Wednesday, January 02, 2008

BERKENALAN DENGAN GEOFF TATE

Gue pernah barter kaset sekitar kelas dua es-em-pe, ama Lukman, temen sebangku gue. Ceritanya, dia gak punya doku buat beli album appetite-nya Guns N Roses, dan maksa gue untuk ngejual koleksi appetite gue ama dia, dengan harga miring. Lukman nganggap gue selalu banyak duit, jadi kapan waktu bisa beli lagi itu album. Sedangkan dia gak tau gimana, sedang gede banget keinginannya buat ngulik lagu-lagu di album itu. Doi gandrung berat ama Slash, jadi sedikit maksa biar cepet-cepet bisa milikin appetite gue.

Iseng-iseng tapi sadis, gue nawarin dia untuk ngebarter itu album ama tiga kaset koleksi dia. Diluar dugaan, Lukman langsung nyanggupin. Dia nyuruh gue dateng sendiri ke rumahnya, bawa appetite for destruction, dan dipersilahkan memilih tiga koleksi dia sesuka hati. Wah, tawaran yang sulit untuk dilewatkan, apalagi gue saat itu lagi tergila-gila ama Metallica dan trash metal, jadi gak begitu peduli kalo entar kaset GNR gue dituker ama koleksi Lukman.

Singkat cerita, GNR album itu gue tukerin ama Persistence Of Time-nya Anthrax, Impact Imminent-nya Exodus, dan Operation Mindcrime-nya Queensryche. Anthrax ama Exodus gue kenal baek, tapi Queensryche gue pilih justru karena gue sama sekali nol ama grup itu. Cuman, menurut Lukman, Queensryche itu vokalisnya mirip banget vokalnya ama Michael Kiske, vokalis Helloween, yang sering gue adopsi cengkok-cengkoknya kalo iseng-iseng nyanyi. Pas gue coba, iya tuh, vokalisnya Geoff Tate, emang punya kesamaan suara ama Michael Kiske. Bahkan kelak, gue justru lebih mengidolakan Tate ketimbang Kiske. Mungkin, karena Queensryche berbeda ama Helloween, musiknya selalu berevolusi dan gak matok di pattern-pattern lama. Jadinya, teknik vokal Tate-pun selalu tampak lebih segar dari album ke album, lain dengan Kiske yang terus-menerus bernyanyi dalam oktaf-oktaf tinggi. Menurut gue, vokal Tate adalah jenis vokal paling ideal untuk aliran Progressive Metal yang marak di kawasan Eropa sejak lama, suatu aliran yang kini diusung juga oleh Queensryche, yang notabene berasal dari Amerika.

Biografi singkat Geoff Tate

Geoff Tate punya nama asli Jeffrey Wayne Tate. Cowok kekar yang perokok berat tapi rajin body building ini lahir di Stuttgart, Jerman Barat, tanggal 14 januari 1959. Gak berapa lama dari kelahirannya, ortunya bawa dia hijrah ke Tacoma, Washington, USA. Di sinilah, Tate memulai karier bermusiknya. Tate maen di grup progresif rock, Myth, yang waktu itu jadi kugiran grup-grup progressive yang udah mendunia, semisal : Genesis, Pink Floyd, King Crimson dan Jefferson Airplane. Di grup ini, Tate maenin kibord ngerangkap vokal. Di Myth juga, Tate kenalan ama Kelly Gray, gitaris Queensryche sekarang, yang masuk setelah co-founder Queensryche, gitaris Chris DeGarmo cabut dari grup itu tahun 1998.

Tate masuk ke line-up Queensryche taun 1981, waktu band itu masih bernama The Mob. Band itu udah punya banyak lagu yang direkam dalam demo tape, walaupun masih instrumental. DeGarmo, pendiri band ini bilang, bahwa waktu itu mereka gak punya vokalis dan penulis lirik yang bener-bener cocok ama style The Mob. Baru, seabis Tate bergabung ama mereka, band ini kemudian berganti nama menjadi Queensryche (QR) dan melengkapi demo tape mereka dengan lengkingan vokal Tate yang konon nyampe di tangga 4 oktaf.

