Monday, August 11, 2008

AKSI HIP-HOP BERAROMA POLITIK

Sleep Now In The Fire

Di Hai edisi 25 tahun musik rock, yang hilang secara misterius dari rak majalah-majalah lama saya, saya pernah membaca : keinginan Iwan Fals untuk memiliki sebuah truk yang sanggup jadi tempat ngangkut peralatan band-nya dan didesain khusus untuk sekaligus memanggungkan dirinya dimanapun dia ingin. Bang Iwan, gitu para aktivis OI (Orang Indonesia, sebuah yayasan fans club dan wadah kreativitas penggemar Iwan Fals) akrab memanggilnya, pengen suatu saat dia bisa keliling kota-kota seluruh Indonesia, dan menggelar pertunjukan dari atas truk, selayaknya pengamen mendatangi crowd-nya secara tiba-tiba. Bang Iwan, selain pengen deket ama para penggemarnya, juga gak mau kalah spirit ama para pengamen dangdut, yang mau bersusah-payah membawa instrument dan sound system-nya pake gerobak dari pasar ke pasar. Sayang sekali. Sampe sekarang ide tersebut gak pernah terealisir. Mungkin karena biaya-nya kebesaran, stamina Bang Iwan udah enggak seperti dulu lagi, atau memang beliau ngerasa bahwa usianyalah yang gak mengijinkannya buat berekspresi sejauh itu.

Jauh sesudah saya ngebaca artikel tentang keinginan Iwan Fals tersebut, U2, salah satu band terpopuler di abad ke-20 mengadakan konser dadakan di belakang sebuah truk besar, di kota New York, Amerika, pada bulan November 2004. Ribuan orang memadati sebuah taman antara Brooklyn dan jembatan Manhattan untuk menyaksikan konser U2 di atas truk yang ternyata diprakarsai ama MTV. Selentingan kabar mengatakan, Bono Cs ngegagas konser eksklusif tersebut buat meredam desakan para penggemarnya, yang mulai gak sabar menunggu album How To Dismantle an Atomic Bomb dirilis. Di taman kota yang punya nama Empire-Fulton Ferry State Park itu, Bono Cs bahkan membawakan beberapa nomer terbaru dari How To Dismantle an Atomic Bomb. 45 menit show kejutan itu cukup bikin geger para penggemar U2, sekaligus menambah desakan supaya U2 cepet-cepet ngerilis album yang dikemudian hari dapet ganjaran 8 penghargaan dalam nominasi Grammy Award taun 2005-2006.

Kalo di Indonesia maen band di atas truk ini baru marak setelah UNGU, lewat videoklip Romantic Rock-nya, Karena Dia Kamu, ngambil setting nge-band diatas truk trailer, di kancah musik rock dunia hal tersebut udah berlangsung sejak lama sekali. Saya memang gak tau pasti siapa pemilik ide orisinil konser di atas truk tersebut. Cuma, videoklip paling tua yang menampilkan atraksi demikian adalah klip-nya tembang nge-rock AC/DC, It’s a Longway To The Top (If You Wanna Rock N Roll). Klip It’s a Longway To The Top ini ditayangin pada tanggal 23 Februari 1976, dalam program musik televisi Australia yang bertajuk : Countdown. Dalam videoklip tersebut, Angus Young Cs memainkan hits-nya di atas bak belakang truk terbuka yang tengah melaju pelan menyusuri pusat keramaian Swanson Street di kota Melbourne, Australia. Buat nambah meriah videoklip ini, Rats of Tobruk Pipe Band, ikut ber-jam session diatas bak truk sambil meniup terompet khas alat musik tradisional Skotlandia. Jerih payah sang sutradara, Paul Drane, yang waktu itu hanya didampingi David Olney, kameramen-nya, berbuah manis buat AC/DC. Klip ini kemudian dianggap klip terbaik AC/DC, dan lagu It’s a Longway To The Top-pun masuk list nomer 9 dalam daftar Best Australian Song of all time.

Baik U2 maupun AC/DC, gak sampe ditangkep ama polisi untuk urusan tampil di pusat keramaian secara tiba-tiba ini. Lain ama UNGU, yang ditangkep lantaran konser di atas truknya bikin macet Jln. Thamrin, Sudirman, Semanggi sampai daerah Senen. Gak aneh tuh kalo mereka sampe digrebek polisi. Jakarta yang sehari-harinya macet jadi tambah macet gara-gara ulah mereka itu. Alih-alih ngehibur, sebagian orang mungkin malah mengrutuki kelompok “separuh rock” Indonesia ini, lantaran jadi kelewat telat sampe di rumah sepulang kerja. Event UNGU itu memang gak sematang U2 atau AC/DC dalam merencanakan event surprising untuk para penggemarnya. Ya, namanya juga grup band dari negara bagian dunia ke-3. Serba terbatas biaya, support dari pihak berwajib, ide-pun dapet nyontoh pula. Niat mereka bersusah-susah untuk bikin kejutan-pun udah layak dikasih apresiasi.

