Saturday, February 23, 2008

SEMANGAT ROCK RITCHIE BLACKMORE


Dalam kumpulan cerpen penulis yang gue gemari, Seno Gumira Ajidarma, yang punya judul Kematian Donny Osmond, ada satu cerpen yang dikasih judul unik : Ritchie Blackmore. Cerpen ini menceritakan kiprah seorang pengamen jalanan, yang fanatik berat ama Ritchie Blackmore, gitaris pertama Deep Purple dan pendiri grup hard-rock legendaris, Rainbow. Sang pengamen mencari nafkah dari memainkan nomor-nomor Ritchie Blackmore, semasa salah seorang penggubah riff dan penulis komposisi rock legendaris ini bergabung dengan grup-grup superpower yang disebut sebelumnya. Lain ama para koleganya di jalanan, yang rata-rata memainkan musik dangdut atau lirik protes Iwan Fals, sang pengamen meneriakkan Child In Time, Smoke On The Water, Stormbringer, Man On The Silver Mountain, Long Live Rock N Roll, dan lain sebagainya, di pasar-pasar atau tempat dimana ia biasa mangkal. Gila kalo ada pengamen kayak gini. Nyentrik banget kayaknya.

Dari kota ke kota, sang pengamen mencari nafkah dari memainkan nomer-nomer gubahan Blackmore, yang dia hafal banget dari mulai riff, interlude, dan closing-nya. Dia gape juga niruin lengkingan Ian Gillan, cengkok David Coverdale, seraknya Ronnie James Dio, para vokalis yang sempet ber-associate ama sang dewa gitar. Edannya, itu pengamen bisa menyulap body gitarnya jadi perkusi, buat niruin ketukan-ketukan Ian Paice, Cozy Powell, para drummer yang sempet dapet kepercayaan buat mengawal lagu-lagunya Blackmore. “…bila perlu mulutku pun menirukan bunyi papan kunci Jon Lord dan dentuman bass Roger Glover.” kata sang pengamen dengan gagah dan angkuhnya.

Ada banyak lagi quotes yang gue seneng dan gue kutip dari cerpen Ritchie Blackmore by Seno Gumira Ajidarma ini. Quotes pertama yang menurut gue gagah, laki-laki dan rocker banget adalah : “…aku memang hanya seorang pengamen biasa, tapi aku bukan pengamen sembarangan : aku hanya membawakan lagu-lagu Ritchie Blackmore.” Kekaguman sang pengamen ama Blackmore dipertegas lagi dalam quotes : “…hanya Ritchie Blackmore dewa gitar yang kuakui di muka bumi ini. Orang lain boleh memuja Slash, tergila-gila pada Ed Van Halen, boleh mendewa-dewakan Yngwie Malmsteen, tapi bagiku hanya ada Ritchie Blackmore. Ketika menyanyikan kembali Catch The Rainbow, aku tahu, ia telah menerjemahkan pelangi dalam petikan gitarnya.”

Suatu kali, sang pengamen kugiran Ritchie Blackmore ini diwawancarai ama seorang jurnalis majalah peliput kehidupan malam. Sang pengamen ditanya : “Kenapa anda begitu tergila-gila pada Ritchie Blackmore ?” Dengan gaya seorang kritikus musik, sang pengamen menjawab : “Perhatikan nuansanya, dalam petikan gitar Ritchie terdapat raungan binatang yang terluka, jeritan kemarahan, nafsu balas dendam, keterasingan manusia, dan kegersangan peradaban. Tidakkah itu merupakan gejala kemanusiaan pada masa yang akan datang ?”

