Skip to main content

SHREDDER PERTAMA DIMUKA BUMI



Saat King Of Pop, Michael Jackson, menemui ajalnya pada 25 Juni 2009, saya terkenang waktu kerap menyimak lagunya, “Beat It”, yang jadi top request di radio-radio terkemuka kota Bandung sekitar tahun 1983. Sesuai dengan judulnya, lagu itu memang betul-betul nge-beat dan enak didengarkan, terutama dikala senggang pada minggu pagi. Yang saya paling suka dari lagu itu, bahkan melebihi kesukaan saya pada lengkingan vokal Michael Jackson adalah, permainan solo guitar pada bagian pertengahan lagu. Solo guitar yang melengking-lengking dan penuh eksplorasi sound dalam lagu tersebut, adalah solo guitar pertama yang membuat saya berdecak dan berbisik,”Wah, jago sekali yang maen gitarnya !”

Kira-kira setahun kemudian (1984), setelah peringkat “Beat It” mulai turun di top request radio-radio kota Bandung, tembang “Jump” dari Van Halen merangkak naik ke urutan teratas di berbagai chart radio. Intro keyboard di lagu yang termuat di album 1984, album ke 6 kelompok asal Pasadena, California, Amerika Serikat itu, mengiringi hari minggu pagi saya yang biasanya diisi dengan aktivitas mencuci kendaraan keluarga. Intro-nya begitu khas dan brilian, hentakan drumnya memancing semangat dan dinamis, bagian solo guitar-nya begitu full technique dalam bungkusan tone guitar yang tak ada duanya. Mendengar solo di lagu “Jump” tersebut, saya sampai berandai-andai, ketika besar kelak bisa sejago Eddie Van Halen, sang gitaris yang memainkannya. Ya, saya kira, orang yang tak paham sama sekali soal permainan gitarpun bakal berpendapat : Eddie Van Halen adalah seorang maestro.
**
Eddie Van Halen, yang terlahir dengan nama Edward Lodewijks Van Halen, adalah anak kedua dari pasangan Jan Van Halen, pria blasteran Belanda-Swedia, dan Eugenia Van Beers, seorang wanita yang aslinya berasal dari Indonesia. Berada dalam pengasuhan seorang ayah, Jan Van halen, yang dikenal sebagai saksofonist dan pemain klarinet musik kamar, sedari dini gitaris yang lahir di Amsterdam, pada 26 januari 1955 itu, telah berkenalan dengan berbagai instrumen musik. Pada masa-masa pengenalan terhadap instrumen musik itu, Jan mendorong Eddie dan kakak kandungnya, Alexander Arthur Van Halen (kelak dikenal sebagai Alex Van Halen, drummer Van Halen), untuk secara khusus mempelajari dan memperdalam teknik classical piano. Bakat besar kakak-beradik Van Halen ini segera mengemuka kehadapan publik, terutama disaat mereka memenangkan berbagai kontes piano klasik, setelah mereka sekeluarga menetap di Pasadena, California, Amerika Serikat (1962). Kepiawaian Van Halen bersaudara dalam memainkan komposisi klasik di atas tuts piano itulah, yang menjadi dasar dan bekal berarti bagi mereka, dalam mencapai posisi puncak di blantika musik rock dan heavy metal, disaat mereka lepas dari masa remaja.

