Skip to main content

Jikunsprain : When Rush Meet Sabbath


Orang Bandung. Besar di Bandung. Pernah main band di Bandung. Dan pertamakali pentas lalu kenalan dengan batu-batu yang sengaja dilemparkan penonton ke atas panggung, juga di kota Bandung. Menilik sejarah diri, ya, sudah tentu saya lebih bangga sama gitaris-gitaris rock kota Bandung daripada kota-kota lainnya. Ada banyak shredder sakti dari kota kelahiran saya, yang sudah tandang-makalangan di jagat musik rock Indonesia. Sebut saja : Babon (Rudal), Iram (U’Camp), Bengbeng (Pas Band, Air), Baron (GIGI, Baron Soulmate), Ovy (eks U’Camp, /rif) dan Jikun (/rif, Jikunsprain). Seperti juga nama panggung mereka yang unik, masing-masing mereka punya karakter unik. Babon ganas permainan handle-nya, Iram kencang di jalur rock n roll totok-nya, Bengbeng mencoba segala cara untuk mengoptimalkan gitar elektrik, Baron fleksibel keluar-masuk berbagai aliran musik, Ovy tetap kalem memainkan musik sangar, dan Jikun melaju pasti di jalur metal klasik yang ekspresif.

Karya-karya baru mereka bergiliran sampai di meja ruang hobi saya, sejak dari era Babon memainkan Dara Pusaka-nya, hingga era Bengbeng memainkan nomor-nomor paling progresif dalam sejarah musik rock Indonesia, seperti Deskripsi dan Anak Kali Sekarang. Setelah masa-masa itu, karya-karya baru mereka bisa dibilang standar-standar saja- sebatas enak didengar, asyik dipakai goyang- sampai kemudian album Indie Jikun, yang punya tajuk Sprained (2009) sampai di meja ruang hobi saya.

Sebelum menyimak materi albumnya, saya tertarik dengan font nama kelompok yang diusung Jikun sebagai label solo kariernya, Jikunsprain. Font Jikunsprain mirip dengan font Iommi, kelompok musik yang dibentuk Toni Iommi, gitaris Black Sabbath, ketika Lord Of Metal Guitar tersebut merintis solo kariernya. Karena berpikir semangat Iommi telah merasuk kedalam materi Jikunsprain, maka sebelum album itu diputar saya sudah menduga-duga, lagu-lagu didalamnya pasti memuat riff-riff dan melodi nan sangar a la Toni Iommi.

**
Album Sprained dibuka dengan nomor bertajuk Inggris, Collision Course. Nomor ini dibuka dengan intro, yang mengingatkan saya pada nomor-nomor legendaris kelompok Rush, seperti : Finding My Way atau Red Barchetta. Nomor rock instrumental ini dibalut dengan sound gitar distorsif yang tebal- to-the point menunjukkan, bahwa yang diusung Jikunsprain dalam repertoarnya kali ini adalah modernisasi sound Heavy Metal. Sebagai catatan, modernisasi yang dilakukan Jikun punya kemiripan warna, dengan corak yang dipilih kelompok Iommi-Hughes disaat menggarap album Fused. Bila sempat menyimak sound yang dipilih Toni Iommi untuk nomor-nomor seperti : Dophamine, What’s Your Living For atau Wasted Again yang termuat dalam kolaborasi albumnya dengan Voice Of Rock, Glenn Hughes itu, para penikmat metal akan sepakat : Jikun sangat terpengaruh pilihan sound Toni Iommi di era 2000-an. Sebagaimana ciri rata-rata shredder dalam dan luar negeri, Jikun juga tak lupa memainkan appregio cepat pada bagian bridge dan outro nomor Collision Course ini. Solo pada bagian outro itu tidak hanya tuntas menutup lagu pertama, namun juga punya fungsi sebagai bridging menuju nomor kedua yang diberi tajuk : Nge-Top.

Nge-Top, berbeda dengan rata-rata materi album debut Jikunsprain yang mengusung genre Instrumental Rock atau Heavy Metal, menampilkan Megadalle, yang dulu sempat dikenal sebagai vokalis Tic Band, dengan nama panggung : Ogi. Vokal pria kelahiran Surabaya 14 April ini, cukup apik menghidupkan materi Nge-Top yang secara tempo berusaha menjadi nomor Metal yang nge-beat. Megadalle punya warna suara yang bisa dibilang komersial, dan punya kans untuk diterima tidak hanya oleh penggemar musik cadas saja. Dari 7 nomor yang disajikan dalam debut album Jikunsprain, Megadalle tercatat mengisi 2 nomor lain selain Nge-Top. Yaitu, di nomor balada Untuk Dirimu dan Throwing Life. Pada dua nomor balada inilah, corak suara Megadalle menunjukkan potensi yang sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk sisi komersialisasi album Sprained. Sayang, baik secara lirik maupun pilihan beat, terutama untuk nomor balada, Untuk Dirimu, sepertinya dikerjakan separuh hati oleh yang punya hajat di album ini, Jikun, yang punya reputasi sebagai musisi atau shredder yang “rock abis”. Keberadaan lagu Untuk Dirimu, yang ditulis Jikun bersama Pongki “Jikustik” ini, agak terasa mengganggu diantara himpitan nomor-nomor keras yang dominan di album ini.



