Thursday, February 28, 2008

REMEMBER JOSHUA TREE



Tahun-tahun SMP adalah masa pembelajaran gue bermain musik. Tahun-tahun SMA adalah masa-masa penyaluran emosional gue lewat musik. Pada tahun-tahun kuliahan, gue mulai membuka mata, telinga dan hati lebih lebar, untuk menikmati musik sebagai seorang pemain, pendengar dan pengkritisi amatir. Dan sekarang, gue cuman jadi sekadar pendengar, pengkritisi amatir, tanpa berusaha bersusah-payah berekspresi dan membentuk sebuah band, buat menyalurkan emosi atau sekadar relaksasi.

Dari ke-empat masa itu, salah satu band yang selalu nikmat, baik untuk dimainkan, didengarkan, dihayati dan dikritisi- minimal waktu ngobrol sama sohib-sohib yang suka musik- adalah U2. U2 ini band yang paling banyak ngeraih Grammy Award, band yang sukses berat secara komersial, dan sukses sebagai para musisi, kendati menurut banyak kritikus permainan para personil U2 secara teknis betul-betul efisien. Bahasa kasarnya : mereka tuh gak jago-jago amat, kalo kita-kita merhatiin skill seorang The Edge (gitaris), Larry Mullen Jr (drum) dan Adam Clayton (bass), selama ngedenger permainan U2. Gue kira, kalo Paul Hewson, alias Bono, sang vokalis mah gak usah gue sebut. Sebab, menurut gue, karakter Bono, teknik, penghayatannya akan setiap lirik dan musik U2, adalah pantas dikategorikan maestro.

Ahmad Dhani, pentolan DEWA pernah bilang berkali-kali, bahwa bagi dia pribadi seorang musisi itu jadi besar karena karakternya. Gue setuju banget ama pendapat ini. Kalo mau ngambil contoh, maka U2 pantes banget diambil sebagai salah satu sampel dari sebuah grup yang sukses, berkat karakter permainan ke-empat personilnya. Orang belakang panggung yang nyata-nyata gape memoles mereka adalah Steve Lillywhite, sang produser. Lillywhite ini kalo gak salah memroduseri U2 di album Boy (1980),October (1981), Achtung Baby (1991),How to Dismantle an Atomic Bomb (2004),All That You Can’t Leave Behind (2000), dan beberapa lagu di album U2 terfavorit gue, Joshua Tree (1987).

Sadar bahwa secara skill para personil U2 biasa-biasa aja, Lillywhite mengeksplorasi keunikan-keunikan yang dimiliki, teristimewa dalam diri Bono, sang vokalis, dan The Edge, sang gitaris. Hasil penggalian bakat, yang kemudian dioptimalisasi oleh sang produser adalah : vibra Bono yang penuh wibawa, teknik falsetto Bono yang unique, konsistensi ritmik gitar dipadu efek echo dan delay yang menjadi jatidiri style seorang The Edge, dipadu dengan influence musik khas Irish, akar Irlandia yang erat dengan tradisi musik katedral, yang menyajikan nuansa ambient dan sound yang atmosferik. Dari ramuan tersebutlah makanya, siapapun yang ngedenger musik U2 akan sepakat, bahwa mereka tuh sebuah band yang Irish abis. Cause corak natural dari musik tradisional Irlandia yang sering memberi sensasi yang private, bikin sejuk dan mencerahkan, terangkum dalam sound dan musik U2 yang notabene merupakan band rock modern.

Jika struktur musik mereka berakar pada tradisi musik Irlandia, maka struktur lirik mereka berangkat dari tema-tema sosial, politik dan personal problematika. Gak kehitung lirik dalam lagu mereka yang diterima khalayak pendengarnya, lantas memengaruhi movement kelompok akar rumput, student, aktivis, untuk membebaskan diri dari ketertindasan secara poleksosbud- meminjam istilah orde baru. Kekuatan lirik inilah, yang kemudian menarik U2 kedalam social activity, mulai dari : Band Aid untuk kelaparan di Ethiopia (1984), pengangguran di Irlandia (1986), perang sipil El Salvador (1986), sampe pengumpulan dana pemulihan bagi korban Katrin Hurricane, tahun 2005.

