Skip to main content

Ritchie Blackmore : Gitaris Terkeras Pada Masanya



Dalam kumpulan cerita pendek penulis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma, yang diberi judul “Kematian Donny Osmond”, ada sebuah cerita pendek yang diberi judul unik : “Ritchie Blackmore”. Cerita pendek itu menceritakan kiprah seorang pengamen jalanan, penggemar fanatik Ritchie Blackmore, gitaris pertama Deep Purple dan pendiri grup hard rock legendaris, Rainbow. Sang pengamen yang tak jelas namanya itu mencari nafkah dari memainkan karya-karya Ritchie Blackmore, semasa salah seorang gitaris terkeras dan penulis komposisi rock legendaris ini bergabung dengan supergroup yang disebut sebelumnya. Berbeda dengan para koleganya di jalanan, yang rata-rata memainkan musik dangdut atau lirik protes penyanyi balada Indonesia,Iwan Fals, sang pengamen meneriakkan “Child In Time”, “Smoke On The Water”, “Stormbringer”, “Man On The Silver Mountain”, “Long Live Rock N Roll” dan karya-karya Blackmore lainnya, di pasar-pasar atau tempat-tempat dimana ia biasa mencari nafkah.

Dari kota ke kota, sang pengamen menjemput rejeki dengan memainkan nomor-nomor gubahan Blackmore, yang dia hafal betul dari mulai riff, interlude, sampai closing-nya. Konon, sang pengamen piawai juga menirukan lengkingan Ian Gillan, cengkok David Coverdale, suara serak Ronnie James Dio, yang sempat didapuk sebagai vokalis mendampingi Blackmore, dewa gitar kelahiran Weston-super-Mare, Inggris, 14 April 1945 itu. Saking merasuknya komposisi karya Blackmore kedalam jiwanya, pengamen itu bahkan bisa menyulap body gitarnya menjadi perkusi, untuk menirukan ketukan-ketukan Ian Paice atau Cozy Powell, para drummer yang sempat berasosiasi dengan Blackmore.“…bila perlu mulutku pun mampu menirukan bunyi papan kunci Jon Lord dan dentuman bass Roger Glover.”ujar sang pengamen dengan gagah dan angkuhnya, dalam salah satu paragraf cerita pendek yang sempat dimuat di majalah Hai pada medio 1990-an itu.

Suatu kali, sang pengamen kugiran Ritchie Blackmore itu diwawancarai oleh seorang jurnalis peliput kehidupan malam. Jurnalis bertanya kepada sang pengamen,“Kenapa anda begitu tergila-gila pada Ritchie Blackmore ?” Dengan gaya seorang kritikus musik sang pengamen menjawab,“Perhatikan nuansanya, dalam petikan gitar Ritchie terdapat raungan binatang yang terluka, jeritan kemarahan, nafsu balas dendam, keterasingan manusia, dan kegersangan peradaban. Tidakkah itu merupakan gejala kemanusiaan pada masa yang akan datang ?”

**
Citra lelaki yang terlahir dengan nama Richard Hugh Blackmore, sebagai seorang gitaris yang mampu meraungkan ‘jerit hewan terluka’ lewat petikan gitarnya itu, terpupuk sejak ia mendirikan Deep Purple, band legendaris di ranah musik rock dan heavy metal, yang terbentuk tahun 1968 di Herthfordshire, Inggris Raya. Bersama kelompok yang didapuk sebagai grup rock paling keras ketika merilis album ke-4 bertajuk “In Rock” itu, Blackmore memainkan riff dan solo gitar yang terliar dan tercepat pada masanya. Sound distorsif Hammond Organ yang dimainkan Jon Lord (keyboard), riffle-riflle bertenaga nan atraktif dari Ian Paice (drummer), cabikan bass yang spartan mengawal ritme dari Roger Glover (bassist) dan jeritan 3 oktaf Ian Gillan sang vokalis, adalah kawan sejati Blackmore disaat ia menerjemahkan nafsu balas dendam, keterasingan manusia, kegersangan peradaban, melalui petikan gitarnya. Setelah “In Rock”, Blackmore dan Deep Purple merilis album “Fireball”, yang makin menguatkan ciri khas bermusik mereka, yang cepat, garang, liar dan terkeras semenjak era British Invasion pertama.

