Friday, February 16, 2007

Savannah Rock Band

Ada empat fase yang bisa digunakan untuk menandai kegiatan bermusik saya. Fase pertama, saat-saat SMP, adalah masa-masanya saya memainkan lagu-lagu tahun 70-an, baik dari band dalam maupun luar negeri. Fase kedua, waktu pake celana abu-abu, adalah masa-masa penuh gejolak ketika saya melengkingkan Gun's N Roses, Metallica, Helloween, Bon Jovi dan sejenisnya. Fase ketiga, saat-saat kuliah, adalah masa-masa ketika saya tergila-gila pada band-band atau artis-artis nyeni dari ranah rock alternative, semisal : The Doors, Stone Roses, The Verve, The Cure, Soundgarden, Pearl Jam, Screaming Trees, Mudhoney, Blind Melon dan Smashing Pumpkins. Setelah melalui tiga fase sebelumnya, sampailah saya pada fase keempat, pasca kuliah sampe sekarang, sebagai : apresiator belaka.

Pada fase pertama, dari mulai kelas 1 sampe kelas 3 SMP, tercatat udah tiga kali bikin band. Band pertama namanya : “Savannah”, band kedua : “Dalton” dan band ketiga punya nama : “Rock Kramer.”

Savannah, band pertama saya diambil dari nama sebuah tempat dalam komik McCoy terbitan Indira. Anggotanya : 1-Lukman, sang gitaris, anak Ciumbuleuit yang saat itu banyak hafal kord Beatles dan Stones. 2-Yogi, sang drummer, anak stasion hall penggemar berat Stewart Coppeland (The Police) dan Ringo Starr (The Beatles). 3-Benny, sang bassist, anak Andir yang selalu dikejar-kejar guru BP, sebab nggak mau motong rambutnya yang model John Taylor (Duran-duran). 4-Saya sendiri, anak Cibeureum yang udah hafal lagu-lagu Stones dan Beatles sejak kelas empat SD, memilih posisi Lead Vocal.

Dilihat dari kematangan dan penguasaan pada masing-masing instrumen yang dipegang, Yogi adalah personil paling matang. Maklum, semenjak duduk di kelas 4 SD dia sudah belajar main drum, dan sang ayah konon pernah jadi drummer grup Drakhma (Dodo Zakaria Cs).

Menyusul setelah Yogi adalah Benny. Temen yang satu ini, yang sempet ketemu kelak saat saya duduk di bangku kuliah, selain jago gitar dan punya cita-cita tinggi menjadi bassist ternama, juga sangat bandel dan doyan berkelahi. Sehari-hari waktunya habis buat nyari chord lagu, maen band ama anak-anak luar sekolah kami, sehingga peringkat kelasnya selalu anjlok. Benny juga punya kakak yang jago maen gitar. Dari sang kakak yang sempet keluar masuk grup-grup lokal Bandung yang udah punya nama (Rudal, Kalimaya, Essex Family) inilah, Benny menyerap semua ilmu mencabik bass.

Lukman dan saya relatif punya kemampuan rata-rata. Sebab kami kebetulan satu bangku, dengan Lukman inilah saya lebih banyak diskusi soal materi lagu. Paket latihan pertama kami didominasi lagu-lagu Koes Plus, Rolling Stones dan The Beatles. Lagu Koes Plus-nya : Bis Sekolah, Dara Manisku dan Nusantara (lupa lagi Nusantara I, II atau berapanya...). Lagu Stones-nya : Honky Tonk Woman, Brown Sugar dan Ruby Tuesday. Dan lagu Beatles-nya : I Saw Here Standing There, Get Back, Yesterday dan Paperback Writer.

