Wednesday, April 15, 2009

THE HARDEST WORKING MAN IN HEAVY METAL

Devin Townsend: The Hardest Working Man In Heavy Metal
CD album Delivering The Goods, A Tribute To Judas Priest volume 2 ini, saya beli karena ada Gamma Ray yang berkontribusi didalamnya. Rombongan Metal pimpinan Kai Hansen itu, memang selalu menarik untuk disimak, karena sampai detik ini mereka terus bermain cepat, keras, dan senantiasa terbaharui walaupun tak pernah benar-benar cerai dari akarnya- genre Speed Metal atau genre Power Metal. Saya pikir, menarik nih kayaknya, kalau mereka membawakan satu-dua lagu dari salah satu legenda Heavy Metal yang dimotori oleh Glen Tipton dan Rob Halford itu.

Dalam album Delivering The Goods, Gamma Ray membawakan hits Judas Priest, Exciter dan Victim Of Changes. Pada lagu Exciter, untuk memperkuat karakter aransemen baru Hits dari album Priest yang sempat dituduh memuat ajakan bunuh diri, Stained Class (1978) itu, Gamma Ray berkolaborasi dengan Ralf Scheepers, vokalis yang pernah mengisi line-up Gamma Ray dari 1989 sampe 1993, tapi lebih dikenal sebagai lead vocal band metal yang juga sangat populer di Eropa, Primal Fear. Menyimak pembukaan lagu ini, ada kemiripan dengan intro Heavy Metal Is The Law-nya Helloween- lagu pada track 5 album pertama band legendaris yang melambungkan nama Kai Hansen di jagat metal akhir 80-an itu. Ada koor hysteria massa, ada riff khas Priest yang dimodifikasi lebih cepat, dan ada tone vokal yang sedikit banyak punya kemiripan dengan screaming like a devil-nya Halford. Ralf Scheepers sendiri dalam suatu kesempatan interview dengan Metal-Rules bilang,”Vokal saya memang banyak dipengaruhi oleh warna Rob Halford dan Ronnie James Dio.” Konon, sebelum Scheepers besar bersama Gamma Ray dan Primal Fear, publik metal Benelux sudah mengenalnya sebagai reinkarnasi Rob Halford.

Tapi kemudian, tidak hanya Gamma Ray yang mencuri perhatian saya, waktu menyimak album yang tidak beredar luas di negeri ST 12 ini. Ada nama Devin Townsend, tertera di belakang judul track nomer 9, Sinner, pada album tersebut. Wuih, nama Devin Townsend ini tidak asing di telinga saya. Hanya saja, memang sudah lama sekali saya tidak mencari tahu kabar dari- mengutip Steve Vai- Frank Zappa-nya musik heavy metal ini. Sejak ia mengisi salah satu materi di album Sex & Religion-nya Vai (1993), lalu menyimak tiga album solo-nya sepanjang 1997-2000, saya nol betul soal kabar dari musisi yang di negerinya dikenal dengan konsep aransemen,”Wall Of Sound” ini. Sebuah konsep yang mensinergikan berbagai sound instrument yang bisa menghabiskan waktu dan ber-track-track sound space, yang menghasilkan sebuah komposisi yang dinamis, ekstrim, dan membuat Devin Townsend-pun dikenal luas sebagai pelopor Extreme Metal.

Pada album A Tribute To Judas Priest vol 2, Devin Townsend membawakan Sinner, lagu pertama dari album Sin After Sin yang dirilis Judas Priest pada tahun 1977. Lagu yang pertamakali memperkenalkan permainan seorang drummer yang kini salah satu The Best Drummer di dunia, Simon Phillips (sekarang drummer Toto) itu, dibawakan Devin secara ekstrim- lewat sentuhan beat cepat, style colouring vocal model Sebastian Bach dan aksentuasi Tom Araya, namun diperhalus juga oleh covering Synthesizer disana-sini. Ciri bermusik Townsend, yang memadukan ke-ekstriman beat dan sound di satu sisi, dengan harmonisasi komposisi di sisi lainnya, mengemuka jelas di nomer yang sebetulnya kurang populer dikalangan penggemar Judas Priest sendiri. Itu lagu pokoknya jadi lebih angker dan lebih keras, namun harmonic daripada versi aslinya.

Selesai menyimak album A Tribute To Judas Priest vol 2 itu, saya langsung googling dan blog-walking, untuk mencari tahu perkembangan musikalitas seorang Devin Townsend mulai tahun 2000 sampai sekarang. Dari hasil googling dan blog-walking itu, lewat Amazon, saya mendapatkan dua CD keren, masing-masing : album solo Devin Townsend Project, yang punya judul aneh Ziltoid The Omniscient (2007), dan The New Black, album paling akhir Strapping Young Lad, rilisan tahun 2006.

Ziltoid The Omniscient, adalah sebuah album konsep, yang kurang lebih sama dengan album konsep band-band yang masuk genre Progressive Rock atau Progressive Metal. Album solo kedelapan Devin Townsend ini, liriknya bertutur tentang perjalanan sebuah karakter atau tokoh, yang diberi nama : Ziltoid asal planet Ziltoid 9. Garis besar cerita di album konsep ini adalah : perjalanan Ziltoid mencari cangkir kopi ajaib, yang jika seseorang minum dari cangkir tersebut, bakal bisa mengarungi waktu sesuai dengan waktu yang dia inginkan. Hehehehe. Menyimak lirik demi lirik dan corak musiknya, saya menangkap berbagai bentuk penjelajahan kreatif yang nyaris tanpa batas. Aransemen musiknya juga begitu mendukung tematik lagu per lagu, yang ditulis, diaransemen, di-mixing bahkan diproduksi sendiri oleh Devin Townsend ini. Mengapresiasi album ini, tidak kalah mengasyikkannya dari mengarpresiasi karya-karya progresif jadul dari Yes, Genesis, atau King Crimson, juga gak kalah menantangnya dari menyimak karya-karya progresif modern dari Dream Theater, Symphony X, Planet X, atau Rhapsody. Bahkan, ada satu pernik yang tidak ada di album-album Progressive terdahulu, namun ada di Ziltoid The Omniscient-nya Devin Townsend ini, yaitu : selera humor, kegilaan, yang dibungkus oleh kejeniusan seorang seniman.

