Tuesday, November 24, 2009

KJP : Band "Pop" Paling Progresif Saat Ini



Saya datang ke toko CD langganan tadinya untuk mencari album Efek Rumah Kaca, kelompok Indie Label yang lagi ‘in’ dan kerap jadi buah bibir di sekolah-sekolah menengah. Sempat juga saya lihat profil mereka di majalah indie, Ripple, dan langsung menduga pasti ada sesuatu yang istimewa pada musik mereka. Betapa tidak, tak satupun personil Efek Rumah Kaca yang bisa dibilang rupawan, waktu menyimak profil mereka di Ripple. Pastilah ada sesuatu yang istimewa dari musik mereka, sehingga adik-adik saya, adik-adik kawan, sampai anak-anak mahasiswa begitu menggandrungi kelompok ini. Berdasarkan pengalaman, musisi-musisi dengan penampilan bersahaja dan tampang cukupan, biasanya memiliki musik yang istimewa kalau sampai banyak anak muda yang mengidolakannya.

Sesampainya di toko CD, pemilik toko kenalan saya malah menawarkan kelompok musik indie yang lain. “Efek Rumah Kaca boleh didengar belakangan,” kata dia,”… kalau untuk sekarang sebaiknya you enggak boleh ketinggalan dengan kelompok musik yang satu ini : Kadri & Jimmo Prinze of Rhytm.” Pemilik toko musik langganan itu menambahkan, untuk penikmat musik seumuran saya, kelompok yang kelak saya ketahui sering disingkat penyebutannya menjadi KJP saja itu, lebih layak dengar daripada Efek Rumah Kaca.”Enggak nge-rock banget sih…”katanya.”Tapi buat mereka yang suka Toto, Genesis, Phil Collins atau Progressive Rock yang ringan, bakal nyambung sama KJP ini.”

Lihat Art Work sampul albumnya, bisa dikira-kira, KJP bakal menyajikan musik yang crunchy. Pada sampul depannya tampak dua lelaki sedang melompat, disamping font nama kelompok musik tersebut. Gaya-gaya art work dengan kualitas fotografis seperti ini, sebelumnya biasa saya temui pada art work-art work dari kelompok Pop Kreatif. Melihat fashion yang digunakan para personil lengkapnya di sampul belakang, saya mengira-ngira musik KJP ini tidak akan jauh dari corak-corak kelompok Pop Kreatif –cum- Jazz atau Progressive Rock, yang pernah populer seperti : Gank Pegangsaan, Spirit Band, Drakhma, atau kelompok yang pernah menjadi pembuka konser Michael Learns To Rock, Bayou.

Setelah beberapa lama menilik sampul depan dan sampul belakang sambil meneliti wajah satu per satu personilnya, saya agak terkesiap ketika menyadari bahwa, dua lelaki disampul depan itu adalah Kadri Mohamad dan Jimmo, dua nama yang tidak asing bagi saya. Ketika disebut nama kelompoknya tadi saya merasa asing, tapi ketika menilik wajah-wajah personilnya saya spontan nyeletuk didepan pemilik toko,”Oh, band-nya Kadri Makara bareng Jimmo duetnya Melly Goeslaw itu.” Semangat saya untuk menyimak album KJP itu makin berlebih saja, setelah tahu bahwa diantara personil yang terpampang di sampul belakang CD KJP itu diantaranya adalah, drummer Discus, Hayunaji dan seorang gitaris berbakat yang pernah mengisi line-up Cynomadeus dan kelompok progressive rock, Pendulum, Rifki Rahmat Kardiman. Rifki Rahmat ini pernah juga main di Gitar Klinik edisi I. Sebuah proyek rekaman idealis dibawah naungan Rotorcorp., yang rekamannya kerap saya putar ketika kangen era Guitar Shredder, yang dulu sempat mewabah diantara berbagai kreasi tembang rock pribumi.

Materi di album KJP, ternyata tidak jauh berbeda dengan dugaan-dugaan saya, ketika baru menyimak Art Work sampulnya. Kendati line-up-nya diisi oleh para penggiat scene Progressive Rock, aliran dalam musik rock yang dianggap paling rumit musikalisasinya, album KJP relatif lebih mudah dicerna- bahkan oleh telinga anak muda yang rutin mendengar musik pop sekalipun. Meskipun, tetap saja, pop yang dimainkan oleh KJP adalah musik pop yang berkelas, dibangun diatas aransemen apik dan lirik yang manis tanpa klise. Lagu-lagu KJP bukan sekadar lagu picisan dengan aransemen asal jadi, dengan lirik cinta getir yang menurunkan gairah hidup, sebagaimana rata-rata band pop generasi musik Ring Back Tone sekarang ini. Adik saya yang pendengar setia Maliq D’Essential, Ran, Tompi, dan juga Efek Rumah Kaca, mengaku suka menyimak karya-karya KJP yang line-up-nya dibangun oleh dua kelompok Prog-Rock legendaris Indonesia, Makara dan Discus tersebut. Adik yang tahun 2009 ini duduk di tingkat akhir perguruan tinggi itu bilang, daripada musik pop mellow atau Melayu yang sekadar easy listening a la Kangen Band, ST 12, Wali dan Hijau Daun, musik a la KJP lebih layak diberi hak hidup dan berkembang di negeri ini. Lebih lanjut dia mengatakan kepada saya, seharusnya KJP ada di posisi popularitas yang sama dengan posisi band-band yang ia gemari, yang saya sebutkan sebelumnya.