Lagu pertama yang ditulis Tate untuk QR adalah "The Lady Wore Black" . Taun 1983 QR ngerilis album pertama mereka yang self-titled dengan cara independen. Lengkingan 4 oktaf, tone yang unik dan ekspresif-nya Tate bikin album indie itu mencatat penjualan yang fantastis. Majalah Kerrang ! ngebahas sukses indie album QR dan memberi poin khusus untuk vokal Tate, yang menurut mereka sesuatu yang baru dan unik dalam perkembangan musik metal.

Tate kemudian gak hanya dikenal lewat vokal cowok-nya yang dipengaruhi style Bruce Dickinson, Peter Gabriel dan Roger Water itu. Laen ama lirikus grup-grup heavy metal yang mengangkat tema horor/ancient legend (Iron Maiden) atau kemaskulinan (Judas Priest), Tate lebih suka mengangkat tema-tema sosial dan kemanusiaan kedalam lagu-lagu QR. Gak heran, kalo dia kemudian dijuluki "the thinking man's metal band" ama kolumnis Rolling Stone Magazine. Lirik-lirik tersebut bisa kita dengerin di album Operation: Mindcrime (1988),Empire (1990), dan di album yang menjadi crossing QR dari heavy metal band menjadi progressive metal band, Promised Land yang dirilis taun 1994.

Rasa Tate

Tate menurut gue, adalah seorang vokalis rock yang langka dalam sejarah rock n roll. Dia tergolong vokalis yang cerdas, dalam menggabungkan nuansa vokal, lirik ama imej band yang dia usung. Ngedengerin vokal Tate di album-album QR, sama kontemplatifnya dengan ngedengerin Peter Gabriel bertutur di album-album Genesis macam : Selling England by The Pound, Foxtrot, de-el-el. Yang lain cuma beat dan musik yang mengiringinya. Kalo Gabriel dikawal ama Genesis yang akustikal, kalo Tate diiringi ama Queensryche yang distortikal.

Sebagai seorang vokalis dalam grup beraliran metal, Tate punya keunikan tersendiri dibandingkan dua vokalis papan atas di genre ini : Bruce Dickinson (Iron Maiden) dan Rob Halford (Judas Priest). Power Tate dibandingkan mereka berdua kayaknya seimbang. Kelebihannya, produksi tone Tate di beat slow dan beat cepat sama kuatnya, gak seperti Halford dan Dickinson. Halford dan Dickinson bukan vokalis yang serba bisa, bila dibandingkan sama Tate. Mereka berdua cuma gape di lagu-lagu keras, tapi di lagu-lagu sedang dan slow mereka tampaknya gak cukup referensif. Makanya, Dickinson dan Halford cuma populer di kalangan pecinta metal aja, sementara Tate, di Amrik sana, jadi influence buat banyak vokalis berbagai genre.

Tate gak begitu populer di negeri ini. Di Indonesia, Halford ama Dickinson jelas memiliki tempat yang lebih terhormat di hati pecinta rock dan heavy metal. Gue juga ngakuin itu kok, karena, Dickinson dan Halford adalah dua vokalis yang jauh lebih kharismatis, punya semangat “makantar-kantar”, bila dibandingkan dengan Geoff Tate. Namun, dari sudut pandang kesenimanan, Tate rasanya lebih ber-rasa daripada mereka berdua. Tapi, sekali lagi, di musik metal yang hingar-bingar dimana speed and power menjadi doktrin, seorang seniman kayaknya gak begitu diliat atau dihargai lebih, daripada person-person yang maskulin dan kharismatik.(eap)

Tuesday, January 01, 2008

KISAH KAUM SHREDDER

Gue adalah salah satu saksi kelahiran banyak gitaris shredder, karena gue napaki masa remaja pas jaman-jamannya pendekar-pendekar shredder muncul dan bertarung di rimba musik rock dan per-metal-an. Ngomong soal shredder pioneer, tentu aja gak bisa terlepas dari nama Yngwie J Malmsteen. Dialah guitar shredder pertama yang sukses secara komersial sebagai seorang gitaris solo (album-album solo), berkat appregio speed-nya yang dahsyat. Sound Yngwie-pun bener-bener khas, sampe-sampe dari intro doang, orang bisa langsung nebak : “Wah, Yngwie ya !”