Masuk ke album The New Black, rilisan 2006, saya mendapati semacam modernisasi dari ciri Strapping Young Lad yang di album pertama, Heavy Is a Really Heavy Thing (1995), dan di album kedua, City (1997), masih ke-Metallica-Metallica-an atau ke-Megadeth-Megadeth-an. The New Black, yang sayangnya disebut Townsend sebagai album terakhir dari SYL (sebutan fans Strapping Young Lad untuk grup kesayangannya), menyajikan ekstremisitas musik metal yang sebenarnya. Ya, ekstrim liriknya, ekstrim aransemennya, dan ekstrim pula penggarapan live dan video klip-nya. Perlu saya garis bawahi, bahwa ekstrim liriknya bukan berarti liriknya keras dan bisa dilabeli parental advisory. Lirik yang ditulis Townsend justru full humor dan parodi. Kalau di Indonesia, bisalah Townsend disejajarkan dengan Team-Lo, secara penggarapan lirik.

Secara musikalitas, Townsend dan SYL-nya, meleburkan berbagai unsur tradisional maupun inovasi yang pernah terjadi dalam musik Metal. Ada opening a la Metallica, ada riff-riff menggebrak a la Loudness atau Led Zeppelin, bahkan ada interlude dan solo yang mengingatkan saya dengan style shredder kawakan, Chris Impelliteri dan Nuno Bettencourt. Yang juga mencuri perhatian sama seperti permainan Townsend pada fret gitar-nya dalam album ini adalah gebukan Gene Hoglan. Saya akrab juga dengan nama yang satu ini. Hoglan adalah eks-Drummer Testament, Death, juga Dark Angel. Style permainannya ? Wah, teknik Kick-Triplets-nya sangat sulit ditiru. Teknik permainannya yang ekstrem dan akurat dalam beat cepat, yang sering berubah-ubah tempo, membuat dia dijuluki sebagai “Atomic Clock”, oleh publik Metal America dan Eropa. Aktif sejak tahun 1984, Hoglan menampilkan seluruh teknik hasil penjelajahan bermusiknya dalam album terakhir SYL, The New Black, tersebut.

Belum lengkap rasanya membicarakan seorang musisi metal, jika belum membicarakan aksinya diatas stage. Saya sudah membahas sedikit soal dedikasi seorang Devin Townsend, terutama dalam materi-materi yang dia garap di studio rekaman. Bagaimana dengan aksi pentas musisi yang rambut bagian depannya nyaris plontos ini ? Untuk menggambarkan bagaimana aksi pentasnya, saya kutip pendapat dari salah seorang rekan, Adrian Bergrand, yang artikel-artikelnya soal Pop Culture kerap dimuat pada webzine, Popmatters. Bergrand bilang,”nobody in metal today has the same kind of commanding stage presence as the self-professed Bald Bastard, Devin Townsend.” Hehehe. Kalau ada beberapa publik metal di sini, yang sempat menyimak aksi-aksi pentas Devin Townsend, baik bersama SYL maupun saat bersolo karir, pasti akan sependapat dengan Adrian Bergrand. Gimana enggak ? Townsend menggabungkan ke-eksentrikan penampilannya, dengan celoteh kocak dan plesetan lirik lagu-lagunya sendiri diatas panggung. Tampilan eksentrik, celoteh kocak dan keunggulan teknik Townsend jelas tidak melupakan enerjisitas aksi yang kadung melekat bagi corak musik Metal. Coba saja simak aksi SYL di Youtube, waktu membawakan nomor trademark mereka,”Far Beyond Metal.” Saya rasa akan banyak yang sependapat dengan saya, bahwa mereka lebih keras, lebih gahar, lebih bertenaga, dari band-band trash metal semacam : Metallica, Megadeth atau yang tergolong New Generation seperti : Avenged Sevenfold, Trivium, dan Arch Enemy.

Sungguh disayangkan semestinya, bila publik musik Indonesia tidak sempat mengenal lebih jauh bahkan tak kenal sama sekali, sosok Devin Townsend. Bagi saya, Townsend adalah figur yang secara kesenimanan bisa memberi input banyak buat seorang musisi muda. Dia kreatif, dia merdeka, dia seorang entertainer sejati, dan diapun bisa mengemas penampilan eksentriknya menjadi trademark yang membuat dia dikenal secara karakter oleh publik Metal Amerika dan Eropa. Kalau Indonesia punya Harry Roesli, Amerika punya Frank Zappa, maka negara tetangga mereka, Kanada, punya seorang Devin Townsend. (eap)

2 comments:

THOMAS said...

pasti yang memasukan musisi metal ini pasti orang yang pecinta musik metal kebetulan aku juga suka musik metal satu pesan dari saya kalo masukin sesuatu jangan terlalu lengkap ya ok makasih

THOMAS said...

pasti orang yang masukin "ROCKABILIA" ADALAH orang pecinta musik metal satu pesan dari saya kalo masukin sesuatu di internet jangan terlalu lenkap ok makasih