Skip to main content

SEMANGAT ROCK RITCHIE BLACKMORE


Dalam kumpulan cerpen penulis yang gue gemari, Seno Gumira Ajidarma, yang punya judul Kematian Donny Osmond, ada satu cerpen yang dikasih judul unik : Ritchie Blackmore. Cerpen ini menceritakan kiprah seorang pengamen jalanan, yang fanatik berat ama Ritchie Blackmore, gitaris pertama Deep Purple dan pendiri grup hard-rock legendaris, Rainbow. Sang pengamen mencari nafkah dari memainkan nomor-nomor Ritchie Blackmore, semasa salah seorang penggubah riff dan penulis komposisi rock legendaris ini bergabung dengan grup-grup superpower yang disebut sebelumnya. Lain ama para koleganya di jalanan, yang rata-rata memainkan musik dangdut atau lirik protes Iwan Fals, sang pengamen meneriakkan Child In Time, Smoke On The Water, Stormbringer, Man On The Silver Mountain, Long Live Rock N Roll, dan lain sebagainya, di pasar-pasar atau tempat dimana ia biasa mangkal. Gila kalo ada pengamen kayak gini. Nyentrik banget kayaknya.

Dari kota ke kota, sang pengamen mencari nafkah dari memainkan nomer-nomer gubahan Blackmore, yang dia hafal banget dari mulai riff, interlude, dan closing-nya. Dia gape juga niruin lengkingan Ian Gillan, cengkok David Coverdale, seraknya Ronnie James Dio, para vokalis yang sempet ber-associate ama sang dewa gitar. Edannya, itu pengamen bisa menyulap body gitarnya jadi perkusi, buat niruin ketukan-ketukan Ian Paice, Cozy Powell, para drummer yang sempet dapet kepercayaan buat mengawal lagu-lagunya Blackmore. “…bila perlu mulutku pun menirukan bunyi papan kunci Jon Lord dan dentuman bass Roger Glover.” kata sang pengamen dengan gagah dan angkuhnya.

Ada banyak lagi quotes yang gue seneng dan gue kutip dari cerpen Ritchie Blackmore by Seno Gumira Ajidarma ini. Quotes pertama yang menurut gue gagah, laki-laki dan rocker banget adalah : “…aku memang hanya seorang pengamen biasa, tapi aku bukan pengamen sembarangan : aku hanya membawakan lagu-lagu Ritchie Blackmore.” Kekaguman sang pengamen ama Blackmore dipertegas lagi dalam quotes : “…hanya Ritchie Blackmore dewa gitar yang kuakui di muka bumi ini. Orang lain boleh memuja Slash, tergila-gila pada Ed Van Halen, boleh mendewa-dewakan Yngwie Malmsteen, tapi bagiku hanya ada Ritchie Blackmore. Ketika menyanyikan kembali Catch The Rainbow, aku tahu, ia telah menerjemahkan pelangi dalam petikan gitarnya.”

Suatu kali, sang pengamen kugiran Ritchie Blackmore ini diwawancarai ama seorang jurnalis majalah peliput kehidupan malam. Sang pengamen ditanya : “Kenapa anda begitu tergila-gila pada Ritchie Blackmore ?” Dengan gaya seorang kritikus musik, sang pengamen menjawab : “Perhatikan nuansanya, dalam petikan gitar Ritchie terdapat raungan binatang yang terluka, jeritan kemarahan, nafsu balas dendam, keterasingan manusia, dan kegersangan peradaban. Tidakkah itu merupakan gejala kemanusiaan pada masa yang akan datang ?”

Apa yang diucapkan ama sang pengamen kugiran Ritchie Blackmore itu kayaknya mewakili apa yang ada di hati siapapun penggemar berat gitaris, yang kini banyak menggubah komposisi-komposisi balada klasikal lewat kelompok Blackmore Night-nya. Gue kira, lagu-lagu Blackmore tempo dulu sampe sekarang, emang menunjukkan betapa sang gitaris ini sangat layak diberi penghormatan lebih. Karena pendirian gue itu, gue sempet bersitegang ama beberapa orang temen, yang ngerendahin penulis lagu classic rock evergreen Temple Of The King ini. Kalo gak salah, temen gue ngebandingin Blackmore ama Jimi Page, Yngwie Malmsteen, Stevie Vai, Eddie Van Halen dan Joe Satriani. Temen gue bilang, keempat gitaris ini ada diatas Ritchie Blackmore, secara skill maupun sound. Terang aja gue sangkal keras-keras pernyataan itu.

