine Head. Konon, kata banyak kritikus musik dan penggemarnya, di album inilah Deep Purple main dengan line-up terbaiknya. Deep Purple Mark 1 ? Nggak, Deep Purple Mark 2a, dimana Ian Gillan berada di posisi vokalis, Jon Lord pada keyboard, Ian Paice pada drum, Roger Glover pada bass dan Ritchie Blackmore bermain di posisi gitaris. Selama tahun 1972, Deep Purple merilis Machine Head dan Made In Japan, sekaligus merekam album terakhir "Mark 2a", Who Do You Think You Are yang dirilis tahun 1973. Sesi rekaman Machine Head direncanakan berlangsung 4 Desember 1971 di kasino, Montreaux Casino, di Grand Hotel, Montreaux, Swiss.

Ilham lagu legendaris ini datang dari peristiwa dramatik, yang terjadi pas mereka bersiap menunggu giliran rekaman album live di Grand Hotel itu. Waktu itu, personel Deep Purple menunggu giliran untuk merekam album secara live concert, karena panggung sedang diisi pertunjukan Frank Zappa. Lagi asyik-asyiknya menunggu, lagi panas-panasnya penonton menyaksikan aksi Zappa, tahu-tahu sebuah pistol milik penonton meletup, mengarah ke atap kasino yang kebetulan atapnya terbuat dari bambu. Api ketemu bambu, hasilnya kebakaran yang cepat sekali meluas, cepat membesar, sampai-sampai membentuk lidah api raksasa yang kepulan asapnya menyambar sampai danau Geneva. Adegan itu kemudian direkam Gillan, vokalis Purple, yang langsung menulis lirik lagu tersebut di atas kertas tissue.

We all came out to montreux
On the lake geneva shoreline
To make records with a mobile
We didn’t have much time
Frank zappa and the mothers
Were at the best place around
But some stupid with a flare gun
Burned the place to the ground
Smoke on the water, fire in the sky

They burned down the gambling house
It died with an awful sound
Funky claude was running in and out
Pulling kids out the ground
When it all was over
We had to find another place
But swiss time was running out
It seemed that we would lose the race
Smoke on the water, fire in the sky

We ended up at the grand hotel
It was empty cold and bare
But with the rolling truck stones thing just outside
Making our music there
With a few red lights and a few old beds
We make a place to sweat
No matter what we get out of this
I know we’ll never forget
Smoke on the water, fire in the sky

Tiga hari kemudian, lirik yang belum dikasih judul itu diberi judul : “Smoke On The Water”, oleh sang bassist, Roger Glover.

Dengan judul, lirik dan riff gitar yang jantan, Smoke berhasil membuat kelompok musik asal Inggris itu tajir. "Kami mendapat jutaan dollar poundsterling hanya dari lagu itu setiap tahunnya.”kata John Lord, sang keyboardist yang sebelumnya mengusulkan lirik yang ditulis Gillan itu dijuduli “Durh, Durh, Durh.” (Brengsek kali si Jon Lord ini. Jelek banget ngasih judulnya).

Makin tajir, makin bahagiakah kelompok yang namanya diambil dari judul lagu hits tahun 1920-an kegemaran nenek gitarisnya (Ritchie Blackmore) ini ? Ternyata nggak. Justru gara-gara Smoke On The Water-lah, persahabatan kelima personilnya pecah. Roger Glover mengatakan, “Gara-gara jatah rejeki royalti Smoke-lah, hubungan antar personil menegang.” Masing-masing mempertanyakan jatah rejeki kawan-kawannya, sama-sama mempertanyakan : “Kenapa bagian saya mesti sama dengan bagian dia ?” ; “Kenapa bagian dia lebih besar sedangkan kerja saya lebih keras dari dia ?”

“Semua merasa punya andil untuk lagu tersebut. Dan memandang apa yang disumbangkan orang lain nggak ada artinya.”kata Glover lagi.

Semenjak ribut-ribut soal jatah rejeki itu, yang paling kentara, mengemuka ke depan publik adalah : perseteruan Ritchie Blackmore dan Ian Gillan. Dalam sebuah artikel di koran Kompas, sebelum Deep Purple Mark 10 tampil di Indonesia, saya sempet membaca kelanjutan dari perseteruan itu. Tanggal 9 Desember 1972, Gillan mengirimkan surat pengunduran diri dalam bentuk telegram ke manajemen Purple yang isinya menyebutkan Deep Purple sudah menjadi "mesin membosankan yang sudah tidak lagi inovatif". Tapi, Gillan tetap mau menjalankan kewajibannya untuk menyelesaikan tur yang sudah keburu dirancang sampai akhir tahun 1973.

Kisah Deep Purple “Mark 2a” tamat pas mereka manggung di Koseinenkin Hall, Osaka, Jepang, tanggal 29 Juni 1973. Gillan tiba-tiba memasang pagar berduri di sekitarnya, membuat Ian Paice sang drummer kesal, sampai-sampai snare cadangannya ditendang ke ujung panggung. Paice, Lord dan Blackmore, meninggalkan panggung. Gillan dan Glover yang sempat bengong akhirnya ikut cabut dari panggung. Suasana panas. Penonton nyaris ngamuk, tapi kemudian baru menyadari : Deep Purple Mark 2a sudah tamat. Salah satu pasal yang membuat mereka pecah adalah lagu rock yang melegenda sampai saat ini, lagu keramat mereka sendiri : Smoke On The Water.(eap)

3 comments:

JOHN MOMMIS said...

gileee ente. orang lain ngomongin hari kartini, elu malah bahas Purple-an. Rocker buluk lu !

IRGI "Daziel" Hammet said...

hari kartini baiknya jgn ngebahas purple. lbh asyik nulis ttg renny jayusman, nicki astria atawa nike ardilla. purple-an mah pas ulang tahun Blackmore 18 April kuduna...

leman said...

cool guys ! salut banget. anda fans purple juga ya ? good work bro ceritanya