Skip to main content

BERPULANGNYA GODFATHER OF SOUL



Ada sebuah kesamaan, antara saya dan anak saya, dalam perkara apresiasi musik. Pertama kali kami bergoyang dan berteriak karena musik, adalah setelah mendengar lengkingan vocal James Brown di lagu I Feel Good. Sama juga, sekitar 9 bulanan usia kami, kami sama-sama melakukan aksi goyang baby-funk buat menghibur saudara-saudara di rumah.

Lagu I Feel Good juga, selain Smoke On The Water, Honky Tonk Woman, I Don’t Like Monday, Bohemian Rhapsody, Temple Of The King, yang selalu include didalam kumpulan lagu-lagu terpilih, yang saya kemas dalam kaset hdx, basf, cd mp3 atau ipod, sejak SMP hingga sekarang. Kemanapun saya pergi, saya selalu membawa kompilasi buatan sendiri, dan selalu include I Feel Good didalamnya.

Jaman tape recording keluaran pertama yang bisa dipakai menggandakan kaset, saya sempat kecele salah merekam I Feel Good. Setelah mendengar vokal bariton didalam kaset tersebut, saya merasa ada sesuatu yang asing dan aneh pada tone sang Godfather Of Soul. Dalam materi yang direkam secara live itu, vokal sang Godfather terdengar lebih rendah, kurang ekspresif, bahkan lengkingan di bagian closing lagu I Feel Good itu lebih mirip suara orang sakit bengek dipuncak penderitaan, daripada suara scream James Brown yang khas dan heboh itu. Suara trumpet, trombone dan saxophone yang saut-menyahut mengiringi lagu tersebutpun, bagaikan orkestra tanjidor taun 1930-an. Ealah, romo, ternyata itu adalah I Feel Good yang dibawakan ulang oleh Rollies, pada konser di Taman Ismail Marzuki, sekitar tahun 1976. Lagu yang anti-klimaks sebenarnya, mengingat sebelumnya Rollies begitu apik dan rancak membawakan hits-hits-nya Chicago, yang saya ingat diantaranya : Free, dalam rekaman milik Babe Gue itu.

Selain Rollies, yang bahkan terang-terangan membawakan nomor-nomor James Brown, kelompok AKA, yang dimotori oleh Ucok AKA Harahap-pun terpengaruh ama musik soul-nya laki-laki berjuluk : "The Hardest Working Man in Show Business" itu. Cuman, menurut saya, pengaruh yang sekadar tempelan itu malah membuat salah satu lagu AKA, yang mirip banget ama lagu James Brown, Get Up, jadi terdengar lucu. Lucu dan konyol, mengingat lirik bahasa inggrisnya kayak anak-anak sekolah menengah sedang belajar conversation. Di lagu Shake Me, tepatnya. Di lagu itu, Ucok AKA seolah-olah sedang berdialog dengan sekumpulan orang. “Do you like morphine ?”teriak Ucok.”No.”jawab audience-nya, ”Do you like LSD ?”teriak Ucok kedua kali.”No.”teriak audience-nya. Dan baru, setelah Ucok berteriak pada audience : “Do you like sex (or shake) ?”, barulah audience berteriak “Yes.” Gaya dialog pembuka di awal lagu AKA yang sealbum ama lagu hits mereka Crazy Joe itu, mirip ama gaya lawakan Warkop DKI di kaset lawak : Makin Tipis, Makin Asyik, yang rilis beberapa taun kemudian. Kayaknya sih mirip doang, bukan kesengajaan grup lawak yang diawaki oleh trio komedian legendaris : Dono, Kasino, Indro itu.

Musik James Brown, emang sesuatu yang spesial, disamping musik-musik lain yang dibawakan ama musisi kulit hitam. Dengan basic vokal gospel dan tarian enerjik, James Brown mampu membuat pendengarnya menghentak-hentakkan kaki, menggoyang-goyangkan badan, atau sampe teriak-teriak histeris. Kecuali, It’s A Man’s Man’s World dan Please, Please, Please- lagu-lagu hits Brown yang lainnya senantiasa memancing para pendengarnya untuk bergoyang. Papa's Got a Brand New Bag, Say It Loud - I'm Black and I'm Proud dan Get Up (I Feel Like Being A) Sex Machine, adalah nomer-nomer jaminan mutu, bagi mereka yang suka joget atau sekadar pengen goyang-goyang kepala.

Saya pernah baca salah satu majalah tempo dulu, yang isi artikelnya mengklaim bahwa Ian Gillan-lah, lewat hits Deep Purple, Child In Time, yang pertamakali lengkingannya menembus 3 oktaf. Padahal, kalo denger album masterpiece-nya Brown, Live at the Apollo, justru sang Godfather Of Soul-lah yang pertamakali menampilkan lengkingan tinggi melewati tiga tangga nada itu secara full soul dan sempurna. Coba aja simak I’ll Go Crazy dan Try Me, dua lagu pembuka di album live yang direkam tanggal 24 Oktober 1962 ini. Waaaw…waaaw…-nya aja ada lebih dari 10 kali. Betul-betul sangat emosional dan penuh energi, lengkingan vokal Brown saat pementasan di Apollo Theater, Harlem, itu.

