Friday, February 01, 2008

ROMANTISNYA ART ROCK A LA DEWA

Di jaman kegemilangan musik rock dan heavy metal tahun 1990-an, tersembullah sebuah band beraliran lembut yang cepet banget narik simpati sebagian kecil anak metal, untuk dateng ke konser dan ngoleksi album mereka. band apakah itu ? gua jawab : dewa 19. band itulah yang bikin gue yang fanatican rock dateng ke saparua buat nyaksiin konser mereka, selepas melepas album keduanya : Format Masa Depan. gue pergi sembunyi-sembunyi nonton bareng rico dan mega, temen-temen gaul gue, tanpa pemberitahuan ke temen-temen band atau temen-temen lainnya yang biasanya barengan nonton konser musik. maklumlah, gue takut dicap anak top fourty, gak metal lagi, ama kurawa-kurawa pecandu mossing en headbanger itu. alkisah, maka cabutlah gue bareng rico, shredder yang tiba-tiba doyan lagu mellow pasca Dewa ngerilis album kesatu, juga ama Mega, cewek tomboy yang ngakunya fans berat Power Metal dan lengkingan vokal Arul Effansyah yang konon 4 oktaf itu.

Di konser yang berlangsung di kandang buaya rock dan biang metal kota Bandung itu, Dewa beraksi dengan mulus ditengah-tengah fans-fans-nya yang rata-rata cewek, yang mengharumkan gor saparua yang biasanya sumpek dan panas oleh aroma keringat rakyat metal. gue takjub aja ama sound Dewa yang waktu itu begitu manis, meskipun dengan keterbatasan akustik ruangan gor yang kurang memadai. vokalnya Ari Lasso, wuih, lagi bersih-bersihnya. Tinggi, melengking dan merdu. Andra juga punya permainan gitar yang gape. musik dewa yang mirip-mirip Toto, bener-bener enak dinikmati sebab perpaduan lagu, vokal dan permainan gitarnya. dhani juga masih ke-jazz-jazz-an atau ke-fusion-fusionan maennya waktu itu. sebagai band, Dewa jadi alternatif gue, sebab secara band mereka maennya rapih, kompak dan berkualitas.

kepergian gue ke konser Dewa ternyata kecium juga ama para sejawat di komunitas rock dan metal tempat gue biasa kongkow. mereka nyepet-nyepet dan ngebahas partisipasi gue, rico ama mega, yang menurut mereka sebuah bentuk pengkhianatan. kita bertiga gak nerima gitu aja pendapat mereka. setelah menyaksikan langsung aksi Dewa secara live, kita bersikukuh bahwa Dewa tuh bisa digolongkan sebagai band rock. sebelum Dhani Ahmad bilang Dewa beraliran romantic rock, gue udah pake istilah itu, pas menyanggah perkataan temen-temen gue di komunitas. berani dong gue nyebut Dewa beraliran rock, sebab : Dewa di dua album pertamanya itu dipengaruhi juga ama sense of rock a la : van halen, white lion atau europe, yang notabene diakui sebagai band rock. lagian, skill anak-anak Dewa 19 itu gak jauh beda dengan keribetan skill pemain rock era tersebut. teristimewa, vokal tinggi Ari dan teknik plus sound gitar-nya Andra.jagoan mereka teh...gak bisa dianggap enteng atau disebut sekadar pengusung lagu-lagu melankolis ! Gue tegasin juga, Andra tuh bisa diadu ama Pay Slank atau Ipung Power Metal sekalipun ! maksudnya, secara soul gitu, bukan ngeliat aliran...

di akhir perdebatan, rico ngeluarin pendapat or prediksi, bahwa suatu saat Dewa, atau para member-nya secara pribadi, bakal ngeaktualisasiin dirinya sebagai rocker. prediksi rico menjadi kenyataan, ketika Dewa 19 pasca cabutnya Wawan (drummer), Ari Lasso (vokal) dan Erwin (bass), menyajikan sebuah album yang begitu kental nuansa art rock-nya : Bintang Lima. materi album yang menurut gue deket ama warna queen dan ELO (electric light orchestra), kendati disanggah ama Dhani itu, menampilkan pesona sebuah karya progressive rock. indikator yang membuat Bintang Lima bisa dikategorikan sebagai prog-rock adalah : sound dan aransemen yang progresif, beat lagu yang gak matok di beat-beat pop yang lazim dan kekuatan lirik.