Pada tahun 1964, dua tahun setelah Jan Van Halen sekeluarga menginjakkan kakinya di Amerika Serikat, British Invasion melanda dunia permusikan negeri Paman Sam. Musik pop, beat dan rock n roll buah karya kelompok dan musisi asal Inggris, menjadi sangat populer dan digemari secara luas, oleh masyarakat penikmat musik di negeri tersebut. Diantara kelompok atau musisi yang sukses menginvasi Amerika itu adalah : The Animal, The Beatles, The Hollies, The Kinks, The Who, The Rolling Stones, Manfred Mann Earth Band, The Cream dan Moody Blues. Eddie Van Halen- yang baru berusia 10 tahun ketika itu- ikut terpesona oleh corak musik daratan Inggris, yang merangsang penikmatnya untuk berdansa dan bergoyang, sepanjang suksesnya menginvasi Amerika medio 1963-1966 itu. Eddie kemudian beralih mempelajari drum, yang menurutnya lebih bisa mewakili gairah dan selera bermusiknya, yang cenderung lebih nge-pop dan dinamis. Memainkan komposisi klasik dibelakang acoustic piano menjadi sesuatu yang membosankan bagi Eddie, sehingga ia memutuskan untuk serius melatih keterampilan drumming-nya kepada Arty Gomez, guru musik disekolahnya, Lincoln Heights. Sementara Eddie melatih keterampilannya menggebuk drum-kit, Alex, sang kakak, memilih untuk melatih keterampilannya memetik dawai gitar. Untuk urusan gitaris, kebetulan saja, kakak-beradik yang terpaut dua tahun jarak usia ini, mempunyai idola masa kecil yang sama. Konon, mereka sama-sama mengidolakan Dave Davies, gitaris kelompok The Kinks, yang tenar ke seantero Inggris dan Amerika karena beberapa single hits-nya, seperti : “You Really Got Me” dan “Long Tall Sally”. Kekaguman Eddie dan Alex pada band dan musisi masa kecilnya itu, mereka ungkapkan dengan cara merekam ulang hits The Kinks, “You Really Got Me”, yang kelak mereka rilis ulang dalam album debut Van Halen, pada tahun 1978.

Hari demi hari dilalui Eddie dan Alex, demi melatih keterampilannya teratas alat musik masing-masing. Suatu saat, Alex memainkan drum solo dari lagu hits instrumental The Surfaris, Wipe Out, dihadapan sang adik. Eddie tercengang menyaksikan kepiawaian Alex meniru permainan solo Ron Wilson, drummer kelompok musik yang lagunya kerap menjadi anthem para peselancar di California tersebut. Menyimak drumming skill sang kakak yang menurutnya mengagumkan, Eddie memutuskan untuk bertukar alat musik dengan Alex. Fase inilah yang menandai awal dari melesatnya bakat kakak-beradik Van Halen itu, sebagai spesialis gitar dan drum di era yang menjembatani musik rock tahun 70-an dengan rock 80-an. Eddie-pun kian tekun melatih kemampuannya memetik dawai gitar. Apalagi, ketika sang Ibu, Eugenia, menghadiahinya sepucuk gitar elektrik saat berusia 12 tahun.

Dua tahun semenjak sang Ibu menghadiahi gitar elektrik pertamanya, Eddie sudah mampu memainkan beberapa nomor blues, terutama solo-solo gitaris The Cream, Eric Clapton. Selama dua tahun itu ia melewatkan waktunya dengan mengunci diri didalam kamar, sekadar untuk melatih jari-jarinya memainkan solo gitaris yang juga legenda musik rock tersebut. Pada usia 14 tahun, Eddie sudah mampu memainkan solo-solo Clapton pada lagu-lagu seperti : “Wrapping Paper”, “I Feel Free”, “N.S.U”, “I’m So Glad” dan “Toad”, yang kini tercatat sebagai karya klasik yang besar pengaruhnya bagi para musisi, khususnya gitaris di akhir 1960-1970-an. Menjejaki masa remaja, Eddie mulai berkenalan dengan lebih banyak corak permainan dari gitaris-gitaris rock ternama, yang termasuk satu angkatan sebelum dirinya. Diantara sekian banyak gitaris yang ia serap ilmu, teknik dan performanya, yang dianggap paling berpengaruh pada style seorang Eddie Van Halen menurut para kritikus adalah : Brian May (Queen), Jimi Page (Led Zeppelin), Allan Holdsworth (gitaris/tokoh aliran Fusion Jazz) dan Ronnie Montrose (Montrose). Selama 10 jam sehari, Eddie yang kala itu masih belia, mengunci diri dalam kamarnya untuk mempelajari jurus-jurus andalan para virtuoso rock n roll dunia. Ketika ada bagian tertentu yang tidak ia pahami, Eddie menyesuaikannya dengan teknik yang telah ia kuasai. Tanpa disengaja, cara Eddie mengatasi kendala dalam meng-copy paste teknik para gitaris yang ia gandrungi itu, malah membentuk karakter khasnya sendiri.
**
Berbekal keterampilan dan semangat menggebu-gebu untuk menjadi seorang rockstar, Eddie Van Halen mendirikan kelompok musik Mammoth, saat menapaki usia 17 tahun. Bersama dengan sang kakak, Alex Van Halen pada drum dan Mark Stone pada bass, Eddie menyanyikan lagu-lagu rock cover version maupun karya asli, sambil beraksi memainkan gitar elektriknya. Sebagaimana ketika ia benci berlama-lama duduk dibelakang piano akustik, Eddie-pun kemudian mengaku merasa frustasi jika harus bernyanyi sambil memainkan gitar. Kegusarannya diperparah oleh kewajibannya untuk membayar mahal sewa amplifikasi- yang besarannya 15 dollar per malam- kepada pemilik penyewaan sound system yang sebaya umurnya, David Lee Roth. Eddie akhirnya memutuskan untuk menarik David sebagai vokalis (1974), yang berarti juga menghemat biaya amplifikasi yang mesti disewa. Setelah resmi menjadi bagian dari Mammoth, tak hanya membebaskan biaya sewa amplifikasi, David mengajukan usul brilian untuk mengganti nama kelompok musik mereka menjadi Van Halen. “Saya kira nama keluarga Eddie dan Alex itu kedengarannya cool. Gampang diingat dan keren,”alasan David Lee Roth kelak, saat ia melakukan interview pasca merilis album debut kelompok mereka, Van Halen (1978).

