Saturday, November 14, 2009

Ritchie Blackmore : Gitaris Terkeras Pada Masanya



Dalam kumpulan cerita pendek penulis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma, yang diberi judul “Kematian Donny Osmond”, ada sebuah cerita pendek yang diberi judul unik : “Ritchie Blackmore”. Cerita pendek itu menceritakan kiprah seorang pengamen jalanan, penggemar fanatik Ritchie Blackmore, gitaris pertama Deep Purple dan pendiri grup hard rock legendaris, Rainbow. Sang pengamen yang tak jelas namanya itu mencari nafkah dari memainkan karya-karya Ritchie Blackmore, semasa salah seorang gitaris terkeras dan penulis komposisi rock legendaris ini bergabung dengan supergroup yang disebut sebelumnya. Berbeda dengan para koleganya di jalanan, yang rata-rata memainkan musik dangdut atau lirik protes penyanyi balada Indonesia,Iwan Fals, sang pengamen meneriakkan “Child In Time”, “Smoke On The Water”, “Stormbringer”, “Man On The Silver Mountain”, “Long Live Rock N Roll” dan karya-karya Blackmore lainnya, di pasar-pasar atau tempat-tempat dimana ia biasa mencari nafkah.

Dari kota ke kota, sang pengamen menjemput rejeki dengan memainkan nomor-nomor gubahan Blackmore, yang dia hafal betul dari mulai riff, interlude, sampai closing-nya. Konon, sang pengamen piawai juga menirukan lengkingan Ian Gillan, cengkok David Coverdale, suara serak Ronnie James Dio, yang sempat didapuk sebagai vokalis mendampingi Blackmore, dewa gitar kelahiran Weston-super-Mare, Inggris, 14 April 1945 itu. Saking merasuknya komposisi karya Blackmore kedalam jiwanya, pengamen itu bahkan bisa menyulap body gitarnya menjadi perkusi, untuk menirukan ketukan-ketukan Ian Paice atau Cozy Powell, para drummer yang sempat berasosiasi dengan Blackmore.“…bila perlu mulutku pun mampu menirukan bunyi papan kunci Jon Lord dan dentuman bass Roger Glover.”ujar sang pengamen dengan gagah dan angkuhnya, dalam salah satu paragraf cerita pendek yang sempat dimuat di majalah Hai pada medio 1990-an itu.

Suatu kali, sang pengamen kugiran Ritchie Blackmore itu diwawancarai oleh seorang jurnalis peliput kehidupan malam. Jurnalis bertanya kepada sang pengamen,“Kenapa anda begitu tergila-gila pada Ritchie Blackmore ?” Dengan gaya seorang kritikus musik sang pengamen menjawab,“Perhatikan nuansanya, dalam petikan gitar Ritchie terdapat raungan binatang yang terluka, jeritan kemarahan, nafsu balas dendam, keterasingan manusia, dan kegersangan peradaban. Tidakkah itu merupakan gejala kemanusiaan pada masa yang akan datang ?”

**
Citra lelaki yang terlahir dengan nama Richard Hugh Blackmore, sebagai seorang gitaris yang mampu meraungkan ‘jerit hewan terluka’ lewat petikan gitarnya itu, terpupuk sejak ia mendirikan Deep Purple, band legendaris di ranah musik rock dan heavy metal, yang terbentuk tahun 1968 di Herthfordshire, Inggris Raya. Bersama kelompok yang didapuk sebagai grup rock paling keras ketika merilis album ke-4 bertajuk “In Rock” itu, Blackmore memainkan riff dan solo gitar yang terliar dan tercepat pada masanya. Sound distorsif Hammond Organ yang dimainkan Jon Lord (keyboard), riffle-riflle bertenaga nan atraktif dari Ian Paice (drummer), cabikan bass yang spartan mengawal ritme dari Roger Glover (bassist) dan jeritan 3 oktaf Ian Gillan sang vokalis, adalah kawan sejati Blackmore disaat ia menerjemahkan nafsu balas dendam, keterasingan manusia, kegersangan peradaban, melalui petikan gitarnya. Setelah “In Rock”, Blackmore dan Deep Purple merilis album “Fireball”, yang makin menguatkan ciri khas bermusik mereka, yang cepat, garang, liar dan terkeras semenjak era British Invasion pertama.

