Skip to main content

KEMBALINYA SLASH KE KANCAH MUSIK DUNIA

Taun 2002, Randy Castillo, drummer yang disegani banget ama mbah2 rock jatoh sakit. Musisi2 rock jaman gue SMA pada ngumpul untuk bikin konser buat collecting dana pemulihannya. Eh, gak nyangka gue, tu konser yang meriah banget, kalo gak salah ada Ozzy Osbourne segala, ternyata malah ngelahirin ikon baru musik hard-rock, yang sesungguhnya rada kurang populer taun-taun segitu. Ya, pas kumpul buat ngumpulin dana utk Randy itulah, pahlawan-pahlawan gue jaman dulu : Slash (gitaris eks- Guns N Roses), Duff McKagan (bassist Guns N Roses), Matt Sorum (drummer Guns juga), tampil dengan band baru-nya : Velvet Revolver (VR). Band ini, dengan sound yang lebih modern, tetep tampil dalam warna hard rock mainstream, yang kemudian hari bikin mereka ngegaet grammy award lewat albumnya “Contraband”.



Izzy Stradlin, ritem gitarnya Guns juga sempet lho diundang ama ketiga sohibnya ini. Cuman, lantaran gaya hidupnya yang udah gak cocok ama gaya hidup rocker-rocker mapan, yaitu demen keliling atau tidur di jalanan, doi akhirnya gak dilibatkan lebih jauh ama VR. Apalagi, Izzy konon maunya jadi vokalis utama. Ya, jadilah Dave Kushner, temen sekolah Slash dan mantan bassist grup trash metal Suicidal Tendencies, gabung ama VR buat ngisi posisi yang tadinya ditawarin ke Izzy. Nah, saat masih ber-kuartet ria dan pake vokalis additional itu mereka menamakan dirinya : The Project.

Lewat program TV, VH1, kuartet ini ngiklanin diri bahwa mereka lagi nyari vokalis. Slogan iklan ngundang audisi itu : The Rise of Velvet Revolver. Beberapa vokalis tangguh, Todd Kerns (formerly of Age of Electric), Josh Todd (of Buckcherry), Michael Matijevic (of Steelheart), Sebastian Bach (formerly of Skid Row), Kelly Shaefer (of Atheist/Neurotica), Myles Kennedy (of Alter Bridge), diundang dan gak taunya gak sukses. Abis itu, mantan Faith No More, Mike Patton, juga dideketin ama The Project, tapi akhirnya atas beberapa pertimbangan gak bisa masuk line-up. Kata Slash, vokalis-vokalis yang ikut audisi, terutama Sebastian Bach-nya Skid Row, bisa bikin VR nantinya identik ama grup asal mereka. “Wah… kita kok jadi kedengeran kayak Skid ya..”kata Slash abis ngedenger konten audisi jam session mereka yang direkam bareng Bach.

Baru seabis ketemu Scott Weiland-lah (eks-Stone Temple Pilots), kuartet ini sepakat untuk ngerekrutnya jadi vokalis. Kayaknya sih, keputusan ini diambil mengingat Scott dulunya tuh eks band grunge yang sama sekali lain, ama gaya atau corak band-band awal perintis VR. Scott Weiland, vokalis karismatik era grunge dan alternative rock, melebur dalam hard rock mainstream a la VR, tentu aja, ini merupakan ramuan yang betul-betul sedikit lebih kreatif dibanding jika memasang vokalis-vokalis peserta audisi lainnya.

Era Contraband

VR ngerekam singel pertamanya “Set Me Free” buat soundtrack film Hulk, taun 2003. Abis itu VR ngedaur ulang lagu “Money”-nya Pink Floyd, buat dipake soundtrack film The Italian Job. First Gig mereka adalah di kafe El Rey Los Angeles pada Juni 2003. Mereka ngerekam album pertamanya, Contraband (I love it !!!), bersamaan waktunya ama proses rehabilitasi Scott, yang kecanduan obat-obat terlarang. Marketing campaign untuk VR salah satunya ditayangkan dalam televisi program PBS, The Way the Music Died, yang diisi ama interview bareng anggota band en produser VR.



Contraband, album pertama VR kelar bulan juni 2004. Debut ini secara fantastis langsung masuk urutan pertama Billboard chart, dan kejual sampe 256.000 copy pas minggu pertama rilis. Sukses ini ngingetin gue ama sukses album pertama Gong 2000 di Indonesia, peringatan comeback-nya Ian Antono setelah lama bertapa pasca keluarnya dari God Bless (1995). Sukses secara album, lagu kojo VR, Slither, mencatat sukes dengan memuncaki anak tangga lagu di berbagai chart Eropa, Aussie dan Amerika, juga dikenal luas berkat video klip-nya yang meramu kekelaman rock dan mengingatkan fans pada performa Slash di klip-klip Guns, yang full character macem di klip “You Could Be Mine”, “Don’t Cry”, “Estranged” atau “November Rain”.

Semenjak itu, VR ngerilis 5 singel berikut video klip lagi : Fall to Pieces (balada), The Last Fight (balada), She Builds Quick Machine (hard-rock), Dirty Little Thing (hard-rock), dan Come On, Come In (hard-rock). "Fall to Pieces" tuh gak cuma sukses di stasiun radio rock doang. Station-station yang muter lagu-lagu top 40-an yang akrab ama kuping ABG juga ikut nge-udarain ini lagu. Gara-gara ngeliat sukses yang diluar dugaan ini, VR mutusin untuk gak menuhin undangan tour bareng KISS, biar mereka gak terjebak ato dianggap band nostalgia.