Apa yang diucapkan ama sang pengamen kugiran Ritchie Blackmore itu kayaknya mewakili apa yang ada di hati siapapun penggemar berat gitaris, yang kini banyak menggubah komposisi-komposisi balada klasikal lewat kelompok Blackmore Night-nya. Gue kira, lagu-lagu Blackmore tempo dulu sampe sekarang, emang menunjukkan betapa sang gitaris ini sangat layak diberi penghormatan lebih. Karena pendirian gue itu, gue sempet bersitegang ama beberapa orang temen, yang ngerendahin penulis lagu classic rock evergreen Temple Of The King ini. Kalo gak salah, temen gue ngebandingin Blackmore ama Jimi Page, Yngwie Malmsteen, Stevie Vai, Eddie Van Halen dan Joe Satriani. Temen gue bilang, keempat gitaris ini ada diatas Ritchie Blackmore, secara skill maupun sound. Terang aja gue sangkal keras-keras pernyataan itu.

Dibandingkan Jimi Page, Ritchie Blackmore jelas lebih kharismatik. Dengan rambut panjang terurai, kemeja item, celana kulit item dan fender stratocaster gading-nya, tongkrongan Blackmore di atas pentas menurut gue gak ada duanya. Riff-riff di lagu keras dan petikan-petikannya di nomer-nomer sendu juga gak boleh dibilang kalah dari Jimi Page. Pas acara adu bacot ini semakin menegangkan, gue ambil gitar gue, gue colokin ke ampli dan nyuruh dia yang menghina Blackmore maenin beberapa riff Page. Untuk riff temen gue nyodorin : Whole Lotta Love, Black Dog dan Heartbreaker. Dengan garang, gue bales pake Smoke On The Water, Burn dan Man On The Silver Mountain. Pas adu denting, dia kelimpungan : yang dia ngerti cuman Stairway To Heaven doang. Nah, gue kasih tuh tiga intro terlegendaris Blackmore di nomer-nomer Evergreen-nya : Soldier of Fortune, Temple Of The King dan sedikit lead melodi pasca refrain-nya When A Blind Man Cries dan Rainbow Eyes. Meski agak berat kayaknya, tapi temen gue akhirnya mengakui soul dan touching seorang Ritchie Blackmore.

Kalo soul ama touching dah dapet, gimana teknik ama sound-nya ? Yngwie, Vai, Satriani ato Eddie Van Halen kan jelas diatas Blackmore ? Wah, masih belom ngerti juga nih, pikir gue. Maka, gue bilang ama temen gue, bahwa Ritchie Blackmore itu seorang gitaris alam. Laen ama para shredder yang dia sebutin sebelumnya, Blackmore gak butuh rentetan equipment canggih, buat menampilkan citranya sebagai gitaris jago dan pemain rock. Di album In Rock-nya Deep Purple yang fenomenal, yang bikin itu band digelari grup paling cadas pada jamannya, Blackmore cuman ngandelin gitar yang dicolokin ke ampli yang udah include efek over drive dalam spesifikasinya. Dengan volume poll dan efek overdrive yang sedikit lebih nge-bass dari efek distorsi taun 80-an, Blackmore memainkan Speed King, Black Night, Smoke On The Water, Highway Star, Strange Kind Of Woman, Mad Dog, Bloodsucker dan Burn, yang terkenal sebagai nomer-nomer paling keras pada jamannya. Kebayang gak lo, kata gue ama dia yang meragukan Blackmore, lo maenin appregio-nya Highway Star minus turbo distorsion, flanger dan chorus ? Seorang Ritchie Blackmore, dengan hanya mengandalkan touching, teknik handle dan efek over drive, dia udah bisa menampilkan sebuah permainan yang memukau, bagi para penggemar rock dan generasi gitaris shredder sesudahnya, di lagu yang juga menambah popularitas kibordis Deep Purple, Jon Lord, itu.