Bersama Van Halen, aksi-aksi Eddie mulai menarik perhatian publik yang lebih luas. Dari publik rock Los Angeles hingga akhirnya rakyat metal seluruh negara bagian California, mulai memperbincangkan kepiawaian Eddie Van Halen muda yang nyaris menyamai kepiawaian para gitaris rock yang lebih senior. Pada masa-masa inilah, Eddie mengembangkan teknik “two-handed tap” (populer di Indonesia dengan sebutan tapping saja), yang kemudian menjadi ciri khasnya disaat beraksi diatas pentas-pentas rock. Dengan pilihan sound, kecepatan jari, melodi yang nge-pop dan teknik permainan yang revolusioner serta eksploratif, Eddie Van Halen diakui sebagai gitaris muda paling sakti diantara gitaris-gitaris muda scene musik Los Angeles.

Popularitas Eddie Van Halen berbanding lurus dengan popularitas kelompok Van Halen yang kian merebut perhatian publik Amerika. Pada tahun 1977, Paul Stanley, pendiri kelompok rock legendaris, Kiss, menyaksikan penampilan Eddie dan kawan-kawan saat beraksi di Starwood Club, Los Angeles, untuk pertamakali. Pada pertunjukan malam berikutnya di klub Gazzari’s, Hollywood, Stanley mengajak serta Gene Simmons, bassist Kiss, untuk menyaksikan aksi Van Halen. Simmons, yang selain mendunia sebagai bassist Kiss dan gaya lidah melet-nya, dikenal juga sebagai pencari bakat dan produser musik utusan Warner Brothers Record. Tertarik dengan aksi musikal yang disajikan Eddie dan Van Halen-nya, Simmons lantas memboyong mereka ke New York, untuk menjalani proses penggarapan demo di Electric Lady Studio, sebuah studio rekaman termasyhur yang didirikan oleh “Bapak Gitaris Rock Dunia”, Jimi Hendrix, pada tahun 1970. Dibawah arahan Simmons, Van Halen merekam 13 buah lagu demo-tape di studio yang terletak di sebelah barat lokasi bisnis terkemuka dunia, Lower Manhattan. Diantara demo-tape yang sempat direkam, “House of Pain” dan “Running With The Devil” adalah nomor-nomor yang kemudian mendunia dan jadi evergreen sampai sekarang. Namun, fasilitas dari Simmons dan peralatan di studio yang sempat pula digunakan oleh The Rolling Stones dan AC/DC itu, ternyata tidak cukup untuk memuaskan hasrat bermusik Eddie Van Halen. Ia merasa lebih nyaman untuk menggunakan peralatan sendiri, daripada menggunakan peralatan yang tersedia di Electric Lady. Hasil demo-tape yang direkam di studio itu dinilai Eddie terlalu kaku, terutama pada bagian part gitarnya. Kongsi Van Halen dengan Gene Simmons-pun akhirnya pecah, gagal melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, setelah Simmons menginginkan Van Halen berganti nama menjadi Daddy Shortlegs. Seluruh anggota Van Halen menolak permintaan Simmons, apalagi setelah menyimak art work Daddy Shortlegs, yang menurut Eddie dan kawan-kawannya sama-sekali tidak mewakili semangat dan karakter mereka. Demo-tape yang dikerjakan di Electric Lady Studio itupun akhirnya tidak pernah sampai ke para petinggi Warner Bros, ketika Eddie dan Van Halen-nya memilih untuk kembali ke Los Angeles.

