Tuesday, August 05, 2008

Europe Style Di Era Millenium

Rekaman rock yang paling saya tunggu-tunggu rilisnya tahun depan adalah album terbaru Europe. Sanctuary Records konon melalui press release-nya tahun 2007 bilang, album terbaru Europe bakal rilis tahun 2009. Di pertengahan 2008 ini, saya mengira-ngira, bakal seperti apa album Europe termutakhir itu nantinya. Terus terang, saya menunggu-nunggu album terbaru Europe setelah gak sengaja beli dan denger dua album terakhir mereka berturut-turut. Yang pertama, album studio ke-6, Start From The Dark, dan yang kedua, album studio mereka yang ke-7, Secret Society.

Tadinya, saya beli Start From The Dark, karena surprise aja ketika tahu bahwa Europe masih bikin album. Lebih surprise lagi, waktu ngebaca line-up mereka di album ini, yang sama dengan line-up di album epical mereka, The Final Countdown (Joey Tempest-vokal, John Norum-gitar, John Leven-bass, Mic Michaeli-kibord, Ian Haughland-drum). Cuma, penampilan atau tongkrongan para rocker asal Uppland Vasby, Swedia, ini udah lain sama sekali dengan penampilan mereka sebelum break tahun 1992 (wah udah lama banget break-nya, pantes saya surprise banget pas liat album ke-6 mereka di rak toko kaset). Rambut gondrong mereka gak lagi ditata pake jelly atau hair-spray. Joey Tempest dan kawan-kawan tampil lebih dark, mirip-mirip ama tongkrongan musisi Aggressive Metal semisal, Arch Enemy. Ian Haughland malah kelihatan lebih up-to-date dan sangar penampilannya. Dengan kacamata item, rambut plontos dan cambang a la pakar telematika, Budi Raharjo, sang drummer Europe itu tampak lebih jantan dan sangar. Citra-nya kayak citra Denzel Washington waktu maen di Training Day-lah kira-kira.

Dark clothing-nya Europe yang juga dipadu ama dark backdrop di foto belakang cover mereka, keliatannya termasuk dalam upaya merepresentasikan materi album yang mereka tawarkan lewat tajuk Start From The Dark itu. Memang sih, di nomer pertama Got To Have Faith, mereka gak tampil gelap-gelap amat. Got To Have Faith malah mengingatkan saya dengan All Or Nothing, nomer pembuka di album Europe before break, Prisoner In Paradise (1992)-ya gak mirip-mirip amat memang, hanya masih ada sedikit irisannya ama Got To Have Faith.

Setelah Got To Have Faith, Europe betul-betul tampak berupaya menampilkan sesuatu yang lain dari identitas mereka selama ini. Meskipun melodic style Joey Tempest masih di-eksplor waktu ngebawain : Start From The Dark, Flames, Hero, Wake Up Call atau Song No.12, tapi corak fusion kibord dan ritem gitar khas Norum udah gak kedengeran lagi. Start From The Dark atau list nomer 9 (Sucker),10 (Spirit Of The Underdog) dan 11 (America) di album ini sama sekali gak kedengeran seperti Europe. Saya malah menangkap ada ruh Symphony X, Dream Theater atau band-band sejenisnya yang kerap dikualifikasikan kritikus musik sebagai Progressive Metal.

Sehabis Start From The Dark (2004) rilis, Europe ngeluarin album lagi tahun 2006. Album yang dikasih judul Secret Society ini, saya download dari blogspot seorang temen asal Finland. Saya lagi bokek, gak kuat beli ke Amazon, dan keliling-keliling di sinipun gak nemu-nemu itu album. Karena gak nahan untuk cepet-cepet dengerin itu album, saya download aja itu album dari blogspot temen chatting asal Finland, yang juga kebetulan fans berat band ini. Lewat diskusi panjang untuk ngeyakinin bahwa saya cuma akan mendengarkannya sendiri, dan tanpa disebarluaskan, akhirnya saya dapet link untuk ngedonlot Secret Society di awal tahun 2007. Sampe saat ini saya pegang janji saya ama si Eklundh, untuk gak nyebar-nyebarin atau posting album tersebut di multiply.