Merasa belum puas dengan karakter musik Purple di album-album terdahulu, Blackmore dan kawan-kawan tampil lebih keras dan garang di album ke-6 Purple, “Machine Head”. Album ini melejitkan”Smoke On The Water”, lagu rock sepanjang masa yang terkenal luas ke seluruh penjuru dunia, berkat permainan gitar Blackmore pada bagian intro-nya. Ilham lagu legendaris itu sendiri datang dari peristiwa dramatik, yang terjadi saat Purple menunggu giliran rekaman album di Grand Hotel, Montreux, Swiss. Ketika itu, Blackmore dan para personel Purple lainnya tengah menyaksikan penampilan Frank Zappa, di sebuah kasino pinggiran sungai Geneva di kota Montreux. Selagi asyik menonton, ketika audience semakin panas menyaksikan aksi Zappa, tiba-tiba sebuah pistol milik penonton yang mabuk meletup, mengarah ke atap kasino yang sebagian besar bahannya terbuat dari bambu. Api membesar, kebakaran cepat sekali meluas, sampai-sampai jilatan apinya membentuk lidah raksasa yang menyambar-nyambar permukaan sungai Geneva. Momen itulah yang kemudian direkam sang vokalis, Ian Gillan, kedalam lirik yang ditulisnya diatas kertas tissue.

Sayang, dibalik kesuksesan “Smoke On The Water” itu, Blackmore dan para personil lainnya mulai kerap berseteru. Roger Glover, sang bassist yang memutuskan keluar dari band demi menghindari kekisruhan mengatakan,”Semua merasa punya andil lebih dalam lagu (Smoke On The Water). Dan memandang apa yang disumbangkan orang lain tidak ada artinya.” Perseteruanpun menyebabkan terlemparnya Roger Glover dan Ian Gillan dari line-up grup, yang sebetulnya tengah berada di puncak popularitas dan kian mengokohkan diri sebagai band paling keras di dunia, pada medio 1973. Perpecahan yang amat disayangkan oleh fans-nya bahkan hingga saat ini, mengingat dalam masa-masa kebersamaan Deep Purple Mark IIA (sebutan fans Purple terhadap formasi 1969-1973) itulah, Blackmore dan kawan-kawan merilis karya-karya evergreen dan monumental seperti : “Speed King”, “Fireball”, “Black Night”, “Strange Kind Of Woman”, “Highway Star” dan “Lazy”. Salah satu bukti bahwa karya-karya Purple Mark IIA layak disebut evergreen adalah, dinobatkannya solo dalam dua lagu yang ditulis paling akhir, sebagai solo-solo gitar terbaik diantara “Top 100 Greatest Guitar Solo’s” versi Guitar Magazine (2000).

Posisi Roger Glover dan Ian Gillan masing-masing digantikan oleh Glenn Hughes dan vokalis pendatang baru, David Coverdale. Dengan dua punggawa barunya, Purple merilis “Burn”, yang berminggu-minggu menempati Top 10 Charts di Amerika Serikat. Sukses “Burn” tentu saja ikut mencuatkan nama Hughes dan Coverdale, yang sebelumnya jauh dari publikasi media. Sukses “Burn”-pun kian mempertegas posisi Blackmore, sebagai gitaris paling keras dan terpopuler di dunia saat itu. Komposisi gitar yang dimainkan Blackmore, terutama di nomor “Burn”, membuat dunia mengenalnya tidak hanya dari sisi permainannya yang cepat dan liar. Ritchie Blackmore, dipandang oleh para kritisi musik, sebagai gitaris pertama yang piawai menggabungkan blues scale dan musik klasik dalam permainan solo sebuah komposisi rock. Proses eksperimen Blackmore menggabungkan blues scale dan European classical scale itu sendiri sebetulnya sudah dimulai sejak album kedua Deep Purple, The Book Of Taliesyn (1969) dan album ketiga yang juga merupakan self-titled album mereka, Deep Purple (1969). Blackmore yang tekun belajar gitar klasik sejak usia kanak-kanak, mulai intens bergaul dengan para penggiat musik klasik, pasca dirilisnya album-album awal Purple yang masih diperkuat Rod Evans pada vokal dan Nic Simper pada bass itu. Pada masa-masa tersebut, Blackmore dan Purple telah memelopori sesuatu yang kelak bakal mengilhami banyak musisi maupun kelompok rock legendaris, yaitu : melakukan konser dengan iringan orkestra. Konser bersejarah itu berlangsung di Royal Albert Hall, London, Inggris, pada medio September 1969. Dengan tajuk Concerto For Group And Orchestra, Blackmore dan kawan-kawan memainkan komposisi-komposisi dari hits-hits awal mereka, dengan diiringi oleh The Royal Philharmonic Orchestra.

