Tuesday, February 20, 2007

LORD OF HEAVEN KEYS

Dengerin kaset live-nya G3 formasi Joe Satriani-Stevie Vai-Eric Johnson, G3 formasi Joe Satriani-Stevie Vai-Yngwie J Malmsteen dan G3 formasi Joe Satriani-Stevie Vai-John Petrucci, saya malah berkhayal atau kepikiran untuk ngebikin sesuatu yang mirip, cuma melibatkan kibordis-kibordis terkemuka dari ranah musik rock.

Seandainya saya jadi produser atau promotor pagelaran musik, saya akan mengundang Jordan Rudess (Dream Theater),Alex Strapoli (Rhapsody) dan Jens Johansson (ex Yngwie J Malmsteen, Stratovarius) untuk ngebikin satu album atau tour keliling dunia. Tema album or judul albumnya kira-kira : Lord of Heaven Keys, sedangkan nama projek or grup trio kibordis tersebut adalah : J2A. J2A adalah gabungan dari inisial nama depan mereka Jordan, Jens dan Alex.

Photobucket - Video and Image Hosting

Jordan Rudess : Pembaharu Dream Theater

Jordan Rudess merupakan pilihan pertama, ketika saya kepikiran untuk bikin J2A (baca : Ji Tu Ey). Saya punya argumen kuat untuk membawa kibordis berdarah Israel ini ke dalam proyek Lord of Heaven Keys. Kreatifitasnya luar biasa, pilihan-pilihan tone-nya juga dahsyat, bahkan sejak mula kedatangannya di skuad Dream Theater, permainan mantan kibordis Dixie Dregs ini langsung merasuk sebagai ruh lain dalam lagu-lagu Dream Theater.

Secara historikal, masuknya Jordan Rudess kedalam skuad Dream Theater bersamaan dengan penggarapan album konsep pertama grup ini : Metropolis Pt.2:Scene Of Memory. Ya, namanya aja band Progressive. Album konsep, yaitu sebuah album yang lirik maupun aransemennya digarap secara tematik, wajib hukumnya buat band sekelas Dream Theater.

Dalam Metropolis Pt.2:Scene Of Memory, permainan Jordan Rudess mencapai puncaknya pada lagu-lagu seperti : Home dan Dance To The Eternity. Dalam komposisi Dance To The Eternity, Jordan Rudess dan John Petrucci (gitaris Dream Theater) berkolaborasi dalam nada-nada pentatonik Timur Tengah. Pada lagu tersebut, Rudess dan Petrucci ibarat dua pembalap yang saling salip dan adu cepat di jalan lurus atau tikungan tajam.

Photobucket - Video and Image Hosting

Dance To The Eternity inilah lagu pertama sekaligus -batu pertama- Dream Theater di era Jordan Rudess. Kalo sebelumnya di era Kevin Moore dan Derek Sherinian (kibordis sebelum Rudess) musik Dream Theater lebih berat ke Hard Rock daripada Metal, maka di jaman Jordan Rudess inilah mereka tampil lebih sangar dan lebih beringas, namun juga lebih kontemplatif.

Era Jordan Rudess adalah crossing yang menandai berevolusinya musik Dream Theater dari Progressive Rock menjadi Progressive Metal. Sebuah pilihan yang berpengaruh besar pada kedewasaan musik Dream, meskipun menyurutkan penjualan album mereka. Hebatnya, kedewasaan itu dicapai karena andil besar seorang kibordis, bukannya vokalis atau gitaris yang konon katanya lebih berpengaruh ketimbang instrumentalis lainnya, dalam mitos rock n roll.

Photobucket - Video and Image Hosting

Aneh bukan, jika sebuah band rock musiknya tambah keras disebabkan oleh pengaruh besar permainan keyboard-nya ? Kalo nggak percaya simak aja Dream Theater mulai album Metropolis Pt.2:Scene Of Memory, Six Degree of Inner Turbulence, Train of Thought dan Octavarium. Disitu bisa jelas disimak, bagaimana proses Rudess mewarnai musik Dream Theater menjadi lebih tragic, cepat dan heavy.

Selain itu, bila sempat menyaksikan konsernya, kita bisa menyimak bagaimana aksi Rudess di belakang perangkat Korg OASYS 88 yang dilengkapi dengan Lap Steel Guitar dan Haken Continuum, sebuah alat super sensitif yang memungkinkan seorang kibordis melebur berbagai sound dalam satu momen. Edan lah. Selain atraktif, high-tech banget keliatannya tongkrongan kibordis plontos ini.

