Skip to main content

RED HOT YANG AWET MUDA




Sebuah kelompok musik, tidak hanya perlu menuju kematangan atau kemapanan disaat usianya memasuki usia dewasa atau tua. Sebuah kelompok musik, sangat perlu merawat musik, stage performance dan attitude, supaya tetap terlihat ‘muda’ dan tetap kedengaran up-to-date. Banyak grup besar dan legendaris, yang kurang berhasil atau bahkan gagal sama sekali, untuk tetap muda memasuki usia kurang-lebih sepuluh tahun dalam kiprahnya. Contohnya ? Wah, sulit dan tidak tega saya untuk merilis daftar nama. Mengingat banyak diantara band yang gagal untuk tetap muda itu, adalah band-band favorit saya, yang rekaman-rekamannya menyesaki lemari penyimpanan koleksi musik pribadi di rumah.
Tapi, tentu saja, saya tidak akan keberatan untuk menulis satu-dua nama, diantara band-band yang berhasil untuk tetap ‘muda’ dan ‘up-to-date’, diatas usia kiprah 10 tahun. Untuk kesempatan ini, saya akan merilis dan membahas satu band, yang menurut saya layak duduk di 5 besar dalam pemeringkatan band-band yang berhasil merawat musik, stage act dan attitude-nya- meski lemari penghargaan udah sesak ama trofi dan plat, meski usia para personilnya mayoritas diatas 40 tahun. Band apakah gerangan ? Band yang akan saya bahas sedikit banyak itu adalah : Red Hot Chili Peppers.
RHCP- begitu saya suka menyebut band yang berasal dari kota Metal, Los Angeles, California, ini- tampil dengan warna alternatif diantara masa transisi trend Metal ke trend Grunge di Indonesia pada awal 1990-an. Bukan album perdana,The Red Hot Chili Peppers (1984), melainkan album kelima, Blood Sugar Sex Magik (1991), yang membuat RHCP begitu digemari di kawasan Asia, khususnya Indonesia. Kalau waktu itu Adrie Subono dan Java Musikindo-nya sudah semapan sekarang, mungkin saja RHCP sudah singgah di bumi pertiwi. Sayang, karena belum ada EO yang semapan Java Musikindo waktu itu, RHCP hanya sempat singgah ke Bali- itupun bukan untuk main musik, melainkan hanya plesir dan refreshing keliling Pulau Dewata. Anthony Kiedis, sang vokalis, bahkan sempat dirajah dengan motif tradisional Indonesia. Tapi, saya kurang tahu pada bagian tubuh yang mana rajah itu diterakan. Kalau ada yang penasaran, tanya saja sama Milla Jovovich. Pacar kesekian Kiedis yang aktingnya sempat saya nikmati dalam film Ten Million Dollar Hotel tersebut, pasti tahu dibagian mana tepatnya letak rajahan yang tukang rajahnya mungkin kenal dengan pemilik pabrik kata-kata Joger itu.
Waktu pertamakali dengerin RHCP lewat Blood Sugar Sex Magik-nya, pendengaran saya sempat memerlukan beberapa saat untuk adaptasi, mengingat telinga saya sebelumnya lebih akrab dengan suara riff-riff keras yang lazim ditemukan dalam materi album grup-grup Hard Rock, Heavy Metal atau kelompok-kelompok Trash Metal. RHCP datang dengan musik yang beda banget, daripada musik yang sedang mewabah saat itu. Lagu-lagu mereka gak diornameni lengkingan vokal tinggi serak khas vokalis rock dari barat. Lagu-lagu mereka juga gak berhiaskan riff sangar, interlude berbalut efek chorus, atau appregio cepat a la Shredder, yang bisa bikin seorang murid gitar melupakan pekerjaan rumah dari guru di sekolah formalnya. Lagu-lagu mereka bikin orang lupa diri karena kebaruan beat, kekhasan aransemen dan teknik bermusik mencengangkan yang disuguhkan terutama oleh sang bassist, Michael Balzary, yang terkenal keseluruh dunia dengan panggilan singkat : Flea. Sebetulnya, teknik Anthony Kiedis, sang vokalis, dan kepiawaian gitaris RHCP- terutama seorang John Frusciante- juga layak jadi alasan seseorang buat mengapresiasi musik yang personil-personilnya awet muda, awet enerjik dan awet gila ini. Hanya, tetap saja, permainan Flea akan selalu lebih kedengaran menonjol, sebab betul-betul dibangun oleh kecanggihan teknik dan model permainan yang gak ada duanya di dunia musik. Bagi saya, kedahsyatan Flea dalam teknik dan model permainan bass yang berorisinalitas tinggi itu hanya bisa disamai oleh beberapa orang sesama pencabik bass seperti : Geddy Lee (Rush), Cliff Burton (Metallica), Steve Harris (Iron Maiden) dan Billy Sheehan (eks-Mr.Big dan Niacin).
Agresifitas dan kejagoan seorang Flea, menjadi jembatan bagi spesialisasi kawan-kawannya dalam menyusun musik khas RHCP, yang bertaut erat dengan genre Traditional Rock w/ various element seperti : Funky Rock, Psychedelic Rock, sedikit aroma Heavy Rock atau Heavy Metal, bahkan Folk, Rap dan R & B. Kekayaan corak khas RHCP ini bisa dinikmati dalam berbagai nomor populer mereka seperti : Suck My Kiss di album Blood Sugar Sex Magik,1991, yang kental corak Funk-nya ; My Friend atau Aeroplane di album One Hot Minute, 1995, yang psychedelic ; Give It Away di album Blood Sugar Sex Magik,1991, yang nge-Rap ; Around The World di album Californication, 1999, yang intro dan outro-nya mencitrakan Heavy Metal ; atau nomor Under The Bridge (Blood Sugar Sex Magik,1991) yang sangat mendunia itu, yang easy listening dalam balutan petikan gitar balada dan ritme folk tradisional.