Pada intinya, diterimanya sebuah aksi gitaran rock itu bukan melulu terpaut erat perkara equipment, terobosan teknik atau eksperimen sound- kalo kita menyimak segimana diterimanya seorang Ritchie Blackmore di hati para penggemarnya. Bagi Blackmore, ruh lebih penting dibandingkan equipment, yang mewakili sisi materi dalam kreativitas bermusiknya. Ibarat pergulatan Yin dan Yang, terang dan kelam- Blackmore berkarya dengan semangat rock yang membabat, membantai, menghancurkan, sekaligus juga menampilkan citra puitik, romantik, dalam nomer-nomer sendunya. Ritchie Blackmore, menurut gue, adalah seorang gitaris yang permainannnya di nomer-nomer cadas sama berkualitasnya dengan saat dia memetik dawai gitarnya bak seorang pemetik harpa. Blackmore mampu menerjemahkan raungan hewan yang terluka, sebagaimana ia mampu menerjemahkan pelangi ke dalam petikan-petikan gitarnya.(eap)

Thursday, February 21, 2008

BONHAM : THUNDER OF THE DRUM

Bonham Yang Istimewa
Suatu sore di awal Februari yang dingin, dengan kopi, coca-cola, milo, marlboro, djarum coklat, roti jieseng, plus mantouw rebus, kami mencoba menghangatkan diri. Ya, gue, bareng dua tetangga, Oom Alex dan Bang Arif, mencoba mengusir kebekuan suasana kota, yang kelewat lembab sejak pagi hari. Busyet emang, suhu dingin yang bikin sebagian besar warga komplek ber-ingus,belum juga mencapai titik hangat walaupun udah ngelewatin bulan Desember.

Tu sore emang gak perlu waktu sampe berjam-jam ternyata, untuk mengusir dingin dan bekunya suasana dan badan gue. Ngalor-ngidul ngobrolin musik, ujung-ujungnya malah jadi obrolan hangat. Tadinya cuman ngobrol ringan soal siapa-siapa instrumentalis terbaik, dalam grup rock mulai taun 1970-an sampe jaman sekarang. Pas ngebahas John Bonham, drummer Led Zeppelin, obrolan kita malah tambah panjang, hangat, dan menurut gue : cukup menarik.

Oom Alex jelas umurnya cuman beda beberapa taun dari bokap gue. Sebagai eksponen 70-an, Oom Alex menyebut sebuah nama yang emang udah populer banget kalo fanatikan rock bicara soal drummer terhebat. Oom Alex menyebut nama : John Bonham. Wah, siapa gak kenal sang legenda, drummer grup yang juga legendaris : Led Zeppelin, yang punya power dahsyat, dan permainan temuannya banyak banget dijadiin sampling buat kibord workstation.

Oom Alex ternyata penggemar berat Bonham. Bonham adalah pembaharu dalam sejarah perangkat dan teknis permainan drum, baik drum dalam basic rock maupun umum, dalam pendapat Oom Alex. -Bonham itu keras,- bilang Oom Alex,-…tapi dia bisa juga nge-swing.- Itu dia makanya, menurut si Oom, kenapa semua lagu Led Zeppelin jadi demikian monumental dalam sejarah rock. Intinya adalah kekayaan beat hasil eksplorasi Bonham, tentunya tanpa mengecilkan eksistensi Jimi Page, Robert Plant dan John Paul Jones. Itulah makanya, tambah si Oom, kenapa Led Zep bisa memainkan Rock N Roll yang keras secara total, memainkan Since I’ve Been Loving You yang nge-blues sampe nge-trance, dan memainkan Achiles Last Stand yang progresif atau All My Love yang nge-pop- tanpa keluar dari karakter Led Zep sejati. Resep Bonham adalah pukulan yang mantap, timing yang terukur, ketukan kreatif dan sound spesial. Setelan snare dan bass drum Bonham itu sesuatu yang sangat revolusioner, dalam pandangan Oom Alex. Bahkan secara tegas, Oom Alex mengatakan,- Alex Van Halen, Tico Torres, Greg D’Angelo, Lars Ulrich, Mike Portnoy, Igor Cavalera atau drummer-drummer rock setelahnya gak akan pernah bisa menandingi, sumbangan seorang John Bonham dalam revolusi permainan drum.

