Monday, October 13, 2008

Kee Marcelo Atau John Norum ?

“Kee Marcelo atau John Norum ?”, itu inti pertanyaan Mas Prasto Prabowo, waktu kami diskusi soal gitaris band kesayangan kami,Europe. Band yang menurut ukuran saya sih, minim album, tapi masalah musikalitas dan popularitasnya gak usah ditanya deh. Hit mereka : The Final Countdown udah sesuatu yang klasik dan istimewa di dunia rock. Mungkin sama istimewanya dengan lagu-lagu rock legendaris macam : Smoke On The Water-nya Deep Purple, Bohemian Rhapsody-nya Queen, Honky Tonk Woman-nya Stones, Jump-nya Van Halen, atau Whiter Sad Of Pale-nya Procol Harum.

Saya baca opinion diberbagai media cetak maupun online, seorang John Norum rata-rata lebih disukai daripada Kee Marcelo. Norum, pria Norwegia yang besar di Swedia itu emang lebih gahar, lebih keras daripada Marcelo yang sempet menggantikan dia di album Out Of This World (1988) dan Prisoners In Paradise (1991)-nya Europe. Tapi, ada juga opini yang lebih mendukung Marcelo daripada Norum. Menurut mereka, Marcelo lebih rapih dan manis permainannya, dibandingkan Norum. Bahkan, di forumnya bengkelmusik.com seseorang ber-ID Vidi Rosen terang-terangan bilang begini :”...btw abis denger John Norum di Start From The Dark kok gue kangen sama Kee Marcelo yach hehehehe kayaknya dia lebih melodius dibanding John.”76503390

Sama seperti pergantian vokalis, pergantian gitaris biasanya mengundang pro dan kontra penggemar sebuah band. Namanya juga musik rock. Indikator yang paling kuat dari musik ini adalah tone vokal dan sound gitarnya. Pro-kontra masalah gitaris Europe ini juga kira-kira sama dengan pro-kontra seputar digantikannya CC Deville ama Ritchie Kotzen di grup Poison (1993), digantikannya Ritchie Blackmore ama Tommy Bolin di grup legendaris Deep Purple (1975), atau kasus dalam negeri : digantikannya Ian Antono oleh Eet Sjahranie di grup legendaris lokal, God Bless (1988). Menurut saya, pendapat kontra yang muncul atas pergantian gitaris di tiga momen tersebut lebih dikarenakan masalah romantisme belaka. Ada perasaan gak rela, ketika CC, Blackmore atau Ian Antono yang notabene pendiri atau mereka yang mengantarkan grup-grup tersebut ke puncak popularitas harus digantikan orang-orang baru. Padahal, secara teknis, baik Kotzen, Bolin atau Eet, sebetulnya juga gitaris-gitaris dengan skill yang luar biasa. Hanya, warna permainan mereka memang berbeda jauh dengan karakter yang sudah dibangun sejak awal, oleh band dimana mereka menjadi suksesor gitaris lamanya.

Masalah pro-kontra Kee Marcelo atau John Norum juga kurang lebih sama kasusnya dengan ketiga kasus suksesi gitaris band diatas. Kalau melihat teknis sih, baik Kee Marcelo maupun John Norum ya sama-sama mumpuni untuk sebuah band sebesar Europe. Yang berbeda dari mereka itu hanya semata masalah warna. Warna sound dan karakter permainan mereka di aransemen. Untuk Marcelo dan Norum, perbedaannya hanyalah, urusan agresifitas dan sensibilitas. Marcelo lebih sensible, dan Norum lebih agresif. Norum berbicara langsung pada inti, sementara Marcelo lebih suka mengurainya dalam sebuah proses.