Secret Society dibuka lewat nomer yang punya judul sama dengan tajuk album. Kalau nyidik judulnya, sebelum denger ini lagu, saya udah nebak-nebak ni lagu adalah sebuah komposisi yang prog-rock. Sehabis ngedenger, ya emang sih ada warna prog-rock-nya di bagian reff. Tapi paling durasinya hanya sekitar 30 detikan. Sehabis reff, solo guitar Norum menegaskan bahwa nomer pembuka album Secret Society ini adalah sebuah nomer heavy metal, bertempo cepat, dengan cabikan bass- hentakan drum- plus riff gitar yang saling susul di jalanan lurus. Norum, Leven, Michaeli dan Haughland betul-betul on-fire di nomor Secret Society ini. Sementara Tempest, menata vokalnya agak berbeda, sehingga sekilas lagu pembuka ini gak kayak sebuah komposisi dari Europe.

Kesan pertama begitu kentara gahar-nya, maka dengan melahap satu per satu materi sampe abis, saya merasa bahwa perubahan signifikan mereka di Start From The Dark cuman batu loncatan doang, demi menampilkan sound, soul dan citra Europe yang betul-betul baru di Secret Society. Hanya, sayangnya- kecuali di nomer jenius “The Getaway Plan” yang menampilkan fretwork canggih-nya Norum dan karakter kuat-nya vokal Tempest, “Let the Children Play” yang nge-groove dan renyah, “Love Is Not The Enemy” yang keras atau “Devil Sings The Blues” yang sedingin Riders On The Storm-nya The Doors- Europe gak sengaja jadi sedikit tampak terpengaruh ama elemen-elemen dari band-band modern rock macam : Godsmack, POD atau Bush di era millennium. Diluar nomer-nomer yang saya kecualikan diatas, terjebaknya Europe dalam pola-pola penyesuaian dengan aliran rock trend millennium, keliat samar atau jelas lewat pemilihan riff-riff John Norum dan vokal Joey Tempest yang kehilangan power dan miskin inspirasi. Tempest kelihatannya berusaha tampil dengan style yang betul-betul baru, tapi saya yang ngedengernya malah jadi bertanya-tanya : Tempest kok gak kayak Tempest ya ? Ya, kreatifitas seorang Joey Tempest malah menggerus jatidiri sejatinya sendiri.

Habis tuntas ngedengerin Secret Society, saya ngambil beberapa kaset Europe tempo dulu, seperti : Final Countdown, Out Of This World dan Prisoners In Paradise. Saya berusaha memantapkan argument buat kesimpulan saya tentang rahasia kekuatan Europe, yaitu : karakter vokal Joey Tempest. Final Countdown, Let’s Good Time Rock, Cherokee, Carrie, Superstitious, Tomorrow, All Or Nothing, I’ll Cry For You dan Prisoners In Paradise lewat dengan sukses di indera pendengaran saya. Yap, emang kekuatan Europe tuh ada di vokalnya Tempest ! Sehingga saya bisa menyimpulkan : boleh-boleh aja tuh Europe menaikkan tensi heavy rock yang biasa mereka mainkan, ke tensi yang lebih tinggi seperti di album Start From The Dark dan Secret Society. Cuman, baiknya karakter vokal Tempest gak usah disamarkan atau ditimpa ama teknik penataan koor vokal yang elektronis dan cenderung mendistorsi karakternya. Musik Europe boleh naik tensi, tapi biarin aja Tempest melengkingkan suaranya sejernih ia menyanyikan nomer-nomer hard rock atau balada-nya yang mendunia di paruh 80-an dan awal 90-an. Ini adalah syarat, biar Europe gak menyia-nyiakan jatidiri musik dan style yang udah mereka bangun sejak taun 1985 sampe sekarang, tanpa mengorbankan libido mereka yang keliatannya tinggi untuk nyoba sesuatu yang lain.