Dalam soal selera, setelah menyimak isi album KJP secara keseluruhan, best cut saya dengan best cut yang adik saya pilih ternyata berbeda. Best cut saya di album itu adalah Indonesia Memang Hebat, sedang best cut album itu dalam selera adik saya adalah Bertiga. Selera kami yang berbeda itu mungkin disebabkan oleh perbedaan musik favorit sehari-hari. Adik saya memfavoritkan musik jazz, sementara saya lebih banyak mendengarkan rock dari berbagai genre, daripada musik-musik lainnya. Tapi terlepas dari perbedaan pandangan dalam soal pemilihan best cut, secara keseluruhan kami sama-sama menyukai album tersebut, sama-sama bersepakat : tidak ada satu lagupun yang bisa dibilang jelek di album debut KJP itu. Ini berarti, melalui album debutnya, KJP bisa mempertemukan penggemar Jazz dan penggemar Rock, sekaligus.

Setelah berulang-ulang memutar rekaman KJP, menyimak video klip-nya lewat portal Youtube (Dian Sastro lho, yang jadi modelnya), saya tertarik juga untuk googling sekadar buat mencari tahu, opini dari mereka-mereka yang terlibat dalam penggarapan album debut ini. Denny Sakrie- pengamat musik yang juga promotor konser KJP-Indonesia Hebat, dimana KJP berkolaborasi dengan musisi-musisi kenamaan Indonesia seperti, Debby Nasution, Fariz RM dan Eet Syahranie- mengatakan : KJP ibarat para virtuoso yang mencoba menapakkan kakinya di bumi. Artinya, kalau sebelumnya mereka terbiasa membawakan dan menggagas karya-karya dengan musikalisasi rumit, membawakan repertoar Progressive Rock, maka kali ini mereka berusaha tampil nge-Pop. Diakui dengan jujur oleh Kadri, bahwa setelah mencoba bermain di jalur yang ditempuh sekarang, ia sampai pada kesimpulan : ternyata menulis dan memainkan lagu Pop itu tidaklah mudah. Walaupun tidak mudah, Kadri menambahkan, tetap saja mereka menikmati betul proses kreatif penggarapan album pertama. Para personil KJP yang lengkapnya terdiri dari Kadri Mohammad, Jimmo, Hayunaji, Rifki Rahmat, Fadhil Indra dan Ken itu, tampaknya telah berhasil menyerap energi baru, semacam pencerahan, setelah merilis album dan melakukan beberapa pertunjukan rutin melalui KJP-nya.

Saya berandai-andai, seandainya KJP ini sudah ada sejak awal tahun 1990-an. Menilik musik dan lirik yang mereka usung, mungkin saja secara komersial mereka bisa menyamai, minimal, pencapaian kelompok Voodoo atau Bayou, yang pernah punya beberapa best cut yang jadi evergreen hits generasi saya. Selera musik dan lirik di jaman itu masih banyak ditentukan oleh skill dan komposisi yang apik. Ditambah lagi, secara performa, KJP tidak bisa dibilang ”cukupan”, sebagaimana saya berkata ”cukupan” waktu melihat performansi para personil Efek Rumah Kaca. Makanya sayang ketika KJP baru hadir dan merilis album di era 2000-an, dimana pasar lebih berpihak kepada lagu-lagu easy listening yang pendek, ringan, bahkan bisa disebut remeh aransemennya- sekadar untuk didengarkan sebagai ring back tone atau acara musik hura-hura tanpa visi. Wah, seandainya tahun 1990-an KJP sudah eksis, barangkali lagu-lagu dengan judul manis seperti : Semua Perasaanku, Maaf Cinta Noura, Symphony Hati dan Secangkir Teh Sebelum Ku Pergi, akan menjadi nomor-nomor penuh kenangan, yang bila didengarkan ulang hari-hari ini membuat saya menertawakan masa-masa indah, ketika saya terjangkiti virus ”cinta monyet”.(rockabilia)(eap)

1 comment:

dheels said...

terimakasih Abang Eddy. saya jg sgt menikmati bacaan dan isi esensial tulisan itu. Bagi kita, "musik bisa diciptakan oleh siapa saja dan untuk siapa saja.., tp prosesnya, memang paling jadi tantangan. Thanks again, Abang. Salutee.