Diantara bejibun kegiatan sosialnya, yang paling membekas dan berkesan bagi U2 adalah pengalaman mereka sepanjang taun 1986, waktu mereka dilibatkan oleh LSM internasional, salah satunya Amnesty International, NGO’s yang bergerak dalam lingkup pembelaan HAM dan kemerdekaan individu. Di taun yang sama, U2 maen bareng ama band/artis legendaris Irlandia – diantaranya Van Morrison, Thin Lizzy dan The Boomtown Rats- dalam konser amal Self Aid. Self Aid adalah konser amal yang diselenggarakan sebagai wujud simpati dan keprihatinan musisi Irlandia, atas angka pengangguran di negeri itu yang mencapai 250.000 kepala, akibat perang saudara yang berlarut-larut di negeri itu. Pada taun 1986 juga, U2 diundang ke Nikaragua dan El Salvador, dalam sebuah gerakan yang dikenal dengan sebutan Sanctuary Movement, yaitu gerakan yang melibatkan para penganut Katolik Roma, Presbyterians, Metodis, Baptist, Yahudi, Quakers dan Mennonites.

Pengalaman mereka di taun 1986 itulah yang melahirkan, salah satu album terbaik dalam sejarah musik rock, Joshua Tree (1987). Rolling Stones Magazine menempatkan Joshua Tree pada posisi ke-26, dari 500 album terbaik sepanjang masa versi majalah tersebut. Di album inilah terdapat lagu Bullet The Blue Sky, nomer yang didedikasikan untuk perjuangan rakyat El Salvador. Lirik lagu ini memaparkan tentang akibat intervensi militer Amerika Serikat, dalam perang di negeri yang berbatasan dengan Samudera Pasifik, dan terletak antara Honduras dan Guatemala itu. Dengan covered musik yang lebih trengginas dan membara, grup Trash Metal Sepultura, sempat membawakan lagu ini dalam materi studio album-nya, Revolusongs (2002).

Kenang-kenangan lainnya dari 1986’s movement-nya U2 adalah lagu Running To Stand Still. Lagu ini ditulis Bono, setelah sang vocal maestro menyaksikan kehidupan para penghuni rumah susun, di daerah yang terkenal dengan sebutan Ballymun Seven Tower di kota Dublin, Republik Irlandia. Running To Stand Still bercerita tentang suasana hati seorang cewek pecandu heroin, di tempat dimana kaum papa di ibukota Irlandia itu bertinggal. "I see seven towers/But I only see one way out."ucap Bono dalam lagu ini. "She runs through the streets/With her eyes painted red…She will suffer the needle chill."bisik Bono merefleksikan kecanduan parah yang dialami si cewek.”You've got to cry without weeping, talk without speaking, scream without raising your voice."ucap Bono, merefleksikan betapa besar rasa frustasi, hopeless dan kebingungan si cewek, dalam lagu yang merepresentasikan keadaan kaum miskin dan pengangguran di ibukota Republik Irlandia tersebut, pada pertengahan taun 80-an.(eap)

Wednesday, February 27, 2008

BERPULANGNYA GODFATHER OF SOUL



Ada sebuah kesamaan, antara saya dan anak saya, dalam perkara apresiasi musik. Pertama kali kami bergoyang dan berteriak karena musik, adalah setelah mendengar lengkingan vocal James Brown di lagu I Feel Good. Sama juga, sekitar 9 bulanan usia kami, kami sama-sama melakukan aksi goyang baby-funk buat menghibur saudara-saudara di rumah.

Lagu I Feel Good juga, selain Smoke On The Water, Honky Tonk Woman, I Don’t Like Monday, Bohemian Rhapsody, Temple Of The King, yang selalu include didalam kumpulan lagu-lagu terpilih, yang saya kemas dalam kaset hdx, basf, cd mp3 atau ipod, sejak SMP hingga sekarang. Kemanapun saya pergi, saya selalu membawa kompilasi buatan sendiri, dan selalu include I Feel Good didalamnya.