Dibandingkan Jimi Page, Ritchie Blackmore jelas lebih kharismatik. Dengan rambut panjang terurai, kemeja item, celana kulit item dan fender stratocaster gading-nya, tongkrongan Blackmore di atas pentas menurut gue gak ada duanya. Riff-riff di lagu keras dan petikan-petikannya di nomer-nomer sendu juga gak boleh dibilang kalah dari Jimi Page. Pas acara adu bacot ini semakin menegangkan, gue ambil gitar gue, gue colokin ke ampli dan nyuruh dia yang menghina Blackmore maenin beberapa riff Page. Untuk riff temen gue nyodorin : Whole Lotta Love, Black Dog dan Heartbreaker. Dengan garang, gue bales pake Smoke On The Water, Burn dan Man On The Silver Mountain. Pas adu denting, dia kelimpungan : yang dia ngerti cuman Stairway To Heaven doang. Nah, gue kasih tuh tiga intro terlegendaris Blackmore di nomer-nomer Evergreen-nya : Soldier of Fortune, Temple Of The King dan sedikit lead melodi pasca refrain-nya When A Blind Man Cries dan Rainbow Eyes. Meski agak berat kayaknya, tapi temen gue akhirnya mengakui soul dan touching seorang Ritchie Blackmore.

Kalo soul ama touching dah dapet, gimana teknik ama sound-nya ? Yngwie, Vai, Satriani ato Eddie Van Halen kan jelas diatas Blackmore ? Wah, masih belom ngerti juga nih, pikir gue. Maka, gue bilang ama temen gue, bahwa Ritchie Blackmore itu seorang gitaris alam. Laen ama para shredder yang dia sebutin sebelumnya, Blackmore gak butuh rentetan equipment canggih, buat menampilkan citranya sebagai gitaris jago dan pemain rock. Di album In Rock-nya Deep Purple yang fenomenal, yang bikin itu band digelari grup paling cadas pada jamannya, Blackmore cuman ngandelin gitar yang dicolokin ke ampli yang udah include efek over drive dalam spesifikasinya. Dengan volume poll dan efek overdrive yang sedikit lebih nge-bass dari efek distorsi taun 80-an, Blackmore memainkan Speed King, Black Night, Smoke On The Water, Highway Star, Strange Kind Of Woman, Mad Dog, Bloodsucker dan Burn, yang terkenal sebagai nomer-nomer paling keras pada jamannya. Kebayang gak lo, kata gue ama dia yang meragukan Blackmore, lo maenin appregio-nya Highway Star minus turbo distorsion, flanger dan chorus ? Seorang Ritchie Blackmore, dengan hanya mengandalkan touching, teknik handle dan efek over drive, dia udah bisa menampilkan sebuah permainan yang memukau, bagi para penggemar rock dan generasi gitaris shredder sesudahnya, di lagu yang juga menambah popularitas kibordis Deep Purple, Jon Lord, itu.

Pada intinya, diterimanya sebuah aksi gitaran rock itu bukan melulu terpaut erat perkara equipment, terobosan teknik atau eksperimen sound- kalo kita menyimak segimana diterimanya seorang Ritchie Blackmore di hati para penggemarnya. Bagi Blackmore, ruh lebih penting dibandingkan equipment, yang mewakili sisi materi dalam kreativitas bermusiknya. Ibarat pergulatan Yin dan Yang, terang dan kelam- Blackmore berkarya dengan semangat rock yang membabat, membantai, menghancurkan, sekaligus juga menampilkan citra puitik, romantik, dalam nomer-nomer sendunya. Ritchie Blackmore, menurut gue, adalah seorang gitaris yang permainannnya di nomer-nomer cadas sama berkualitasnya dengan saat dia memetik dawai gitarnya bak seorang pemetik harpa. Blackmore mampu menerjemahkan raungan hewan yang terluka, sebagaimana ia mampu menerjemahkan pelangi ke dalam petikan-petikan gitarnya.(eap)

Comments

Tenos said…
Hi, look here

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

DRAMA TRAGIS KEMATIAN DIMEBAG DARRELL

Musicians tend to get bored playing the same thing over and over, so I think it's natural to experiment.
-Dimebag Darrell, gitaris kelompok Trash Metal legendaris Panthera

Selesai botakan waktu SMA, kawan-kawan menyebut saya mirip dengan Philip Anselmo, sang vokalis Pantera. Kendati nge-fans sama lagu-lagu dari album Cowboy From Hell dan Vulgar Display Of Power, sesungguhnya saya nggak nge-fans sama tongkrongannya beliau. Serem dan angker. Mirip seorang tetangga saya yang oknum berseragam, yang galak dan egois sama tetangga kanan-kiri (suka parkir mobil sembarangan dan bikin mobil bokap susah masuk garasi rumah sendiri- red). Tiap lihat Philip Anselmo jadi inget juga sama beliau. Oknum edan yang lupa, bahwa bikin susah tetangga itu sama dengan penyelewengan sumpahnya sebagai pengayom.

Untunglah wajah personil Pantera nggak semuanya mirip Anselmo. Sehingga yang lainnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kebencian saya. Malahan, ada kakak beradik Abbott- Darrell “Dimebag” Lance &…