Skip to main content

ROMANTISNYA ART ROCK A LA DEWA

Di jaman kegemilangan musik rock dan heavy metal tahun 1990-an, tersembullah sebuah band beraliran lembut yang cepet banget narik simpati sebagian kecil anak metal, untuk dateng ke konser dan ngoleksi album mereka. band apakah itu ? gua jawab : dewa 19. band itulah yang bikin gue yang fanatican rock dateng ke saparua buat nyaksiin konser mereka, selepas melepas album keduanya : Format Masa Depan. gue pergi sembunyi-sembunyi nonton bareng rico dan mega, temen-temen gaul gue, tanpa pemberitahuan ke temen-temen band atau temen-temen lainnya yang biasanya barengan nonton konser musik. maklumlah, gue takut dicap anak top fourty, gak metal lagi, ama kurawa-kurawa pecandu mossing en headbanger itu. alkisah, maka cabutlah gue bareng rico, shredder yang tiba-tiba doyan lagu mellow pasca Dewa ngerilis album kesatu, juga ama Mega, cewek tomboy yang ngakunya fans berat Power Metal dan lengkingan vokal Arul Effansyah yang konon 4 oktaf itu.

Di konser yang berlangsung di kandang buaya rock dan biang metal kota Bandung itu, Dewa beraksi dengan mulus ditengah-tengah fans-fans-nya yang rata-rata cewek, yang mengharumkan gor saparua yang biasanya sumpek dan panas oleh aroma keringat rakyat metal. gue takjub aja ama sound Dewa yang waktu itu begitu manis, meskipun dengan keterbatasan akustik ruangan gor yang kurang memadai. vokalnya Ari Lasso, wuih, lagi bersih-bersihnya. Tinggi, melengking dan merdu. Andra juga punya permainan gitar yang gape. musik dewa yang mirip-mirip Toto, bener-bener enak dinikmati sebab perpaduan lagu, vokal dan permainan gitarnya. dhani juga masih ke-jazz-jazz-an atau ke-fusion-fusionan maennya waktu itu. sebagai band, Dewa jadi alternatif gue, sebab secara band mereka maennya rapih, kompak dan berkualitas.

kepergian gue ke konser Dewa ternyata kecium juga ama para sejawat di komunitas rock dan metal tempat gue biasa kongkow. mereka nyepet-nyepet dan ngebahas partisipasi gue, rico ama mega, yang menurut mereka sebuah bentuk pengkhianatan. kita bertiga gak nerima gitu aja pendapat mereka. setelah menyaksikan langsung aksi Dewa secara live, kita bersikukuh bahwa Dewa tuh bisa digolongkan sebagai band rock. sebelum Dhani Ahmad bilang Dewa beraliran romantic rock, gue udah pake istilah itu, pas menyanggah perkataan temen-temen gue di komunitas. berani dong gue nyebut Dewa beraliran rock, sebab : Dewa di dua album pertamanya itu dipengaruhi juga ama sense of rock a la : van halen, white lion atau europe, yang notabene diakui sebagai band rock. lagian, skill anak-anak Dewa 19 itu gak jauh beda dengan keribetan skill pemain rock era tersebut. teristimewa, vokal tinggi Ari dan teknik plus sound gitar-nya Andra.jagoan mereka teh...gak bisa dianggap enteng atau disebut sekadar pengusung lagu-lagu melankolis ! Gue tegasin juga, Andra tuh bisa diadu ama Pay Slank atau Ipung Power Metal sekalipun ! maksudnya, secara soul gitu, bukan ngeliat aliran...

di akhir perdebatan, rico ngeluarin pendapat or prediksi, bahwa suatu saat Dewa, atau para member-nya secara pribadi, bakal ngeaktualisasiin dirinya sebagai rocker. prediksi rico menjadi kenyataan, ketika Dewa 19 pasca cabutnya Wawan (drummer), Ari Lasso (vokal) dan Erwin (bass), menyajikan sebuah album yang begitu kental nuansa art rock-nya : Bintang Lima. materi album yang menurut gue deket ama warna queen dan ELO (electric light orchestra), kendati disanggah ama Dhani itu, menampilkan pesona sebuah karya progressive rock. indikator yang membuat Bintang Lima bisa dikategorikan sebagai prog-rock adalah : sound dan aransemen yang progresif, beat lagu yang gak matok di beat-beat pop yang lazim dan kekuatan lirik.

Warna itu (art rock maksudnya) sebetulnya sempat mengemuka juga di album Pandawa Lima. Di album yang memuat lagu Dewa paling keras (menurut gue) Aspirasi Putih ini, dari mulai Kirana, Aku Di Sini Untukmu, de-el-el, aroma art rock itu rada-rada kentara tercium. Cuma mungkin karena tanpa embel-embel orkestrasi dalam aransemennya, Dewa belum bisa mengeluarkan secara penuh citra progressive rock didalam materi-materi albumnya. Kalo pendapat temen gue sih bahkan bukan orkestrasilah faktor differensiasinya, melainkan faktor vokalis dan drummer.

Seperti udah umum diketahui, pada album Bintang Lima, Dewa udah ngeganti vokalisnya, Ari Lasso, ama mantan vokalis Getah, Elfonda Mekel (Once). Vokal Ari yang punya kemiripan warna dengan vokalis-vokalis beken 80-an, macam Steve Perry-nya Journey ini, digantiin ama corak vokal crossing Jon Anderson (Yes) dan Robert Plant-nya (Led Zeppelin) Once. Pada mulanya agak berat juga ngedenger alunan vokal Once di Bintang Lima. Maklum aja, Ari Lasso saat itu udah bener-bener ngerasuk warna vokalnya, menjadi trademark Dewa 19. Tapi lama kelamaan, rasa-rasanya lagu di album Bintang Lima itu gak akan jadi sesuatu yang khusus dan legendaris, kalo bukan Once yang ngebawainnya.

Masuknya Once, akhirnya gue akui sebagai jembatan kematangan musik Dewa yang dulunya pake embel-embel 19, menuju Dewa yang dewasa secara lirikal maupun musikalisasi. Vokal Once itu karakternya unik banget. Sebenernya, Once juga beruntung bahwa vokal uniknya ketemu jodoh ama grup yang udah tenar sedari dulunya. Seinget gue, jenis vokal unik a la Once ini udah ada juga pendahulunya di negeri ini, yaitu : vokalnya Ari Sapriyadi (eks-Cynomadeus, side-project Eet Sjahranie, Baron Band) dan tenor-nya Eddie Endoh (vokalis Hookerman, band kugiran Yes asal Indonesia akhir 70-an, yang ngebawain lagu hits ”Kutaklukkan Dunia”, dari soundtrack-nya film Catatan Si Boy). Cuman, band-band-nya Ari Sapriyadi dan Eddie Endoh itu tidak sepopuler Dewa. Maka, jadilah lengkingan vokal Once itu seperti sesuatu yang baru di negeri ini.

Pendapat beberapa orang temen tentang hubungan antara corak art rock-nya Dewa ama pergantian drummer, dari Wong Aksan ke Tyo Nugros, adalah opini yang gue sanggah. Hemat gue sih gak ada perbedaan mencolok antara Aksan dan Tyo. Kalo ada yang bilang Aksan kurang nge-rock, ah, itu di lagu Aspirasi Putih gimana kurang nge-rock ? Malahan, pattern Aksan di lagu itu juga kreatif banget, ngebalikin not-not drum dari yang lazim. Buat yang ngerti drum, susah lho maenin atau nemuin ide sebagaimana ide Aksan di lagu Aspirasi Putih.

By the way, gue seneng bahwa apa yang disebutin temen gue, Rico, udah jadi kenyataan. But, kalo nyimak album-album Dewa pasca Bintang Lima, gue kok jadi pusing dan bertanya-tanya : ini band mau dibawa kemana sih ? Mungkin Dhani Ahmad Cs ini puas dan ngerasa baik-baik aja ngebawa Dewa jadi sejenis band eksperimental yang kejebak malah jadi grup gado-gado. Atau, Dhani Ahmad sang music director Dewa udah gak peduli lagi ama khalayak setia-nya, mentang-mentang udah tajir, dan milih untuk ngebebasin libido berkreasinya ? Makin sulit aja narik benang merah kalo nyimak materi-materi mereka dari mulai album Cintailah Cinta sampe Kerajaan Cinta. Dewa makin lama makin gak Dewa. Kalo istilah Rico sih, ini gara-gara mereka pindah label dari Aquarius ke EMI.

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

SMOKE ON THE WATER : HITS YANG MEMISAHKAN PARA PENCIPTANYA

Nggak ada atau jarang anak rock yang nggak tahu lagu Smoke On The Water. Yang nggak tahu bisa-bisa dikatain sok rocker, kalo sampe nggak tahu atau ngaku belum pernah denger itu lagu, padahal dia sendiri ngakunya rocker. Smoke On The Water bagaikan materi inagurasi. Syarat pentahbisan bagi siapapun yang ngaku musisi atau simpatisan heavy rock. Gitaris rock kudu hafal riff atau chord lagu ini, vokalisnya mesti hafal lirik lagu ini, dan minimal musisi-musisi pendukung band yang lain kudu bisa mengawal beat dan pattern lagu ini diatas panggung atau studio.

Smoke On The Water adalah lagu kelompok musik Deep Purple, salah satu dari triumvirat legenda band rock (Led Zep, Deep Purple, Black Sabbath), yang tidak hanya memegang rekor penjualan rekaman, melainkan juga pemegang rekor gonta-ganti personil. Saking seringnya gonta-ganti personil, sudah lumrah kalau hingga saat ini, sesama penggemar Deep Purple akan bertanya : “Sekarang sudah Mark berapa ya ?”-ketika mereka membicarakan eksistensi g…

ALLAH BLESS GITO ROLLIES

Alkisah, suatu sore, gue pulang sekolah bareng bokap, dijemput pake mazda kotak. Dalam perjalanan, seorang pengendara motor edan, menyalip mobil yang kami tumpangi dari sebelah kiri. Gila, gue yang waktu itu masih es-de, kontan kaget dan berteriak, mengingat mobil bokap nyaris menghantam pantat motor yang berpacu ugal-ugalan itu. Bokap, yang biasanya alim dan pendiam, pertamakalinya menghamburkan nama salah satu hewan, yang lazim diteriakkan disaat-saat manusia dihinggapi marah.

Seredanya bokap dari kemarahan, beliau bergumam, ”Emang Gito Rollies...” Gue mengernyitkan dahi,”Emang kenapa Gito...Pak ?” Singkat kata, bokap gue langsung menceritakan sebuah peristiwa heboh, dimasa-masa bokap muda dulu. Suatu peristiwa yang juga sohor ke seantero kota Bandung, tentang seorang pengendara motor yang ugal-ugalan pulang pergi Bandung-Lembang bertelanjang bulat. Nama pengendara motor itu adalah : Bangun Sugito, yang kemudian populer sebagai : Gito Rollies, salah seorang ikon musik rock dan pelop…