Selain puncak kreatifitas Blackmore dalam penggabungan corak blues dan klasikal, yang terejawantahkan dalam nomor-nomor seperti “Highway Star” dan “Burn”, momen paling monumental pasca bergabungnya Hughes dan Coverdale ke dalam line-up Purple adalah penampilan mereka di California Jammin’(1974). Konser yang diprakarsai American Broadcasting Centre (ABC) itu, menampilkan banyak band terkenal dan disiarkan secara langsung lewat siaran radio dan televisi ke seluruh antero Amerika. Penampilan Blackmore dan Purple di konser jam session ini, diawali dengan insiden dimana sang gitaris mengunci dirinya dan menolak untuk tampil keatas pentas. Blackmore enggan untuk naik panggung lebih awal, setelah para penampil sebelumnya menyelesaikan tugasnya lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Gitaris yang kerap menggigit pick-up-nya saat ia menggunakan jari untuk memetik gitar itu, menolak untuk tampil karena takut efek lampu yang telah disiapkan bakal tak berfungsi optimal, mengingat sinar matahari masih memancar ketika Purple tampil di pentas California Jammin’. Setelah perwakilan ABC membawa Sheriff dan mengancam untuk menahannya, barulah Blackmore bersedia untuk segera tampil diatas panggung.

Walaupun bersedia naik keatas panggung dan sempat membawakan beberapa hits, Blackmore tak bisa melupakan begitu saja perlakuan utusan ABC yang memaksanya tampil dibawah ancaman penahanan. Di penghujung aksi, Blackmore membakar dan merusak beberapa pucuk Fender Stratocaster-nya, sebelum ia mendorong tumpukan amplifier di sudut panggung sehingga tumpah kearah crowd. Belum puas membakar gitar dan menumpahkan sound set di sisi panggung, Blackmore menghantamkan gitar ke salah satu kamera televisi milik ABC, sebagai pemuncak kemarahannya yang segera menyulut kerusuhan massal di konser tersebut. Setelah aksi gila-gilaan itu helikopter diterjunkan untuk mengangkut Blackmore dan kawan-kawan, yang meninggalkan areal konser dengan tergesa-gesa demi menghindari kemarahan aparat dan eksekutif ABC, yang begitu geram oleh tingkah sang gitaris. Tak dinyana, setahun setelah peristiwa yang menggemparkan itu, Blackmore memutuskan hengkang dari Purple. Blackmore beralasan, ia kurang menyukai warna soul dan funk, yang mulai merasuki aransemen band yang namanya diambil dari judul lagu favorit neneknya sendiri. Setelah Stormbringer dirilis pada akhir tahun 1974, kurang dari lima bulan kemudian (april, 1975), Ritchie Blackmore meninggalkan band yang pernah dibesarkan dan membesarkannya dalam 6 tahun awal karir bermusiknya.

**
Setelah hengkang dari Deep Purple, Blackmore kemudian dikenal sebagai gitaris dan ikon dari supergroup rock & heavy metal berpengaruh berikutnya, Rainbow. Bersama Rainbow, Blackmore mulai menulis komposisi-komposisi baru yang sedikit-banyak berbeda corak musik dengan Deep Purple. Melalui aransemen-aransemen yang didominasi oleh permainan gitar dan lengkingan khas Ronnie James Dio, vokalis pertama Rainbow, Blackmore berupaya mengungkapkan kecintaannya akan musik klasik dan rock secara bersamaan. Berangkat dari petikan Blackmore yang kental bernuansa klasikal, ditopang lirik-lirik Dio yang mengangkat tema-tema abad pertengahan, cita rasa musik Rainbow-pun segera menjadi sesuatu yang baru dan dianggap ‘wah’ pada awal kemunculannya.

