Skip to main content

ANGUS YOUNG YANG BENCI SEKOLAH



I just go where the guitar takes me.
-ANGUS YOUNG

Angus Young dulunya seorang anak biasa yang sangat membenci sekolahan, dan mulai belajar gitar pas usianya baru 5 tahun. George Young, kakak tertuanya mengecap sukses dan popularitas bersama sebuah band Aussie, The Easybeats. Kakaknya yang lain, Malcolm Young, menyiapkan sebuah “stage” untuk meraih cita-citanya menjadi Rock N Roll Star. Btw, dia bicara kepada adiknya, Angus, agar mulai serius belajar gitar dan bergabung dengan kelompoknya.

Spontan, dengan cepat, Angus menggandrungi gaya hidup Rock N Roll. Salah satu indikatornya : ia males buat balik ke sekolah, waktu hatinya bulat memutuskan untuk menjajagi karier sebagai gitaris rock. Dengan advis dari saudara perempuannya, Angus naik panggung pakai seragam sekolah, dan nggak lama setelah itu dia dikenal sebagai : “...the guy in the schoolboy uniform.”

Era awal AC/DC (1973) adalah era awal kejayaan Glam Rock. Buat nyesuain penampilan dengan mode pakaian Glam Rocker yang penuh aksesoris, berpotongan aneh dan warna-warnanya terang, Angus coba untuk tampil ke atas panggung pake kostum Zorro, Superman, dan Gorilla, sebelum dia pake schoolboy uniform.

Popularitas Angus dengan seragam sekolah anak laki-laki itu membuat anggota band yang lainnya memilih kembali ke model awal, kembali ke normal clothing. Schoolboy uniform itu kemudian menjadi trademark AC/DC. Biar matching, Angus yang sebenernya lahir tahun 1955, diperkenalkan sebagai laki-laki asal Glasgow, Scotland, kelahiran tahun 1959.

Band Angus Young yang sedari awal pendiriannya dinamai AC/DC, kayak lazimnya band-band rock terkenal lainnya, memperkenalkan kelompok mereka dari atas panggung klub lokal ataupun panggung-panggung festival. Popularitas mereka melesat cepat, lewat kegarangan mereka di atas pentas sebagai kugiran Black Sabbath dan Led Zeppelin. Angus cepet sekali beradaptasi dengan panggung. Di masa belianya, dia dikenal sebagai gitaris enerjik yang sanggup maen di empat stage dalam satu malam !

Selain terkenal dengan imej schoolboy-nya, Angus Young dikenal juga dengan stage act-nya yang dahsyat. Angus suka banget loncat-loncat sambil memainkan riff lagu-lagu sangarnya AC/DC macam : Heatseeker atau Thunderstruck, persis seperti loncat di atas trampolin. Dia juga sanggup berlari kencang dari sayap kiri panggung ke sayap kanan panggung, atau sebaliknya, sambil memainkan melodi super cepat di pertengahan lagu. Aksi ini kerap dipertunjukkannya waktu mendiang Bon Scott masih memperkuat line-up AC/DC sebagai lead vocal. Dua sahabat ini kerap melakukan ritual khusus di lagu Rockers (album T.N.T keluaran tahun 1975). Scott kerap memanggul tubuh ceking Angus di atas pundaknya,ketika lagu Rockers sampai di bagian solo guitar.

Tahun-tahun belakangan, Angus Young dikenal dengan gaya Duck Walk-nya, yang terinspirasi dari gaya gitaris idolanya Chuck Berry. Di video klip lagu Who Made Who, Angus Young memadukan gaya duck walk dengan gaya memukul, menendang dan menjatuhkan diri di lantai stage, sambil tangan tak lepas sedikitpun dari memainkan melodi pada fret. Pokokonya, mirip banget dengan orang kesurupan.

Stage act-nya yang sangar, nggak membuat permainan Angus menurun mutunya. Teknik genjrengannya yang rock n roll abis itu banyak mempengaruhi gitaris-gitaris muda akhir 80-an dan awal millenium baru, seperti : Slash (GNR), Steve Clark & Phil Collen (Def Leppard), Nic Cester & Cameron Muncey (Jet), sampai gitaris new commers : Davey Lane dari band rock alternative Australia, You Am I.

Secara pribadi, untuk soal teknik permainan, Angus Young banyak dipengaruhi oleh : Chuck Berry dan Muddy Waters. Hanya saja, dengan Gibson SGs dan JTM45 (Marshall Amplifier)-nya, minor pentatonic blues scale yang lazim dimainkan oleh dua gitaris legendaris itu dibuat lebih cepat, lebih kasar, lebih full power, demi mendukung stage act-nya yang liar dan membara !(eap)

Comments

ivan_young said…
angus young adlh gitaris gila, sm gilanya ama nyang buat blog ini !
Mat said…
rockbilia..
saya minta gambar angus yang cartoon ya...
bwt fs..
gw suka angus sih...T O P pkknya..
sama sperti gw suka ma EET EDANE Syahrani..
Anonymous said…
apa yang saya cari, terima kasih

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

SMOKE ON THE WATER : HITS YANG MEMISAHKAN PARA PENCIPTANYA

Nggak ada atau jarang anak rock yang nggak tahu lagu Smoke On The Water. Yang nggak tahu bisa-bisa dikatain sok rocker, kalo sampe nggak tahu atau ngaku belum pernah denger itu lagu, padahal dia sendiri ngakunya rocker. Smoke On The Water bagaikan materi inagurasi. Syarat pentahbisan bagi siapapun yang ngaku musisi atau simpatisan heavy rock. Gitaris rock kudu hafal riff atau chord lagu ini, vokalisnya mesti hafal lirik lagu ini, dan minimal musisi-musisi pendukung band yang lain kudu bisa mengawal beat dan pattern lagu ini diatas panggung atau studio.

Smoke On The Water adalah lagu kelompok musik Deep Purple, salah satu dari triumvirat legenda band rock (Led Zep, Deep Purple, Black Sabbath), yang tidak hanya memegang rekor penjualan rekaman, melainkan juga pemegang rekor gonta-ganti personil. Saking seringnya gonta-ganti personil, sudah lumrah kalau hingga saat ini, sesama penggemar Deep Purple akan bertanya : “Sekarang sudah Mark berapa ya ?”-ketika mereka membicarakan eksistensi g…

Ritchie Blackmore : Gitaris Terkeras Pada Masanya

Dalam kumpulan cerita pendek penulis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma, yang diberi judul “Kematian Donny Osmond”, ada sebuah cerita pendek yang diberi judul unik : “Ritchie Blackmore”. Cerita pendek itu menceritakan kiprah seorang pengamen jalanan, penggemar fanatik Ritchie Blackmore, gitaris pertama Deep Purple dan pendiri grup hard rock legendaris, Rainbow. Sang pengamen yang tak jelas namanya itu mencari nafkah dari memainkan karya-karya Ritchie Blackmore, semasa salah seorang gitaris terkeras dan penulis komposisi rock legendaris ini bergabung dengan supergroup yang disebut sebelumnya. Berbeda dengan para koleganya di jalanan, yang rata-rata memainkan musik dangdut atau lirik protes penyanyi balada Indonesia,Iwan Fals, sang pengamen meneriakkan “Child In Time”, “Smoke On The Water”, “Stormbringer”, “Man On The Silver Mountain”, “Long Live Rock N Roll” dan karya-karya Blackmore lainnya, di pasar-pasar atau tempat-tempat dimana ia biasa mencari nafkah.

Dari kota ke kota, sang pen…