Bang Arif, yang tumbuh dewasa di taun 80-an punya pendapat : permainan John Bonham sebenarnya udah ketinggalan jaman pas masuk dasawarsa 80-an. Bonham kalah canggih dari Alex Van Halen (Van Halen), kalah skill dari drummer jazz rock : Jeff Porcaro (Toto), kalah nge-beat dari Stewart Coppeland (The Police), dan kalah rapih dari Neil Peart-nya Rush, yang notabene berdiri di garda depan para drummer rock 80-an. Di era 80-an ini, drummer-drummer seangkatan Bonham seperti Phil Collins (Genesis) dan Ian Paice (Deep Purple), bahkan menampilkan kreasi yang tetap up-to-date, seiring perkembangan perangkat instrumen drum dan makin beragamnya aliran dalam musik rock, jelas Bang Arif. Bila berbicara soal siapa yang paling memengaruhi dan sumbangannya paling besar terhadap perkembangan equipment dan permainan drum, menurut Bang Arif, jelas sulit banget. Di jaman ketika Bonham dan Led Zeppelin-nya mengibarkan rock n roll ke seantero dunia, bejibun banget drummer rock handal. Ada sang pelopor hard rock beat, Ringo Starr (The Beatles). Ada drummer full-technique, Bill Bruford-nya Yes. Ada jagoan nge-repel, Ian Paice dari Deep Purple. Ada Keith Moon (The Who), Ginger Baker (Cream) atau Carl Palmer dari Emerson-Lake & Palmer,yang mampu berbuat banyak hal dengan hanya berbekal perangkat : dua cymbal, satu pedal dan dua tom-tom- perangkat drum yang standar banget.

Oom Alex keliatannya udah mau menimpali, menyanggah pendapat Bang Arif tentang eksistensi dan sumbangan besar John Bonham. Tapi, sebelum dia tuntas nelen kopi yang baru dihirupnya, gue udah angkat bicara, untuk ngelurusin pendapat dan ngasih alternative pandangan senior-senior gue itu. Timbang gue, John Bonham adalah drummer yang udah memberikan sumbangan besar, but sumbangan tersebut bukan gak mungkin bakal dilebihi ama drummer-drummer jaman berikutnya, sebagaimana diungkapkan Oom Alex. Sepeninggal Bonham, drummer-drummer terus bermunculan, bereksplorasi dan berusaha untuk membawa sesuatu yang khas. Gue sepakat ama Bang Arif, untuk perkara tersebut.

But, John Bonham adalah seorang drummer yang emang spesial banget, buat gue yang pernah berlatih dan mencoba memainkan perangkat instrument pengawal ritme, dengan sepasang tongkat sihir dalam genggaman itu. Meskipun terdengar terlalu kasar, tapi ungkapan : gak akan pernah seorang drummer-pun bisa menandingi, sumbangan seorang John Bonham dalam revolusi permainan drum, akan diakui dengan rendah hati oleh drummer sebelum jaman, sejaman, setelah jaman kedigjayaan John Bonham bersama Led Zeppelin-nya.

John Bonham adalah seorang penggemar fanatik Gene Kruppa dan Ginger Baker, drummer sebelum jaman popularitas Bonham dan Led Zeppelin. Tapi kedua drummer favorit-nya ini, dalam sebuah kesempatan interview dengan majalah Rolling Stones, justru mengatakan bahwa Bonham adalah drummer paling berbakat yang pernah mereka simak. Diantara drummer sejamannya, John Bonham juga menaruh hormat dan kekaguman pada Carmine Appice (Vanilla Fudge) dan Keith Moon (The Who). Tapi kedua drummer yang dia hormati itu, justru mengungkapkan hormat dan kekaguman besarnya, terutama atas sound, power dan teknik kaki kanan Bonham, saat dia melakukan triplet.