Photobucket - Video and Image Hosting

Imam, kakak kelas kamilah yang banyak membantu dalam menyusun materi latihan pertama. Imam adalah gitaris dan drummer jebolan Komunitas Ranggamalela, yaitu sekumpulan penggemar classic rock yang punya base camp di JL.Ranggamalela, seberang toko kaset Aquarius. Penggemar berat Brian Jones itu sengaja memboyong majalah-majalah lama milik sang ayah, yang memuat chord lagu-lagu yang kami pilih diatas. Kelak, Imam juga yang memperkenalkan studio-studio latihan sekitar stasiun Bandung dan memboyong kami untuk tampil di parade-parade band dan pentas Agustusan, seolah-olah dia adalah manajer grup kami. Imam melakukan segalanya tanpa pamrih. Sampe-sampe, dia pinjemin Lukman efek, dia pinjemin Yogi satu set stick drum, dan yang bikin kami terharu, tiap-tiap tampil di parade Band, Imam juga yang sibuk nyari pinjeman alat. Sungguh seorang rocker yang baik hati (Well, pal...I really miss u know).

Latihan pertama kami berlangsung di studio Roxy, Gardujati-Bandung, selepas sekolah hari Sabtu. Roxy terletak pas di belakang SMP Swasta, yang sering banget berkelahi sama SMP kami. Kami pilih untuk latihan di tempat itu karena referensi Imam dan jaminan keamanan dari Nino, anak stasiun Bandung teman sekelas Imam.

Dengan dikawal Nino dan tiga anak buahnya (kayak band apaan aja !), kami ber-jamming di Roxy Sound, membawakan nomor-nomor hit klasik dari Koes Plus, Stones dan Beatles. Ditatap mata pemilik studio, anak buah Nino yang menggenggam plastik berisi Martini, Nino, Imam dan kawan-kawan, untuk pertama-kalinya kami mencapai 'orgasme' pertama. Setelah berminggu-minggu ngulik dan briefing di aula sekolah, akhirnya kesampaian juga ngerasain maen satu grup secara utuh. Gagah betul rasanya, nyanyi diiringi bass, gitar elektrik dan diiringi tambur Inggris ber-merk Ludwig, yang menurut sang pemilik studio diwarisi dari Iwan Krisnawan, drummer grup Rollies angkatan 'babe gue', yang tewas tersengat morfin.

Photobucket - Video and Image Hosting

Habis kelar latihan, pemilik Roxy Studio mendekati kami dan mengatakan bahwa kami berempat punya bakat bermusik yang besar. Yang paling dia puji adalah Yogi, yang paling banyak dikritik adalah saya. Yogi, menurut beliau punya bakat nge-drum yang besar. Pukulan-pukulan dan permainan pedalnya dipuji abis sama pemilik studio. Maennya nggak ada cacat, buat ukuran drummer usia kelas 1 SMP. Yogi disanjung abis, pokoknya. Suatu saat kelak dia memang jadi drummer yang sangat disegani, dan sempet dapet julukan “Lars Ulrich”-nya band-band SMA se-Bandung Raya.

Adapun saya, lebih banyak mendapat kritikan ketimbang pujian dari bapak pemilik studio. Menurut beliau, nyanyi rock itu bukan sekedar kudu menjangkau nada-nada tinggi. Selain power, saya mesti belajar banyak untuk bisa nyanyi merdu dan nggak lempeng. Tapi, menurut beliau, kekurangan saya itu bisa diatasi dengan banyak latihan dan jam terbang manggung. Apalagi, saya punya modal power dan tampang untuk kelak menjadi rocker tulen, seorang frontman grup musik rock. So, kata sang pemilik studio, banyak olahraga dan banyakin latihan nyanyi, kalau perlu kursus sama senior yang lebih ahli.

Selama dalam perjalanan pulang, nasehat itu terus saja terngiang-ngiang. Pas di rumah, sambil memandangi poster John Lennon dengan kacamata minusnya, yang nempel anteng di sebelah karton jadwal pelajaran, saya merenungkan lagi nasehat pemilik studio. Sampai kemudian lamunan saya buyar, ketika almarhumah nenek menegur: “Di, rek bareng moal shalat Isya-na ?”-(Mau bareng nggak shalat Isya'-nya ?) (bersambung)

No comments: