Skip to main content

BONHAM : THUNDER OF THE DRUM

Bonham Yang Istimewa
Suatu sore di awal Februari yang dingin, dengan kopi, coca-cola, milo, marlboro, djarum coklat, roti jieseng, plus mantouw rebus, kami mencoba menghangatkan diri. Ya, gue, bareng dua tetangga, Oom Alex dan Bang Arif, mencoba mengusir kebekuan suasana kota, yang kelewat lembab sejak pagi hari. Busyet emang, suhu dingin yang bikin sebagian besar warga komplek ber-ingus,belum juga mencapai titik hangat walaupun udah ngelewatin bulan Desember.

Tu sore emang gak perlu waktu sampe berjam-jam ternyata, untuk mengusir dingin dan bekunya suasana dan badan gue. Ngalor-ngidul ngobrolin musik, ujung-ujungnya malah jadi obrolan hangat. Tadinya cuman ngobrol ringan soal siapa-siapa instrumentalis terbaik, dalam grup rock mulai taun 1970-an sampe jaman sekarang. Pas ngebahas John Bonham, drummer Led Zeppelin, obrolan kita malah tambah panjang, hangat, dan menurut gue : cukup menarik.

Oom Alex jelas umurnya cuman beda beberapa taun dari bokap gue. Sebagai eksponen 70-an, Oom Alex menyebut sebuah nama yang emang udah populer banget kalo fanatikan rock bicara soal drummer terhebat. Oom Alex menyebut nama : John Bonham. Wah, siapa gak kenal sang legenda, drummer grup yang juga legendaris : Led Zeppelin, yang punya power dahsyat, dan permainan temuannya banyak banget dijadiin sampling buat kibord workstation.

Oom Alex ternyata penggemar berat Bonham. Bonham adalah pembaharu dalam sejarah perangkat dan teknis permainan drum, baik drum dalam basic rock maupun umum, dalam pendapat Oom Alex. -Bonham itu keras,- bilang Oom Alex,-…tapi dia bisa juga nge-swing.- Itu dia makanya, menurut si Oom, kenapa semua lagu Led Zeppelin jadi demikian monumental dalam sejarah rock. Intinya adalah kekayaan beat hasil eksplorasi Bonham, tentunya tanpa mengecilkan eksistensi Jimi Page, Robert Plant dan John Paul Jones. Itulah makanya, tambah si Oom, kenapa Led Zep bisa memainkan Rock N Roll yang keras secara total, memainkan Since I’ve Been Loving You yang nge-blues sampe nge-trance, dan memainkan Achiles Last Stand yang progresif atau All My Love yang nge-pop- tanpa keluar dari karakter Led Zep sejati. Resep Bonham adalah pukulan yang mantap, timing yang terukur, ketukan kreatif dan sound spesial. Setelan snare dan bass drum Bonham itu sesuatu yang sangat revolusioner, dalam pandangan Oom Alex. Bahkan secara tegas, Oom Alex mengatakan,- Alex Van Halen, Tico Torres, Greg D’Angelo, Lars Ulrich, Mike Portnoy, Igor Cavalera atau drummer-drummer rock setelahnya gak akan pernah bisa menandingi, sumbangan seorang John Bonham dalam revolusi permainan drum.

Bang Arif, yang tumbuh dewasa di taun 80-an punya pendapat : permainan John Bonham sebenarnya udah ketinggalan jaman pas masuk dasawarsa 80-an. Bonham kalah canggih dari Alex Van Halen (Van Halen), kalah skill dari drummer jazz rock : Jeff Porcaro (Toto), kalah nge-beat dari Stewart Coppeland (The Police), dan kalah rapih dari Neil Peart-nya Rush, yang notabene berdiri di garda depan para drummer rock 80-an. Di era 80-an ini, drummer-drummer seangkatan Bonham seperti Phil Collins (Genesis) dan Ian Paice (Deep Purple), bahkan menampilkan kreasi yang tetap up-to-date, seiring perkembangan perangkat instrumen drum dan makin beragamnya aliran dalam musik rock, jelas Bang Arif. Bila berbicara soal siapa yang paling memengaruhi dan sumbangannya paling besar terhadap perkembangan equipment dan permainan drum, menurut Bang Arif, jelas sulit banget. Di jaman ketika Bonham dan Led Zeppelin-nya mengibarkan rock n roll ke seantero dunia, bejibun banget drummer rock handal. Ada sang pelopor hard rock beat, Ringo Starr (The Beatles). Ada drummer full-technique, Bill Bruford-nya Yes. Ada jagoan nge-repel, Ian Paice dari Deep Purple. Ada Keith Moon (The Who), Ginger Baker (Cream) atau Carl Palmer dari Emerson-Lake & Palmer,yang mampu berbuat banyak hal dengan hanya berbekal perangkat : dua cymbal, satu pedal dan dua tom-tom- perangkat drum yang standar banget.

Oom Alex keliatannya udah mau menimpali, menyanggah pendapat Bang Arif tentang eksistensi dan sumbangan besar John Bonham. Tapi, sebelum dia tuntas nelen kopi yang baru dihirupnya, gue udah angkat bicara, untuk ngelurusin pendapat dan ngasih alternative pandangan senior-senior gue itu. Timbang gue, John Bonham adalah drummer yang udah memberikan sumbangan besar, but sumbangan tersebut bukan gak mungkin bakal dilebihi ama drummer-drummer jaman berikutnya, sebagaimana diungkapkan Oom Alex. Sepeninggal Bonham, drummer-drummer terus bermunculan, bereksplorasi dan berusaha untuk membawa sesuatu yang khas. Gue sepakat ama Bang Arif, untuk perkara tersebut.

But, John Bonham adalah seorang drummer yang emang spesial banget, buat gue yang pernah berlatih dan mencoba memainkan perangkat instrument pengawal ritme, dengan sepasang tongkat sihir dalam genggaman itu. Meskipun terdengar terlalu kasar, tapi ungkapan : gak akan pernah seorang drummer-pun bisa menandingi, sumbangan seorang John Bonham dalam revolusi permainan drum, akan diakui dengan rendah hati oleh drummer sebelum jaman, sejaman, setelah jaman kedigjayaan John Bonham bersama Led Zeppelin-nya.

John Bonham adalah seorang penggemar fanatik Gene Kruppa dan Ginger Baker, drummer sebelum jaman popularitas Bonham dan Led Zeppelin. Tapi kedua drummer favorit-nya ini, dalam sebuah kesempatan interview dengan majalah Rolling Stones, justru mengatakan bahwa Bonham adalah drummer paling berbakat yang pernah mereka simak. Diantara drummer sejamannya, John Bonham juga menaruh hormat dan kekaguman pada Carmine Appice (Vanilla Fudge) dan Keith Moon (The Who). Tapi kedua drummer yang dia hormati itu, justru mengungkapkan hormat dan kekaguman besarnya, terutama atas sound, power dan teknik kaki kanan Bonham, saat dia melakukan triplet.

Tentang kekaguman seorang Appice terhadap Bonham, ada sebuah cerita menarik. Waktu Led Zep pertama bikin tur keliling Amrik, Led Zep maen sebagai pembuka band Amrik yang tenar di akhir taun 70-an, Vanilla Fudge. Appice, yang udah ngedengerin teknik kaki Bonham, triplet di lagu Good Times, Bad Times, memuji sang kolega waktu mereka pertama ketemuan sebelum nge-geber tur keliling Amrik. Gue suka banget teknik kaki kanan elu, kata Appice, pas dia ketemuan ama Bonham. Dibilang gitu, Bonham malah nimpalin : - Apa maksud lu? Gue ngambil teknik itu dari elu.- Appice garuk-garuk kepala dan bilang, -Enggak pernah tuh gue ngelakuin triplet itu.- Bonham ngeyakinin Appice, bahwa dia ngelakuin teknik itu di album kesatu Fudge, pada lagu Ticket To Ride. Belakangan, Appice akhirnya menyadari, bahwa dia emang ngelakuin triplet itu dua kali, di lagu yang dimaksud. –Gue emang melakukan triplet antara tangan dan kaki, tapi John Bonham melakukan semuanya dengan kakinya.- He he he, yang ngerti drum pasti tau banget, betapa cepatnya kaki kanan Bonham, cause dia bisa ngelakuin triplet cuman pake satu kaki doang di pedal bass, tanpa variasi pukulan di tom-tom maple besar-nya, sebagaimana yang disampaikan oleh Carmine Appice.

Meski kedengerannya jadi berat sebelah, ngedukung opini Oom Alex, gue coba menginventarisir apa aja yang udah dipelopori ama seorang John Bonham, dalam perkembangan musik rock. Satu, dia drummer pertama yang pernah melakukan solo drum tanpa stik. Dua, dia drummer pertama yang melakukan triplet dengan satu kaki- jadi, walaupun Bonham pernah memainkan kit dengan double bass, menurut gue itu sih gak berguna. Tiga, dialah drummer peletak standar sebuah solo drum, lewat nomor instrumental, Moby Dick-nya. But, untuk mendapatkan optimalitas permainan Bonham, jangan dengerin yang versi studio-nya. Coba simak Moby Dick-nya Bonham pas dia maen di film Song Remains The Same-nya Led Zeppelin. Empat, dan ini yang akan selalu dikenang sepanjang masa- sound drum Bonham yang enggak ada seorang drummer-pun, baik sebelum, sejaman dan setelahnya bisa nyamain orisinalitas-nya.

Oom Alex menampakkan wajah puas karena ngerasa didukung, sedangkan Bang Arif manggut-manggut dan siap-siap untuk menyanggah lagi. Tapi, sebelum Bang Arif mengajukan pendapat, gue nyebutin hal ke-enam, yang bikin banyak drummer rock dan fanatikan rock agak sulit untuk menyanggah kepeloporan Bonham. Keenam, coba aja kita dengerin opening lagu hits Led Zep : Rock N Roll, Kashmir, Black Dog, Achilles Last Stand, When The Leeve Breaks, Living Loving Maid, Song Remains The Same, Communication Breakdown, Whole Lotta Love atau ketukan drum di bridge-nya repertoar megah Led Zep, Stairway To Heaven. Jarang ada seorang drummer, yang permainannya di bagian opening mampu mencuri perhatian penyimak lagu, sama besarnya dengan perhatian mereka saat menyimak riff gitar yang kerap menjadi pembuka sebuah komposisi. Asli ! Belum ada drummer yang mampu ngelakuin hal itu- dalam banyak komposisi yang diusung band-nya, kecuali John Bonham. Ngedenger alasan ke-enam gue itu, kontan Bang Arif nyalain Djarum Coklat ke-tiga-nya, untuk memancing udara hangat, biar berkumpul di sekitar kami.

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

SMOKE ON THE WATER : HITS YANG MEMISAHKAN PARA PENCIPTANYA

Nggak ada atau jarang anak rock yang nggak tahu lagu Smoke On The Water. Yang nggak tahu bisa-bisa dikatain sok rocker, kalo sampe nggak tahu atau ngaku belum pernah denger itu lagu, padahal dia sendiri ngakunya rocker. Smoke On The Water bagaikan materi inagurasi. Syarat pentahbisan bagi siapapun yang ngaku musisi atau simpatisan heavy rock. Gitaris rock kudu hafal riff atau chord lagu ini, vokalisnya mesti hafal lirik lagu ini, dan minimal musisi-musisi pendukung band yang lain kudu bisa mengawal beat dan pattern lagu ini diatas panggung atau studio.

Smoke On The Water adalah lagu kelompok musik Deep Purple, salah satu dari triumvirat legenda band rock (Led Zep, Deep Purple, Black Sabbath), yang tidak hanya memegang rekor penjualan rekaman, melainkan juga pemegang rekor gonta-ganti personil. Saking seringnya gonta-ganti personil, sudah lumrah kalau hingga saat ini, sesama penggemar Deep Purple akan bertanya : “Sekarang sudah Mark berapa ya ?”-ketika mereka membicarakan eksistensi g…

ALLAH BLESS GITO ROLLIES

Alkisah, suatu sore, gue pulang sekolah bareng bokap, dijemput pake mazda kotak. Dalam perjalanan, seorang pengendara motor edan, menyalip mobil yang kami tumpangi dari sebelah kiri. Gila, gue yang waktu itu masih es-de, kontan kaget dan berteriak, mengingat mobil bokap nyaris menghantam pantat motor yang berpacu ugal-ugalan itu. Bokap, yang biasanya alim dan pendiam, pertamakalinya menghamburkan nama salah satu hewan, yang lazim diteriakkan disaat-saat manusia dihinggapi marah.

Seredanya bokap dari kemarahan, beliau bergumam, ”Emang Gito Rollies...” Gue mengernyitkan dahi,”Emang kenapa Gito...Pak ?” Singkat kata, bokap gue langsung menceritakan sebuah peristiwa heboh, dimasa-masa bokap muda dulu. Suatu peristiwa yang juga sohor ke seantero kota Bandung, tentang seorang pengendara motor yang ugal-ugalan pulang pergi Bandung-Lembang bertelanjang bulat. Nama pengendara motor itu adalah : Bangun Sugito, yang kemudian populer sebagai : Gito Rollies, salah seorang ikon musik rock dan pelop…