***

Photobucket - Video and Image Hosting

Alex Strapoli : Komponis di Panggung Power Metal

Setelah Jordan Rudess, saya kepikiran untuk mengajak Alex Staropoli, kibordis grup Symphonic Metal : Rhapsody of Fire (asalnya nggak pake of Fire, Rhapsody doang). Pertama kali denger permainan dia justru bukan di album penuhnya Rhapsody. Saya pertama menyimak permainannya di album a tribute to Helloween, dimana Rhapsody memainkan lagu lawasnya Kai Hansen Cs : Guardian.

Dalam lagu tersebut, Alex menampilkan permainan menawan di riff lagu, berbarengan dengan riff Guardian yang dimainkan gitaris berdarah Italia, Lucca Turilli. Harmonik sekali, dan bikin single pertama Helloween itu lebih hidup dan megah. Kai Hansen, pendiri Helloween yang juga musisi metal paling dihormati di kawasan Benelux, memuji habis aransemen orkestral gubahan Alex di lagu yang ia tulis.

Apresiasi saya kemudian sampai pada permainan Alex yang terdapat dalam materi-materi Rhapsody yang termuat dalam album pertama -Legendary Tales- dan album kedua yang bertajuk -Symphony of Enchanted Land-. Ada dua lagu yang patut diapresiasi permainan kibord-nya dalam -Legendary Tales-, yaitu : The Last Angel´s Call dan Dragonland‘s Rivers. Bukan cuma pilihan tone-nya yang megah, permainan Alex di kedua lagu tersebut juga bisa dibilang indah, penuh sentuhan klasikal, yang saling memberi warna teduh maupun tegas pada musik Rhapsody yang powerful.

Photobucket - Video and Image Hosting

Pada -Symphony of Enchanted Land-, permainan kibordis kelahiran 9 Januari 1970 itu nyata semakin memberikan karakter kuat pada lagu-lagu Rhapsody. Permainan Alex di album ini merupakan pengejawantahan dari jiwa Alex Staropoli kecil yang menyukai segala sesuatu yang berbau nature, seperti gunung, hutan dan danau. Spirit alam tersebut direpresentasikannya kedalam lagu-lagu seperti : Epicus furor, Emerald sword, Wisdom of the kings, Heroes of the lost valley, Eternal glory, Beyond the gates of infinity, Wings of destiny, The dark tower of abyss, Riding the winds of eternity dan Symphony of enchanted lands. Tuh, dari judulnya aja pasti udah kebayang, bagaimana kerennya key- orchestra a la Staropoli dalam album kedua Rhapsody tersebut.

Photobucket - Video and Image Hosting

Bakat Alex Staropoli sebagai komposer juga mengemuka dalam -Symphony of Enchanted Land- ini. Dialah penata musik sekaligus penata koor, penulis score untuk flute, biola, cello, yang memang menjadi elemen utama materi album kedua Rhapsody tersebut. Kalo kita denger sayatan biola, tiupan flute, gesekan cello atau alunan celesta dalam lagu-lagu di album ini, itulah buah karya aransemen Alex Staropoli, dan...bener-bener berasal dari biola, cello, flute dan celesta asli !

Betul-betul bukan rocker atau sekadar kibordis biasa, buat saya Alex Staropoli adalah seorang musisi sejati dan berbakat besar. Dengan Korg 01/W pro dan kreasi aransemen orkestrasinya, Alex telah memberikan harmoni dan warna lain dalam musik Rhapsody Of Fire.

***
Photobucket - Video and Image Hosting

Jens Johansson : Seorang Stylist Yang Kaya Pengalaman

Kibordis ketiga yang akan saya rekrut dalam projek J2A adalah Jens Johansson. Dibanding Jordan Rudess dan Alex Staropoli, saya lebih dulu mengenal Jens Johansson, dari rekaman-rekaman Yngwie J Malmsteen yang sudah saya lengkapi koleksinya. Permainannya bisa disimak dalam album-album Yngwie J Malmsteen yang bisa dibilang klasik seperti : Rising Force (1984), Marching Out (1985), Trilogy (1986), Odyssey (1988), Trial By Fire (1989) dan Inspiration (1996).

Wikipedia mengemukakan bahwa Jens Johansson adalah : -...one of the first and most influential "shred" keyboardists, for his high-speed neoclassical and fusion style.-

High-Speed Neoclassical style-nya Jens bisa disimak pada nomor legendarisnya Yngwie J Malmsteen, Rising Force di album Odyssey (1984). Pasca reff dalam lagu ini, sang guitar shredder beradu cepat dengan Jens, sebelum Joe Lynn Turner mengakhiri lagu ini dengan sebuah lengkingan serak yang khas. Adapun corak fusion dalam permainan Jens paling kentara bisa disimak pada nomer-nomer seperti You Don't Remember (I'll Never Forget) & Queen In Love di album Trilogy (1986), I'll See the Light Tonight di album Marching Out (1985) dan Heaven Tonight di album Odyssey (1988).