Jaman tape recording keluaran pertama yang bisa dipakai menggandakan kaset, saya sempat kecele salah merekam I Feel Good. Setelah mendengar vokal bariton didalam kaset tersebut, saya merasa ada sesuatu yang asing dan aneh pada tone sang Godfather Of Soul. Dalam materi yang direkam secara live itu, vokal sang Godfather terdengar lebih rendah, kurang ekspresif, bahkan lengkingan di bagian closing lagu I Feel Good itu lebih mirip suara orang sakit bengek dipuncak penderitaan, daripada suara scream James Brown yang khas dan heboh itu. Suara trumpet, trombone dan saxophone yang saut-menyahut mengiringi lagu tersebutpun, bagaikan orkestra tanjidor taun 1930-an. Ealah, romo, ternyata itu adalah I Feel Good yang dibawakan ulang oleh Rollies, pada konser di Taman Ismail Marzuki, sekitar tahun 1976. Lagu yang anti-klimaks sebenarnya, mengingat sebelumnya Rollies begitu apik dan rancak membawakan hits-hits-nya Chicago, yang saya ingat diantaranya : Free, dalam rekaman milik Babe Gue itu.

Selain Rollies, yang bahkan terang-terangan membawakan nomor-nomor James Brown, kelompok AKA, yang dimotori oleh Ucok AKA Harahap-pun terpengaruh ama musik soul-nya laki-laki berjuluk : "The Hardest Working Man in Show Business" itu. Cuman, menurut saya, pengaruh yang sekadar tempelan itu malah membuat salah satu lagu AKA, yang mirip banget ama lagu James Brown, Get Up, jadi terdengar lucu. Lucu dan konyol, mengingat lirik bahasa inggrisnya kayak anak-anak sekolah menengah sedang belajar conversation. Di lagu Shake Me, tepatnya. Di lagu itu, Ucok AKA seolah-olah sedang berdialog dengan sekumpulan orang. “Do you like morphine ?”teriak Ucok.”No.”jawab audience-nya, ”Do you like LSD ?”teriak Ucok kedua kali.”No.”teriak audience-nya. Dan baru, setelah Ucok berteriak pada audience : “Do you like sex (or shake) ?”, barulah audience berteriak “Yes.” Gaya dialog pembuka di awal lagu AKA yang sealbum ama lagu hits mereka Crazy Joe itu, mirip ama gaya lawakan Warkop DKI di kaset lawak : Makin Tipis, Makin Asyik, yang rilis beberapa taun kemudian. Kayaknya sih mirip doang, bukan kesengajaan grup lawak yang diawaki oleh trio komedian legendaris : Dono, Kasino, Indro itu.

Musik James Brown, emang sesuatu yang spesial, disamping musik-musik lain yang dibawakan ama musisi kulit hitam. Dengan basic vokal gospel dan tarian enerjik, James Brown mampu membuat pendengarnya menghentak-hentakkan kaki, menggoyang-goyangkan badan, atau sampe teriak-teriak histeris. Kecuali, It’s A Man’s Man’s World dan Please, Please, Please- lagu-lagu hits Brown yang lainnya senantiasa memancing para pendengarnya untuk bergoyang. Papa's Got a Brand New Bag, Say It Loud - I'm Black and I'm Proud dan Get Up (I Feel Like Being A) Sex Machine, adalah nomer-nomer jaminan mutu, bagi mereka yang suka joget atau sekadar pengen goyang-goyang kepala.

Saya pernah baca salah satu majalah tempo dulu, yang isi artikelnya mengklaim bahwa Ian Gillan-lah, lewat hits Deep Purple, Child In Time, yang pertamakali lengkingannya menembus 3 oktaf. Padahal, kalo denger album masterpiece-nya Brown, Live at the Apollo, justru sang Godfather Of Soul-lah yang pertamakali menampilkan lengkingan tinggi melewati tiga tangga nada itu secara full soul dan sempurna. Coba aja simak I’ll Go Crazy dan Try Me, dua lagu pembuka di album live yang direkam tanggal 24 Oktober 1962 ini. Waaaw…waaaw…-nya aja ada lebih dari 10 kali. Betul-betul sangat emosional dan penuh energi, lengkingan vokal Brown saat pementasan di Apollo Theater, Harlem, itu.