Tapi, meskipun Marcelo lebih sensi daripada Norum, tetap saja, permainan mereka makin ke sini itu makin Metal saja. Kalau jaman dulu Norum mungkin lebih more riff dan Marcelo lebih more melodic dari masing-masing, maka jaman sekarang justru mereka sama-sama menjatuhkan pilihan pada sound yang keras. Jadi kalau misalnya Kee Marcelo yang mengisi line-up Europe sekarang ini (seperti harapan Vidi Rosen, sebagaimana saya kutip diatas), bisa-bisa sama saja kerasnya dengan Norum. Yang beda barangkali sekadar durasi mereka dibagian riff, rythm atau melodi-nya. Saya mengambil kesimpulan ini, setelah mendengarkan permainan Kee Marcelo di album solo-nya Kee Marcelo K’2, dengan tajuk album Melon Demon Divine (2003). Kebetulan yang saya dengar itu lagu Evil Ways, track 9 di album tersebut, yang memang menampilkan permainan keras dan cepat. Dibandingkan dengan lagu apapun di album Europe era Millenium, baik Start From The Dark maupun Secret Society, jelas track no 9-nya Kee Marcelo itu jauh lebih keras. Marcelo ditopang ama part-part drum a la Vinnie Paul (Panthera), bass a la Cliff Burton (Metallica) dan session solo guitar yang full speed a la shredder di lagu Evil Ways tersebut. Di track 12 album K2, Melon Demon Divine yang punya judul “Ride On”-pun, Marcelo masih tampil galak dan agresif. Sayang, di album solo ke-2 nya ini, Kee Marcelo gak mempekerjakan vokalis untuk mengisi lagu-lagu yang ditulisnya sendiri. Harusnya, selain bekerjasama dengan Snowy Shaw, mantan drummer grup gothic metal kenamaan, Mercyful Fate dan King Diamond, Marcelo juga memilih seorang vokalis keras untuk membuat album Melon Demon Divine itu lebih maksimal. Kalau saya jadi produsernya, saya akan meminta Kee Marcelo memilih diantara Peter Marino (eks-vokalis Cacophony), Mike Vescera (eks-Loudness) atau sekalian aja Kelly Shaefer (eks-Atheist) buat mengisi vokal di album solonya tersebut. Ya, biar lebih dark dan keras aja itu album. Nanggung banget kalo Kee Marcelo sendiri yang nyanyi.

Kembali lagi ke inti masalah,”Norum atau Marcelo ?” Hmm, sulit banget buat saya. Saya sama-sama suka sih sama permainan mereka akhir-akhir ini. Makin tua makin keras, dan makin kental saja idealisme-nya. Kalau saya diminta memilih, mending itu gitaris dipanggil aja sekalian memperkuat line-up Europe di era Millenium ini. Seperti waktu Adrian Smith dipanggil lagi ke Iron Maiden, tanpa membuat Dave Murray dan Janick Gers keluar (1997). God Bless kita juga kan pernah mengambil pilihan demikian, ketika mereka menyandingkan Ian Antono dan Eet Sjahranie di album terakhir mereka Apa Kabar (1997). Hasilnya, Iron Maiden punya komposisi tercadas dalam sejarah kiprah mereka, seperti : Wicker Man (album Brand New World, 2000). Dan, God Bless-pun sempat memiliki komposisi yang memuat double gitar melodic, yang menurut saya paling edan dalam sejarah rock Indonesia. Komposisi yang saya maksud adalah : Serigala Jalanan dan Balada Si Toha. Lupa lagi di track ke berapa. Yang jelas, itulah lagu-lagu God Bless yang paling cadas dan keras sepanjang karier bermusik.(eap)

MUSIK STONES DAN ORANG KITA




Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan orangtua. Makin yakin saja saya, ketika ibu saya juga menganggukkan kepala, bahwa gambar lidah melet itu merupakan manifestasi para pemberontak, pendosa dan anti-parent.”Itu teh gambar musik orang gila...”kata kakek saya menambahkan. Waaah, jadi lidah melet itu lambang grup musik ya ? Ya namanya itu tadi : de roling setun kol me sir yu ar bastard. ”Apa arti tulisan dibawahnya itu, Kek ?”saya bertanya.”Itu artinya taypaw macam pamanmu itu !!!” Busyet, sekasar itu ya artinya, batin saya tercekat.

