Skip to main content

BOB MARLEY DAN SAYA


Stasiun Bandung, 1993. Dengan masih menggunakan seragam putih-abu, kami bertujuh menyambangi rumah Cunong, buat mendapatkan se-amplop ”Paket Hemat.” Enam linting, barang Aceh katanya, harganya cuman dua puluh rebu. Saya dan temen-temen yang sedang edan-edannya nyoba ini-itu, tanpa pikir panjang langsung menyiapkan subsidi buat menikmati paket barang haram itu. Rencananya, ”Paket Hemat” ini bakal kita nikmatin bareng-bareng di rumah salah seorang temen, di daerah Bandung Utara, yang kebetulan kosong ditinggal nyokap-bokap-nya berlibur.

Singkat kata, setelah melalui proses musyawarah apakah kami mengisap ”Paket Hemat” itu secara bergilir atau bagi rata masing-masing selinting, akhirnya kita sepakat untuk milih : Bagito alias bagi roto selinting-selinting. Jadi, satu orang satu linting. Waktu itu, sebut aja Mamen, yang mengalah untuk tidak mengisap ”Rokok Jah” yang wangi asap pertamanya mirip-mirip abu pembakaran Sate Kambing, yang biasanya bikin saya laper berat. Mamen khawatir gejala sakit nelen-nya bakal merembet jadi sakit tenggorokan, kalo ia nekat ngisep cimeng meskipun cuma sekali sedot.

Hisap demi hisap, kami berenam-pun mulai merasakan dampak rokok pemujaan kaum Rasta itu. Menurut Mamen yang hilang nafsu nyimeng-nya, saya dan keenam kawan mulai bercanda, berkata-kata jorok, makin sableng dan kemudian putus urat malu setelah Rokok Jah mulai nampak tinggal separuh. Ya, karena Teh Manis dan Rokok Jah Made In Atjeh yang kami hisap, sekumpulan siswa es-em-a, kelompok Jomblo Kronis keluaran Cimahi itu berubah jadi : Paguyuban Srimulat. Musik reggae, alunan vokal Bob Marley di lagu No Woman, No Cry, yang mengiringi kekonyolan kami berubah fungsi menjadi soundtrack adegan komedi.

Gawatnya, efek Rokok Jah gak berhenti cuma ketika kami seneng-seneng dan ngumpul di Dago Utara. Waktu kita-kita cabut dari rumah temen yang kosong ditinggal libur itu, menurut Mamen, kami masih berlagak bak Tarzan, Gepeng, Asmuni, Timbul lagi ngocol. Alhasil, dengan perasaan harap-harap cemas, Mamen-pun membimbing kelima sahabatnya yang teler pulang dengan angkutan kota menuju Cimahi City.

Mamen mengaku agak tenang, ketika kami berlima masuk angkutan kota dengan tertib, antri, gak seperti mahasiswa-mahasiswi UNPAD rebutan bis di Pangdam (Pangkalan Damri), Jatinangor. Lima menit angkot melaju, belum tampak keanehan. Namun ketika seorang ibu dengan tahi lalat besar memasuki angkot, Mamen mulai resah, sebab salah seorang dari kami tampak mulai nyaris kumat penyakit ”nyeletuk”-nya. Mamen takut, gara-gara celetukannya kami berlima kembali pada kondisi abnormal, seperti baru dia saksikan dalam keadaan sadar di Dago Utara beberapa waktu tadi.