James Brown tuh seorang musisi yang juga memegang kuat prinsip, buat menghibur para penggemarnya semaksimal mungkin. “Gua mesti ngasih lebih, daripada apa yang mereka inginkan dari gua,” bilang Brown ama temen-temen Big Band-nya, setiap sebelum mereka tampil menggoyang penggemarnya. Pantes aja, di film T.A.M.I show, yang menampilkan James Brown and The Famous Flames sebagai salah satu talent-nya, James Brown dan para backing vocal-nya tampil super heboh. Di film itulah, moving dance a la James Brown pertamakali disaksikan oleh khalayak luas, sampe-sampe Keith Richards, pentolan Rolling Stones yang juga tampil di film dokumenter itu bilang, “Gairah Brown dan para pengiringnya itu bikin gua keder. Soalnya, gua kira susah banget buat menyaingi totalitas persembahan mereka buat penggemarnya lewat aksi panggung.”

Memukaunya James Brown dalam setiap aksi pentas dan lagu-lagunya, bikin saya penasaran untuk nonton Rocky IV, dimana Brown tampil sebagai salah satu cast-nya. He he he, doi nongol cuman sebentar, nyanyiin lagu Living In America dan Star Spangled Banner, sebelum Rocky Balboa, yang diperankan ama Sylvester Stalone bertarung ama Ivan Drago,yang diperankan oleh aktor berdarah Denmark, Dolph Lundgren. Brown juga sempet maen di film Blues Brothers (1980), Blues Brothers 2000 (1998), dan banyak lagi. Kebanyakan emang jadi actor tamu. Buat saya, penampilan Brown yang memukau sebagai guest cast, adalah dalam film documenter tentang duel Muhammad Ali versus George Foreman di Zaire, When We Were Kings (1996). Di film itu, James Brown sepanggung ama legenda Black Music lainnya, B.B. King. Fantastik banget, performance mereka di film dokumenter, yang disutradarai ama Leon Gast itu.

Taun 2006, pas 25 Desember waktu umat kristiani ngerayain Natal, James Brown mangkat untuk selama-lamanya. Brown meninggal karena komplikasi gagal liver dan radang paru-paru. Charles Bobbit, sahabat karib Brown yang mendampingi sang Godfather bilang, sebelum ajalnya, Brown berbisik ama dia : “I’m going away tonight.” Saya pergi malam ini, kata Brown. Dan, pas jam 2 malem kurang 15 menit, James Brown-pun meninggal dunia.

Waktu berita duka ini nyampe di Indonesia, kok aneh ya : saya sampe menitikkan air mata. Gak kenal secara pribadi, bukan orang kulit hitam, belum pernah langsung ngeliat show-nya, tapi aneh, saya menangis begitu saja. Saya kira, mungkin itulah chemistry antara James Brown, sang entertainer sejati, dengan para penggemarnya. Ya, semua penggemarnya menangis ketika dia pergi, mengingat Brown adalah seorang artis yang selalu berusaha memberikan lebih, dari apa yang diharapkan ama para pengagumnya.

Saya salah satu penggemar Brown dari jauh, yang sedemikian mengagumi ke-entertainer-annya. Gak berlebihan memang, apa yang diteriakkan ama MC Fats Gonder pada saat memanggil Brown untuk naek ke atas panggung, dalam opening show di album Live at the Apollo. “So now ladies and gentlemen it is star time, are you ready for star time? Thank you and thank you very kindly. It is indeed a great pleasure to present to you at this particular time, national and internationally known as the hardest working man in show business, the men that sing "I'll Go Crazy" ... "Try Me" ... "You've Got the Power" ... "Think" ... "If You Want Me" ... "I Don't Mind" ... "Bewildered" ...the million dollar seller, "Lost Someone" ... the very latest release, "Night Train" ... let's everybody "Shout and Shimmy" ... Mr. Dynamite, the amazing Mr. Please Please himself, the star of the show, James Brown and the Famous Flames!”teriak Gonder memanggil sang Godfather Of Soul, untuk segera menghibur para fanatikannya yang kangen pembebasan.(eap)