Kesimpulan saya tersebut sempet saya chatting-kan juga ama Eklundh, malem minggu kemaren. Eh, saya malah dapet info lebih menarik dari dia, tentang artworker dan engineer yang bekerja dibalik penggarapan Secret Society. Ternyata, semangat pembaharuan Europe juga didukung ama pilihan : siapa yang ngelakuin Mixed ama Mastering album tersebut. Di Secret, Europe menunjuk Stefan Glaumann (yang biasa ngegarap Rammstein) dan George Marino, yang dikenal luas berkat kesuksesannya ngegarap semua album Velvet Revolver, Coldplay dan U2. Untuk artwork-nyapun, Europe gak sembarangan pilih orang. Buat urusan eksklusivitas packaging albumnya, Europe menunjuk Storm Thorgeson, anggota dan pendiri kelompok pekerja grafis Hipgnosis, yang karya-karyanya bisa disimak lewat sampul rekaman grup-grup legendaris macam : Led Zeppelin, Pink Floyd, Peter Gabriel, atau yang paling gres di sampul rekaman-nya Muse. Wah, dapet informasi tambahan tentang keseriusan Europe dalam eksplorasi musik dan eksplorasi elemen pendukungnya, saya makin penasaran dan terus ngeduga-duga : seperti apa ya album terbaru mereka di 2009 nanti ?

Sunday, August 03, 2008

REVOLUSI A LA GRUNGE


Di siang yang panas ini, waktu anak-istri lagi liburan di rumah merto, saya memilih untuk bertahan di rumah seorang diri. Saya meriang melulu dari hari Jumat. Gak tau nih, kok fisik yang saya bina pake olahraga selama ini tiba-tiba melempem disikat pancaroba. Ya, gak apa-apalah. Namanya juga manusia, pasti punya waktu sehat dan waktu sakit.

Gak betah tiduran dan baca buku melulu, saya menuju kamar kerja dan browsing-browsing dikit. Kepikiran nge-update blog, yang ternyata udah lama banget gak saya update. Spontan aja kepikiran untuk nulis tentang grunge. Tentang beberapa album grunge yang sempet saya lahap, dari awal 90-an sampe beberapa detik setelah saya lulus kuliah.

Lagi asyik-asyiknya browsing untuk sekedar baca-baca data, saya menemukan sebuah fakta menarik, bahwa ternyata band grunge, Mudhoney, baru aja ngerilis album ke-9 di bulan Mei 2008. Gak nyangka euy, itu band ternyata masih bermusikalisasi, dan bahkan setelah membaca review dari para professional di bidang musik, album ke-9 Mudhoney bertajuk The Lucky Ones itu rata-rata dapet nilai 4,5 dari skala 5. Mojo, majalah musik yang sering saya hunting bekasnya diantara pedagang kaki lima sungai Cikapundung, ngasih rate 4 buat album Mark Arm Cs ini. Wah, lezat kayaknya nih materi album ini. Nanti coba nyari deh ke Amazon. Kalo berbagai macam tagihan berhasil ditagih bulan-bulan ini, hehehe…

Ngomong-ngomong soal grunge, aliran yang dimaenin ama Mudhoney, saya terkenang ama masa-masa SMA dulu, pas pertamakali nonton videoklipnya Nirvana, Smells Like Teen Spirit. Saya ama Dhani, yang kebetulan lagi menyantap indomie sambil ngaso sepulang sekolah, terkagum-kagum ama ritme Smells yang kedengeran lain daripada yang lain. Masuk vokalnya Cobain, kita berdua langsung bertanya-tanya, “Musik apaan nih ?”