Di jaman guitar shredder, para gitaris dikenal kedahsyatan teknik dan kecepatannya bermain lewat album-album solo maupun album mereka secara grup. Yngwie J Malmsteen naek berkat “Rising Force”-nya, Joe Satriani berkat “Surfing With Alien”-nya, Stevie Vai berkat “Passion of Warfare”-nya, atau duo Marty Friedman-Jason Becker berkat “Speedmetal Symphony” dan “Go-Off”-nya. Masih banyak juga nama gitaris lain yang rata-rata diproduserin ama Mike Varney, jurnalis dan penulis majalah bergengsi Guitar Player, yang layak disebut shredder. Sebut aja nama Greg Howe , Ritchie Kotzen, Tony McAlpine, Paul Gilbert, sampe Chris Impelliteri- gitaris bule asal Amrik yang permainannya konon paling mirip ama Yngwie J Malmsteen.

Meskipun Yngwie layak disebut guitar shredder pertama yang sukses secara solo dan secara komersial, tapi pijakan era guitar shredder tuh ditandai dengan permainan solo Eddie Van Halen dalam “Eruption” (denger di album pertama Van Halen taun 1978 yang judulnya “Van Halen”). Abis intro pendek yang didukung ama perangkat drum yang dimaenin ama Alex Van Halen dan instrumen bass yang dipegang ama Michael Anthony, Eddie meluncurkan “Eruption” lewat kombinasi scale, bending dan “dive bombs” yang dahsyat. Highlight dari solo guitar ini adalah teknik “fretboard tapping”, yaitu : dua tangan maen di neck-guitar sembari memproses appregio dalam tempo cepat. Waktu maenin karya monumental itu, Eddie pake pick-up : 1950s Gibson humbucker pickup, pake perangkat ampli : 1960s Marshall tube amp, pake tape-driven : Echoplex, juga pake perangkat untuk sound echo : Univox echo box.

Seinget gue, virus guitar shredder juga menjangkiti publik rock dan heavy metal dalam negeri. Lewat kompilasi-kompilasi band-band festival log zhelebour atau grup-grup rock terseleksi, permainan a la shredder juga sempet mewarnai permainan gitaris-gitaris muda Indonesia, pasca era dewa-dewa gitar rock klasik kayak Ian Antono (God Bless, Gong 2000), Sunatha Tanjung (AKA, SAS), Gideon Tengker (Drakhma), Albert Warnerin (Giant Step), Totok Tewel (El Pamas, Sircus Barock, Swami, Sawung Jabo) dan lain-lain, yang lebih mementingkan harmonisasi ketimbang eksplorasi sound, speed dan teknik (tapi bukan berarti sound, speed ama teknik mereka butut lho !).

Gitaris-gitaris muda jaman itu yang pantes dijuluki guitar shredder Indonesia adalah : Eet Sjahranie (Edane, God Bless, Cynomadeus), Eddy Kemput (Grass Rock), Ipung (Power Metal, Andromeda), Lucky Setyo (Power Metal), Parlin “Pay” Burman (Slank) dan gitaris Bandung, Babon, yang sempet berkibar di panggung dan festival rock nasional bareng band-nya Rudal Rock Band.

Diantara gitaris-gitaris yang disebut di atas, Eet Sjahranie, setidaknya buat gue merupakan gitaris yang paling pantes nyandang gelar shredder pioneer. Ke-shredder-an Eet mengemuka lewat album pertama Edane, The Beast. Riff Eet di lagu hits pertama mereka, Ikuti, menandai orde baru kelahiran era guitar shredder Indonesia. Nomor instrumental Opus #13 (Ringkik Turangga) di album tersebut, seolah-olah menegaskan ambisi Eet untuk menorehkan semangat baru di kancah musik rock negeri ini.