Ketakutan Mamen-pun terjadi, salah seorang teman, sebut saja Kobel, tidak mampu menahan hasratnya untuk mengomentari sosok sang ibu. Dengan sedikit keras, bikin si ibu melirik sewot, Kobel nyeletuk,”Segede apa lalatnya, Men ?” Kami berlima yang sebelumnya sudah parah kerasukan arwah moyangnya Bob Marley kontan ketawa ngakak, ketawa bareng, dan nyaris gak bisa menahan geli yang terus mengocok-ngocok bagian abdomen dan kerongkongan. Saking over-acting-nya, sang kernet jadi ketakutan, dan pak sopir mengingatkan sang kernet dan membisiki penumpang yang duduk di depan,”Kade, ucing geuring. Eukeur Mabok...” (Awas, kucing sakit, lagi mabuk). Ya, setelah si ibu bertahi lalat itu, setiap penumpang yang naik menjadi bahan kelakaran kami. Bahkan ada seorang bapak setengah baya bertubuh Jack John, yang urung naek angkot menyaksikan lirikan kami yang ”psikedelik abis”. Untung aja, kata Mamen, gak ada polisi, tentara atau sejenis aparat yang kebetulan naek ke angkot yang kita tumpangi waktu itu. Kalo enggak, bisa-bisa kita semua digelandang ke Mapolres atau Garnisun, dengan dakwaan : mengganggu ketenangan dan ketenteraman orang lain. Wah, bakal susah deh ngurus Surat Kelakuan Baik.

Kejadian kontroversial itu saya ceritain lagi ke sepupu, pas kita lagi menikmati sore dibawah iringan ”Natural Mystic”-nya Bob Marley. Emang, buat rata-rata anak baru gede, Bob Marley identik ama Rasta a.k.a Ganja a.k.a Cimeng. Kalo mengidolakan Bob Marley, maka salah satu yang ditiru dari kebiasaannya adalah ritual ngisep cimeng. Kebiasaan musisi Jamaica bernama asli Robert Nesta Marley menghisap ganja itu, sebagaimana sudah menjadi konsensus umum, adalah sesuatu yang tabu dalam kultur Indonesia. Apalagi, kalau kita bicara soal religi, agama mayoritas di negeri ini yang juga saya anut : agama Islam. Barang-barang yang bikin teler itu jelas-jelas haram, dan punya efek melemahkan pikiran. Ya, sudahlah. Memang buat mereka yang memegang keyakinan Islam dan berusaha menjadi mukmin, kebiasaan Bob Marley menyedot cimeng adalah haram. Dilarang Allah dan Rasul-Nya. Titik. Apapun alasan kita waktu ngelakuinnya.

Diluar kebiasaannya menghisap cimeng, yang konon juga bagian dari ritual ibadah keyakinan yang ia anut, Rastafarian, Bob Marley adalah seorang seniman-musisi dan aktivis sejati. Saya menyadari hal tersebut, waktu saya mulai aktif ikut-ikutan diskusi politik, dan puncaknya ikut rapat-rapat dan aksi student movement tahun 1997-1998. Sekitar waktu-waktu tersebut, saya kenal ama beberapa orang kutu buku, orang yang ngaku proletar, dan mereka yang tertarik ama ide revolusioner. Salah seorang dari mereka, Martin, adalah pembaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang dilarang beredar pas jaman Orba. Sama dia saya sering berdiskusi, karena ngerasa antik aja, ada orang muda yang capek-capek mikirin dampak kebijakan pemerintah terhadap rakyatnya. Saya juga sering berkunjung dan nginep di kamar kontrakannya, yang penuh ama buku-buku sastra dan majalah-majalah tempo doeloe. Diantara rak koleksi buku dan majalahnya yang memuat tulisan-tulisan yang menyuntik semangat itulah, saya menemukan kaset-kaset Bob Marley. Lebih antik lagi, kaset-kaset tersebut bersanding dengan sebuah notes lepet, yang berisi penuh catatan lirik lagu-lagu pahlawan Jamaica dan proklamator musik reggae itu. Itulah pertamakalinya saya membaca tuntas beberapa lirik Bob Marley, diiringi album reggae paling fenomenal dalam sejarah musik, Legend (Greatest Hits of Bob Marley, 1984, terjual 12 juta kopi diseluruh dunia), dan album Exodus (1977) yang menampilkan akar musik reggae tradisional secara utuh.

Kalo jaman es-em-a denger Bob Marley lantas nyimeng, maka alhamdulillah, pas jaman mahasiswa waktu saya 22 tahun, abis dengerin lagu-lagunya- sambil menyimak lirik-lirik keren kayak di lagu Natural Mystic, The Heathen, Exodus, Jamming, Waiting in Vain dan One Love- saya bungkus cepet-cepet maknanya buat bekal di ”social movement” dan ”romantic movement” saya, yang mulai beranjak kearah lebih serius, lebih dewasa dan more positive ketimbang masa-masa sebelumnya. Jadilah beberapa lagu Marley sebagai soundtrack of my life, sepanjang taun-taun saya aktif di ”gerakan revolusi sosial” dan ”gerakan revolusi romantik” di masa transisi antara planet remaja dan dunia dewasa saya secara personal.