Merasa belum puas dengan karakter musik Purple di album-album terdahulu, Blackmore dan kawan-kawan tampil lebih keras dan garang di album ke-6 Purple, “Machine Head”. Album ini melejitkan”Smoke On The Water”, lagu rock sepanjang masa yang terkenal luas ke seluruh penjuru dunia, berkat permainan gitar Blackmore pada bagian intro-nya. Ilham lagu legendaris itu sendiri datang dari peristiwa dramatik, yang terjadi saat Purple menunggu giliran rekaman album di Grand Hotel, Montreux, Swiss. Ketika itu, Blackmore dan para personel Purple lainnya tengah menyaksikan penampilan Frank Zappa, di sebuah kasino pinggiran sungai Geneva di kota Montreux. Selagi asyik menonton, ketika audience semakin panas menyaksikan aksi Zappa, tiba-tiba sebuah pistol milik penonton yang mabuk meletup, mengarah ke atap kasino yang sebagian besar bahannya terbuat dari bambu. Api membesar, kebakaran cepat sekali meluas, sampai-sampai jilatan apinya membentuk lidah raksasa yang menyambar-nyambar permukaan sungai Geneva. Momen itulah yang kemudian direkam sang vokalis, Ian Gillan, kedalam lirik yang ditulisnya diatas kertas tissue.

Sayang, dibalik kesuksesan “Smoke On The Water” itu, Blackmore dan para personil lainnya mulai kerap berseteru. Roger Glover, sang bassist yang memutuskan keluar dari band demi menghindari kekisruhan mengatakan,”Semua merasa punya andil lebih dalam lagu (Smoke On The Water). Dan memandang apa yang disumbangkan orang lain tidak ada artinya.” Perseteruanpun menyebabkan terlemparnya Roger Glover dan Ian Gillan dari line-up grup, yang sebetulnya tengah berada di puncak popularitas dan kian mengokohkan diri sebagai band paling keras di dunia, pada medio 1973. Perpecahan yang amat disayangkan oleh fans-nya bahkan hingga saat ini, mengingat dalam masa-masa kebersamaan Deep Purple Mark IIA (sebutan fans Purple terhadap formasi 1969-1973) itulah, Blackmore dan kawan-kawan merilis karya-karya evergreen dan monumental seperti : “Speed King”, “Fireball”, “Black Night”, “Strange Kind Of Woman”, “Highway Star” dan “Lazy”. Salah satu bukti bahwa karya-karya Purple Mark IIA layak disebut evergreen adalah, dinobatkannya solo dalam dua lagu yang ditulis paling akhir, sebagai solo-solo gitar terbaik diantara “Top 100 Greatest Guitar Solo’s” versi Guitar Magazine (2000).

Posisi Roger Glover dan Ian Gillan masing-masing digantikan oleh Glenn Hughes dan vokalis pendatang baru, David Coverdale. Dengan dua punggawa barunya, Purple merilis “Burn”, yang berminggu-minggu menempati Top 10 Charts di Amerika Serikat. Sukses “Burn” tentu saja ikut mencuatkan nama Hughes dan Coverdale, yang sebelumnya jauh dari publikasi media. Sukses “Burn”-pun kian mempertegas posisi Blackmore, sebagai gitaris paling keras dan terpopuler di dunia saat itu. Komposisi gitar yang dimainkan Blackmore, terutama di nomor “Burn”, membuat dunia mengenalnya tidak hanya dari sisi permainannya yang cepat dan liar. Ritchie Blackmore, dipandang oleh para kritisi musik, sebagai gitaris pertama yang piawai menggabungkan blues scale dan musik klasik dalam permainan solo sebuah komposisi rock. Proses eksperimen Blackmore menggabungkan blues scale dan European classical scale itu sendiri sebetulnya sudah dimulai sejak album kedua Deep Purple, The Book Of Taliesyn (1969) dan album ketiga yang juga merupakan self-titled album mereka, Deep Purple (1969). Blackmore yang tekun belajar gitar klasik sejak usia kanak-kanak, mulai intens bergaul dengan para penggiat musik klasik, pasca dirilisnya album-album awal Purple yang masih diperkuat Rod Evans pada vokal dan Nic Simper pada bass itu. Pada masa-masa tersebut, Blackmore dan Purple telah memelopori sesuatu yang kelak bakal mengilhami banyak musisi maupun kelompok rock legendaris, yaitu : melakukan konser dengan iringan orkestra. Konser bersejarah itu berlangsung di Royal Albert Hall, London, Inggris, pada medio September 1969. Dengan tajuk Concerto For Group And Orchestra, Blackmore dan kawan-kawan memainkan komposisi-komposisi dari hits-hits awal mereka, dengan diiringi oleh The Royal Philharmonic Orchestra.