Ternyata sukses VR bukanlah sukses yang berhenti di awal rilisan Contraband aja. Pas bulan agustus 2005, setahun abis Contraband dirilis, VR udah berhasil menapaki angka 2 juta kopi, berikut sukses gilang gemilang dalam tour di berbagai kota dan benua. Sukses global VR tuh gak cuma di benua Amerika doang. Tur mereka berhasil menggemparkan Eropa, Australia, New Zealand bahkan Jepang. Tahun 2005, “Dirty Little Thing" jadi insert film xXx: State Of The Union dan "Come On, Come In" jadi soundtrack film Fantastic Four.

Libertad Periode

Tahun 2005, VR bilang mereka lagi ngegarap album kedua. Scott Weiland bilang sama di acara Radio Music Award, kalo album ke-2 mereka ini bakal jadi sebuah album konsep. Album konsep tuh kayak biasa dibikin ama band-band progressive rock, seperti album “Selling England by The Pound”-nya Genesis, “Scene Of Memory Pt.2”-nya Dream Theater, “Drama”-nya Yes atau album grup-grup Power Metal seperti Avantasia, Rhapsody In Fire dan lain-lain. Sebuah album, yang materinya terdiri dari lagu demi lagu yang saling berhubungan, menopang suatu tema. Matt Sorum nepis pendapat Scott. Dan gak lama kemudian, di akhir taun 2005, situs resmi VR ngeumumin bahwa album ke-2 VR nanti bakal dikasih judul “Libertad”.



September 2006, tuh album ternyata belom juga kelar. Sampe kemudian di bulan september 2006, Sorum konfirmasi ama Camp Freddy Radio (radio indie rock LA), bahwa mereka udah dapet deal ama Rick Rubin buat memproduksi “Libertad”. Tapi kemudian, Sorum sendiri yang mengklaim lewat situs resmi VR, kalo mantan produser Stone Temple Pilots dan Pearl Jam, Brendan O’Brien bakal terlibat sebagai produser “Libertad”.

VR ngerekam “Libertad” di Los Angeles bareng produser Brendan O'Brien. Mengenai Rick Rubin, Scott bilang kalo VR gak sepaham ama Rick, gara-gara aransemen mereka dikritik ama Rick : “Kurang optimal.”

13 Mei 2007, Duff Mc Kagan yang biasanya jarang banget ngomong, ngumumin bahwa “She Builds Quick Machines”, “Let It Roll”, “Get Out The Door” masuk di Game kondang Guitar Hero III. Sebulan kemudian, tanggal 11 Mei 2007, “Libertad” bener-bener dirilis. Pas rilis tanggal sekian, VR ngeumumin bahwa bulan Juni mereka akan ngeluarin EP bertitel : Melody and the Tyranny.

Contraband, Libertad & Guns N Roses

Gue udah denger kedua album itu. Gue referensiin banget itu album buat dikoleksi ama anak-anak Metal atau penggemar Classic Rock. Kalo mau denger hard rock masa kini, atau nomer-nomer keras yang modern tanpa ninggalin akar rock yang sejati yaitu blues, Contraband atau Libertad ya sama lezatnya. VR tuh satu-satunya band dengan rocker senior yang albumnya gak garing didengerin. Kita gak ngerasa jadi tua, atau bernostalgia, pas dengerin melodi harmonic dan riff-riff garang dalam tempo nge-beat, yang menjadi ciri khas VR.



Emang sih, nomer-nomer mereka kayaknya gak bakal selegendaris tembang-tembang jaman keemasan Slash, Duff atau Sorum sewaktu aktif di Guns N Roses. Tapi, setidaknya sukses komersial itu cukup bikin iri seorang Axl Roses, satu-satunya original member Guns yang masih bertahan di band yang melambung lewat hits “Sweet Child O’Mine” itu. Disaat Axl dan New GNR-nya mati-matian bikin sesuatu yang baru buat ngeguncang publik Rock, Slash-Duff-Sorum yang dulu bahu-membahu bareng Axl ngedukung bendera Guns, udah berhasil melambungkan VR jauh diatas GNR. Jauh banget malah.(eap)

Comments

c1p said…
salam kenal...saya mau copy-paste tulisan ini...mohon ijin ya...

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

DRAMA TRAGIS KEMATIAN DIMEBAG DARRELL

Musicians tend to get bored playing the same thing over and over, so I think it's natural to experiment.
-Dimebag Darrell, gitaris kelompok Trash Metal legendaris Panthera

Selesai botakan waktu SMA, kawan-kawan menyebut saya mirip dengan Philip Anselmo, sang vokalis Pantera. Kendati nge-fans sama lagu-lagu dari album Cowboy From Hell dan Vulgar Display Of Power, sesungguhnya saya nggak nge-fans sama tongkrongannya beliau. Serem dan angker. Mirip seorang tetangga saya yang oknum berseragam, yang galak dan egois sama tetangga kanan-kiri (suka parkir mobil sembarangan dan bikin mobil bokap susah masuk garasi rumah sendiri- red). Tiap lihat Philip Anselmo jadi inget juga sama beliau. Oknum edan yang lupa, bahwa bikin susah tetangga itu sama dengan penyelewengan sumpahnya sebagai pengayom.

Untunglah wajah personil Pantera nggak semuanya mirip Anselmo. Sehingga yang lainnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kebencian saya. Malahan, ada kakak beradik Abbott- Darrell “Dimebag” Lance &…