Warna itu (art rock maksudnya) sebetulnya sempat mengemuka juga di album Pandawa Lima. Di album yang memuat lagu Dewa paling keras (menurut gue) Aspirasi Putih ini, dari mulai Kirana, Aku Di Sini Untukmu, de-el-el, aroma art rock itu rada-rada kentara tercium. Cuma mungkin karena tanpa embel-embel orkestrasi dalam aransemennya, Dewa belum bisa mengeluarkan secara penuh citra progressive rock didalam materi-materi albumnya. Kalo pendapat temen gue sih bahkan bukan orkestrasilah faktor differensiasinya, melainkan faktor vokalis dan drummer.

Seperti udah umum diketahui, pada album Bintang Lima, Dewa udah ngeganti vokalisnya, Ari Lasso, ama mantan vokalis Getah, Elfonda Mekel (Once). Vokal Ari yang punya kemiripan warna dengan vokalis-vokalis beken 80-an, macam Steve Perry-nya Journey ini, digantiin ama corak vokal crossing Jon Anderson (Yes) dan Robert Plant-nya (Led Zeppelin) Once. Pada mulanya agak berat juga ngedenger alunan vokal Once di Bintang Lima. Maklum aja, Ari Lasso saat itu udah bener-bener ngerasuk warna vokalnya, menjadi trademark Dewa 19. Tapi lama kelamaan, rasa-rasanya lagu di album Bintang Lima itu gak akan jadi sesuatu yang khusus dan legendaris, kalo bukan Once yang ngebawainnya.

Masuknya Once, akhirnya gue akui sebagai jembatan kematangan musik Dewa yang dulunya pake embel-embel 19, menuju Dewa yang dewasa secara lirikal maupun musikalisasi. Vokal Once itu karakternya unik banget. Sebenernya, Once juga beruntung bahwa vokal uniknya ketemu jodoh ama grup yang udah tenar sedari dulunya. Seinget gue, jenis vokal unik a la Once ini udah ada juga pendahulunya di negeri ini, yaitu : vokalnya Ari Sapriyadi (eks-Cynomadeus, side-project Eet Sjahranie, Baron Band) dan tenor-nya Eddie Endoh (vokalis Hookerman, band kugiran Yes asal Indonesia akhir 70-an, yang ngebawain lagu hits ”Kutaklukkan Dunia”, dari soundtrack-nya film Catatan Si Boy). Cuman, band-band-nya Ari Sapriyadi dan Eddie Endoh itu tidak sepopuler Dewa. Maka, jadilah lengkingan vokal Once itu seperti sesuatu yang baru di negeri ini.

Pendapat beberapa orang temen tentang hubungan antara corak art rock-nya Dewa ama pergantian drummer, dari Wong Aksan ke Tyo Nugros, adalah opini yang gue sanggah. Hemat gue sih gak ada perbedaan mencolok antara Aksan dan Tyo. Kalo ada yang bilang Aksan kurang nge-rock, ah, itu di lagu Aspirasi Putih gimana kurang nge-rock ? Malahan, pattern Aksan di lagu itu juga kreatif banget, ngebalikin not-not drum dari yang lazim. Buat yang ngerti drum, susah lho maenin atau nemuin ide sebagaimana ide Aksan di lagu Aspirasi Putih.