Tentang kekaguman seorang Appice terhadap Bonham, ada sebuah cerita menarik. Waktu Led Zep pertama bikin tur keliling Amrik, Led Zep maen sebagai pembuka band Amrik yang tenar di akhir taun 70-an, Vanilla Fudge. Appice, yang udah ngedengerin teknik kaki Bonham, triplet di lagu Good Times, Bad Times, memuji sang kolega waktu mereka pertama ketemuan sebelum nge-geber tur keliling Amrik. Gue suka banget teknik kaki kanan elu, kata Appice, pas dia ketemuan ama Bonham. Dibilang gitu, Bonham malah nimpalin : - Apa maksud lu? Gue ngambil teknik itu dari elu.- Appice garuk-garuk kepala dan bilang, -Enggak pernah tuh gue ngelakuin triplet itu.- Bonham ngeyakinin Appice, bahwa dia ngelakuin teknik itu di album kesatu Fudge, pada lagu Ticket To Ride. Belakangan, Appice akhirnya menyadari, bahwa dia emang ngelakuin triplet itu dua kali, di lagu yang dimaksud. –Gue emang melakukan triplet antara tangan dan kaki, tapi John Bonham melakukan semuanya dengan kakinya.- He he he, yang ngerti drum pasti tau banget, betapa cepatnya kaki kanan Bonham, cause dia bisa ngelakuin triplet cuman pake satu kaki doang di pedal bass, tanpa variasi pukulan di tom-tom maple besar-nya, sebagaimana yang disampaikan oleh Carmine Appice.

Meski kedengerannya jadi berat sebelah, ngedukung opini Oom Alex, gue coba menginventarisir apa aja yang udah dipelopori ama seorang John Bonham, dalam perkembangan musik rock. Satu, dia drummer pertama yang pernah melakukan solo drum tanpa stik. Dua, dia drummer pertama yang melakukan triplet dengan satu kaki- jadi, walaupun Bonham pernah memainkan kit dengan double bass, menurut gue itu sih gak berguna. Tiga, dialah drummer peletak standar sebuah solo drum, lewat nomor instrumental, Moby Dick-nya. But, untuk mendapatkan optimalitas permainan Bonham, jangan dengerin yang versi studio-nya. Coba simak Moby Dick-nya Bonham pas dia maen di film Song Remains The Same-nya Led Zeppelin. Empat, dan ini yang akan selalu dikenang sepanjang masa- sound drum Bonham yang enggak ada seorang drummer-pun, baik sebelum, sejaman dan setelahnya bisa nyamain orisinalitas-nya.

Oom Alex menampakkan wajah puas karena ngerasa didukung, sedangkan Bang Arif manggut-manggut dan siap-siap untuk menyanggah lagi. Tapi, sebelum Bang Arif mengajukan pendapat, gue nyebutin hal ke-enam, yang bikin banyak drummer rock dan fanatikan rock agak sulit untuk menyanggah kepeloporan Bonham. Keenam, coba aja kita dengerin opening lagu hits Led Zep : Rock N Roll, Kashmir, Black Dog, Achilles Last Stand, When The Leeve Breaks, Living Loving Maid, Song Remains The Same, Communication Breakdown, Whole Lotta Love atau ketukan drum di bridge-nya repertoar megah Led Zep, Stairway To Heaven. Jarang ada seorang drummer, yang permainannya di bagian opening mampu mencuri perhatian penyimak lagu, sama besarnya dengan perhatian mereka saat menyimak riff gitar yang kerap menjadi pembuka sebuah komposisi. Asli ! Belum ada drummer yang mampu ngelakuin hal itu- dalam banyak komposisi yang diusung band-nya, kecuali John Bonham. Ngedenger alasan ke-enam gue itu, kontan Bang Arif nyalain Djarum Coklat ke-tiga-nya, untuk memancing udara hangat, biar berkumpul di sekitar kami.

