Wednesday, August 27, 2008

Ketemu di L.A. & Friendship Moment di Sleepyhouse (Blind Melon Story's seri 1)

Seseorang bernama Reeval, minta gue nyeritain panjang lebar soal Blind Melon, pas gue buka control panel blogspot gue, buat masukin artikel baru soal Sleep Now In The Fire-nya Rage Against The Machine. Wah, permintaan sahabat blogger tersebut bikin gue melayang ke masa-masa SMA dulu, jaman ketika gue membeli album pertama grup asal Southern America itu, yang dikasih judul sama dengan nama grupnya : Blind Melon. Gue waktu itu (1992-an), naksir berat ama tongkrongan para personilnya, yang secara fashion merupakan benang merah tongkrongan grunge dan flower generation. Shannon Hoon yang sweet dengan rambut lurus panjang terurai, adalah icon Blind Melon yang sebagaimana vokalis setiap band rock, selalu jadi frontman penarik massa penggemarnya. Vokalnya juga terbilang unik, diantara banyak vokalis rock berkarakter di awal 90-an. Hoon, menurut gue, punya tempat yang istimewa diantara para vokalis berkarakter unik seperti : Axl Roses (Guns N Roses), Sebastian Bach (Skid Row), Michael Matijevic (Steelheart), Layne Staley (Alice In Chains), Chris Cornell (Soundgarden) dan Henry Rollins (Rollins Band). Oktafnya tinggi, serak-seraknya mirip ama vokalnya Robert Plant, vokalis legendaris asal grup legendaris pula, Led Zeppelin. Kemiripan itu juga yang bikin Hoon sukses berat pas ngebawain ”Out On The Tiles”-nya Led Zep, di album Encomium : A tribute to Led Zeppelin.



Cerita pendek sebuah grup bernama Blind Melon ini, bermula dari pertemuan Roger Stevens (gitar), Brad Smith (bass) dan Shannon Hoon dalam sebuah pesta di kandang buaya Hard Rock dan singa Heavy Metal dunia : Los Angeles, California, pada medio April 1990. Mereka ngobrol ngalor-ngidul tentang daerah asal yang sama (southern america), memutuskan nge-jam bareng dalam pesta tersebut, dan ngerasa cocok or respek satu sama lain. Orang yang cocok satu sama lain, salah satu penyebabnya adalah : punya pandangan yang sama akan suatu hal. Nah, kecocokan Stevens, Smith dan Hoon-pun ditopang ama pandangan yang sama terhadap scene Hard Rock dan Heavy Metal yang sedang dinamis-dinamisnya pada awal 90-an itu. Mereka, sama-sama benci ama fashion dan music style band-band rock dan metal Amerika dimasa-masa itu, yang cenderung glamour atau jauh dari akar rock n roll khas Amrik, yang biasanya kental blues maupun warna folk-nya. Maka, pasca jamming bareng tersebut, mereka sepakat buat ngebentuk sebuah band, yang kelak akan mengembalikan semangat rock dan folk yang ”amerika banget.”

Gak lama dari pertemuan pertama yang menggairahkan itu, Smith masang iklan di Music Connection Magazine (MCM), buat ngomplitin line-up band yang direncanakan mengusung Southern Rock secara progresif. Beberapa bulan semenjak dia memasang iklan di MCM, gitaris band, Animal Farm, Christopher Thorn datang menemui Smith buat diaudisi. Thorn berasal dari Pennsylvania, ter-influence dengan musik sedari kecil, sebab ibunya termasuk salah satu musisi bluegrass band lokal terkemuka di kota asalnya, Dover. Thorn udah maen band semenjak SMA. Dia tinggal bareng pacarnya di New York, USA, sebelum cabut buat maen musik di L.A. Thorn termasuk cowok tipe pemberontak dan ”keukeuh”, kalau dia punya suatu keinginan. Sebelum dia audisi dan diterima jadi gitaris cikal bakal Blind Melon, Thorn rela ninggalin sekolah dan mutusin ceweknya buat menuntaskan gairah nge-band-nya di L.A, yang waktu itu dikenal dengan second name-nya : kota Metal.