**

Sepulangnya ke Los Angeles, Van Halen kembali ke pekerjaan rutinnya sebagai home band di Starwood Club yang berlokasi di kawasan hiburan termasyhur Hollywood. Aksi impresif mereka dihadapan small crowd yang memadati Starwood, tak berapa lama dari kepulangan mereka itu, kembali mengundang perhatian serius dari tokoh industri musik terkemuka Amerika. Adalah Mo Ostin dan Ted Templeman- yang ironisnya sama seperti Gene Simmons bekerja untuk Warner Bros- yang kemudian tertarik dengan materi lagu dan performa Eddie dan kelompok Van Halen-nya. Setelah kurang lebih satu minggu menikmati aksi ciamik Van Halen yang didominasi oleh permainan gitarisnya yang dahsyat, Ted Templeman meyakinkan Mo Ostin- yang saat itu menjabat sebagai salah seorang pimpinan di Warner Bros Record- agar segera menyodorkan kontrak rekaman pada Eddie dan kawan-kawan. Tidak seperti Gene Simmons yang mengajak Van Halen untuk menggarap demo-tape langsung di kota tempat Warner Bros bermarkas, Templeman memboyong Eddie dan Van Halen-nya untuk merekam materi lagu secara intensif di Sunset Sound Recorders Studio, Hollywood, California, mulai pertengahan september hingga oktober 1977. Di studio yang pernah digunakan kelompok psychedelic rock, The Doors, untuk merekam album pertama dan keduanya itu, Templeman membimbing para personil Van Halen secara spartan dalam durasi kegiatan rekaman yang betul-betul efisien dan efektif. Berbeda dengan Simmons yang sempat masuk terlalu jauh kedalam konsep orisinil Van Halen, Templeman justru membebaskan Eddie dan kawan-kawannya untuk mewujudkan karya yang sesuai dengan cita rasa mereka. Dengan penuh pengertian Templeman memperkenankan Van Halen untuk memasukkan lagu “You Really Got Me” dari The Kinks, padahal alasan dibalik pencantuman lagu itu di album pertama Van Halen adalah : hanya untuk membuat malu kelompok Angel, saingan mereka di scene musik Los Angeles, yang punya rencana memasukkan lagu yang sama di album debutnya.

Ide Templeman yang paling brilian dalam produksi album pertama Van Halen adalah, memasukkan nomor instrumental “Eruption” sebagai lagu pembuka. Nomor instrumental ini tidak hanya menandai awal popularitas Van Halen, namun juga menandai era Guitar Shredder- era dimana para gitaris rock habis-habisan mengeksplorasi teknik permainan, fungsi equipment dan karakter sound gitarnya. Nomor “Eruption” ini juga menjadi nomor penahbisan bagi Eddie Van Halen, sebagai seorang virtuoso baru selepas era Jimi Hendrix, Eric Clapton, Jimi Page dan Ritchie Blackmore. Nomor instrumental yang menempati urutan nomor 2 dalam 100 Greatest Guitar Solo’s versi Guitar World Magazine itu, menurut Eddie Van Halen, sebetulnya bukan bagian dari materi album yang direncanakan. Templeman-lah yang memaksa lagu yang dimainkan dalam rangka pemanasan itu, agar masuk sebagai lagu pembuka debut album Van Halen, sebelum lagu “You Really Got Me”. Mengenai proses rekaman “Eruption” yang kebetulan itu Eddie Van Halen mengatakan, “Saya tidak memainkan lagu itu secara benar. Ada beberapa kesalahan terutama di bagian akhirnya. Setiap saya mendengarkan lagu itu sekarang, batin saya selalu berbisik : Ah, saya bisa melakukan lebih baik dari itu.”

