Skip to main content

The Brandal’s Story Before Magister Inauguration



Pak prof pembimbing saya adalah seorang penikmat musik. Seumuran ayah saya, ya kesukaannya gak jauh-jauh lah dari Beatles, Rolling Stones, Bee Gees dan lain-lain. Tadinya saya kira pak prof orang yang serius dan gak ada minat ama rock n roll. Baru menjelang sidanglah saya ngeh : si prof adalah seorang peminat musik, especially rock n roll.

Saya tahu dia peminat rock waktu nanya : ”Anda kenal dengan semua personil The Brandal’s ?” Hah, Brandal’s ? Kaget berat saya ngedenger si prof menanyakan seberapa jauh kedekatan saya ama kelompok musik indie label, yang menurut saya paling keren diantara band-band indie label taun 2000 ke atas.

”Lho, kok bengong ? Ini Eka Annash, Bayu Indra,...(si prof menunjukkan lembar persembahan dan lembar terima kasih dalam tesis saya, yang mencantumkan nama-nama personil The Brandal’s. Tulisannya : ”Terima kasih kepada Eka Annash, Bayu Indrasoewarman, Rully Annash, Tonny Dwi dan Doddy atas dukungan dan kesediaannya menemani penulis dalam pengerjaan tesis ini.”)...bukannya temen-temen saudara ? Saudara nge-band juga ya ?”tanya pak prof dengan mimik serius penuh antusias.

Saya ngerasa kayak maling ayam kepergok, maling jemuran tertangkap basah, karena nyantumin nama-nama mereka di lembar terima kasih dalam halaman-halaman awal tesis S2. Kepaksa ngaku deh, kepalang malu, lebih baik jujur sekalian.”Bukan prof, selama begadang mengerjakan tesis ini, saya mendengarkan lagu-lagu mereka. Lagu-lagu The Brandal’s. Aduh, maaf prof, kok prof tahu nama-nama yang saya cantumkan itu nama musisi rock ?”

”Ah, saya baru saja semalam tahu tentang grup The Brandal’s ini. Saya baca majalah punya keponakan di rumah. Gak tau majalah apa tuh, saya lupa namanya. Ripel ya kalo gak salah. Bahasanya sih acak-acakan majalah itu. Tapi, saya sempat baca tentang The Brandal’s. Maklum, saya liat ada yang rambutnya Afro-Kribo kayak Ahmad Albar. Siapa namanya ? Dia maen apa ?”

”Oh, itu Bayu Indrasoewarman, prof. Lead gitarisnya ?”

”Namanya kok kayak nama dosen muda Fekon (fakultas ekonomi) ya, he he he. Bagus lah javanese dan indonesia banget nama panggungnya. Gak perlu ganti jadi John, James atau apa gitu.”cerocos si prof sambil membuka lembar demi lembar tesis saya.”Oh, jadi dia semacam Ian Antono ya...kirain penyanyi utama.”

Ketegangan saya mencair pas sang profesor mengabsen nama-nama yang nge-trend dan nge-legend dalam perkembangan musik rock indonesia itu. Ripel, Ahmad Albar, Ian Antono....edan, pikir gue. Kok di akhir-akhir proses bimbingan saya dan prof baru diskusi soal musik rock. Saya gak tau sih...kirain si prof ini aliran Frank Sinatra atau Engelbert Humperdinck.

Saya bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan profesor, terkait beberapa perubahan di bab IV, waktu si prof tampak membuka-buka halaman tersebut.

”Jadi, Ed,...”saya menahan nafas menunggu pertanyaan yang akan dilontarkan si prof, karena biasanya pertanyaan guru besar ini cukup njelimet dan agak ajaib. Suka bikin surprise ”...musik Brandal’s itu kayak gimana sih ?”

Saya kaget. Bukan karena pertanyaan si prof yang njelimet, melainkan karena dalam proses komprehensif menjelang sidang minggu depan, sejak awal prof pembimbing utama malah menanyakan hal-hal yang gak ada hubungannya sama sekali dengan tesis. Dengan perasaan ajaib, geli, tapi tetep was-was, mengingat yang saya hadapi ini adalah guru besar dan tokoh yang amat sangat disegani rektor sekalipun.

”Musik mereka seperti Rolling Stones, prof. Tapi lebih keras. Eh, ada selipan Jimi Hendrix-nya juga...prof barangkali tau Jimi Hendrix ?” Glek, saya betul-betul kagok menerangkannya. Lebih mudah memilih kata-kata untuk ngejelasin tesis, daripada

”Lho, saya tahu dong. Di rumah piringan hitam saya banyak musik blues. Pernah di Belanda saya beli CD-nya Jimi Hendrix. Itu, yang konser di Albert Hall. Saya suka yang judulnya Purple Haze, sama itu tuh Crosstown Traffic. Saudara tahu lagu blues paling legendaris yang pernah ditulis sama Jimi Hendrix ? Coba tebak lagu apa coba ?”

Gubrak ! Jawaban prof bikin saya makin grogi, sampe-sampe saya terbengong gak menjawab pertanyaannya yang terakhir.

