Skip to main content

PLAYING PROG FOR A 1ST TIME

Sebuah sesi tahun 1994 di sebuah studio band, pinggiran kota Bandung.Sore jam setengah empat kalau nggak salah. Saya, yogi, jojo dan bule janjian briefing di PM studio, tempat musisi Cimahi biasa latihan, sekedar nangkring atau tuker-tukeran info parade band dan bagi-bagi job.

Setengah jam lagi nunggu Van Zhelis Band kelar latihan. Sayup-sayup, band metal asal Cimahi kugiran Metallica itu sedang ngebawain “Battery.” Pedal drum kentara banget kedengarannya di luar. Ngalahin suara alat instrumen lain. Wuih, cepet dan berisik banget itu lagu. Geblek lah pokoknya !

Sekalian nunggu Van Zhelis beres, kita berempat ngeluarin catetan lagu-lagu yang bakal dilatih sore itu. Sore itu saya semangat banget, soalnya untuk pertama kali kita bakal maenin “Teacher”-lagunya Jethro Tull. Lagu ini diusulin sama Jojo, setelah dia jalan-jalan ke Cihapit dan nggak sengaja ngeliat sampul “Benefit”, album kedua Jethro Tull.

Album yang sempet masuk posisi 11 di US Chart dan posisi 3 di UK Chart itu, dijual cuma lima ribu perak sama bapak tua penunggu kios. Meskipun cambang dan rambut putihnya udah mirip Ian Anderson -vokalis dan peniup Flute serta pendiri Jethro Tull- masa kini, kayaknya dia nggak kenal sama band asal Blackpool, Inggris ini. Hi hi...sama aja, waktu itu Jojo dan kita temen-temennya-pun nggak kenal siapa Jethro Tull.

Jojo beli kaset itu karena si bapak nyebut kaset itu rekaman grup metal, “Sae aden”(bagus adik)-kata si bapak sambil promosi. Karena nggak ada tape nganggur dan kasetnya murah, Jojo langsung setuju aja untuk beli itu kaset tanpa dicoba. Pulang dari situ, Jojo mampir ke rumah saya dan coba muter kaset rekaman tahun 1970-an, yang entah sudah melalui berapa tangan untuk sampai ke mini compo saya. Tanpa rewind, pas pencet tombol play langsung meluncurlah lagu terakhir dalam kaset tersebut :...Well the dawn was coming/ heard him ringing on my bell/ he said, my names the teacher,...dst.

“Ngeunaheun lagu teh, antik euy”-enak lagunya, antik lagi- spontan komentar saya. Sampe beres dengerin itu lagu, kami sepakat untuk mengusulkan “Teacher” sebagai lagu baru dalam line-up lagu ulikan dan lagu latihan.

Yogi, bassist band kami dan Bule, sang gitaris punya pandangan berbeda soal lagu “Teacher”. Yogi nganggap lagu itu lain banget permainan bass-nya ama lagu-lagu yang selama ini dia pelajari, jadi bersemangat banget untuk ngulik itu lagu.

Bule, kesan pertama setelah ngedenger lagu itu : dia cuma tersenyum tipis. Kita-kita udah mafhum, bahwa Bule nggak begitu semangat ngulik itu lagu, mengingat “Teacher” itu jauh banget dari tipe-tipe lagu yang selama ini dia gemari. “Teacher” bukanlah “Smoke On The Water”, “Whole Lotta Love” atau “Rising Force”-nya Yngwie J Malmsteen.

Ngeliat ekspresi Bule tersebut, kami bertiga memilih nggak ngungkit lagi soal “Teacher”, dua minggu sebelum kita kumpul di PM studio. Saya bahkan langsung mengusulkan lagu baru pengganti “Teacher”, yaitu : “Demon Disease”-nya Loudness dan “Sodom Gomora”-nya God Bless. Yaaah, biar kita satu frame lagi lah : enjoy maenin musik Metal yang memang nge-trend saat itu.

Tapi sikap Bule yang apriori ternyata cuma bertahan satu hari. Lusa, dia bawa kaset kosong ke loteng saya, buat ngerekam “Teacher”. Dia penasaran sama sound minimalis Jethro Tull di lagu itu, yang memang belum kaya sound, sebagaimana jaman kami bermusik di mana fabrikan begitu intens memproduksi Guitar Effect. Sikap apriorinya berubah, dan dia meminta saya untuk mulai nyari lirik lagu itu, sementara Jojo dan Yogi dimintanya untuk nyari chord dasar lagu itu. Tiga hari kemudian kami ketemuan dan sepakat untuk maenin “Teacher” secara akustikal, dengan range chord sekitar : / A - G D / dan / A – G A C / pada awal, / D - F D C / -pada bridge, dan / D - F - B7 /-pada reff. Itu juga kalo nggak salah. He he he....gagayaan wungkul ieu mah...

