Skip to main content
Kee Marcelo Atau John Norum ?

“Kee Marcelo atau John Norum ?”, itu inti pertanyaan Mas Prasto Prabowo, waktu kami diskusi soal gitaris band kesayangan kami,Europe. Band yang menurut ukuran saya sih, minim album, tapi masalah musikalitas dan popularitasnya gak usah ditanya deh. Hit mereka : The Final Countdown udah sesuatu yang klasik dan istimewa di dunia rock. Mungkin sama istimewanya dengan lagu-lagu rock legendaris macam : Smoke On The Water-nya Deep Purple, Bohemian Rhapsody-nya Queen, Honky Tonk Woman-nya Stones, Jump-nya Van Halen, atau Whiter Sad Of Pale-nya Procol Harum.

Saya baca opinion diberbagai media cetak maupun online, seorang John Norum rata-rata lebih disukai daripada Kee Marcelo. Norum, pria Norwegia yang besar di Swedia itu emang lebih gahar, lebih keras daripada Marcelo yang sempet menggantikan dia di album Out Of This World (1988) dan Prisoners In Paradise (1991)-nya Europe. Tapi, ada juga opini yang lebih mendukung Marcelo daripada Norum. Menurut mereka, Marcelo lebih rapih dan manis permainannya, dibandingkan Norum. Bahkan, di forumnya bengkelmusik.com seseorang ber-ID Vidi Rosen terang-terangan bilang begini :”...btw abis denger John Norum di Start From The Dark kok gue kangen sama Kee Marcelo yach hehehehe kayaknya dia lebih melodius dibanding John.”76503390

Sama seperti pergantian vokalis, pergantian gitaris biasanya mengundang pro dan kontra penggemar sebuah band. Namanya juga musik rock. Indikator yang paling kuat dari musik ini adalah tone vokal dan sound gitarnya. Pro-kontra masalah gitaris Europe ini juga kira-kira sama dengan pro-kontra seputar digantikannya CC Deville ama Ritchie Kotzen di grup Poison (1993), digantikannya Ritchie Blackmore ama Tommy Bolin di grup legendaris Deep Purple (1975), atau kasus dalam negeri : digantikannya Ian Antono oleh Eet Sjahranie di grup legendaris lokal, God Bless (1988). Menurut saya, pendapat kontra yang muncul atas pergantian gitaris di tiga momen tersebut lebih dikarenakan masalah romantisme belaka. Ada perasaan gak rela, ketika CC, Blackmore atau Ian Antono yang notabene pendiri atau mereka yang mengantarkan grup-grup tersebut ke puncak popularitas harus digantikan orang-orang baru. Padahal, secara teknis, baik Kotzen, Bolin atau Eet, sebetulnya juga gitaris-gitaris dengan skill yang luar biasa. Hanya, warna permainan mereka memang berbeda jauh dengan karakter yang sudah dibangun sejak awal, oleh band dimana mereka menjadi suksesor gitaris lamanya.

Masalah pro-kontra Kee Marcelo atau John Norum juga kurang lebih sama kasusnya dengan ketiga kasus suksesi gitaris band diatas. Kalau melihat teknis sih, baik Kee Marcelo maupun John Norum ya sama-sama mumpuni untuk sebuah band sebesar Europe. Yang berbeda dari mereka itu hanya semata masalah warna. Warna sound dan karakter permainan mereka di aransemen. Untuk Marcelo dan Norum, perbedaannya hanyalah, urusan agresifitas dan sensibilitas. Marcelo lebih sensible, dan Norum lebih agresif. Norum berbicara langsung pada inti, sementara Marcelo lebih suka mengurainya dalam sebuah proses.

