Skip to main content

MUSIK STONES DAN ORANG KITA




Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan orangtua. Makin yakin saja saya, ketika ibu saya juga menganggukkan kepala, bahwa gambar lidah melet itu merupakan manifestasi para pemberontak, pendosa dan anti-parent.”Itu teh gambar musik orang gila...”kata kakek saya menambahkan. Waaah, jadi lidah melet itu lambang grup musik ya ? Ya namanya itu tadi : de roling setun kol me sir yu ar bastard. ”Apa arti tulisan dibawahnya itu, Kek ?”saya bertanya.”Itu artinya taypaw macam pamanmu itu !!!” Busyet, sekasar itu ya artinya, batin saya tercekat.

Beberapa tahun kemudian saya tumbuh menjadi manusia sekolah dasar. Disuatu sore yang santai, saya dan ayah berkunjung ke toko kaset didaerah Jamika, sepulang ayah dari menjemput saya sekolah. Ayah lagi asyik berbincang-bincang dengan pemilik toko kaset, untuk mencari tahu apa dia punya album Bill&Brod,Madu dan Racun. Saya juga suka lagu itu. Gara-garanya, Mayra, temen sekelas saya yang paling cantik, paling putih dan paling centil menyanyikan lagu itu di kelas kesenian sesi menyanyi bebas. Wuih, saya gemes betul liat lenggak-lenggok dan cengkokannya waktu nyanyiin itu lagu. Kelas jadi rame, dan saya jadi keringetan sendiri, gemes sendiri, tapi gak bisa ngapa-ngapain. Kalo bahasa orang gede saya horny kali ya, hehehe.

Selagi asyik-asyiknya ayah menilik-nilik kaset, kuping saya menangkap lengkingan harmonika dari sebuah lagu bertempo lambat. Enakeun pisan melodi yang dimaenin ama suara harmonika itu. Eh, pas masuk vokal, saya jadi nyengir sendirian, bagaimana sebuah tone yang besar gede dan gak merdu-merdu amat itu bisa membawakan sebuah nomer slow dengan enak. Penasaran saya.
”Pak, lagu apa ini yang diputer ?”

Ayah menyambungkan kepada si kokoh pemilik,”Koh, lagu apa ini teh katanya...”

Dengan wajah ramah si kokoh bilang,”Lagu Mick Jagger, Dek. Bukan lagu anak kecil. Tapi enakeun ya ?”

Saya mengangguk, tapi tidak berani bilang kepada ayah, kalau saya pingin membeli kaset berisi lagu, yang dikemudian hari saya tahu berjudul,”Party Doll.”

Bapak saya menimpali si kokoh, ”Ro ling setun tea Koh ?”

Si Kokoh menjawab,”Bukan, Mick Jagger wungkul,Pa.”

Hah, Ro Ling setun ? Jadi yang nyanyi lagu enakeun ini itu Mick Jagger, dan Mick Jagger itu penyanyinya ro ling setun, dan bukankah ro ling setun itu berlambangkan lidah melet yang terpajang di kamar paman ? Lho, lagu seperti ini kok didengar sama mereka yang suka melawan orangtua ? ”Party Doll” itu kan lagu biasa saja. Lagu yang mantap malah. Seksi menurut saya mah. Sepanjang jalan pulang bersama ayah dan kaset Bill&Brod-nya saya bertanya-tanya : kenapa juga Ro Ling Setun itu bisa mengilhami seseorang untuk melawan orangtua ?”

Semenjak sore itu, ”Party Doll” sering banget diputer ama radio-radio di kota Bandung. Radio favorit ibu saya, Radio Mara, termasuk salah satu diantaranya. Penyairnya, Gulia, setiap jam 9 sampai jam 11 pagi sebelum saya sekolah sore, memutar itu lagu tersebut, tanpa diminta atau dengan diminta pendengarnya. Karena pengen setiap saat bisa memutar lagu ”Party Doll” tanpa harus menunggu diputarkan radio, saya mengambil sebuah kaset bekas dan merekam lagu tersebut. Agak sebel juga sih, ikut terekam suara Gulia saat memanggil Bang Koko, operatornya, dengan sapaan khas di akhir lagu. Tapi ya gak apa-apa-lah. Asal bisa denger intro ”Party Doll” itu tiap pagi, saya sudah puas.