Sumbangan terbesar yang diberikan Eddie Van Halen pada dunia musik rock lewat “Eruption”-nya adalah, sebuah teknik permainan gitar yang lazim disebut : finger tapping. Pada nomor instrumental “Eruption” ini, Eddie menggunakan jari-jari kedua tangannya untuk memetik dawai-dawai pada bagian guitar neck. Tone yang dihasilkan dari teknik finger tapping a la Eddie Van Halen ini terdengar begitu rumit dan fantastis, tanpa meninggalkan harmonisasi dan kecepatan. Teknik finger tapping ini sendiri adalah perkembangan dari teknik pick tapping, yang sebelum era Van Halen telah dimainkan oleh banyak gitaris rock. Steve Hackett menggunakan teknik ini pada tahun 1971, pada saat Genesis merilis album Nursery Crime. Duane Allman dari The Allman Brothers Band dan tokoh musik kontemporer, Frank Zappa, juga pernah memainkan teknik tersebut. Adapun salah satu gitaris idola Eddie Van Halen, Brian May dari Queen, menggunakan teknik tapping pada nomor “It’s Late” dari album News Of The World. Tahun 1983, dalam wawancaranya dengan majalah Guitar Player May mengatakan,”Saya mencuri teknik tersebut dari Billy Gibbons, gitaris ZZ Top.” Lain May, lain pula pendapat Ritchie Blackmore. Berkenaan dengan penggunaan pick atau jari dalam teknik tapping, Gitaris Deep Purple ini mengatakan bahwa ia dan Jimi Hendrix pernah menyaksikan Harvey Mandel, memainkan teknik finger tapping, bukan pick tapping, dalam sebuah show di klub Whisky A Go-Go pada tahun 1968. Menurut Blackmore, para gitaris jazz bahkan sudah biasa memainkan teknik tersebut sejak awal kemunculan aliran ini di New Orleans, Amerika Serikat, pada medio 1950-an.

Untuk mengetahui darimana sebetulnya Eddie Van Halen mengembangkan teknik finger tapping tersebut, para kritikus dan pemerhati musik sempat meneliti foto, demo dan bootleg Van Halen yang direkam sebelum tahun 1976. Tapi mereka tidak pernah mendapatkan satupun momen yang mengindikasikan, bahwa Eddie pernah memainkan teknik revolusioner itu pada tahun-tahun sebelum debut album Van Halen dirilis. Ace Frehley, gitaris dan pendiri Kiss, sempat mengklaim bahwa teknik finger tapping Eddie itu berasal dari dirinya. Menurut Frehley, Eddie memraktikkan teknik tersebut sebelum pembuatan demo tape yang disponsori oleh Gene Simmons, setelah melihat Frehley memainkan teknik pick tapping tersebut saat rehearsal di studio. Ace Frehley sendiri pernah menampilkan teknik pick tapping tersebut pada khalayak umum, disaat Kiss tampil membawakan nomor hits-nya, She, dalam acara televisi The Midnight Special yang disiarkan secara live oleh stasiun televisi NBC.

Eddie Van Halen sendiri mengatakan bahwa teknik finger tapping yang ia mainkan, dikembangkan dari teknik pick tapping-nya Jimmy Page. “Saya mendapatkan ide tapping ini setelah menyaksikan apa yang dilakukan Jimmy Page pada solo di nomor legendaris Led Zeppelin, Heartbreaker. Saya melihat Page memainkan teknik tersebut dengan menggunakan pick. Saya lalu berpikir untuk menggunakan jari dalam memraktekkan teknik tersebut. Dan, setelah berlatih secara intensif akhirnya saya bisa melakukannya dengan baik.” Saat melakukan finger tapping ini, Eddie biasa mengepit pick-nya diantara jari jempol atau diantara jari tengahnya. Teknik Eddie ini kemudian tidak hanya diadopsi oleh gitaris rock dan metal di Amerika ataupun Eropa saja. Corak permainannya yang menandai awal dari era Guitar Shredder, yaitu suatu era dimana para gitaris rock meleburkan kecanggihan teknik, kegarangan sound dan kecepatan jari dalam permainannya, dipelajari dan diadopsi oleh banyak gitaris rock dari berbagai belahan dunia. Diantara gitaris rock luar Amerika dan Eropa yang kemudian menerapkan finger tapping secara intensif ini adalah Akira Takasaki, pionir supergroup beraliran speed & heavy metal asal Jepang, Loudness. Gitaris rock paling berpengaruh dikawasan Asia ini, tercatat pernah memainkan teknik yang kerap membuat peminat rock berdecak kagum itu dalam nomor-nomor hits Loudness, seperti : “Soldier of Fortune”, “Demon Disease”, atau “Red Light Shooter”. Style seorang Eddie Van Halen secara menyeluruh juga sampai memengaruhi corak permainan gitaris rock kenamaan dalam negeri, seperti Ian Antono dan Eet Syahranie. Gitaris rock senior Indonesia, Ian Antono, tampak banyak menyerap style Eddie terutama dalam album ke-3 kelompok God Bless, Semut Hitam. Sementara Eet Syahranie, gitaris rock papan atas Indonesia yang mulai dikenal publik pada awal 80-an, secara sporadis mengadopsi style gitaris berdarah Belanda-Indonesia ini pada album pertama kelompok Edane, The Beast.

