Skip to main content

KISAH MANIS DIJALAN CINTA



Kaset The Best Of The Doors yang saya punya usianya sudah 15 tahun, bulan September ini. Lagi ngumpulin bahan-bahan buat melanjutkan nulis artikel Blind Melon Stories, eh tahu-tahunya malah kepancing pengen nulis tentang The Doors. Agak aneh juga sih, saya kok baru pengen cerita soal The Doors pas udah lewat 2 taunan nge-blog-rock. Padahal, saya termasuk addict sama kelompok yang dimotori sama Jim Morrison ini.

Saya beli kaset itu, setelah membaca artikel di Pikiran Rakyat, tentang Jim Morrison yang mati muda. Disitu diceritakan, bagaimana nyeninya kehidupan Jim, berikut lirik-liriknya yang bak puisi di album-album The Doors. Saya lagi tergila-gila puisi waktu itu. Lantaran buku O Amuk Kapak-nya Sutardji Calzoum Bachri, dan Empat Kumpulan Sajak-nya WS Rendra. Saya nulis puisi-puisi berlembar-lembar, tentang kelahiran, kematian, dan kisah hidup saya. Ada beberapa puisi yang bikin saya nangis waktu membacanya. Tapi hampir seluruhnya, membuat kawan-kawan yang sering main ke rumah merasa aneh. Mengira saya syaraf. Menyebut saya buang-buang waktu. Dan gak sedikit diantara mereka yang mengira saya sedang patah hati. ”Patah hati sama siapa kamu, Di ?” tanya Irwan, temen baek saya waktu habis membaca sebuah sajak yang sebenarnya saya persembahkan kepada Tuhan, kepada Allah.

Nah, ternyata, anggapan miring tersebut semakin lekat saja, ketika mereka tahu saya beli dan rutin memutar kaset The Best Of The Doors. Jaman musik metal berjaya dulu, rekan-rekan trasher dan rakyat metal usia belasan kenalan saya memang pada ogah untuk ngedenger satu aja materi dari album kelompok The Doors. Mereka pengennya denger musik langsung goyangin kepala sampe kayak nyaris copot, sehingga kebutuhan rusuh mereka itu gak mungkin terpenuhi ama musiknya The Doors. Dengerin The Doors itu enaknya memang bukan sambil ber-headbang, ber-moshing atau ber-pogo ria. Ngedengerin The Doors itu enaknya sambil baca buku filsafat, novel surealis, puisi kamar atau waktu batin dan akal kita butuh mengunjungi suatu tempat, yang hanya bisa dijangkau oleh halusinasi dan bawah sadar kita. Ekstrimnya, sambil menghisap barang haram, kata salah seorang temen sewaktu saya mahasiswa (yang ini mah bukan pilihan saya. Merusak diri dan merusak pikiran nantinya).

Di jaman-jaman SMA dulu jelas saya membutuhkan dua keadaan tersebut. Saya butuh rusuh sehingga merasa perlu mendatangi puluhan gigs dimana band-band Metal atau Rock kota Bandung beraksi. Sayapun butuh melayang, perlu trance, untuk menetralisir gairah remaja yang meletup-letup. Makanya, saya membutuhkan Metallica, Anthrax, Slayer dan sebangsaningnya, sekaligus juga membutuhkan Pink Floyd, The Doors atau Electric Light Orchestra. Agus Noise Damaged, vokalis salah satu band terkemuka Ujungberung Rebels juga mendengarkan Kitaro, selain kerap tersesat mendengarkan Morbid Angel, Suffocation, Kreator, Sepultura dan kawan-kawan. Itu kata seorang rekan dari komunitas underground yang berkunjung ke rumah saya, waktu saya sedang asyik trance menyimak Riders On The Storm-nya The Doors. Wah, ini dia nih opini yang adil, untuk memulihkan kepercayaan diri saya yang sempet terkikis, oleh opini sebagian besar kawan-kawan yang menganggap saya sedang sarap or patah hati.