Rainbow tidak hanya tampil jantan dan keras, sebagaimana layaknya kelompok-kelompok musik rock yang tampil pada dekade tersebut. Kelompok yang namanya diambil dari nama bar tempat berkumpulnya para musisi rock dan groupies di Hollywood ini, selain berhasil mempertahankan karakter musik rock yang keras dan jantan, berhasil pula menampilkan sosok musik rock yang gagah, berwibawa dan harmonic. Sebuah corak yang kemudian menginspirasi banyak kelompok-kelompok musik rock dan metal setelahnya, seperti : Dio, Yngwie Malmsteen’s Rising Force, Helloween, Cacophony, Gamma Ray, Stratovarius, Hammerfall, Rhapsody, Symphony X, Dragonforce atau Kamelot. Corak rock a la Rainbow-lah yang mengilhami tercetusnya aliran Power Metal, Symphonic Metal, atau aliran yang di tahun 2000-an dikenal dengan Progressive Metal. Nomor-nomor paling esensial dari Rainbow, yang dianggap paling berpengaruh terhadap perkembangan aliran-aliran tersebut diantaranya adalah : “Long Live Rock N Roll”, “Kill The King”,“Stargazer”,“Gates of Babylon”,”Man on The Silver Mountain” dan “Difficult To Cure”. Sebagai catatan, “Difficult To Cure” adalah komposisi instrumental yang merupakan dan diakui sendiri oleh Blackmore, sebagai puncak kreatifitasnya. Dalam aransemen lagu instrumental yang termuat pada album bertajuk sama, “Difficult To Cure” (1981) ini, Blackmore menyelipkan “Symphony No.9” dari Ludwig Van Beethoeven, yang merupakan komposisi klasik favoritnya. Nomor instrumental “Difficult To Cure” ini disebut-sebut oleh kalangan kritisi sebagai eksperimen neo-classical metal pertama, sebelum seorang gitaris terkemuka lainnya, Yngwie Johan Malmsteen, menulis dan memainkan komposisi yang dianggap komposisi neo-classical metal terbaik sepanjang masa,”Far Beyond The Sun”. (eap)

SHREDDER PERTAMA DIMUKA BUMI



Saat King Of Pop, Michael Jackson, menemui ajalnya pada 25 Juni 2009, saya terkenang waktu kerap menyimak lagunya, “Beat It”, yang jadi top request di radio-radio terkemuka kota Bandung sekitar tahun 1983. Sesuai dengan judulnya, lagu itu memang betul-betul nge-beat dan enak didengarkan, terutama dikala senggang pada minggu pagi. Yang saya paling suka dari lagu itu, bahkan melebihi kesukaan saya pada lengkingan vokal Michael Jackson adalah, permainan solo guitar pada bagian pertengahan lagu. Solo guitar yang melengking-lengking dan penuh eksplorasi sound dalam lagu tersebut, adalah solo guitar pertama yang membuat saya berdecak dan berbisik,”Wah, jago sekali yang maen gitarnya !”

Kira-kira setahun kemudian (1984), setelah peringkat “Beat It” mulai turun di top request radio-radio kota Bandung, tembang “Jump” dari Van Halen merangkak naik ke urutan teratas di berbagai chart radio. Intro keyboard di lagu yang termuat di album 1984, album ke 6 kelompok asal Pasadena, California, Amerika Serikat itu, mengiringi hari minggu pagi saya yang biasanya diisi dengan aktivitas mencuci kendaraan keluarga. Intro-nya begitu khas dan brilian, hentakan drumnya memancing semangat dan dinamis, bagian solo guitar-nya begitu full technique dalam bungkusan tone guitar yang tak ada duanya. Mendengar solo di lagu “Jump” tersebut, saya sampai berandai-andai, ketika besar kelak bisa sejago Eddie Van Halen, sang gitaris yang memainkannya. Ya, saya kira, orang yang tak paham sama sekali soal permainan gitarpun bakal berpendapat : Eddie Van Halen adalah seorang maestro.
**
Eddie Van Halen, yang terlahir dengan nama Edward Lodewijks Van Halen, adalah anak kedua dari pasangan Jan Van Halen, pria blasteran Belanda-Swedia, dan Eugenia Van Beers, seorang wanita yang aslinya berasal dari Indonesia. Berada dalam pengasuhan seorang ayah, Jan Van halen, yang dikenal sebagai saksofonist dan pemain klarinet musik kamar, sedari dini gitaris yang lahir di Amsterdam, pada 26 januari 1955 itu, telah berkenalan dengan berbagai instrumen musik. Pada masa-masa pengenalan terhadap instrumen musik itu, Jan mendorong Eddie dan kakak kandungnya, Alexander Arthur Van Halen (kelak dikenal sebagai Alex Van Halen, drummer Van Halen), untuk secara khusus mempelajari dan memperdalam teknik classical piano. Bakat besar kakak-beradik Van Halen ini segera mengemuka kehadapan publik, terutama disaat mereka memenangkan berbagai kontes piano klasik, setelah mereka sekeluarga menetap di Pasadena, California, Amerika Serikat (1962). Kepiawaian Van Halen bersaudara dalam memainkan komposisi klasik di atas tuts piano itulah, yang menjadi dasar dan bekal berarti bagi mereka, dalam mencapai posisi puncak di blantika musik rock dan heavy metal, disaat mereka lepas dari masa remaja.