Selain puncak kreatifitas Blackmore dalam penggabungan corak blues dan klasikal, yang terejawantahkan dalam nomor-nomor seperti “Highway Star” dan “Burn”, momen paling monumental pasca bergabungnya Hughes dan Coverdale ke dalam line-up Purple adalah penampilan mereka di California Jammin’(1974). Konser yang diprakarsai American Broadcasting Centre (ABC) itu, menampilkan banyak band terkenal dan disiarkan secara langsung lewat siaran radio dan televisi ke seluruh antero Amerika. Penampilan Blackmore dan Purple di konser jam session ini, diawali dengan insiden dimana sang gitaris mengunci dirinya dan menolak untuk tampil keatas pentas. Blackmore enggan untuk naik panggung lebih awal, setelah para penampil sebelumnya menyelesaikan tugasnya lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Gitaris yang kerap menggigit pick-up-nya saat ia menggunakan jari untuk memetik gitar itu, menolak untuk tampil karena takut efek lampu yang telah disiapkan bakal tak berfungsi optimal, mengingat sinar matahari masih memancar ketika Purple tampil di pentas California Jammin’. Setelah perwakilan ABC membawa Sheriff dan mengancam untuk menahannya, barulah Blackmore bersedia untuk segera tampil diatas panggung.

Walaupun bersedia naik keatas panggung dan sempat membawakan beberapa hits, Blackmore tak bisa melupakan begitu saja perlakuan utusan ABC yang memaksanya tampil dibawah ancaman penahanan. Di penghujung aksi, Blackmore membakar dan merusak beberapa pucuk Fender Stratocaster-nya, sebelum ia mendorong tumpukan amplifier di sudut panggung sehingga tumpah kearah crowd. Belum puas membakar gitar dan menumpahkan sound set di sisi panggung, Blackmore menghantamkan gitar ke salah satu kamera televisi milik ABC, sebagai pemuncak kemarahannya yang segera menyulut kerusuhan massal di konser tersebut. Setelah aksi gila-gilaan itu helikopter diterjunkan untuk mengangkut Blackmore dan kawan-kawan, yang meninggalkan areal konser dengan tergesa-gesa demi menghindari kemarahan aparat dan eksekutif ABC, yang begitu geram oleh tingkah sang gitaris. Tak dinyana, setahun setelah peristiwa yang menggemparkan itu, Blackmore memutuskan hengkang dari Purple. Blackmore beralasan, ia kurang menyukai warna soul dan funk, yang mulai merasuki aransemen band yang namanya diambil dari judul lagu favorit neneknya sendiri. Setelah Stormbringer dirilis pada akhir tahun 1974, kurang dari lima bulan kemudian (april, 1975), Ritchie Blackmore meninggalkan band yang pernah dibesarkan dan membesarkannya dalam 6 tahun awal karir bermusiknya.

**
Setelah hengkang dari Deep Purple, Blackmore kemudian dikenal sebagai gitaris dan ikon dari supergroup rock & heavy metal berpengaruh berikutnya, Rainbow. Bersama Rainbow, Blackmore mulai menulis komposisi-komposisi baru yang sedikit-banyak berbeda corak musik dengan Deep Purple. Melalui aransemen-aransemen yang didominasi oleh permainan gitar dan lengkingan khas Ronnie James Dio, vokalis pertama Rainbow, Blackmore berupaya mengungkapkan kecintaannya akan musik klasik dan rock secara bersamaan. Berangkat dari petikan Blackmore yang kental bernuansa klasikal, ditopang lirik-lirik Dio yang mengangkat tema-tema abad pertengahan, cita rasa musik Rainbow-pun segera menjadi sesuatu yang baru dan dianggap ‘wah’ pada awal kemunculannya.