Nomor Instrumental Rock lainnya, disamping nomor pembuka Collision Course adalah Veincullar Traffic, Carolus Daylight dan Sprained. Veincullar Traffic mewakili corak Instrumental Rock yang sempat populer pada awal hingga akhir 90-an. Ada lick-lick a la Joe Satriani, teknik nge-deep (lagi-lagi) a la Toni Iommi, berikut penggunaan talk-box a la Richie Sambora. Solo pendek pada bagian outro Veincullar Traffic-pun meruapkan kerinduan saya, pada era dimana para guitar shredder menguasai industri musik dan menggaungkan musik rock ke seluruh dunia. Corak yang dipilih Jikun pada nomor Veincullar Traffic, dipertegas lagi pada nomor yang menjadi tajuk album ini, Sprained. Solo pada bagian intro dan outro lagu Sprained ini agak lebih panjang durasinya bila dibandingkan dengan nomor-nomor instrumental maupun non-instrumental di album ini. Lewat Sprained, lagu yang terilhami dari sakit tulang jari yang sempat dialami Jikun dalam penggarapan album solo pertamanya ini, Jikun berusaha total menampilkan kreasi gitar yang turun-temurun menjadi ciri khas para gitaris hard rock dan heavy metal. Ada riff-riff tebal dan tajam sebagai pembuka, ada appregio dibalut sound digital delay dan penggunaan pedal, juga ada kecepatan dan penggunaan pick-tapping yang ekstrem saat memainkan solo.

Kendati rata-rata nomor Instrumental Rock di album ini bisa dibilang istimewa dan layak dengar, namun nomor paling layak dengar versi pribadi, atau nomor favorit saya di album Sprained adalah nomor instrumental berjudul Carolus Daylight. Nomor tersebut dimainkan dalam tempo sedang, dibalut chording yang akrab di telinga, plus sound distorsif yang tebal berikut bagian solo yang nge-blues. Nuansa yang dihadirkan Jikun lewat permainannya pada Carolus Daylight adalah suasana pagi yang cerah. Begitu akrab, hangat, dinamis dan menggugah mood. Dentuman bass sang bassist,Oktaf, dan ketukan drum sang drummer, Bima, di nomor itupun ikut menegaskan, chemistry antara para personil Jikunsprain yang terjalin dalam seluruh materi instrumental album debut Jikun ini.

**

Dari pengalaman album pertama, Jikun sebagai chief of project Jikunsprain harusnya sudah mengenali kelemahan dan kelebihan kelompoknya. Menurut saya, kelebihan yang dimiliki Jikun dari album pertamanya adalah : ia punya vokalis yang bagus dari segala sisi (sisi komersialitas maupun idealisme), ia punya pemain bass dan drum yang cukup solid mengawal ritme, dan iapun punya konsep yang bagus di nomor-nomor instrumental. Adapun kelemahannya hanya : kurang pas ketika memainkan nomor balada.

Dari pengalaman album pertama saya berharap, di album kedua Jikunsprain kelak Jikun bisa lebih tegas memilih konsep, apakah hendak memainkan full nomor instrumental (seperti John Paul Ivan), atau bermain musik dalam beat cepat, beat sedang, mirip dengan Andra dan The Backbone-nya. Kalau dalam hemat saya, Jikunsprain lebih asyik jikalau memilih alternatif kedua, yaitu : memainkan musik rock yang keras, dalam tempo sedang, juga dalam tempo cepat. Jikun sebaiknya berpikir dua kali untuk memasukkan materi balada bertempo pelan seperti Untuk Dirimu, yang kurang menyatu karakternya dengan band secara keseluruhan. Lagu Nge-Top bisa dijadikan semacam blue print, jikalau Jikun kelak sepakat dengan pendapat saya, memilih untuk bermain rock dalam tempo cepat dan tempo sedang. Lewat Nge-Top Jikunsprain tetap bisa bermain keras, dan bisa juga tetap Nge-Pop, sebab musik yang keras itu diisi oleh vokal Megadalle, yang bisa dibilang crossing antara musik rock yang idealis dan warna pop yang komersil. Jika konsep yang saya sarankan ini terealisir, ada peluang Jikunsprain bisa sedikit berkompromi dengan pasar, tanpa mengorbankan konsep musiknya yang konon pengejawantahan dari : pertemuan Rush dengan Black Sabbath.(rockabilia.blogspot.com)(eap)

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

DRAMA TRAGIS KEMATIAN DIMEBAG DARRELL

Musicians tend to get bored playing the same thing over and over, so I think it's natural to experiment.
-Dimebag Darrell, gitaris kelompok Trash Metal legendaris Panthera

Selesai botakan waktu SMA, kawan-kawan menyebut saya mirip dengan Philip Anselmo, sang vokalis Pantera. Kendati nge-fans sama lagu-lagu dari album Cowboy From Hell dan Vulgar Display Of Power, sesungguhnya saya nggak nge-fans sama tongkrongannya beliau. Serem dan angker. Mirip seorang tetangga saya yang oknum berseragam, yang galak dan egois sama tetangga kanan-kiri (suka parkir mobil sembarangan dan bikin mobil bokap susah masuk garasi rumah sendiri- red). Tiap lihat Philip Anselmo jadi inget juga sama beliau. Oknum edan yang lupa, bahwa bikin susah tetangga itu sama dengan penyelewengan sumpahnya sebagai pengayom.

Untunglah wajah personil Pantera nggak semuanya mirip Anselmo. Sehingga yang lainnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kebencian saya. Malahan, ada kakak beradik Abbott- Darrell “Dimebag” Lance &…