James Brown tuh seorang musisi yang juga memegang kuat prinsip, buat menghibur para penggemarnya semaksimal mungkin. “Gua mesti ngasih lebih, daripada apa yang mereka inginkan dari gua,” bilang Brown ama temen-temen Big Band-nya, setiap sebelum mereka tampil menggoyang penggemarnya. Pantes aja, di film T.A.M.I show, yang menampilkan James Brown and The Famous Flames sebagai salah satu talent-nya, James Brown dan para backing vocal-nya tampil super heboh. Di film itulah, moving dance a la James Brown pertamakali disaksikan oleh khalayak luas, sampe-sampe Keith Richards, pentolan Rolling Stones yang juga tampil di film dokumenter itu bilang, “Gairah Brown dan para pengiringnya itu bikin gua keder. Soalnya, gua kira susah banget buat menyaingi totalitas persembahan mereka buat penggemarnya lewat aksi panggung.”

Memukaunya James Brown dalam setiap aksi pentas dan lagu-lagunya, bikin saya penasaran untuk nonton Rocky IV, dimana Brown tampil sebagai salah satu cast-nya. He he he, doi nongol cuman sebentar, nyanyiin lagu Living In America dan Star Spangled Banner, sebelum Rocky Balboa, yang diperankan ama Sylvester Stalone bertarung ama Ivan Drago,yang diperankan oleh aktor berdarah Denmark, Dolph Lundgren. Brown juga sempet maen di film Blues Brothers (1980), Blues Brothers 2000 (1998), dan banyak lagi. Kebanyakan emang jadi actor tamu. Buat saya, penampilan Brown yang memukau sebagai guest cast, adalah dalam film documenter tentang duel Muhammad Ali versus George Foreman di Zaire, When We Were Kings (1996). Di film itu, James Brown sepanggung ama legenda Black Music lainnya, B.B. King. Fantastik banget, performance mereka di film dokumenter, yang disutradarai ama Leon Gast itu.

Taun 2006, pas 25 Desember waktu umat kristiani ngerayain Natal, James Brown mangkat untuk selama-lamanya. Brown meninggal karena komplikasi gagal liver dan radang paru-paru. Charles Bobbit, sahabat karib Brown yang mendampingi sang Godfather bilang, sebelum ajalnya, Brown berbisik ama dia : “I’m going away tonight.” Saya pergi malam ini, kata Brown. Dan, pas jam 2 malem kurang 15 menit, James Brown-pun meninggal dunia.

Waktu berita duka ini nyampe di Indonesia, kok aneh ya : saya sampe menitikkan air mata. Gak kenal secara pribadi, bukan orang kulit hitam, belum pernah langsung ngeliat show-nya, tapi aneh, saya menangis begitu saja. Saya kira, mungkin itulah chemistry antara James Brown, sang entertainer sejati, dengan para penggemarnya. Ya, semua penggemarnya menangis ketika dia pergi, mengingat Brown adalah seorang artis yang selalu berusaha memberikan lebih, dari apa yang diharapkan ama para pengagumnya.

Saya salah satu penggemar Brown dari jauh, yang sedemikian mengagumi ke-entertainer-annya. Gak berlebihan memang, apa yang diteriakkan ama MC Fats Gonder pada saat memanggil Brown untuk naek ke atas panggung, dalam opening show di album Live at the Apollo. “So now ladies and gentlemen it is star time, are you ready for star time? Thank you and thank you very kindly. It is indeed a great pleasure to present to you at this particular time, national and internationally known as the hardest working man in show business, the men that sing "I'll Go Crazy" ... "Try Me" ... "You've Got the Power" ... "Think" ... "If You Want Me" ... "I Don't Mind" ... "Bewildered" ...the million dollar seller, "Lost Someone" ... the very latest release, "Night Train" ... let's everybody "Shout and Shimmy" ... Mr. Dynamite, the amazing Mr. Please Please himself, the star of the show, James Brown and the Famous Flames!”teriak Gonder memanggil sang Godfather Of Soul, untuk segera menghibur para fanatikannya yang kangen pembebasan.(eap)

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

DRAMA TRAGIS KEMATIAN DIMEBAG DARRELL

Musicians tend to get bored playing the same thing over and over, so I think it's natural to experiment.
-Dimebag Darrell, gitaris kelompok Trash Metal legendaris Panthera

Selesai botakan waktu SMA, kawan-kawan menyebut saya mirip dengan Philip Anselmo, sang vokalis Pantera. Kendati nge-fans sama lagu-lagu dari album Cowboy From Hell dan Vulgar Display Of Power, sesungguhnya saya nggak nge-fans sama tongkrongannya beliau. Serem dan angker. Mirip seorang tetangga saya yang oknum berseragam, yang galak dan egois sama tetangga kanan-kiri (suka parkir mobil sembarangan dan bikin mobil bokap susah masuk garasi rumah sendiri- red). Tiap lihat Philip Anselmo jadi inget juga sama beliau. Oknum edan yang lupa, bahwa bikin susah tetangga itu sama dengan penyelewengan sumpahnya sebagai pengayom.

Untunglah wajah personil Pantera nggak semuanya mirip Anselmo. Sehingga yang lainnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kebencian saya. Malahan, ada kakak beradik Abbott- Darrell “Dimebag” Lance &…