Saya yang udah kelewat penasaran, langsung aja nglayap ke toko kaset, buat ngedapetin album Nevermind dari Nirvana, album dimana Smells Like Teen Spirit berasal. Waktu pertamakali ngedengerin album itu, saya serasa terlempar ke masa-masa dimana saya pertamakali makan rujak cingur. Pada awalnya butuh penyesuaian, merem-melek, senyum kecut waktu menyicipinya pertama kali. Tapi kesananya, jadi keterusan tuh pengen makan rujak cingur. Nah, kira-kira begitulah kesannya pas ngedenger sebuah materi grunge pertamakali. Kita gak bisa bilang enak, gak bisa bilang gak enak, sebab sisi nikmatnya sebuah musik grunge bukan di enak- gak enaknya, melainkan dalam keunikannya.

Kemudian hari, saya paham, bahwa hidangan Nevermind-nya Nirvana itu sebenernya hidangan yang paling ringan dan paling gak butuh waktu banyak buat disesuaikan ama selera kuping. Sesuai dengan definisi dari akar kata grunge, yaitu grungy, yang kira-kira diidentifikasikan secara kalimat sebagai : “shabby or dirty in character or condition”, musik rock produk komunitas underground Seattle, Amrik, ini juga menampilkan citra musik dan fashion yang berkesan “kotor”, “cuek” dan nyeleneh (kata Mark Arm, vokalis kelompok grunge pertama yang merilis album, Green River, yang kemudian berevolusi menjadi kelompok Mudhoney). Cuman gak enak ah kalo saya ikut terpatok ama pendefinisian si Mark. Maka, saya perhalus saja, bahwasanya aliran grunge itu adalah aliran yang kerap menampilkan citra musik dan fashion yang berkesan “keras”, “simpel”, “berani beda” dan “hyper-kreatif”. Nah, diantara keempat citra tersebut, yang paling saya demen adalah citra musik dan musisi grunge yang “hyper-kreatif”. Musik dan musisi grunge bisa disebut sebagai sesuatu atau person yang “hyper-kreatif” karena, mereka bener-bener udah menampilkan kreasi yang berbeda dari generasi influence mereka sendiri. Kemunculan mereka secara langsung -gak langsung telah menandai era baru, memelopori tumbuhnya budaya baru, dalam cara bermain, apresiasi dan industri rekaman musik rock.

Grunge juga sering disebut sebagai musik alternatif, rock alternative. Beberapa tokoh pelopor dan pencetus sukses komersial aliran musik ini, seperti : Chris Cornell (vokalis dan pendiri band grunge pertama yang sign with major label, Soundgarden), Eddie Vedder (frontman kharismatik kelompok Pearl Jam) dan Kurt Cobain (gitaris/vokalis Nirvana, band grunge paling populer di dunia), ngerasa risih dan gak suka disebut sebagai musisi rock alternative. Istilah tersebut bikin grunge jadi terlalu umum, terlalu general, gak khusus lagi, kata Kurt Cobain dalam sebuah wawancara after success-nya Smells Like Teen Spirit memuncaki chart Billboard Hot Modern Track pada tahun 1991.

Terlepas dari pengkualifikasian grunge sebagai rock alternative, saya memandang bahwa musisi-musisi grunge secara factual menyajikan berbagai alternatif komposisi buat para apresiatornya. Kalau di era Trash Metal pattern band trash satu dengan band trash lainnya relatif gak ekstrim banget perbedaannya, maka di era grunge pattern music satu band grunge dengan band grunge lainnya bisa ekstrim banget perbedaannya. Nevermind-nya Nirvana akan sangat berbeda dengan Badmotorfinger-nya Soundgarden, Ten-nya Pearl Jam beda banget ama To Mother-nya Babes In Toyland, atau Jar Of Flies-nya Alice In Chains. Ya, paling-paling, sedikit persamaan band-band grunge itu adalah urusan optimalisasi sound distorsi atau teknik feedback pemain gitarnya aja.