Sunday, February 17, 2008

SOUNDTRACK D BIJIS MIRIP LAGU KISS ?




Hari-hari ini, saya lagi sentimen ama Bongky BIP. Sebagai seorang rocker kawakan, senior dan terhormat, gak seharusnya Bongky ngebiarin salah satu materi soundtrack D Bijis yang dia garap, pada bagian reff-nya kok ya mirip lagunya KISS : God Gave Rock N Roll To You II. Saya pernah agak sentimen ama Dewa waktu denger kemiripan intro drum Immigrant Song (Led Zeppelin) di intro lagu Pangeran Cinta, sebel berat ama lagu My Heart Melly Goeslaw yang punya kemiripan banyak ama lagu Ai Shang Yi Ge Bu-nya Sandy Lam, and now, giliran sentimen Bongky BIP nih yang gak tahu sengaja-gak sengaja, meloloskan reff lagu Tuhan Kirim Kamu yang dinyanyiin ama Aby, yang mana langgam reff-nya mirip abis ama reff lagunya KISS, God Gave Rock N Roll To You II. Reff yang saya maksud dibagian lirik ini nih :

Tuhan kirim kau ke sini
untuk kucintai
untuk menemani hidupku

Tuhan beri kau untukku
bintang yg kucari
Yang tlah hilang oleh waktu

(Tuhan Kirim Kamu, dinyanyiin ama Aby)

Abis denger lagu itu, coba denger God Gave Rock N Roll To You II pada bagian lirik reff :

God gave rock and roll to you, gave rock and roll to you
Gave rock and roll to everyone

God gave rock and roll to you, gave rock and roll to you
Put it in the soul of everyone

Tuuuh, mirip kan. Penulis lagu ini, yang saya gak jelas penggubahnya siapa, terancam ‘kualat’ ama pelopor Glam Rock dan salah satu avatar-nya rock n roll, KISS. Yang saya tahu, Bongky BIP adalah penata musik, yang tentunya bertanggungjawab atas masuknya materi ini ke album soundtrack D Bijis. So, saya mau protes aja sama mantan Bassist Slank dan Flowers itu, yang sebenarnya cukup punya kredibilitas bagus, baik sebagai instrumentalis, composer maupun proklamator Javanese rock n roll- sebuah aliran rock kreatif yang diusung ama Slank mark I : Kaka (Vokal), Pay (Gitar), Bimbim (Drum), Indra (Kibord) dan Bongky (Bass).

Secara maknawi, lirik Tuhan Kirim Kamu yang dibawain Aby juga menyuarakan sesuatu yang klise : percintaan. Udah jiplak sebagian reff-nya, secara kualitas Tuhan Kirim Kamu ini juga gak membawa semangat murni, seperti God Gave-nya KISS.

God Gave-nya KISS, adalah sebuah lagu yang liriknya sederhana, tapi bait demi baitnya begitu menghibur bagi mereka yang mengaku penggemar rock atau musik pada umumnya. Lewat lagu yang ditulis bareng ama Russ Ballard, Paul Stanley, Gene Simmons dan Bob Ezrin itu, KISS negasin bahwa rock n roll adalah musik yang ada untuk dinikmati semua orang, gak peduli statusnya apa, sebagai pelipur buat mereka yang punya masalah pelik. “Do you know what you want? You don't know for sure/You don't feel right, you can't find a cure/ And you're gettin' less than what you're lookin' for/ You don't have money or a fancy car/ And you're tired of wishin' on a falling star/ You gotta put your faith in a loud guitar” teriak KISS lewat lagu ini. Kalo Simon & Garfunkel menyebut saat ketika mereka membawakan Bridge Over Troubled Water-nya sebagai biblical moment, kalo Jim Morrison mencapai trance waktu ngebawain The End, maka biblical moment-nya KISS terjadi ketika mereka membawakan God Gave Rock N Roll To You II. Kalo Bridge-nya Simon Garfunkel serupa hymne bagi kita penggemar rock, The End-nya The Doors layaknya sebuah lagu ritual, maka God Gave Rock N Roll To You II layak banget kalo dijadiin semacam mars buat para fanatican rock.

Momen ketika lagu God Gave..-nya KISS ini dinikmati sebagai marching oleh para pencinta musik, bisa disimak di film “Bill and Ted's Bogus Journey” (Keanu Reeves jadi cast utama di film ini).

Di film komedi yang menceritakan kisah dua orang voyager penggemar berat hard rock/heavy metal ini, di akhir film God Gave…-nya KISS yang legendaris itu, dibawain ama duet voyager dibantu seorang additional Bass.Konyolnya, sang additional Bass adalah El Maut, rimalaikat pencabut nyawa yang mengiringi perjalanan sang voyager dalam cerita film tersebut.

Selain bernilai sebagai marching-nya penggemar rock, God Gave Rock N Roll To You juga merupakan lagu kenang-kenangan buat drummer kedua KISS, yang secara factual sama populernya ama drummer pertama mereka (Peter Criss), yaitu : Eric Carr. Menjelang akhir lagu, refrain lagu ini dibawakan secara acapella, dan saat break, Carr bertutur : "I know life sometimes can get tough ! And I know life sometimes can be a drag. But people, we have been given a gift, we have been given a road, and that road's name is... Rock and Roll!" Well, Pal, itulah saat-saat terakhir Eric Carr meneriakkan vokal bariton-nya yang khas, dan terakhir kalinya dia tampil di video clip-nya kelompok musik yang fans-nya dikenal dengan sebutan KISS ARMY itu. Sebelum single KISS ini dirilis dalam album Revenge (1992), Eric Carr meninggalkan band yang 10 taun lebih dia bela untuk selama-lamanya (1991). Gak ada lagi vokal serak bariton, yang kerap mencuri perhatian walau cuma numpang backing vocal di nomer-nomer keras atau slow-nya KISS. KISS ARMY di seluruh dunia, semenjak itu gak akan pernah ngeliat lagi aksi pentas nan atraktif, dari Eric Carr setiap dia nyuri 10-15 menit di konsernya KISS, sekadar untuk menampilkan kehandalannya teratas instrument drum. Carr emang gak sekeras John Bonham, gak se-full technique layaknya Neil Peart atau Mike Portnoy. Tapi buat saya, Carr sungguh seseorang yang sangat serius dalam menggarap fill-fill, yang mudah dicerna dan menghibur buat para penggemar KISS.

Nah, saya kembali lagi ke pihak-pihak yang dicurigai bertanggungjawab atas pencomotan not-not pada bagian reff, God Gave Rock N Roll To You II, dari album Revenge-nya KISS. Siap gak kalian menghadapi serbuan KISS ARMY, kalo-kalo mereka ngedenger lagu Tuhan Kirim Kamu, yang reff-nya mirip banget ama God Gave..-nya KISS ?

Ah, udah dulu deh ngritik dan ngancem-nya. Mungkin ini karena saya juga sebetulnya sayang banget ama seorang Bongky, yang permainan maupun karya-karyanya hingga saat ini masih meninggalkan begitu banyak kesan di diri saya. Mudah-mudahan ini semata-mata karena keterbatasan notasi, yang memang cuma terdiri dari 7 angka. Kalau memang disengaja, mudah-mudahan aja kelak Bongky tahu dan percaya, bahwa karya-karya orisinilnya saja sudah sedemikian memukau bagi banyak penikmat rock n roll di negeri ini. Slank adalah kelompok musik revolusioner, dan karena Bongky termasuk salah seorang pelopor dan pernah jadi bagian dari Slank Mark I, maka diapun layak dibilang seorang revolusioner juga. (eap)