Toni Iommi : Lord of Metal Guitar
Kawan semasa SMP, Ramdhan, pernah membawakan saya sebuah kaset The Best Of Black Sabbath, yang konon ditinggalkan seorang penumpang di kursi bis yang dikendarai ayahnya. Kaset dengan label publisher A-Team Record itu ia tunjukkan kepada saya, kawan sebangkunya, lantaran dia merasa takjub mendengarkan riff-riff gitar yang ada di album tersebut. Ramdhan yang mulai menyukai musik rock semenjak duduk sebangku dengan saya, kian besar saja rasa takjubnya ketika saya mengatakan belum pernah tahu ada grup rock bernama Black Sabbath. Maklum, saat itu, meskipun sejak sekolah dasar sudah menggandrungi musik rock, yang saya tahu soal lagu dan kelompok musiknya baru sebatas grup-grup yang memainkan hard rock atau rock n roll standar semacam : The Beatles, Rolling Stones, Elvis Presley, Queen, Led Zeppelin dan Deep Purple. Terbatas pada koleksi rekaman bapak atau paman saja, tepatnya. Kebetulan juga, pada koleksi mereka memang tidak ada rekaman milik Black Sabbath. Kemudian hari, bapak dan paman memberi alasan : musik band asal
Ketika pertamakali memutar The Best Of Black Sabbath, yang saya pinjam dari Ramdhan dengan janji akan dikembalikan dua hari ke depan, yang langsung menyita perhatian adalah intro demi intro dalam lagu-lagu mereka. Saking sukanya saya pada intro-intro yang dibangun lewat riff-riff gitaris Sabbath itu, sampai-sampai jadwal pengembalian kaset pinjaman molor dua minggu. Riff-riff yang tertuang di nomor-nomor legendaris Sabbath seperti “Paranoid”, “Iron Man”, “N.I.B” atau “Symptom Of The Universe”, membuat saya- yang baru menjelang akil baligh saat itu- “jatuh cinta pada pendengaran pertama.” Sehingga, sempat pula saya kecewa berat, disaat kawan sebangku di kelas 2 SMP itu menolak tawaran barter atas kaset temuan ayahnya tersebut. Kesungguhan saya untuk memiliki kaset, yang kemudian baru saya temukan lagi rilisannya sewaktu kuliah itu, bahkan membuat saya rela untuk menraktir Ramdhan setiap istirahat pertama selama beberapa hari. Tapi ternyata, harga Bubur Ayam atau beberapa porsi Baso Tahu Goreng yang biasanya mewah bagi anak usia sekolah menengah pertama ketika itu, tidak sebanding dengan harga kaset The Best Of Black Sabbath yang padahal didapatkan secara kebetulan, dengan cuma-cuma.
**
Orang dibalik intro-intro nan dahsyat yang mencengangkan saya itu adalah, Frank Anthony Iommi, gitaris Sabbath yang populer dengan panggilan : Tony Iommi. Gitaris yang lahir pada tanggal 19 Februari 1948 ini, mulai serius menekuni dunia musik, khususnya sebagai gitaris, setelah terinspirasi oleh permainan Hank Marvin, pemain gitar dari grup legendaris The Shadows. Hank Marvin & The Shadows pula yang menginspirasi fans fanatik FC. Aston Villa,
Pada masa-masa awal pembentukan karakter permainan gitarnya (medio 1967), Iommi mengalami sebuah peristiwa yang nyaris menutup karier bermusiknya. Ruas jari kanan gitaris kidal ini terpotong saat bekerja di pabrik logam, tempatnya mencari nafkah sebelum mapan sebagai musisi. Gagal mentransformasi diri dari seorang left-handed guitarist menjadi seorang right-handed guitarist, Iommi mengalami masa-masa depresi dan frustasi pasca “industrial accident” tersebut. Untung saja, Iommi memiliki kawan-kawan yang sangat peduli atas keberlangsungan kariernya. Lambat-laun kesehatan jasmani dan rohaninyapun pulih, terutama setelah Iommi mendengar kisah tragis yang pernah dialami Jean “Django” Reinhardt, seorang gitaris dan master musik Gypsy Jazz kelahiran Belgia. Reinhardt yang populer berkat permainannya di lagu “Minor Swing” itu, pernah mengalami kecelakaan tragis yang sampai merenggut fungsi normal jari kelingking dan jari manis kirinya ketika masih berusia 18 tahun. Berkat keteguhan hatinya, Reinhardt terus berkarya hingga ajal merenggutnya saat masih berusia 43 tahun. Masterpiece album buah karya Reinhardt, seperti Paris 1945 (1945), Ellingtonia (1947), Djangology (1949) hingga Django Reinhardt In His Rhythm (1959)-lah yang mengilhami Iommi, untuk terus bermusik dan melupakan cacat di dua ruas jari kanannya. Dengan pelindung ruas jari yang terbuat dari plastik lunak, Iommi kembali berlatih dan tampil secara rutin di berbagai pentas musik seputar