Sisi kesejatian Bob Marley sebagai ”real artist and musician”, salah satunya diindikasikan oleh keberhasilannya mengangkat musik reggae ke pentas dunia. Musik reggae kuat berakar dari musik tradisional Afrika dan Karibia. Reggae yang banyak diapresiasi ama khalayak dan diusung ama Marley saat ini, adalah perkawinan antara reggae dengan style R N’B, yang berkembang mulai tahun 1960-an. Selain ditopang oleh nuansa afro-caribbean music plus warna ritem en blues, secara instrumental reggae a la Marley ditunjang juga oleh perangkat yang lazim digunakan musisi jazz, yaitu : horn, saxophone dan trumpet. Musisi yang memainkan musik reggae dan menggunakan ketiga instrumen tersebut, oleh orang-orang Jamaica dikenal juga sebagai pengusung aliran Ska. Dalam beberapa kesempatan, Bob Marley bilang musiknya sebagai Roots Reggae. Apaan tuh Roots Reggae ? Roots Reggae dikenal sebagai subgenre dari reggae, yang secara tematik baik lirik maupun musiknya mendeskripsikan masalah-masalah yang menimpa di perkampungan orang kulit hitam (ghetto). Lirik-liriknya menggulirkan masalah kemiskinan, isyu sosial, perlawanan kepada rezim yang menindas, deportasi imigran gelap dan filosofi rastafari. Secara konsisten Bob Marley meramu akar musik, pengaruh luar dan bahan lirik lagu-lagunya itu, sehingga khalayak dunia dapat menikmati musik reggae yang notabene tradisional Jamaica, sembari menyelami apa yang disuarakan lewat lirik-liriknya. Marley berhasil memperkenalkan jatidiri asli melalui musik asli tanah kelahirannya, berhasil menyuarakan apa yang hendak disampaikannya kepada khalayak dunia, dan ujung-ujungnya dunia-pun mengapresiasi karya Marley dan mengambilnya sebagai ilham perubahan. Bob Marley mampu menyampaikan ide secara luas, menjadi populer sebagai musisi, tanpa harus tercerabut dari akar dan menyuarakan sesuatu yang tidak murni dari hatinya. Itulah jawaban : mengapa Bob Marley layak digelari seniman-musisi sejati ?, selain kenyataan bahwa Bob Marley memilih untuk bekerja dan meninggalkan bangku sekolah, demi pembiayaan dan menuntaskan ambisinya : total bermain musik.

Sisi kesejatian Bob Marley sebagai aktivis, terkait erat dengan pengertian harfiah dari kata aktivis sendiri, yaitu : pejuang. Pejuang sebagai individu, bukan pejuang yang bernaung dibawah suatu lembaga. Ya, secara personal Bob Marley adalah pejuang. Dan sisi kepejuangannya ini terpupuk dari kondisi memprihatinkan yang mesti dia jalani, semenjak ia terlahir ke bumi ini sebagai anak blasteran kulit putih dan negro. Dia lahir pada tanggal 6 Februari 1945, dari rahim Cedella Booker, seorang wanita kulit hitam, yang dinikahi seorang Kapten Marinir Jamaica keturunan Inggris, Norval Sinclair Marley, pada saat berusia 18 tahun. Marley kecil jarang banget ketemu bapaknya yang bule, meskipun masih ditunjang secara finansial, karena sang ayah sering banget bepergian dalam rangka tugasnya. Tahun 1955, pas si Bob nyampe usia 10 tahun, Norval sang ayah meninggal dunia. Perlakuan rasis terhadap dirinya makin menjadi-jadi, disebabkan oleh darah campuran yang mengalir dalam tubuhnya. Sepeninggal ayahnya, Bob Marley dan Cedella Booker pindah ke Kingston’s Trenchtown, ibukota dan kota terbesar di Jamaica, dari desa kelahirannya, Saint Ann Parish. Disitulah Marley belajar mempertahankan diri, ketika dia kerap menjadi sasaran gertakan sebab sentimen rasial dan postur tubuhnya yang mungil (tinggi 163 cm). Mengenang saat-saat sulitnya di Kingston’s Trenchtown, Bob Marley pernah berkata, ”My father was white and my mother black, you know. Them call me half-caste, or whatever. Well, me don’t dip on nobody’s side. Me don’t dip on the black man’s side nor the white man’s side. Me dip on God’s side, the one who create me and cause me to come from black and white, who give me this talent.” Serba salah memang. Di kalangan orang item ditolak karena dianggap putih, di kalangan orang putih dihina karena dianggap item. Marley merefleksikan pengalaman pahit masa kecil dan masa remajanya, dan menghimbau dunia untuk senantiasa menyimak kesamaan dan menafikan perbedaan, lewat lagu One Love/People Get Ready. “One love, one heart/Let's get together and feel all right/Hear the children crying (One love)/Hear the children crying (One heart)/Sayin', "Give thanks and praise to the Lord and I will feel all right."/Sayin', "Let's get together and feel all right."