Flea juga menjadi jembatan agresifitas dan improvisasi kawan-kawannya diatas panggung. Dalam live show, RHCP selalu tampil enerjik dan kurang-lebih ‘sarap’, yang mana biasanya kegilaan itu dipelopori oleh sang bassist, sejak awal konser berlangsung. Enerjisitas plus kegilaan mereka sempat diabadikan dalam sebuah scene film kartun, The Simpson’s. Dalam scene yang memang di-dubbing asli oleh suara mereka sendiri itu, para personil RHCP diilustrasikan tampil live dengan hanya mengenakan celana dalam. Suatu kebiasaan yang sering mereka lakukan, bahkan semenjak Hillel Slovak, gitaris pertama RHCP, masih memperkuat line-up dalam konser promo album Freaky Styley (1985) dan The Uplift Mofo Party Plan (1988). Mengenai Hillel Slovak ini, yang memberi kesan mendalam bagi saya, tentu bukan kegilaannya bersama RHCP dan kebiasaan nge-bo’at yang bikin dia mampus karena overdosis. Saya seneng banget mendengarkan permainan Slovak di nomer cover version, Fire, karya legendaris Jimi Hendrix, dalam album Mother’s Milk-nya RHCP. Di album itu, Slovak cuma bermain di satu lagu itu saja. Sebab, sepulang dari tour Eropa- sebelum RHCP merekam album keempatnya, Mother’s Milk (1989), pemuda yang lahir di kota Haifa, Israel, dari pasangan Yahudi pelarian holocaust-nya Nazi ini tewas karena ‘speedball overdose’. Suatu istilah yang digunakan bagi mereka yang tewas karena overdosis heroin, morfin dan kokain yang dikonsumsi bersamaan. Nah, untuk kegilaan a la Slovak ini, Flea, Kiedis, Frusciante atau Smith-pun tentu tidak akan pernah sanggup menandingi gitaris pertama dan pendiri Red Hot Chilli Peppers yang dikenal sebagai peletak dasar sound khas grup peraih Grammy Award tahun 1993 itu.
Disamping agresifitas, kegilaan, kreatifitas unik dalam nomer-nomer RHCP, yang tidak kalah asyiknya adalah mengapresiasi improvisasi musikalitas mereka disaat tampil secara live. Berbeda dengan studio album, yang sering kentara menampilkan style seorang Flea -meskipun dalam part-part tertentu ada juga tersembul keunikan Frusciante, karakter Kiedis dan triplet Smitih-, dalam materi live kecanggihan para personil RHCP bisa dibilang total terakomodir. Improvisasi intro, bridge dan interlude yang diproses keempat personil RHCP lazim berlangsung sejak awal konser. Kiedis dkk, dikenal sebagai band yang selalu membuka konsernya dengan improvisasi pendek, dalam kunci yang terinisiasi dengan intro asli lagu mereka versi studio album. Adakalanya juga, Flea, Smith dan Frusciante, memainkan improvisasi panjang dalam opening, bridge dan ending lagu-lagu hits mereka. Biasanya sih, improvisasi panjang mereka gunakan sebelum menutup konser, dengan nomer yang juga biasanya mereka gunakan sebagai nomer penutup, “Give It Away” yang mendunia itu. Improvisasi RHCP juga menarik diapresiasi, ketika mereka tampil membawakan cover version komposisi dari musisi-musisi rock legendaris. Improvisasi yang paling keren, menurut selera pendengaran saya, adalah improvisasi RHCP di nomer non-hits-nya The Ramones, Havana Affair. Havana Affair yang tidak sepopuler hits-hits lain The Ramones, seperti : Blitzkrieg Bop atau I Believe In Miracle, dibawakan secara RHCP banget oleh Kiedis dkk, dalam nomer yang justru menjadi best cut di album A Tribute To The Ramones, We’re Happy Family. Berdasarkan vote disebuah situs musik bernama unik, cover-vs-original.com, RHCP malah dianggap lebih gape membawakan Havana Affair daripada The Ramones sendiri. Sesuatu yang memang kadangkala terjadi, disaat sebuah grup musik membawakan cover version dari band yang mereka gandrungi.
Agresifitas, kegilaan, enerjisitas dan improvisasi RHCP gak berhenti walaupun mereka menjejak usia dewasa pada periode 2000-an. Tiga tahun lalu, tepatnya tahun 2006, RHCP malah sempat menggegerkan dunia musik rock dengan merilis Stadium Arcadium, yang berformat double album dan merupakan album dengan materi terbanyak dalam sejarah penggarapan studio album mereka. Album yang diproduseri oleh produser kondang, Rick Rubin, ini, selain menyabet Grammy Award 2007 untuk nominasi album rock terbaik, juga mencatat rekor penjualan yang fantastis, untuk sebuah band yang terhitung berumur dewasa. Minggu pertama di Amerika Serikat saja, album itu sudah terjual lebih dari 400.000 unit, dan bahkan sudah terjual 1.100.000 kopi diseluruh dunia. Sesuatu yang juga layak disebut fantastis, dalam era dimana pembajakan terhadap karya kreatif hampir-hampir menjadi suatu yang dihalalkan menurut logika umum. Keberhasilan Stadium Arcadium itu, dimata saya malah lebih bermakna daripada sekadar kesuksesan sebuah band mapan dalam mempertahankan eksistensinya di dunia musik. Stadium Arcadium, selain menyiratkan semangat kreatif yang selalu muda, terperbaharui dan up-to-date, juga mengandung hikmah : karya kreatif yang digarap seserius mungkin ternyata bisa menang dan mengatasi hasrat-hasrat negatif-semisal pembajakan-, yang biasanya ‘tak adil’ terhadap para insan kreatif. Kesuksesan penjualan album RHCP, sungguh berarti banyak dalam memotivasi insan kreatif dan musisi yang akhir-akhir ini, sedikit terganjal daya kreasinya sebab hegemoni plagiator yang seolah-olah diberi angin oleh teknologi digital. Sayang, semangat a la RHCP ini belum sampai di Indonesia. Sehingga, kreatifitas para musisi rock yang pernah begitu marak pada periode 70-an, 80-an dan 90-an, seolah-olah masih terlelap dalam tidur panjang atau bahkan nyaris tewas di era millennium, yang secara faktual telah membuat kaum kreatif rada ‘Paranoid’ untuk berkarya.(eap)