Abis Thorn masuk, keempat pemuda dengan spirit Southern Rock itu pergi ke Hollywood, buat nyari seorang drummer yang betul-betul satu semangat dan punya skill istimewa untuk bermusik dengan mereka. Eh, capek-capek dateng ke Hollywood, gak satupun drummer yang berkenan di hati mereka bereempat. Mereka mendapatkan seorang drummer yang bener-bener menarik hati, justru waktu Stevens ama Smith nangkring di club belakang rumah kontrakan mereka di L.A. Drummer yang menarik perhatian mereka adalah Glen Graham, mahasiswa Mississippi State University yang kebetulan aja lagi ada jadwal maen ama band-nya keliling California. Graham ninggalin nomor teleponnya ama Stevens dan Smith. Karena seneng dengan sifat-sifat Graham yang periang, santai, tapi gape maen drum itu, Stevens kemudian menghubunginya buat balik ke L.A. Wah, karena cocok juga ama Stevens dan Smith, Graham cabut dari kota asalnya, Columbus. Dia tinggalkan kuliah semester duanya, dia tanggalkan berbagai atribut kemewahan yang dia punyai sebagai anak pengacara kondang, di kota dimana ekspeditor Spanyol, Christopher Columbus, menginjakkan kakinya pertamakali di benua Amerika. Graham cuman punya $25 di dompetnya. Dengan uang seadanya dan sebuah minimalist kit, Graham cabut ke L.A. Hoon, sang vokalis, sempet nyengir dan geleng-geleng kepala pas ngeliat kit drum yang dibawa Graham dari kota asalnya. ”Bass drum-nya kayak dibikin dari bahan kaleng tempat nyimpen kopi.”komentar Hoon setelah ngeliat kit bawaan Graham di pojok ruangan kontrakan mereka.

Dengan masuknya Graham, Blind Melon embrio siap beraksi di panggung-panggung atau klub-klub di L.A. dan sekitarnya. Tapi sebelumnya, mereka berembug buat menentukan nama band. Nama-nama yang sempet diusulin ama masing-masing member adalah : Gristie, Brown Cow, Frog, Mud Bird, Head Train dan Naked Pilgrims. Sampai suatu hari, Smith nyeletuk ama salah seorang temennya,”What’s happening, blind melons ?”, waktu mereka becanda saat rehat latihan. Celetukan Smith tersebut menarik perhatian keempat member band lainnya. Singkat kata, jadilah istilah yang didapet Smith dari ayahnya- yang diucapkan sang ayah sewaktu ia memanggil tetangga belakang rumahnya yang hippies- sebagai nama kelompok musik mereka : Blind Melon.

Blind Melon resmi terbentuk pada pertengahan tahun 1990. Tanpa maen musik keliling club-club atau aktif dalam gigs di scene rock/metal-nya Los Angeles, Blind berusaha menembus dapur rekaman. Daripada sibuk mikirin hari ini maen di mana, besok maen di mana, anak-anak Blind lebih seneng nge-jam di rumah mereka, bikin beberapa lirik, musik dan ngerekam lagu-lagu mereka sekuat kemampuan. Dengan modal 4 lagu, yang dikemas dalam album demo yang dikasih judul Goodfoot Workshop, Shannon Hoon bikin janji atau dinner ama lebih dari 10 perusahaan rekaman major label di L.A. Gebleknya, meskipun secara faktual mereka cuman punya empat lagu, mereka ngakunya punya 20 materi siap rekam yang yahud. Sempet pada suatu kesempatan, Atlantic dan Capitol, dua label besar yang bermarkas di L.A. tertarik banget buat ngeliat rehearsal Hoon dan kawan-kawan. Hoon cs yang gak siap, ngasih alesan bahwa mereka lagi gak mood untuk maen dalam minggu-minggu, dimana para utusan major label itu bersedia ngeliat rehearsal mereka. Selain major label, presentasi Blind-pun sempet bikin Gene Simmons, pentolan Kiss dan tokoh musik rock berjuluk God Of Thunder, tertarik buat jadi manajer mereka. Setelah diskusi selama 4 jam di rumahnya, Simmons memutuskan untuk gak jadi nge-manajerin mereka.