Aksi Eddie Van Halen yang memukau lewat nomor instrumental “Eruption”-nya, ikut mewarnai corak lagu-lagu non-instrumental Van Halen yang disebut-sebut khalayak musik sebagai revolusi dalam Modern Rock N Roll Show. Kreasinya yang impresif dan mendobrak itu tersebar mulai dari nomor hits pertama Van Halen, Runnin’ With The Devil, ‘Aint Talkin’ About Love, Jamie’s Crying dan You Really Got Me (album Van Halen), Dance The Night Away dan Beautiful Girls (album Van Halen II), And The Cradle Will Rock dan Everybody Wants Some (album Women and Children First), Mean Street dan Unchained (album Fair Warning), Oh, Pretty Woman, Dancing In The Street, Secrets, The Full Bug dan Little Guitars (album Diver Down). Dari nomor-nomor hits ini, yang kemudian mengemuka tidak hanya kecanggihan permainan seorang Eddie Van Halen. Hits-hits Van Halen yang rata-rata punya beat keras namun riang itu, juga menyajikan lengkingan vokal David Lee Roth, yang tidak hanya bertenaga namun juga mempunyai karakter tersendiri.(eap)

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

SMOKE ON THE WATER : HITS YANG MEMISAHKAN PARA PENCIPTANYA

Nggak ada atau jarang anak rock yang nggak tahu lagu Smoke On The Water. Yang nggak tahu bisa-bisa dikatain sok rocker, kalo sampe nggak tahu atau ngaku belum pernah denger itu lagu, padahal dia sendiri ngakunya rocker. Smoke On The Water bagaikan materi inagurasi. Syarat pentahbisan bagi siapapun yang ngaku musisi atau simpatisan heavy rock. Gitaris rock kudu hafal riff atau chord lagu ini, vokalisnya mesti hafal lirik lagu ini, dan minimal musisi-musisi pendukung band yang lain kudu bisa mengawal beat dan pattern lagu ini diatas panggung atau studio.

Smoke On The Water adalah lagu kelompok musik Deep Purple, salah satu dari triumvirat legenda band rock (Led Zep, Deep Purple, Black Sabbath), yang tidak hanya memegang rekor penjualan rekaman, melainkan juga pemegang rekor gonta-ganti personil. Saking seringnya gonta-ganti personil, sudah lumrah kalau hingga saat ini, sesama penggemar Deep Purple akan bertanya : “Sekarang sudah Mark berapa ya ?”-ketika mereka membicarakan eksistensi g…

ALLAH BLESS GITO ROLLIES

Alkisah, suatu sore, gue pulang sekolah bareng bokap, dijemput pake mazda kotak. Dalam perjalanan, seorang pengendara motor edan, menyalip mobil yang kami tumpangi dari sebelah kiri. Gila, gue yang waktu itu masih es-de, kontan kaget dan berteriak, mengingat mobil bokap nyaris menghantam pantat motor yang berpacu ugal-ugalan itu. Bokap, yang biasanya alim dan pendiam, pertamakalinya menghamburkan nama salah satu hewan, yang lazim diteriakkan disaat-saat manusia dihinggapi marah.

Seredanya bokap dari kemarahan, beliau bergumam, ”Emang Gito Rollies...” Gue mengernyitkan dahi,”Emang kenapa Gito...Pak ?” Singkat kata, bokap gue langsung menceritakan sebuah peristiwa heboh, dimasa-masa bokap muda dulu. Suatu peristiwa yang juga sohor ke seantero kota Bandung, tentang seorang pengendara motor yang ugal-ugalan pulang pergi Bandung-Lembang bertelanjang bulat. Nama pengendara motor itu adalah : Bangun Sugito, yang kemudian populer sebagai : Gito Rollies, salah seorang ikon musik rock dan pelop…