Selain style yang menjadi ciri khas-nya, sound katedral dalam solo Jens di bagian interlude lagu As Above, So Below dalam album Rising Force (1984)-pun membuat saya tak sulit untuk memberikan apresiasi lebih atas kreasi Jens Johansson. Bahkan menurut saya, Yngwie J Malmsteen pantas untuk berterima kasih pada Jens, mengingat Jens bisa dibilang sukses berat, dalam mengawal nomor-nomor instrumental-nya yang layak digelari Magnum Opus, seperti : Far Beyond The Sun, Black Star (Rising Force,1984) atau juga Krakatau (Odyssey,1988).

Photobucket - Video and Image Hosting

Kecemerlangan dan style Jens yang khas itu terus mengiringi perjalanan karier bermusiknya, juga setelah dia bergabung dengan kelompok Stratovarius dari tahun 1995 sampe sekarang. Sebelum mencatat sukses komersial di kawasan Balkan dan Amerika Latin bersama Stratovarius-nya, Jens sempat gagal dalam audisi kibordis Dream Theater, pasca hengkangnya Kevin Moore. Namun begitu, alasan nggak diterimanya Jens kedalam keluarga besar Dream Theater lebih karena kendala prinsip daripada teknik. Beberapa sumber mengatakan, Jens ogah gabung dengan Mike Portnoy dkk disebabkan oleh tidak diperkenankannya dia menulis lagu untuk Dream, selagi empat personil Dream lainnya menilai loyalitas Jens belum cukup dimata mereka. Jens agaknya tersinggung karena hal ini, sehingga ia melewatkan tahapan audisi selanjutnya.

Menyimak perjalanan karier Jens dari mulai gabung bareng Yngwie, membentuk Stratovarius juga bikin projek-projek idealis bareng sang adik, Anders Johansson- drummer Heavy Metal yang sempat gabung dengan grup pelopor Power Metal, Narnia & Hammerfall-, sosok Jens adalah rangkuman dari karakter kibordis-kibordis rock kenamaan angkatan lama, semisal : Jon Lord, Keith Emerson atau Patrick Moraz-nya Yes.

Photobucket - Video and Image Hosting

Jika Jordan Rudess bermodalkan skill dan penguasaan teknologi; kalo Alex Staropoli didukung penuh oleh bakat alam dan naluri komposernya; maka Jens Johansson mempunyai kelebihan dalam karakter permainan. Jens bukanlah tipe dominan sebagaimana Rudess dan Alex. Namun tanpa showing yang berlebihan, tetap saja, kuping yang jeli dapat dengan mudah mengenali style seorang Jens Johanssson. Sikapnya yang nggak suka mendominasi itu, saya kira, banyak disebabkan oleh tingginya jam terbang Jens, dalam urusan ber-jam session bareng musisi rock dan metal yang punya reputasi dan kaya pengalaman. Jens pernah maen sama Ronnie James Dio (eks-vokalis Rainbow & Black Sabbath), Ginger Baker (drummer pendiri grup legendaris Cream), dan Ritchie Blackmore (eks-gitaris Deep Purple & Rainbow). Sudah tentu, ini memberikan nilai lebih bagi putra musisi Jazz Swedia, Jan Johansson itu.

***
O.K. Lah. Saya sudah punya tiga kibordis kandidat untuk proyek J2A : Lord of Heaven Keys. Sekarang, tugas saya adalah membuat daftar pustaka, kata pengantar dan lembar motto untuk tesis yang baru acc sidang minggu lalu. Baru setelah itu, saya akan menghubungi Akira Takasaki atau Hillary Ang untuk sekadar berdiskusi : siapa saja yang pantas mengiringi para kibordis kenamaan yang telah saya pilih untuk J2A Project ini. Ada yang berminat ? Kirim aja email ke abangedi@mq.co.id.(eap)

Sunday, February 18, 2007

VAN HALEN YANG BIKIN PENASARAN

Van Halen Yang Bikin Penasaran

Sebagai musisi kugiran, satu hal yang belum kesampean buat saya sampai sekarang adalah : maenin satu aja lagunya Van Halen secara utuh (red: sampe beres). Udah banyak temen yang maen ama saya, rata-rata emoh membawakan lagu-lagu dari band yang dimotori dua bersaudara : Alex Van Halen (drum) dan Edward Van Halen (gitar) itu.