Riders On The Storm adalah komposisi The Doors yang paling saya sukai, selain komposisi-komposisi lainnya yang juga sering bikin saya setengah mabuk. Ngedenger komposisi itu saya berasa sedang naek motor gede tahun 70-an, di jalan lurus Rocky Mountain, malem-malem, dan turun hujan rintik-rintik pula. Mencekam banget suasananya. Petir bersahutan, dan kilatannya tampak saling menyambar di puncak bukit-bukit batu, yang gedenya pasti bikin ngeper orang waktu ngeliatnya. Dramatik. Tragic. Dan psychedelic bangetlah pokoknya not-not dan cara Jim Morrison, vokalis dan ikon The Doors, dalam membawakan lagu yang sempet dibawain juga ama kelompok Post-Modern Rock kenamaan, Creed, dalam sebuah live concert-nya itu.

Apa sih ide yang mendasari The Doors dan Jim Morrison, waktu ngegarap lagu dan memfusikan aransemen dengan lirik Riders On The Storm ini ?

Banyak banget referensi atau bahan inspirasi yang memengaruhi lagu Riders On The Storm. Untuk judul lagunya, Jim Morrison terinspirasi oleh lagu country legendaris, Ghost Riders In The Sky, yang populer di Amrik pada tahun 1948. (Hehehe, gak sengaja, saya punya rekaman lagu ini yang dibawain ama The Shadows. Saya mendapatkannya dari bapak, yang penggemar berat Cliff Richard-salah satu gitaris The Shadows). Jiwa Riders On The Storm jelas adalah lirik. Ketika lirik dilagukan, musik kemudian mengikuti bait demi bait liriknya, untuk menciptakan suasana gelap dalam hits di album L.A. Woman terbitan 1971 ini. Untuk membangun suasana mencekam dan nambah aroma misterius di lagu tersebut, Bruce Botnick, produsernya, merekam suara efek hujan dan petir, mengiringi permainan Ray Manzarek diatas Fender Rhodes piano elektriknya.

Sedikit banyak, subjek dalam lirik Riders On The Storm identik dengan sosok Billy Cook, seorang pembunuh yang sering menyamar sebagai pembonceng, lalu menghabisi seluruh keluarga orang yang ditumpanginya. ”If ya give this man a ride, Sweet memory will die, Killer on the road,...”bisik Jim Morrison, untuk menggambarkan sosok Cook. Hanya saja, versi yang paling berkembang dikalangan para penggemar The Doors, lirik Riders On The Storm ini merupakan kiasan dari cerita kematian dukun Indian Navajo, sebab mobil yang dikendarainya menabrak sebuah truk. Versi lainnya mengatakan pula, Riders On The Storm ini terinspirasi puisi surealis, Chevaliers de l’Ouragan, yang ditulis oleh Louis Aragon, seorang penyair Prancis. Bila diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Chevaliers de l’Ouragan berarti Riders of the Hurricane.

Lagu-lagu The Doors diluar Riders On The Storm secara lirik memang masih didominasi oleh gejolak jiwa filosof dan warna surealis yang kental. Yang bertutur dengan cara dialog batin atau solilokui, dalam bahasa puitik yang penuh dengan metafor. Agak susah memang untuk memahami lirik demi lirik yang dikemas dalam bahasa puitik tersebut. Makanya, wajar saja, kalau untuk interpretasi lirik Riders On The Storm saja, sampai ada tiga versi penafsiran yang populer dikalangan para penggemar, pengamat dan penikmat lagu-lagu The Doors. Tapi, tidak semua lirik-lirik mereka sulit dicerna, dan pakai bahasa puisi yang tinggi atau menggunakan metafor yang bikin kritikus mesti bertapa sehari semalam buat memetik makna. Salah satu lagu The Doors yang puitis namun masih mudah dipahami pesan yang terkandung didalamnya adalah Love Street.