Meskipun eksplorasi sound, teknik dan style Eet udah keliat semenjak album pertama Edane, album kedua Edane, Jabrik-lah, yang membuat Eet bener-bener layak digelari seorang shredder. Album yang dibuka lewat nomor keras, Wake Of The Storm, dan ditutup oleh nomor instrumental cadas, Kurusetra itu, bikin gue (dan tentunya seluruh rakyat metal dan biang rock jaman itu) gak ragu untuk menahbiskan Eet sebagai seorang shredder. Eet mengawinkan banyak style gitaris dunia di album ini. Ada speed-nya Yngwie, gahar-nya Ritchie Blackmore, unik-nya Jimi Page, eksperimental-nya Stevie Vai dan melodius-nya Joe Satriani dalam permainan Eet di album Jabrik ini. Menurut selera gue, best cut album ini adalah : Wake Of The Storm, Call Me Wild, Way Down, Pancaroba, Alam & Manusia en so pasti : Kurusetra. Betul-betul spesial lah. Saking spesial-nya, sampe album Time To Rock-pun, gak ada materi lagu Edane yang bikin darah gue bergejolak, seperti kalo gue dengerin 6 best cut from Jabrik album itu.

Sekarang, era shredder udah berlalu, tapi kreatifitas para gitaris rock masa kini dalam hal sound, speed, style dan teknik masih terus bergeliat. Untuk referensi luar negeri, kita bisa menikmati atau nge-up-date pengetahuan dan style dari gitaris semacam : John Petrucci (dream theater, Liquid Tension Experiment), Kenny Wayne Shepherd (gitaris solo aliran blues rock muda asal Amrik), Tom Morello (Rage Against The Machine, Audioslave) atau Buckethead (solois, ex-Guns N Roses). Jangan lewatin juga kreasi gitaris-gitaris millenium yang masih muda, penuh bakat, eksperimental, kontemporer macam : Daron Malakian (System Of A Down), Adam Jones (Tool), Brad Delson (Linkin Park), Wes Borland (Limp Bizkit), Zacky Vengeance (Avenged Sevenfold) atau citarasa post-grunge dari Mark Tremonti, gitaris keren yang sukses berat bareng Creed dan Alter Bridge.

Sayangnya, untuk Indonesia, pasca era guitar shredder kayaknya sulit untuk menemukan gitaris-gitaris yang bener-bener “niat” jadi seorang shredder atau dewa gitar. Deket ama era Eet dan kawan-kawan, gue pernah juga dengerin permainan dahsyat beberapa gitaris lokal macam : Baron GIGI, Jikun /rif, Bengbeng PAS, Jay Andry Franzzy (eks-Power Slave, Boomerang), Tjahjo Wisanggeni (Nosferatu, solo), Andra Ramadhan (Dewa, Andra & The Backbone) sampe Ezra Simanjuntak, gitaris yang sempet ngisi di album terakhir almarhum Andy Liany, yang punya speed busyet tapi sama sekali gak ke-ekspos ama media. Abis itu, udah deh, sulit banget nemuin gitaris yang soul-nya bener-bener murni di jagat industri musik Indonesia. Ya, ada sih gitaris-gitaris macam Eros (sheila on 7, jagostu), Baim (eks-Ada Band), Marshal (Ada Band), Onci (Ungu), yang nempelin style rock berikut efek distorsi untuk lagu-lagu yang mereka usung. Cuman, untuk dinobatkan sebagai guitar shredder or sekadar rock guitarist aja kayaknya hati gue gak ngasih.

Gue justru menaruh harapan ama beberapa gitaris band Indie atau band baru kayak : Bayu Indrasoewarman (The Brandals), Pupun (Kapten), Iman Fattah (LAIN) dan Iman Taufik Rahman (Funky Kopral, J-Rock’s). Bayu, secara tongkrongan maupun style permainan udah bener-bener ngejiwain kemurnian rock. Pupun, sebagai otodidak permainannya kelewat dahsyat. Iman Fattah punya semangat bereksperimen. Sedangkan Iman J-Rock’s, bener-bener gape untuk urusan kreatifitas dan ngawinin permainannya di atas fret ke lagu-lagu yang dia tulis sendiri. Seiring waktu, moga-moga aja mereka terus semangat buat belajar, berlatih, berkarya, dan kelak jadi jagoan yang rendah hati.(eap)