Beberapa tahun kemudian saya tumbuh menjadi manusia sekolah dasar. Disuatu sore yang santai, saya dan ayah berkunjung ke toko kaset didaerah Jamika, sepulang ayah dari menjemput saya sekolah. Ayah lagi asyik berbincang-bincang dengan pemilik toko kaset, untuk mencari tahu apa dia punya album Bill&Brod,Madu dan Racun. Saya juga suka lagu itu. Gara-garanya, Mayra, temen sekelas saya yang paling cantik, paling putih dan paling centil menyanyikan lagu itu di kelas kesenian sesi menyanyi bebas. Wuih, saya gemes betul liat lenggak-lenggok dan cengkokannya waktu nyanyiin itu lagu. Kelas jadi rame, dan saya jadi keringetan sendiri, gemes sendiri, tapi gak bisa ngapa-ngapain. Kalo bahasa orang gede saya horny kali ya, hehehe.

Selagi asyik-asyiknya ayah menilik-nilik kaset, kuping saya menangkap lengkingan harmonika dari sebuah lagu bertempo lambat. Enakeun pisan melodi yang dimaenin ama suara harmonika itu. Eh, pas masuk vokal, saya jadi nyengir sendirian, bagaimana sebuah tone yang besar gede dan gak merdu-merdu amat itu bisa membawakan sebuah nomer slow dengan enak. Penasaran saya.
”Pak, lagu apa ini yang diputer ?”

Ayah menyambungkan kepada si kokoh pemilik,”Koh, lagu apa ini teh katanya...”

Dengan wajah ramah si kokoh bilang,”Lagu Mick Jagger, Dek. Bukan lagu anak kecil. Tapi enakeun ya ?”

Saya mengangguk, tapi tidak berani bilang kepada ayah, kalau saya pingin membeli kaset berisi lagu, yang dikemudian hari saya tahu berjudul,”Party Doll.”

Bapak saya menimpali si kokoh, ”Ro ling setun tea Koh ?”

Si Kokoh menjawab,”Bukan, Mick Jagger wungkul,Pa.”

Hah, Ro Ling setun ? Jadi yang nyanyi lagu enakeun ini itu Mick Jagger, dan Mick Jagger itu penyanyinya ro ling setun, dan bukankah ro ling setun itu berlambangkan lidah melet yang terpajang di kamar paman ? Lho, lagu seperti ini kok didengar sama mereka yang suka melawan orangtua ? ”Party Doll” itu kan lagu biasa saja. Lagu yang mantap malah. Seksi menurut saya mah. Sepanjang jalan pulang bersama ayah dan kaset Bill&Brod-nya saya bertanya-tanya : kenapa juga Ro Ling Setun itu bisa mengilhami seseorang untuk melawan orangtua ?”

Semenjak sore itu, ”Party Doll” sering banget diputer ama radio-radio di kota Bandung. Radio favorit ibu saya, Radio Mara, termasuk salah satu diantaranya. Penyairnya, Gulia, setiap jam 9 sampai jam 11 pagi sebelum saya sekolah sore, memutar itu lagu tersebut, tanpa diminta atau dengan diminta pendengarnya. Karena pengen setiap saat bisa memutar lagu ”Party Doll” tanpa harus menunggu diputarkan radio, saya mengambil sebuah kaset bekas dan merekam lagu tersebut. Agak sebel juga sih, ikut terekam suara Gulia saat memanggil Bang Koko, operatornya, dengan sapaan khas di akhir lagu. Tapi ya gak apa-apa-lah. Asal bisa denger intro ”Party Doll” itu tiap pagi, saya sudah puas.