Rainbow tidak hanya tampil jantan dan keras, sebagaimana layaknya kelompok-kelompok musik rock yang tampil pada dekade tersebut. Kelompok yang namanya diambil dari nama bar tempat berkumpulnya para musisi rock dan groupies di Hollywood ini, selain berhasil mempertahankan karakter musik rock yang keras dan jantan, berhasil pula menampilkan sosok musik rock yang gagah, berwibawa dan harmonic. Sebuah corak yang kemudian menginspirasi banyak kelompok-kelompok musik rock dan metal setelahnya, seperti : Dio, Yngwie Malmsteen’s Rising Force, Helloween, Cacophony, Gamma Ray, Stratovarius, Hammerfall, Rhapsody, Symphony X, Dragonforce atau Kamelot. Corak rock a la Rainbow-lah yang mengilhami tercetusnya aliran Power Metal, Symphonic Metal, atau aliran yang di tahun 2000-an dikenal dengan Progressive Metal. Nomor-nomor paling esensial dari Rainbow, yang dianggap paling berpengaruh terhadap perkembangan aliran-aliran tersebut diantaranya adalah : “Long Live Rock N Roll”, “Kill The King”,“Stargazer”,“Gates of Babylon”,”Man on The Silver Mountain” dan “Difficult To Cure”. Sebagai catatan, “Difficult To Cure” adalah komposisi instrumental yang merupakan dan diakui sendiri oleh Blackmore, sebagai puncak kreatifitasnya. Dalam aransemen lagu instrumental yang termuat pada album bertajuk sama, “Difficult To Cure” (1981) ini, Blackmore menyelipkan “Symphony No.9” dari Ludwig Van Beethoeven, yang merupakan komposisi klasik favoritnya. Nomor instrumental “Difficult To Cure” ini disebut-sebut oleh kalangan kritisi sebagai eksperimen neo-classical metal pertama, sebelum seorang gitaris terkemuka lainnya, Yngwie Johan Malmsteen, menulis dan memainkan komposisi yang dianggap komposisi neo-classical metal terbaik sepanjang masa,”Far Beyond The Sun”. (eap)

Comments

topantopian said…
bang tulisannya di jiplak orang tuh
nih linknya
http://slasherbroken.blogspot.com/2010/04/semangat-rock-ritchie-blackmore.html
Anonymous said…
Gitaris yg menjadi acuan dasar improvisasi gitarku. . . Dan richie jga adalah referensi utama gitaris kidal malaysia Joe Wings
Anonymous said…
Gitaris yg menjadi acuan dasar improvisasi gitarku. . . Dan richie jga adalah referensi utama gitaris kidal malaysia Joe Wings

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

SMOKE ON THE WATER : HITS YANG MEMISAHKAN PARA PENCIPTANYA

Nggak ada atau jarang anak rock yang nggak tahu lagu Smoke On The Water. Yang nggak tahu bisa-bisa dikatain sok rocker, kalo sampe nggak tahu atau ngaku belum pernah denger itu lagu, padahal dia sendiri ngakunya rocker. Smoke On The Water bagaikan materi inagurasi. Syarat pentahbisan bagi siapapun yang ngaku musisi atau simpatisan heavy rock. Gitaris rock kudu hafal riff atau chord lagu ini, vokalisnya mesti hafal lirik lagu ini, dan minimal musisi-musisi pendukung band yang lain kudu bisa mengawal beat dan pattern lagu ini diatas panggung atau studio.

Smoke On The Water adalah lagu kelompok musik Deep Purple, salah satu dari triumvirat legenda band rock (Led Zep, Deep Purple, Black Sabbath), yang tidak hanya memegang rekor penjualan rekaman, melainkan juga pemegang rekor gonta-ganti personil. Saking seringnya gonta-ganti personil, sudah lumrah kalau hingga saat ini, sesama penggemar Deep Purple akan bertanya : “Sekarang sudah Mark berapa ya ?”-ketika mereka membicarakan eksistensi g…