Love Street pertama kali saya dengar dari album soundtrack film The Doors-nya Oliver Stone, yang dibintangi oleh Val Kilmer dan Meg Ryan. Lagu tersebut melatari pertemuan pertama Jim Morrison dengan pacar sejatinya, Pamela Courson. Dari Venice Beach, California, USA, Jim membuntuti Pamela sampai ke rumahnya, lalu masuk lewat balkon lantai dua rumah itu, untuk berkenalan dengan teman hidup yang kemudian menjadi saksi kematiannya di sebuah apartemen, di pusat kota Paris itu. Romantisnya, di film The Doors Oliver Stone ini, sebelum mengucap salam perkenalan, Jim Morrison yang diperankan oleh Val Kilmer lebih dulu mengecup lembut bibir Pamela Courson, yang diperankan oleh Meg Ryan, diatas balkon rumahnya. Sebetulnya sih, Love Street pertamakali dirilis tahun 1968, lewat album Waiting For The Sun. Lagu ini bercerita tentang sebuah jalan di Laurel Canyon, California, dimana Jim Morrison dan pacarnya Pamela Courson tinggal. Alamatnya, 1812 Rothdell Trail. Jim dan Pam menyebut Rothdell Trail sebagai Love Street, pada saat mereka duduk di balkon rumah dan tiba-tiba sekelompok hippies yang tak terhitung jumlahnya lewat didepan rumah mereka.

Lirik Love Street yang puitis dan manis merupakan salah satu lirik yang banyak menyimpan kenangan manis, semasa saya menjalin hubungan dengan pacar terakhir, istri saya saat ini, Mir. Kalau denger lirik ;“She lives on love street. Lingers long on love street. She has a house and garden. I would like to see what happens.”, saya merasa seperti sedang mengantar Mir pertamakali, di kamis sore sehabis saya menyatakan cinta delapan tahun lalu. Meskipun Mir masih diam saat itu, tapi hati saya yang jarang sekali berbohong mengatakan bahwa cinta saya akan diterima. Akhirnya, hubungan kami yang hangat dan erat itu masih berjalan sampai kini. Hubungan kami tambah erat, apalagi setelah kami bertemu bibir untuk pertamakali, di tangga menuju rumah Mir, pada suatu malam beberapa hari setelah saya melamar dia. Lamaran sih belum diterima. Tapi, saya sudah bertekad untuk ’menculik’ Mir dari rumahnya, kalau sampai lamaran saya ditolak. Hehehe. The Doors ternyata bukan hanya merangsang seseorang untuk berkontemplasi. Komposisi-komposisi mereka itu bisa juga menyemangati orang untuk melakukan sebuah tindakan kriminal : menculik perawan orang.(eap)

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

DRAMA TRAGIS KEMATIAN DIMEBAG DARRELL

Musicians tend to get bored playing the same thing over and over, so I think it's natural to experiment.
-Dimebag Darrell, gitaris kelompok Trash Metal legendaris Panthera

Selesai botakan waktu SMA, kawan-kawan menyebut saya mirip dengan Philip Anselmo, sang vokalis Pantera. Kendati nge-fans sama lagu-lagu dari album Cowboy From Hell dan Vulgar Display Of Power, sesungguhnya saya nggak nge-fans sama tongkrongannya beliau. Serem dan angker. Mirip seorang tetangga saya yang oknum berseragam, yang galak dan egois sama tetangga kanan-kiri (suka parkir mobil sembarangan dan bikin mobil bokap susah masuk garasi rumah sendiri- red). Tiap lihat Philip Anselmo jadi inget juga sama beliau. Oknum edan yang lupa, bahwa bikin susah tetangga itu sama dengan penyelewengan sumpahnya sebagai pengayom.

Untunglah wajah personil Pantera nggak semuanya mirip Anselmo. Sehingga yang lainnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kebencian saya. Malahan, ada kakak beradik Abbott- Darrell “Dimebag” Lance &…