Dari pengalaman Bob Marley itu, saya memahami, bahwa hal paling tidak enak di dunia ini adalah merasa berbeda dan dibedakan oleh orang lain. Waktu saya mulai merasa berbeda dari orang lain saya akan merasa minder, waktu saya mulai membedakan orang lain maka mulailah saya merasa, bebas bersikap apa saja tanpa memerhatikan ”yang dibedakan” terganggu atau tidak. Maka, semenjak masa-masa apresiasi saya atas materi-materi Bob Marley di kamar Martin itu, saya selalu berusaha gak membedakan : suku, usia, strata, temen-temen sepergaulan saya. Kalo ada yang boleh menjadi pembeda hanyalah : benar atau salah, sesuai konsensus universal yang logis.

Sisi kesejatian Bob Marley sebagai seniman-musisi dan pejuang itulah, yang sebetulnya bisa jadi bahan buat up-grading diri. Bukan sisi dia sebagai penikmat ganja belaka, yang perlu dicangkok dalam attitude seorang penggemarnya. Kalo sisi dia sebagai pe-nyimeng aja yang sampe dijadiin bahan untuk pengayaan attitude diri, paling-paling sang fanatikan cuma sampe di teler atau sukses jadi gerombolan ketawa-ketiwi, yang dibenci penumpang dan awak angkutan kota. Bener apa yang pernah dinasehatkan sahabat saya Mamen, ”Niru Bob Marley teh lain niru gimbal jeung nyimengna wungkul atuh...”(Niru Bob Marley jangan cuman niru gimbal ama ngeganjanya doang dong), beberapa hari setelah kejadian memalukan usai pesta rasta di Bandung Utara.(eap)

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

DRAMA TRAGIS KEMATIAN DIMEBAG DARRELL

Musicians tend to get bored playing the same thing over and over, so I think it's natural to experiment.
-Dimebag Darrell, gitaris kelompok Trash Metal legendaris Panthera

Selesai botakan waktu SMA, kawan-kawan menyebut saya mirip dengan Philip Anselmo, sang vokalis Pantera. Kendati nge-fans sama lagu-lagu dari album Cowboy From Hell dan Vulgar Display Of Power, sesungguhnya saya nggak nge-fans sama tongkrongannya beliau. Serem dan angker. Mirip seorang tetangga saya yang oknum berseragam, yang galak dan egois sama tetangga kanan-kiri (suka parkir mobil sembarangan dan bikin mobil bokap susah masuk garasi rumah sendiri- red). Tiap lihat Philip Anselmo jadi inget juga sama beliau. Oknum edan yang lupa, bahwa bikin susah tetangga itu sama dengan penyelewengan sumpahnya sebagai pengayom.

Untunglah wajah personil Pantera nggak semuanya mirip Anselmo. Sehingga yang lainnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kebencian saya. Malahan, ada kakak beradik Abbott- Darrell “Dimebag” Lance &…