Meskipun pattern music mereka relatif berbeda, tapi secara lirik band-band grunge rata-rata mengusung warna dan semangat yang sama. Lirik-lirik mereka biasanya bicara soal keterasingan diri, keterkungkungan, apatisme dan gairah buat ngebebasin diri dari segala macam problematika hidup. Dalam artikel “Grunge : A Success Story”-nya Rick Marin yang sempet tampil di New York Times, Simon Reynolds bilang,”…anak-anak grunge meneriakkan pemberontakan terhadap kultur lama, dan mengemukakan kekhawatiran yang sangat akan masa depan.” Tapi, gak semua juga lirik-lirik anak grunge mengemukakan kegelisahan berlebihan atau pesimistis akan diri, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Kurt Cobain, pernah nulis lirik satir dan lucu, untuk menyindir orang-orang diluar komunitas musik underground, yang sok tahu menerjemahkan pesan dalam lirik lagu-lagu yang dimaenin anak-anak underground. “He's the one/Who likes all our pretty songs/And he likes to sing along/And he likes to shoot his gun/But he knows not what it means,”ejek Cobain lewat In Bloom (Nevermind,1991). Dan buat nambah satir lagu ini, Nirvana tampil memarodikan gaya band-band tahun 1960-an dalam videoklipnya.

Buat saya, menikmati nomer-nomer grunge kayaknya gak cukup dengan menyetel keras-keras speaker atau headphone volume sendirian didalam kamar. Grunge Music kerasa lebih lezat kalo didengerin sambil headbang, moshing, ber-pogo, atau stage diving (loncat dari atas panggung). Karena para apresiator dan fanatikannya cukup merepresentasikan musik grunge lewat headbanging, ber-pogo dan lain sebagainya, sebuah konser grunge gak membutuhkan permainan dry-ice, lighting atau visual-effect (kayak yang dipake U2, Mick Jagger, Metallica, de-el-el, misalnya). Konser udah cukup meriah, ramai dan “rusuh”, tanpa embel-embel peralatan dan teknik canggih yang sebetulnya gak relasional ama komposisi musik. Mengenai hyper-active-nya musisi dan fans grunge tersebut, Jack Endino, bos label Sub-Pop (minor label pertama rekaman grunge), bilang,”… Seattle bands were inconsistent live performers, since their primary objective was not to be entertainers, but simply to ‘rock out.’”(dalam film dokumenter tentang aliran grunge, Hype !).

Untuk urusan pakaian-pun, para musisi dan penikmat grunge gak sampe ngeluarin berlembar-lembar dollar dari dompetnya. Band-band grunge, dari yang gak popular sampe yang paling popular kayak Nirvana, Pearl Jam dan Soundgarden, konon biasa belanja di toko pakaian bekas (disini semacam sisa ekspor-lah) yang di Washington, Amrik, sana dikenal dengan sebutan “thrift store”. Anak-anak grunge biasanya merasa nyaman memakai kemeja flannel, jeans belel, oblong tipis yang warnanya kusam or sedikit robek, dan juga celana gunung. Kemana-mana, jalan bareng pacar, kuliah, kerja, latihan band atau rock out di panggung, busana-busana kayak begitu aja yang mereka pakai. Yang saya liat sih, yang sedikit agak mahalan adalah dandanan Alice In Chains. Eh tapi, enggak juga deng, kadang-kadang luarnya pake Jas Kulit eh dalemnya pake singlet bolong (especially dandanan Layne Staley, vokalis, dan Jerry Cantrell, gitarisnya).

Setelah era grunge berakhir, sampe sekarang belum ada revolusi berarti, yang bisa dianggap memengaruhi trend musik rock dan fashion anak muda. Memang sih, beberapa waktu lalu sempet juga industri musik rock dipenuhi ama band-band Modern Rock semacam Linkin Park, Korn atau Limp Bizkit. Tapi, mereka-mereka itu baru sebatas muncul sebab faktor komersial dan keberpihakkan modal, bukan karena faktor kreatifitas tinggi, atau sebab semangat yang murni dan menggebu-gebu untuk menawarkan spirit cultural baru.