By the way, gue seneng bahwa apa yang disebutin temen gue, Rico, udah jadi kenyataan. But, kalo nyimak album-album Dewa pasca Bintang Lima, gue kok jadi pusing dan bertanya-tanya : ini band mau dibawa kemana sih ? Mungkin Dhani Ahmad Cs ini puas dan ngerasa baik-baik aja ngebawa Dewa jadi sejenis band eksperimental yang kejebak malah jadi grup gado-gado. Atau, Dhani Ahmad sang music director Dewa udah gak peduli lagi ama khalayak setia-nya, mentang-mentang udah tajir, dan milih untuk ngebebasin libido berkreasinya ? Makin sulit aja narik benang merah kalo nyimak materi-materi mereka dari mulai album Cintailah Cinta sampe Kerajaan Cinta. Dewa makin lama makin gak Dewa. Kalo istilah Rico sih, ini gara-gara mereka pindah label dari Aquarius ke EMI.

Thursday, January 31, 2008

TRASH METAL UNTUK MILLENIUM BARU

Ada saat-saat ketika gue pengen banget punya band trash metal di masa lalu. Yang memotivasi gue adalah kegaharan sebuah band trash metal, yang jauh dari influence kekemayu-kemayuan. Musik dan attitude band trash itu simpel dan cowok banget.

Hidangan trash metal bener-bener pas dan cocok nge-angetin perut, terutama kalo kuping ini berinteraksi dengan band-band trash metal bermutu macam : Megadeth, Bulldozer, Anthrax, Exodus, Napalm Death or Sepultura. Sori coy gue nggak masukin Metallica. Soalnya gue masih kesel ama perubahan konsep mereka pasca album Black. Album-album Metallica hanya menyajikan sekadar aroma hollywood, terlalu kompromistis dan komersil, tapi memupuskan harapan banyak fans fanatiknya seperti gue.

Sempet juga mikir, gimana seandainya part-part trash metal itu dikawinin ama kecepatan a la shredder. Sedikit terlepas dari dominasi nge-dep dalam permainan gitarnya, terutama di bagian riff atau interlude. Wah, gak kebayang kalo kegaharan Megadeth, Bulldozer, dan reng-rengannya dipadukan dengan teknik dan kecepatan Yngwie, Cacophony or Loudness-nya Akira Takasaki. Pasti dahsyat betul out-put-nya. Eh, khayalan gue masa lalu itu ternyata diwujudkan ama sebuah kelompok musik asal Halmstad, Swedia, Arch Enemy. Waktu CD Doomsday Machine, album ke-6 Arch sampe di meja gue hari minggu lalu, surprise banget rasanya ngedengerin lagu-lagu mereka, yang dikawal ama keangkeran Black Sabbath plus riff-riff a la kaum shredder.Rasanya sesuatu yang progresif di aliran trash/death metal. Bahkan, sesuai ama corak dan energi permainan instrumen juga vokalnya, Arch pantes banget dikategorikan sebagai pengusung Aggressive Metal. Anak kandung dari Heavy Metal, yang lebih bertenaga tapi nyeni dari anak-anak kandung Heavy Metal yang lain, serupaning : trash/death/horror/speed metal. Glenn Tipton (gitaris Judas Priest) ama Tipton-nya, atau Rob Halford (vokalis Judas Priest) ama Fight-nya, bahkan Judas Priest sendiri di album Jugulator-nya sempet coba ngembangin corak mereka ke Aggressive Metal. Mungkin karena mereka udah kadung digemari dengan warnanya sendiri, atau mereka masih kebawa ama style tempo doeloe, Judas gak sampe mencapai apa yang dicapai ama Arch Enemy dalam ke-agresifan bermusik. Ya, iyalah, secara usia aja kayaknya para personil Judas gak mungkin menyaingi power para punggawa Arch, yang juga dikategorikan sebagai band beraliran Melodic Death Metal dari majalah Kerrang !