”Ayo apa ? Masak penggemar rock gak tau...”ucap si prof dengan santai, dan kali ini memandang saya dengan senyum anak kecil jahil. Senyum yang pertamakali saya lihat, semenjak delapan bulan belakangan saya dibimbing oleh beliau.

”Little Wings, prof. Betul ?”jawab saya, yang masih belum bisa mengendalikan gugup.

“Seratus untuk anda !”teriak si prof sambil mengacungkan jempol dan mengangkat gelas teh manisnya.

Saya kira, obrolan tentang The Brandal’s akan berakhir saat itu juga. Dugaan saya salah lagi. Sehabis saya menjawab pertanyaan soal Little Wings, pak prof masih terus menggulirkan beberapa pertanyaan, yang tidak bisa saya bedakan antara penasaran atau iseng, tentang kelompok yang sempet didapuk jadi band rock paling potensial 2006 oleh http://www.tembang.com/ itu. Kepalang malu, saya ungkapkan saja sekalian best cut, lirik, dan personil-personil yang menonjol.

“Best cut didalam album pertama Brandal’s adalah lagu Marching Menuju Maut, Lingkar Labirin, dan maaf pak, Anjing Urban.”

“Wah, judul-judulnya kok kayak judul buku-buku seniman Lekra ya ? Marxist ya mereka itu ?”
“Ya, sekitar kehidupan kaum urban saja, Prof. Sepertinya memotret Jakarta. Saya kurang paham mereka marxist atau bukan.”

”Terus, mereka sudah punya album ke-2 ?”

”Sudah, Prof. Audio Imperialist, judulnya.”

“Tuh, kan. He he he, marxist mungkin ya referensi mereka. Kalau bukan komunis ya mungkin sebut saja sosialis ya. Bagus juga album itu ?”

”Bagus, Prof. Ada lagu yang judulnya 24.00. Lagunya tentang wanita barangkali ya. Lalu ada juga yang judulnya antik : Dari Brandals Buat Yang Sedang Bercinta. Lagunya nge-beat dan didominasi riff dan permainan gitar yang antik dan ber-beat cepat, Prof.”

”Ooh, gitu ya. Meskipun saya belum mendengar, setidaknya saya punya gambaran. Musik mereka betul-betul mengadopsi warna 60-70-an ya. Yang saya tahu di Indonesia ya rock-rock yang populer yang lebih mudah dicerna seperti : God Bless, Slank atau jaman saya dulu, Giant Step atau Keenan Nasution Cs. Brandal’s itu memang khusus ya pendengarnya.”

”Saya kira begitu, Prof. Dari beberapa interview di media cetak atau online, The Brandals memang cenderung memposisikan sebagai band yang tidak mau label rekamannya ikut campur secara eksploratif, Prof. Tidak mau dicampuri proses kreatvitasnya.”

”Oh, bagus itu. Berarti mereka bukan sekadar musisi, tapi juga seniman. Saya semasa kuliah juga suka ber-kesenian. Tidak hanya main musik, tapi jenis kesenian yang lain juga. Toh, masing-masing cabang seni itu saling berhubungan, menjalin keterikatan untuk menegakkan pohon yang lebih gede...”ucap prof penuh semangat,”...yaitu pohon kesenian.”

”Nah, kesenian yang sehat itu ya kesenian yang gak dibatasi oleh target-target. Apalagi, target dapet duit. Kesenian itu sebelumnya bukan untuk cari duit kok. Kesenian itu biar kita sehat badan, sehat jiwa kan ? Kalau kesenian yang tidak sehat, dengan target tertentu, ya yang muncul : tari striptease, musik tripping atau lagu cengeng. Ngajak orang-orang ke arah yang gak bener, kalau kesenian cuma dipakai buat sekadar nyari duit.”

Saya manggut-manggut saja, dengan perasaan bahagia, karena proses kompre yang saya tempuh ternyata tidak sesulit yang saya kira. Asli, sehabis mengemukakan pendapatnya soal berkesenian, si prof cuma nanya : ”Ed, kamu dapat urutan sidang ke berapa nanti ?”

”Ke satu, Prof.”

”Ya, bagus kalau begitu.”

”Maaf, Prof, butir terakhir di lembar terimakasih itu saya hilangkan atau bagaimana menurut, Prof ?”
”Lho, kenapa dihilangkan.”

”Tidak, itu kan ucapan terima kasihnya tidak termasuk untuk pejabat almamater, keluarga atau kawan-kawan, Pak. Mereka kan musisi rock, Pak.”

”Ah, tidak usah. Toh, saudara tidak menulisnya dengan redaksional : thank’s untuk Brandals atau trim’s berat, seperti yang biasa dimuat sebuah band di CD-CD atau kaset rekaman terbarunya. Penguji yang lain kan belum tentu tahu siapa itu Eka Annash, Rully Annash, Bayu Indrasoewarman...ya mereka pasti nganggapnya temen. It’s OK lah, Ed. Cuma saya ama Allah yang tahu, ha ha ha !”