Alesannya ada beberapa. Satu, gitarannya ribet. Dua, susah ngompakin maenin lagu-lagu mereka. Tiga, dan ini alesan saya : susah banget niruin vokal David Lee Roth (Van Halen frontman 1974-1985, 1996-1997, 2007-s/d sekarang), juga vokalnya Sammy Hagar (Van Halen frontman 1985-1996, 2004-2006). Kalo Gary Cherone-mah kayaknya nggak perlu masuk itungan yah, meskipun dia pernah jadi frontman-nya Van Halen pada tahun 1997-1999.

Alesan pertama sulitnya saya ama band-band yang pernah saya masuki untuk maenin Van Halen adalah ribetnya permainan gitar Eddie Van Halen. Gitaris yang lahir 26 Januari 1955 di Amsterdam,Belanda, itu bener-bener sulit ditiru kreasinya, baik dari segi teknik maupun sound-nya. Pendiri Van Halen ini punya andil mempopulerkan teknik two-handed tapping dan whammy bar yang busyet ! Musisi lainpun sebetulnya ada yang pernah nyoba memainkan teknik ini. Di awal 70-an, Steve Hackett pernah nyoba memainkan teknik tersebut (coba dengerin album Genesis : Selling England by The Pound). Tapi, tapping a la Eddie Van Halen adalah sesuatu yang lain. Begitu perkusif, penuh terobosan dalam note dan efek, yang artinya penuh terobosan juga dalam pembaharuan sound.

Photobucket - Video and Image Hosting

Richard Nugroho, kawan saya semasa SMA, mengakui bahwa memang two-handed tapping itu masih bisa ditiru, but untuk memainkannya utuh dalam sebuah komposisi, ppfff...susahnya minta ampun. Untuk mengulik materi gitar buat satu lagu Van Halen, diperlukan kerja keras dan badan kering sehari-semalam (nggak mandi). Cari chord, cari riff-nya, cari melodic-nya, abis itu nyari sound-nya, merupakan pekerjaan menyiksa buat Richard yang gitaris. Huh, bisa nggak kuliah atau lupa ngapel kalo sudah ngulik Van Halen. Apalagi kalo yang diuliknya lagu macam : Jump, Mine All Mine atawa Human Being, lagu soundtrack film Twister itu.

Biarpun elo punya Frankenstrat komplit ama efek Evantide H3000 Intelligent Harmoniser plus amplifikasi Peavey 5150-nya, elo belum tentu bisa memainkan lagu-lagu Van Halen ! - kata Richard menambahkan.

Alesan kedua beratnya membawakan komposisi Van Halen secara utuh adalah masalah ngompakinnya dalam latihan band. Komposisi yang penuh bridge, membuat sebuah band kugiran perlu konsentrasi penuh dalam memainkan sebuah materi lagu dari Van Halen. Muammar, drummer band saya semasa kuliah mengaku gempor, dan sulit menikmati loncatan-loncatan tempo dalam lagu-lagunya Van Halen. Repel-nya berat, kata dia. Abis itu, dibutuhkan komunikasi hati antara dia ama pemegang instrumen lain, teristimewa pemain bass.

Photobucket - Video and Image Hosting

Itungan-itungan lagu Van Halen sulit untuk dicerna secara spontan dan manual. Perlu megang atau liat score saat memainkannya, sehingga lagu-lagu yang diusung dalam latihan nggak meleset kemana-mana. Wuih, berkeringat memang saat mengompakkan sebuah lagu yang pernah diusung oleh Van Halen. Padahal, kalo sepintas ngedengerin di kaset : beat lagu-lagu Van Halen itu kayaknya enggak begitu berat. Nggak seberat Rush, misalnya.

Alesan ketiga adalah alesan saya pribadi. Beuh, susah pisannn meniru vokal David Lee Roth dan Sammy Hagar teh ! Yang pertama ekspresif dan punya nilai plus saat menjangkau nada-nada tinggi, yang kedua terus-terusan nyosor di nada-nada tinggi. Tapi, kalo dibanding dengan dua alesan sebelumnya, kendala ketiga ini masih mungkin diatasi. Walaupun, sampai saat ini saya belum pernah bisa mengatasinya. He he he...baru ada di kepala doang. Belum aplikasi.

Photobucket - Video and Image Hosting

Sampe saat ini, saya masih menunggu-nunggu beberapa orang kawan yang mau cukup tabah mengulik beberapa komposisi dari Van Halen, lalu memainkannya dalam sebuah latihan ataupun pementasan. Saya pengen nyanyiin Running With The Devil, You Really Got Me, Jump, Dream ataupun Human Being. Kalo cuma didenger sih kayaknya memungkinkan maenin lagu Van Halen itu. Tapi begitu masuk bareng-bareng secara full band, kok kayaknya mentok dan nggak asyik ngebawain lagunya Van Halen itu. Hmm, masih penasaran saya...