Sekembalinya Iommi ke Earth, kelompok yang kerap membawakan nomor-nomor blues rock dari
Eksistensi Toni Iommi sempat juga menghadapi sebuah ujian serius, ketika Ozzy Osbourne dikeluarkan oleh manajemen Sabbath, pasca dirilisnya album ke-8, Never Say Die ! (1978). Kala itu, banyak pengamat musik rock yang memperkirakan Sabbath akan tenggelam, pasca keluarnya sang vokalis berjuluk Prince Of Darkness itu. Perkiraan pengamat musik tersebut menunjukkan pesimisme berlebihan dan pengamatan yang ternyata baru sebatas permukaan, terhadap sosok Iommi yang sesungguhnya memiliki naluri kreatif yang tajam. Ketika “Heaven & Hell” (1980) dan “The Mob Rules” (1981), dua album Sabbath sepeninggal Ozzy Osbourne dirilis, nyata bahwa karakter permainan Iommi lebih mewakili corak Black Sabbath ketimbang lengkingan Prince of Darkness. Warna Iommi berhasil menjembatani karakter vokal Ronnie James Dio, sang suksesor Ozzy Osbourne, yang pasca dirilisnya “Heaven & Hell” mempunyai julukan baru : “The Voice of Metal.” Keberhasilan Iommi yang diindikatori dengan perkembangan musikalitas di nomor-nomor seperti : Heaven and Hell dan Children of The Sea (Heaven and Hell,1980), Turn Up The Night dan Sign of The Southern Cross (The Mob Rules,1981), diikuti dengan sukses komersial Sabbath di daratan Eropa dan Amerika.
**
Memasuki album-album berikutnya, ketika Ronnie James Dio memutuskan untuk bersolo karier pada 1983, Sabbath sebetulnya masih bisa dibilang berhasil menjaga standar sukses komersialnya. Tapi upaya Iommi dan Geezer Butler - dua personil Sabbath yang tersisa- untuk mencoba sesuatu yang baru dengan Ian Gillan (eks-vokalis Deep PurpleSabbath, dinilai gagal total oleh para kritikus musik. Corak vokal Gillan yang nge-blues dan lirik-lirik bernada humor yang ditulisnya, menurut kritikus kenamaan, Eduardo Rivadavia, gagal menyatu dengan spirit Iommi yang kerap diejawantahkan dalam riff-riff yang keras dan gelap. yang menggantikan Dio) dalam aransemen
Sepeninggal Gillan yang kembali masuk line-up Deep Purple (1983), Sabbath berkali-kali mengganti frontline-nya. Tidak hanya vokalis, untuk posisi bassist dan drummer-pun Sabbath mengalami bongkar-pasang line-up. Sehingga, praktis hanya Iommi sendiri yang masih fokus bersama Sabbath, sampai-sampai fans Sabbath menyebut band pelopor musik Metal ini sebagai : solo project Toni Iommi. Asumsi umum itu jugalah yang membuat album solo Iommi yang pertama, Seventh Star (1984), jadi sulit diidentifikasi oleh para fans-nya sebagai album Sabbath ataukah album solo-nya.
Pada medio 1989, untuk pertamakalinya album Sabbath gagal menembus
Dalam karier Iommi di era tahun 1984 hingga 1990 dimana Sabbath dilanda banyak ketidakstabilan itu, Eternal Idol (1987), album ke 13 Sabbath, disebut-sebut sebagai album dimana Iommi memainkan riff-riff terkerasnya. Namun hingga medio 1991-1995, sampai Forbidden (1995), album studio ke-18 dan terakhir Black Sabbath dirilis, Iommi yang semakin matang secara teknik, aransemen, komposisi lagu dan penulisan lirik itu, masih belum berhasil membawa band pelopor musik Metal tersebut mengulang sukses komersialnya di era 1970-1978 dan 1980-1982. Dalam rentang 12 tahun (1983-1995) itu, Iommi praktis gagal menyajikan riff-riff yang melegenda sebagaimana ia suguhkan dalam nomor lawas Sabbath seperti :”Paranoid”, “Iron Man” atau “Sabbath Bloody Sabbath”, yang telah menjadi klasik dan ditengarai sebagai ciri khas kehandalan gitaris Toni Iommi. Meskipun, pada rentang itu, sebenarnya banyak kreasi Iommi yang patut diapresiasi lebih seperti permainannya dalam nomor-nomor : “The Shining” (Eternal Idol), “Headless Cross” (Headless Cross) , “When Death Calls” (Headless Cross), “Odin’s Court” (Tyr), “The Sabbath Stones” (Tyr), “Heart Like A Wheel” (Seventh Star) dan “Master of Insanity” (Dehumanizer).(eap)










0 komentar:
Post a Comment