Wah, ngedenger kata-kata si prof itu, maka legalah saya. Ternyata guru besar yang namanya sangat disegani civitas akademik dan punya imej ”killer” buat sebagian mahasiswa, adalah seseorang yang menghargai sebuah pilihan yang tidak populer : mencantumkan nama-nama personil band rock yang digemari dalam lembar ucapan terimakasih sebuah karya tulis ilmiah. Bukan hanya respek sama beliau, saya jadi terharu karena kenang-kenangan saya begadang menyelesaikan tesis, ditemani petikan maut Bayu Indrasoewarman dan vokal ke-Iggy-Iggy-an-nya Eka Annash, berhasil dimonumentalkan dalam lembar ucapan terimakasih tesis saya, yang berjudul : ”Pengaruh Bauran Promosi Jasa Pariwisata Terhadap Minat Masyarakat Untuk Mengikuti Program Wisata Rohani di Pesantren Daarut Tauhiid Bandung.”
--
Selama 1,5 jam ketiga guru besar mencecar saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang lumayan menguras otak dan tenaga. Alhamdulillah, saya berhasil melewati sidang dengan sukses, dengan kepala tegak, karena seluruh pertanyaan dari para penguji berhasil saya jawab. Gimana gak kejawab, locus-focus-nya memang saya kuasai, sebab penelitian dilakukan di lingkungan tempat kerja. He he he, gak maksud sombong ya.

Selesai sidang, prof pembimbing saya bilang ama koleganya, salah seorang penguji,”Prof, kalau musik classic mencerdaskan bayi dan anak balita, kalau untuk orang dewasa musik apa coba yang mencerdaskan ?”

Guru-guru besar yang beberapa diantaranya sangat populer, sebagai cendekiawan nasional-internasional itu pada geleng-geleng kepala. Salah seorang dari mereka ada juga yang nyeletuk, ”Dangdut mungkin ya ?”

”Salah. Hari ini saya mengungkapkan hipotesis sementara : bahwa musik rock mencerdaskan orang dewasa.”seloroh lantang prof pembimbing saya kepada kolega-koleganya.”Saudara Eddy ini seorang penggemar rock. Menulis tesis sambil denger musik rock, sekarang menjawab pertanyaan-pertanyaan penguji juga dengan semangat rock. Betul kan, Ed ?”

Para profesor dan asisten profesor tertawa, sementara panitia ujian sidang dan kawan-kawan saya tersenyum, mendengar kelakaran profesor.

”Betul saudara mendengarkan musik rock sambil menulis tesis ?”tanya salah seorang profesor, satu-satunya wanita, diantara penguji-penguji saya. Saya mengangguk sopan mengiyakan pertanyaannya.

”Tuh, kan, prof. Anak saya juga begitu. Dan anehnya, dia itu gak pernah keliatan belajar tapi kok nilainya bagus-bagus ya ?”timpal profesor perempuan tadi, kepada kolega-koleganya. Akhirnya, sidang saya berakhir, dan saya dipersilahkan untuk menunggu yudisium. Subhaanallah. Dalam yudisium, saya dapat nilai A, dan dari semua penguji tidak ada satupun yang memberi nilai dibawah 3,6 dari skala 4 ! Bahagia betul saya hari itu. Lulus ujian sidang dengan nilai maksimal, dan lagi-lagi membuktikan, seorang penikmat rock bukan hanya para pemabuk yang hidupnya serabutan dan ancur-ancuran. Seorang penggemar rock-pun bisa dapet gelar Master, dengan nilai akhir maksimal. Sukses ini kemudian mengilhami saya untuk menulis lirik : Dari The Brandals Untuk Yang Sedang Menulis Tesis. He he he...

Comments

rocker juga manusia
manusia juga makan
manusia suka mentraktir dan ditraktir
jadi kapan makan-makan :D
TV de LCD said…
Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the TV de LCD, I hope you enjoy. The address is http://tv-lcd.blogspot.com. A hug.

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

DRAMA TRAGIS KEMATIAN DIMEBAG DARRELL

Musicians tend to get bored playing the same thing over and over, so I think it's natural to experiment.
-Dimebag Darrell, gitaris kelompok Trash Metal legendaris Panthera

Selesai botakan waktu SMA, kawan-kawan menyebut saya mirip dengan Philip Anselmo, sang vokalis Pantera. Kendati nge-fans sama lagu-lagu dari album Cowboy From Hell dan Vulgar Display Of Power, sesungguhnya saya nggak nge-fans sama tongkrongannya beliau. Serem dan angker. Mirip seorang tetangga saya yang oknum berseragam, yang galak dan egois sama tetangga kanan-kiri (suka parkir mobil sembarangan dan bikin mobil bokap susah masuk garasi rumah sendiri- red). Tiap lihat Philip Anselmo jadi inget juga sama beliau. Oknum edan yang lupa, bahwa bikin susah tetangga itu sama dengan penyelewengan sumpahnya sebagai pengayom.

Untunglah wajah personil Pantera nggak semuanya mirip Anselmo. Sehingga yang lainnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kebencian saya. Malahan, ada kakak beradik Abbott- Darrell “Dimebag” Lance &…