Lagu ”Party Doll” yang menjadi hits dalam album ”Primitive Cool” itu dirilis pada tahun 1987. Lagu itu segera meledak dan menjadi salah satu sebab Ono Artist Promotion mengundang Mick Jagger buat tampil di Indonesia, pada tahun 1988. Tahun 1988, waktu Mick Jagger datang itu saya masuk SMP kelas 1. Sebelum Mick Jagger datang, saya sempat beli kaset ”Primitive Cool”itu. Lagi demam Mick Jagger di Indonesia, terutama saya yang begitu masuk SMP berkenalan dengan studio latihan. Materi album itu crunchy semua. Selain ”Party Doll”, ada ”Throwaway” yang permainan bass-nya keren abis, ada “Radio Control” yang kelak saya kasih gelar “Lagu yang Mick Jagger banget”, ada “Say You Will” yang manis, dan ada “Let’s Work” yang beat-nya begitu rancak dan enak dipakai pengiring goyang. Wah, saya jadi kepingin nonton konser itu di Jakarta. Tapi, duit belom punya, orangtua juga pasti aneh dengan keinginan saya, wong saya maen band aja malah dicurigai, kok berharap banyak bakal nyampe di Senayan untuk menyaksikan Sang Superstar. Padahal, wiiih, saya pengen banget membaur dengan para penggemar Jagger lainnya dan bergoyang sepanjang sore dibawah iringan “Let’s Work” yang dibawakan secara live concert.

Konser Mick Jagger itu kemudian berakhir rusuh di Indonesia. Penonton yang gak kebagian atau gak mampu beli tiket berusaha masuk ke Stadion Utama Senayan, sehingga duel antara mereka dan para petugas keamananpun berakhir dengan terbakarnya berbagai jenis kendaraan dan rusaknya sarana umum. Huh, sayang tuh, lagu-lagu Jagger yang sebetulnya cukup asyik didenger dan kelewat asyik dipakai goyang, jadi rusak imejnya gara-gara ulah masyarakat kita yang primitif. Membaca berita kerusuhan tersebut, saya langsung teringat lagi grafis lidah melet di kamar paman yang badung. Hehehe. Lucu ama kelakuan sebagian penggemar Mick Jagger or Rolling Stone di Indonesia. Kenapa ya, musik Stone atau Jagger yang rock n roll and nge-beat abis itu gak dinikmati secara ritmiknya yang asyik itu aja ? Tanpa perlu dimanifestasikan jadi radikal, sok free gak karuan, seperti kelakuan Paman dan para penggemar yang gak punya karcis di sore yang seharusnya cool banget di Stadion Utama Senayan tahun 1988 itu. Yaaah, sayang banget itu konser jadi gak karu-karuan. Padahal, selain Mick Jagger, line-up yang mengawal penampilan Si Bibir Dower itupun gak kalah menarik, bagi mereka yang ngeh. Liat aja, Jagger bawa Joe Satriani, pada posisi gitar, dan Simon Phillips, sang drummer yang kemudian ikut mengisi line-up TOTO pasca over dosisnya Jeff Porcaro.

Tapi itulah Indonesia, orang-orang Indonesia, yang lebih suka mengadopsi sesuatu secara instan, dan kerap sering jadi korban mode. Itulah bangsa gue, yang sok mengkultuskan sesuatu, tanpa tahu apa sebaiknya yang diserap dan difilter jadi esensi sebenarnya. Seharusnya, waktu mendengar lagu-lagu Stone atau Jagger, yang muncul di pikiran adalah suka-cita mendengar kreatifitas mereka yang unik dan orisinil. Ini mah, denger musik Stone, liat gaya Mick Jagger yang imejnya cuek, slenge-an dan pemberontak, eh sifat-sifat itu yang diadopsi sampai-sampai menghancurkan diri sendiri. Naudzubillah gua mah.(eap)