***

Seberesnya Van Zhelis menuntaskan latihan brisiknya sore itu, saya, Jojo, Yogi dan Bule pun masuk dan memulai rehearsal ringan di studio. Yogi dengan bass fender-nya, Jojo masang remo snare-nya, dan Bule ngeluarin sepucuk fender telecaster ber-color basic hijau tua, senjata yang belum pernah kami liat sebelumnya.

“Brattt ! Anyar, Le.”spontan Jojo berkomentar.

“Lain. Nginjem ti si Oom.”jawab Bule pendek, sambil menyebutkan bahwa si Oom, Oom Rudolf, “penasihat spiritual” band kami-lah yang meminjamkan gitar itu, ketika Bule bilang lagi ngulik “Teacher” waktu 'ziarah' ke rumah si Oom. Waah, bakal dahsyat nih latihan sore, pikir saya- ngeliat anggota band yang lain seperti ikut ketularan spirit Bule yang entah akan memberi kejutan apa sore itu, dengan Fender Telecaster yang konon pernah keliling Indonesia bareng pemilik pertamanya : Albert Warnerin, gitaris super group Indonesia, Giant Step.

Sore itu, selain ngompakin lagu “Soldier of Fortune”-nya Loudness, “Tinggal Landas”-nya El Pamas, “Mat Rock”-nya Search, “Number of The Beast”-nya Iron Maiden dan “Slip of The Tongue”-nya Whitesnake, kami berempat berjamaah menikmati hidangan baru sebagai variasi bermusik selama setahun kami bersama. Di lagu “Teacher” yang tiga kali kami mainkan sore itu, ada semangat dan pengembaraan baru yang selama kami bersama, belum pernah kami temui.

Dengan membawakan “Teacher”, saya nggak perlu lagi ngejajal nada-nada tinggi, dan dapet pelajaran pertama, tantangan pertama, untuk bisa menyanyikan sebuah lagu rock dengan suara empuk dan merdu. Sesuatu yang nggak pernah kepikiran sebelum saya kenal lagu “Teacher”. Yaaah, sebelum itu saya berpikir bahwa lagu rock letaknya di power dan oktaf. Padahal nyelam di nada-nada sedang macam Ian Anderson dan Peter Gabriel tuh ternyata nggak kalah mengasyikkannya buat vokalis rock.

Pasca sesi dua jam yang cukup hot sore hari itu, Kang Yoga, pemilik studio yang kebetulan jadi operator saat itu mengacungkan dua jempol dari ruang kontrol. Ternyata diem-diem dia merekam sesi lagu “Teacher” paling akhir, dari tiga kali kami membawakannya secara spartan sore itu. Mantan gitaris sejumlah grup rock lokal kota Bandung itu mengaku salut, karena kami berani belajar dengan memilih sebuah materi yang nggak populer di tahun 1990-an. “Progressive yeuh...”godanya kepada kami, sambil menyerahkan kaset 15 menit buat kami.

Sesi sore itu cukup berarti buat saya yang kini cukup banyak mengoleksi rekaman band-band prog-rock. Tiga kawan saya yang lain pun sampai saat ini cukup apresiatif dan masih sering berburu rekaman-rekaman prog-rock. Bule, yang kini bekerja sebagai bankir malah masih punya obsesi nyatuin kami bertiga, untuk bermain satu ruang sambil mengupas satu per satu peninggalan band-band prog-rock tempo dulu. Padahal, waktu kita nyodorin “Teacher” sebagai materi untuk latihan, si Bule ini yang pertama kali memasang tampang cemberut. Hmm, maklum. Belum pernah ngerasain lezatnya semangkuk prog-rock lengkap sama sauce-nya sih.(eap)

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

DRAMA TRAGIS KEMATIAN DIMEBAG DARRELL

Musicians tend to get bored playing the same thing over and over, so I think it's natural to experiment.
-Dimebag Darrell, gitaris kelompok Trash Metal legendaris Panthera

Selesai botakan waktu SMA, kawan-kawan menyebut saya mirip dengan Philip Anselmo, sang vokalis Pantera. Kendati nge-fans sama lagu-lagu dari album Cowboy From Hell dan Vulgar Display Of Power, sesungguhnya saya nggak nge-fans sama tongkrongannya beliau. Serem dan angker. Mirip seorang tetangga saya yang oknum berseragam, yang galak dan egois sama tetangga kanan-kiri (suka parkir mobil sembarangan dan bikin mobil bokap susah masuk garasi rumah sendiri- red). Tiap lihat Philip Anselmo jadi inget juga sama beliau. Oknum edan yang lupa, bahwa bikin susah tetangga itu sama dengan penyelewengan sumpahnya sebagai pengayom.

Untunglah wajah personil Pantera nggak semuanya mirip Anselmo. Sehingga yang lainnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kebencian saya. Malahan, ada kakak beradik Abbott- Darrell “Dimebag” Lance &…