Comments

hilmanPratama said…
emang keren band yang satu ini, kapan yahn mampir ke indonesia???
Lanang Aditama said…
salut banget gue
sebagai fans berat rhcp gue bangga banget masih banyak fansnya di indonesia ditengah gejolak musik indonesia....

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

SMOKE ON THE WATER : HITS YANG MEMISAHKAN PARA PENCIPTANYA

Nggak ada atau jarang anak rock yang nggak tahu lagu Smoke On The Water. Yang nggak tahu bisa-bisa dikatain sok rocker, kalo sampe nggak tahu atau ngaku belum pernah denger itu lagu, padahal dia sendiri ngakunya rocker. Smoke On The Water bagaikan materi inagurasi. Syarat pentahbisan bagi siapapun yang ngaku musisi atau simpatisan heavy rock. Gitaris rock kudu hafal riff atau chord lagu ini, vokalisnya mesti hafal lirik lagu ini, dan minimal musisi-musisi pendukung band yang lain kudu bisa mengawal beat dan pattern lagu ini diatas panggung atau studio.

Smoke On The Water adalah lagu kelompok musik Deep Purple, salah satu dari triumvirat legenda band rock (Led Zep, Deep Purple, Black Sabbath), yang tidak hanya memegang rekor penjualan rekaman, melainkan juga pemegang rekor gonta-ganti personil. Saking seringnya gonta-ganti personil, sudah lumrah kalau hingga saat ini, sesama penggemar Deep Purple akan bertanya : “Sekarang sudah Mark berapa ya ?”-ketika mereka membicarakan eksistensi g…