Ternyata, pendiri Arch bukanlah nama yang asing di benak gue. Arch dipelopori ama Michael Amott (38 tahun), gitaris berdarah Inggris yang gede di Halmstad, Swedia. Dia itu gitaris utama band legendaris dalam sejarah trash/death/horror/speed metal asal Inggris, yaitu : Carcass. Pendengar station rock di kota-kota besar Indonesia pasti kenal nama grup ini. Sebuah grup keras yang ngakunya dipengaruhi oleh brit-pop artist semacam : The Smith dan The Cure, plus dipengaruhi oleh grup legendaris : Iron Maiden. Hi hi hi, cukup unik ya…

Ide berdirinya Arch Enemy terbetik pas Michael menyimak perkembangan sang adik, Christopher Amott, ama band-nya : Armageddon. Terinspirasi dari sang kakak, Chris mengembangkan corak permainannya sendiri. Banyak belajar dari materi-materi permainan John Sykes (eks-Badland, Whitesnake, Thin Lizzy), Yngwie Malmsteen ( pahlawan Swedia kayaknya, gitaris yang gede di Sweden pasti nge-idolain dia), Uli Jon Roth (eks-Scorpions, Electric Sun), John Norum (Europe) dan Michael Schenker (pendiri UFO, eks-Scorpions), Chris kemudian dikenal berkat agresivitas, alternate picking dan fast vibrato-nya. Wuih, selain ngiler ama permainannya, gue juga ngiler ngeliat Chris berpose bareng Caparison-nya- sepucuk gitar indah buatan Jepang, seri delliner signature series-nya. Seinget gue, kalo diantara gitaris-gitaris Metal senior, gitar jenis ini dipake ama Andy LaRocque (King Diamond) dan James Murphy (Testament). Nah, kalo diantara gitaris muda era progressive metal jaman sekarang, gitar jenis gitu dipake ama Michael Romeo (Symphony X) dan Mattias Eklundh, seorang shredder muda yang cepat tapi full-melodius.

Kematangan Michael dan bakat Chris-lah yang kemudian menjadi nyawa Arch Enemy. Apalagi, semenjak album ke-3, mereka resmi diperkuat Sharlee D’Angelo, mantan bassist band Metal legendaris Mercyful Fate dan King Diamond, yang sebelumnya juga aktif sebagai additional player. Arch juga beruntung mempunyai seorang Daniel Erlandsson. Drummer yang dipengaruhi ama para drummer jazz dan hard rock semacam : Bill Cobham, Clive Burr, Vinny Appice, atau drummer keras semacam Dave Lombardo ini, gape banget meramu keunikan style para influence-nya ke dalam beat-beat agresif. Sound snare dan double-pedal-nya itu lho, gagah-keras-mantap !

Feeling gue, Sharlee D’Angelo-lah yang nentuin jatuhnya pilihan Arch pada vokalis cewek, Angela Gossow, mengingat pasca kehadiran Sharlee dan keberadaan Angela-lah, Arch bener-bener muncul murni sebagai Arch, ber-differensiasi dengan band-band influence para pendirinya. Kalo gue denger-denger dari sampel-sampel di album Arch pertama (Black Earth) dan ke-2 (Stigmata), pas masih diperkuat vokalis Johan Liiva, saripati Carcass masih kerasa di materi-materi Arch.

Pas Angela yang juga punya alias Saint Gossow ini masuk, gue denger beberapa sampel dari Wages Of Sin, album ke-5 Arch- Anthem Of Rebellion, album ke-7 Arch- en tentu aja materi full album Doomsday Machine, Arch betul-betul mengukuhkan ciri dan kematangan musikalitas. Di Doomsday Machine-lah musik yang dulu-dulu pernah gue khayalkan bakal ada itu tampil seutuhnya. Ia mengemuka di nomor-nomor kayak : Enter the Machine, Taking Back My Soul, Nemesis, My Apocalypse, dan sebagainya. Ni album pokoknya wajib denger buat mereka yang sempet hidup di era kejayaan trash/speed/horror metal, di era-era puncak popularitas Megadeth, Bulldozer, Slayer, Panthera atau Obituary berkibar. Pasti menikmati-lah !

Sekarang, gue cabut dulu ke Aquarius ah. Siapa tau gue nemu satu-dua album Arch yang lain, terutama album terbaru mereka : Rise Of The Tyrant (2007), yang konon sempet nembus Billboard #100 di nomor : 87. Prestasi yang baik buat sebuah band yang ditopang ama musik panas dan vokal growling yang horror abis.(eap)