Lagu ”Party Doll” yang menjadi hits dalam album ”Primitive Cool” itu dirilis pada tahun 1987. Lagu itu segera meledak dan menjadi salah satu sebab Ono Artist Promotion mengundang Mick Jagger buat tampil di Indonesia, pada tahun 1988. Tahun 1988, waktu Mick Jagger datang itu saya masuk SMP kelas 1. Sebelum Mick Jagger datang, saya sempat beli kaset ”Primitive Cool”itu. Lagi demam Mick Jagger di Indonesia, terutama saya yang begitu masuk SMP berkenalan dengan studio latihan. Materi album itu crunchy semua. Selain ”Party Doll”, ada ”Throwaway” yang permainan bass-nya keren abis, ada “Radio Control” yang kelak saya kasih gelar “Lagu yang Mick Jagger banget”, ada “Say You Will” yang manis, dan ada “Let’s Work” yang beat-nya begitu rancak dan enak dipakai pengiring goyang. Wah, saya jadi kepingin nonton konser itu di Jakarta. Tapi, duit belom punya, orangtua juga pasti aneh dengan keinginan saya, wong saya maen band aja malah dicurigai, kok berharap banyak bakal nyampe di Senayan untuk menyaksikan Sang Superstar. Padahal, wiiih, saya pengen banget membaur dengan para penggemar Jagger lainnya dan bergoyang sepanjang sore dibawah iringan “Let’s Work” yang dibawakan secara live concert.

Konser Mick Jagger itu kemudian berakhir rusuh di Indonesia. Penonton yang gak kebagian atau gak mampu beli tiket berusaha masuk ke Stadion Utama Senayan, sehingga duel antara mereka dan para petugas keamananpun berakhir dengan terbakarnya berbagai jenis kendaraan dan rusaknya sarana umum. Huh, sayang tuh, lagu-lagu Jagger yang sebetulnya cukup asyik didenger dan kelewat asyik dipakai goyang, jadi rusak imejnya gara-gara ulah masyarakat kita yang primitif. Membaca berita kerusuhan tersebut, saya langsung teringat lagi grafis lidah melet di kamar paman yang badung. Hehehe. Lucu ama kelakuan sebagian penggemar Mick Jagger or Rolling Stone di Indonesia. Kenapa ya, musik Stone atau Jagger yang rock n roll and nge-beat abis itu gak dinikmati secara ritmiknya yang asyik itu aja ? Tanpa perlu dimanifestasikan jadi radikal, sok free gak karuan, seperti kelakuan Paman dan para penggemar yang gak punya karcis di sore yang seharusnya cool banget di Stadion Utama Senayan tahun 1988 itu. Yaaah, sayang banget itu konser jadi gak karu-karuan. Padahal, selain Mick Jagger, line-up yang mengawal penampilan Si Bibir Dower itupun gak kalah menarik, bagi mereka yang ngeh. Liat aja, Jagger bawa Joe Satriani, pada posisi gitar, dan Simon Phillips, sang drummer yang kemudian ikut mengisi line-up TOTO pasca over dosisnya Jeff Porcaro.

Tapi itulah Indonesia, orang-orang Indonesia, yang lebih suka mengadopsi sesuatu secara instan, dan kerap sering jadi korban mode. Itulah bangsa gue, yang sok mengkultuskan sesuatu, tanpa tahu apa sebaiknya yang diserap dan difilter jadi esensi sebenarnya. Seharusnya, waktu mendengar lagu-lagu Stone atau Jagger, yang muncul di pikiran adalah suka-cita mendengar kreatifitas mereka yang unik dan orisinil. Ini mah, denger musik Stone, liat gaya Mick Jagger yang imejnya cuek, slenge-an dan pemberontak, eh sifat-sifat itu yang diadopsi sampai-sampai menghancurkan diri sendiri. Naudzubillah gua mah.(eap)

Comments

Popular posts from this blog

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

DRAMA TRAGIS KEMATIAN DIMEBAG DARRELL

Musicians tend to get bored playing the same thing over and over, so I think it's natural to experiment.
-Dimebag Darrell, gitaris kelompok Trash Metal legendaris Panthera

Selesai botakan waktu SMA, kawan-kawan menyebut saya mirip dengan Philip Anselmo, sang vokalis Pantera. Kendati nge-fans sama lagu-lagu dari album Cowboy From Hell dan Vulgar Display Of Power, sesungguhnya saya nggak nge-fans sama tongkrongannya beliau. Serem dan angker. Mirip seorang tetangga saya yang oknum berseragam, yang galak dan egois sama tetangga kanan-kiri (suka parkir mobil sembarangan dan bikin mobil bokap susah masuk garasi rumah sendiri- red). Tiap lihat Philip Anselmo jadi inget juga sama beliau. Oknum edan yang lupa, bahwa bikin susah tetangga itu sama dengan penyelewengan sumpahnya sebagai pengayom.

Untunglah wajah personil Pantera nggak semuanya mirip Anselmo. Sehingga yang lainnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kebencian saya. Malahan, ada kakak beradik Abbott- Darrell “Dimebag” Lance &…