Keberuntungan besar buat Blind Melon justru dateng ketika Shannon Hoon, diajak untuk duet bareng temen sekampungnya yang udah lebih dulu populer, Axl Roses, vokalis Guns N Roses yang gede di Indiana, tempat asal Hoon. Disamping duet keren mereka pas reffrain hits-nya Guns, Don’t Cry, Axl ngajak Hoon buat ikut mendampingi band-nya dalam tour keliling Amrik. Hoon dapet kesempatan itu, berawal dari iseng-iseng ngedatengin studio dimana Guns sedang ngegarap materi rekaman buat double album mereka, Use Your Illusions I & II. Dalam rehearsal Axl Rose dan kawan-kawan sebelum ngerekam Don’t Cry, Axl ngajak Hoon buat ngebekingin dia di lagu tersebut. Selesai nyanyi bareng, Izzy Stradlin, gitaris ke-2 Guns, bilang ama Axl,”Kita sebaiknya minta temen elu itu buat nyanyi bareng di Don’t Cry, dan ngedampingin kita di tour.” Ya, singkat kata, Hoon-pun ikut Guns keliling ke beberapa venue mereka di negeri Paman Sam. Pengalaman ini bikin kepercayaan diri Hoon bertambah. Apalagi, waktu seseorang secara khusus ngedatengin dia di belakang panggung, buat sekadar ngasih salam dan memuji Hoon dalam penampilan duet-nya yang brilian bareng Axl, seabis konser Guns di New York. Hoon ge-er abis dan melambung tinggi, mengingat orang yang sengaja dateng ke backstage itu adalah salah satu dari orang paling kaya di dunia, Donald Trump.

Beres menuntaskan tugasnya mendampingi Axl Roses, Hoon mengajak temen-temennya di Blind Melon untuk segera turun ke jalan. Gak tanggung-tanggung, Blind Melon berhasil meyakinkan manajemen Soundgarden, buat tampil jadi pembuka konser mereka di enam kota di Amrik. Dalam momen ini, Hoon ngejalin persahabatan erat ama vokalis Soundgarden, Chris Cornell. Hoon bikin kerajinan tangan, sebuah kalung yang kemudian dihadiahkan buat Cornell, waktu seluruh band dan kru konser makan bareng di sebuah restoran bernama Denny’s, di Seattle. Cornell pake kalung itu dalam beberapa klip Soundgarden. Tapi, sepeninggal Hoon, dia nolak untuk make kalung keren buatan sahabatnya lagi. “…it made me too sad to continue to wear it.”jawab Cornell dalam suatu kesempatan interview ama majalah Mojo.

Karena ngerasa gak mampu buat konsentrasi dan berpikir dengan jernih waktu nulis lirik buat lagu-lagunya, Shannon Hoon dan kawan-kawan cabut dari California, pasca kesibukan mereka jadi band pembuka artis-artis yang lebih dulu populer, atau pasca tour-tour club yang bikin fisik mereka terkuras. Mereka udah mulai populer, gara-gara penampilan Hoon di klip Don’t Cry-nya Guns N Roses dan penampilan mereka bareng kelompok musik se-enerjik Soundgarden. Kepopuleran itu diindikasikan dengan mulai banyaknya telepon tengah malem, entah waktu mereka istirahat atau pas lagi rehearsal di rumah sewaan mereka di California. Hoon dan kawan-kawan boyongan pergi ke North Carolina, tepatnya di kota Durham. Kota ini dikenal sebagai kota belajar di negara bagian utara Carolina tersebut, dan suasananya emang cukup kontemplatif buat bikin lirik or musik yang serius. Blind Melon bayar US$ 1000 per bulan buat nginep di Sleepyhouse, nama sebuah rumah di West Trinity Street, Durham, dimana mereka menghabiskan waktu buat bermusik dan mengakrabkan diri secara personal satu sama lain. Saking berkesannya, Christopher Thorn sampe bilang, "...living in that house for a couple of months was like being in a band for 5 years..." Di Durham ini juga, Blind Melon ambil job jadi home band di sebuah bar local, bernama “The Brewery.” Gak sekadar job, mereka memainkan materi lagu-lagu baru, dan ngambil reaksi para penikmatnya buat referensi atau ukuran kelaikan komposisi yang fresh mereka bikin tersebut.(bersambung)

1 comment:

philips vermonte said...

seru tulisannya...

salam kenal
pjv
http://berburuvinyl.wordpress.com