Tapi, meskipun Marcelo lebih sensi daripada Norum, tetap saja, permainan mereka makin ke sini itu makin Metal saja. Kalau jaman dulu Norum mungkin lebih more riff dan Marcelo lebih more melodic dari masing-masing, maka jaman sekarang justru mereka sama-sama menjatuhkan pilihan pada sound yang keras. Jadi kalau misalnya Kee Marcelo yang mengisi line-up Europe sekarang ini (seperti harapan Vidi Rosen, sebagaimana saya kutip diatas), bisa-bisa sama saja kerasnya dengan Norum. Yang beda barangkali sekadar durasi mereka dibagian riff, rythm atau melodi-nya. Saya mengambil kesimpulan ini, setelah mendengarkan permainan Kee Marcelo di album solo-nya Kee Marcelo K’2, dengan tajuk album Melon Demon Divine (2003). Kebetulan yang saya dengar itu lagu Evil Ways, track 9 di album tersebut, yang memang menampilkan permainan keras dan cepat. Dibandingkan dengan lagu apapun di album Europe era Millenium, baik Start From The Dark maupun Secret Society, jelas track no 9-nya Kee Marcelo itu jauh lebih keras. Marcelo ditopang ama part-part drum a la Vinnie Paul (Panthera), bass a la Cliff Burton (Metallica) dan session solo guitar yang full speed a la shredder di lagu Evil Ways tersebut. Di track 12 album K2, Melon Demon Divine yang punya judul “Ride On”-pun, Marcelo masih tampil galak dan agresif. Sayang, di album solo ke-2 nya ini, Kee Marcelo gak mempekerjakan vokalis untuk mengisi lagu-lagu yang ditulisnya sendiri. Harusnya, selain bekerjasama dengan Snowy Shaw, mantan drummer grup gothic metal kenamaan, Mercyful Fate dan King Diamond, Marcelo juga memilih seorang vokalis keras untuk membuat album Melon Demon Divine itu lebih maksimal. Kalau saya jadi produsernya, saya akan meminta Kee Marcelo memilih diantara Peter Marino (eks-vokalis Cacophony), Mike Vescera (eks-Loudness) atau sekalian aja Kelly Shaefer (eks-Atheist) buat mengisi vokal di album solonya tersebut. Ya, biar lebih dark dan keras aja itu album. Nanggung banget kalo Kee Marcelo sendiri yang nyanyi.

Kembali lagi ke inti masalah,”Norum atau Marcelo ?” Hmm, sulit banget buat saya. Saya sama-sama suka sih sama permainan mereka akhir-akhir ini. Makin tua makin keras, dan makin kental saja idealisme-nya. Kalau saya diminta memilih, mending itu gitaris dipanggil aja sekalian memperkuat line-up Europe di era Millenium ini. Seperti waktu Adrian Smith dipanggil lagi ke Iron Maiden, tanpa membuat Dave Murray dan Janick Gers keluar (1997). God Bless kita juga kan pernah mengambil pilihan demikian, ketika mereka menyandingkan Ian Antono dan Eet Sjahranie di album terakhir mereka Apa Kabar (1997). Hasilnya, Iron Maiden punya komposisi tercadas dalam sejarah kiprah mereka, seperti : Wicker Man (album Brand New World, 2000). Dan, God Bless-pun sempat memiliki komposisi yang memuat double gitar melodic, yang menurut saya paling edan dalam sejarah rock Indonesia. Komposisi yang saya maksud adalah : Serigala Jalanan dan Balada Si Toha. Lupa lagi di track ke berapa. Yang jelas, itulah lagu-lagu God Bless yang paling cadas dan keras sepanjang karier bermusik.(eap)

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

Ritchie Blackmore : Gitaris Terkeras Pada Masanya

Dalam kumpulan cerita pendek penulis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma, yang diberi judul “Kematian Donny Osmond”, ada sebuah cerita pendek yang diberi judul unik : “Ritchie Blackmore”. Cerita pendek itu menceritakan kiprah seorang pengamen jalanan, penggemar fanatik Ritchie Blackmore, gitaris pertama Deep Purple dan pendiri grup hard rock legendaris, Rainbow. Sang pengamen yang tak jelas namanya itu mencari nafkah dari memainkan karya-karya Ritchie Blackmore, semasa salah seorang gitaris terkeras dan penulis komposisi rock legendaris ini bergabung dengan supergroup yang disebut sebelumnya. Berbeda dengan para koleganya di jalanan, yang rata-rata memainkan musik dangdut atau lirik protes penyanyi balada Indonesia,Iwan Fals, sang pengamen meneriakkan “Child In Time”, “Smoke On The Water”, “Stormbringer”, “Man On The Silver Mountain”, “Long Live Rock N Roll” dan karya-karya Blackmore lainnya, di pasar-pasar atau tempat-tempat dimana ia biasa mencari nafkah.

Dari kota ke kota, sang pen…