Sejarah musik rock dunia pernah mencatat atraksi yang lebih bertenaga dalam urusan event “Mendadak Nge-Band” seperti yang pernah dilakuin ama AC/DC atau U2. Tanpa truk, tanpa lighting plus sound effect a la U2 atau didampingi atraksi band tradisional yang eksotik seperti tiga cowok Scotland di klip AC/DC, Rage Against The Machine tampil Rock Out ! dalam pembuatan videoklip penuh kontroversi untuk hits mereka, Sleep Now In The Fire. Zack De La Rocha dkk tampil didepan pintu New York Stock Exchange dalam pengambilan gambar klip Sleep Now In The Fire. Selama pengambilan gambar, sang sutradara klip, Michael Moore, dicekal yang berwajib, sementara New York Stock Exchange terpaksa menutup pintu masuk, demi menyaksikan crowd Rage Against The Machine yang super membludak. Perdagangan saham pada sesi tengah hari-pun terganggu, gara-gara pembuatan klip yang masuk nominasi MTV Video Music Award pada tahun 2000 itu. Gak cuma sang director klip aja yang kemudian digaruk polisi, para personil Rage-pun gak ketinggalan kena ciduk. Dan, 26 Januari 2000-pun (tanggal pengambilan gambar di New York Stock Exchange) menjadi tanggal yang bersejarah buat Rage dan musik rock dunia.

Selesai proses editing, klip Sleep Now In The Fire-pun diluncurkan ke publik pada akhir Februari tahun 2000. Ternyata, hasil akhir klip garapan sutradara peraih Palm D’Or dari Festival Film Cannes lewat Fahrenheit 9/11-nya itu, tetep se-kontroversi pengambilan gambar-nya di bursa efek New York. Michael Moore yang dikenal luas sebagai penentang perang Irak dan anti-globalisasi itu, menambahkan scene parodi dari acara kuis Who Wants To Be Millionaire – yang diganti judul jadi Who Wants To Be Filthy F#&%ing Rich- dan scene penutup sebuah quotes dari politisi Partai Republik, Gary Bauer. “a band called 'The Machine Rages On' - er - 'Rage Against the Machine', that band is anti-family and it's pro-terrorist,”begitu ucapan Bauer yang dikutip ama Moore buat klip-nya Rage. Aslinya, Bauer ngucapin itu buat mengomentari insiden diluar kampanye Alan Keyes, politisi kulit hitam asal Partai Republik pada kampanye-nya di awal tahun 2000. Selesai kampanye, Keyes meloncat kearah mosh-pit, dimana crowd saat itu lagi panas-panasnya ber-moshing menikmati dentuman Rap-Metal-nya Rage Against The Machine. Kejadian inilah yang digunakan Bauer sebagai komoditas buat menjatuhkan pesaingnya, Alan Keyes, dalam perebutan kursi di senat AS.

Selain pemilihan tempat, konsep klip, insiden yang kemudian malah jadi blessing in disguise dalam pembuatan Sleep Now In The Fire, yang layak diperhatikan tentu saja lirik lagu itu sendiri. Sebagaimana layaknya lagu-lagu rock yang memanifestasikan sebuah perlawanan, Sleep Now In The Fire lewat liriknya mengritisi abis keserakahan Amerika Serikat, yang berawal dari kolonialisasi dan imperialisme terhadap suku asli penghuni benua Amerika, dan berlanjut pada kebijakan perbudakan orang kulit hitam di tahun 1800-an. Zack De La Rocha, vokalis Rage yang menulis lirik Sleep Now In The Fire, mengritisi juga aksi-aksi pemerintah US setiap keterlibatan negara tersebut didalam perang. Yang disindir secara sarkas oleh Zack lewat Sleep Now In The Fire selain kolonialisasi dan perbudakan adalah : pengeboman Hiroshima dan kebijakan Agent Orange pada perang Vietnam. Agent Orange adalah operasi penghancuran lingkungan hidup di sepanjang Sungai Mekong, yang diperkirakan US sebagai tempat persembunyian dan pusat pergerakan gerilyawan Vietkong. Geblek-nya, dalam operasi sepanjang 1961 dan 1971 itu, dengan helicopter jenis A UH-1D-nya pemerintah US telah melegalkan penggunaan senjata kimia dalam peperangan. Gak hanya gerilyawan Vietkong yang kena. Banyak rakyat sipil yang juga jadi korban, dan efeknya terhadap lingkungan hidup-pun gak terkira besarnya.

Mesti diakui, bahwa aksi Rage dalam klip Sleep Now In The Fire jauh lebih bernilai dari aksi AC/DC, U2 apalagi sebuah UNGU Band. Gaya seorang Angus Young diatas truck-nya dalam It’s a Long Way to The Top sebatas gaya anak rock yang tergila-gila dengan musiknya, kharisma seorang Bono saat beraksi di taman antara jembatan Manhattan-Brooklyn-NYC sebatas kharisma seorang artis saja, dan gaya seorang Pasha UNGU yang digelandang polisi di akhir klip-nya-pun dimata saya hanyalah lagak seorang artis yang cari sensasi. Tapi, aksi Zack De La Rocha, Tom Morello, Tim Commerford dan Brad Wilk di bursa efek New York pada hari yang dingin di bulan Januari itu, akan terkenang sebagai aksi sekumpulan anak muda, yang udah kelewat muat menyaksikan kebejatan dan kejahatan sebuah negara adidaya. Yang hingga jam, menit dan detik ini, masih menjadi hantu bagi sebagian besar manusia dan mahluk hidup, yang punya hak hidup, hak untuk tenang, hak untuk tenteram sebagai warga dunia yang luas namun fana ini.(eap)

1 comment:

Helman Taofani said...

I am the nina, the pinta, the santa maria
The noose and the rapist, the fields overseer
The agents of orange
The priests of hiroshima

Itrawks...