Pada tahun 1964, dua tahun setelah Jan Van Halen sekeluarga menginjakkan kakinya di Amerika Serikat, British Invasion melanda dunia permusikan negeri Paman Sam. Musik pop, beat dan rock n roll buah karya kelompok dan musisi asal Inggris, menjadi sangat populer dan digemari secara luas, oleh masyarakat penikmat musik di negeri tersebut. Diantara kelompok atau musisi yang sukses menginvasi Amerika itu adalah : The Animal, The Beatles, The Hollies, The Kinks, The Who, The Rolling Stones, Manfred Mann Earth Band, The Cream dan Moody Blues. Eddie Van Halen- yang baru berusia 10 tahun ketika itu- ikut terpesona oleh corak musik daratan Inggris, yang merangsang penikmatnya untuk berdansa dan bergoyang, sepanjang suksesnya menginvasi Amerika medio 1963-1966 itu. Eddie kemudian beralih mempelajari drum, yang menurutnya lebih bisa mewakili gairah dan selera bermusiknya, yang cenderung lebih nge-pop dan dinamis. Memainkan komposisi klasik dibelakang acoustic piano menjadi sesuatu yang membosankan bagi Eddie, sehingga ia memutuskan untuk serius melatih keterampilan drumming-nya kepada Arty Gomez, guru musik disekolahnya, Lincoln Heights. Sementara Eddie melatih keterampilannya menggebuk drum-kit, Alex, sang kakak, memilih untuk melatih keterampilannya memetik dawai gitar. Untuk urusan gitaris, kebetulan saja, kakak-beradik yang terpaut dua tahun jarak usia ini, mempunyai idola masa kecil yang sama. Konon, mereka sama-sama mengidolakan Dave Davies, gitaris kelompok The Kinks, yang tenar ke seantero Inggris dan Amerika karena beberapa single hits-nya, seperti : “You Really Got Me” dan “Long Tall Sally”. Kekaguman Eddie dan Alex pada band dan musisi masa kecilnya itu, mereka ungkapkan dengan cara merekam ulang hits The Kinks, “You Really Got Me”, yang kelak mereka rilis ulang dalam album debut Van Halen, pada tahun 1978.

Hari demi hari dilalui Eddie dan Alex, demi melatih keterampilannya teratas alat musik masing-masing. Suatu saat, Alex memainkan drum solo dari lagu hits instrumental The Surfaris, Wipe Out, dihadapan sang adik. Eddie tercengang menyaksikan kepiawaian Alex meniru permainan solo Ron Wilson, drummer kelompok musik yang lagunya kerap menjadi anthem para peselancar di California tersebut. Menyimak drumming skill sang kakak yang menurutnya mengagumkan, Eddie memutuskan untuk bertukar alat musik dengan Alex. Fase inilah yang menandai awal dari melesatnya bakat kakak-beradik Van Halen itu, sebagai spesialis gitar dan drum di era yang menjembatani musik rock tahun 70-an dengan rock 80-an. Eddie-pun kian tekun melatih kemampuannya memetik dawai gitar. Apalagi, ketika sang Ibu, Eugenia, menghadiahinya sepucuk gitar elektrik saat berusia 12 tahun.

Dua tahun semenjak sang Ibu menghadiahi gitar elektrik pertamanya, Eddie sudah mampu memainkan beberapa nomor blues, terutama solo-solo gitaris The Cream, Eric Clapton. Selama dua tahun itu ia melewatkan waktunya dengan mengunci diri didalam kamar, sekadar untuk melatih jari-jarinya memainkan solo gitaris yang juga legenda musik rock tersebut. Pada usia 14 tahun, Eddie sudah mampu memainkan solo-solo Clapton pada lagu-lagu seperti : “Wrapping Paper”, “I Feel Free”, “N.S.U”, “I’m So Glad” dan “Toad”, yang kini tercatat sebagai karya klasik yang besar pengaruhnya bagi para musisi, khususnya gitaris di akhir 1960-1970-an. Menjejaki masa remaja, Eddie mulai berkenalan dengan lebih banyak corak permainan dari gitaris-gitaris rock ternama, yang termasuk satu angkatan sebelum dirinya. Diantara sekian banyak gitaris yang ia serap ilmu, teknik dan performanya, yang dianggap paling berpengaruh pada style seorang Eddie Van Halen menurut para kritikus adalah : Brian May (Queen), Jimi Page (Led Zeppelin), Allan Holdsworth (gitaris/tokoh aliran Fusion Jazz) dan Ronnie Montrose (Montrose). Selama 10 jam sehari, Eddie yang kala itu masih belia, mengunci diri dalam kamarnya untuk mempelajari jurus-jurus andalan para virtuoso rock n roll dunia. Ketika ada bagian tertentu yang tidak ia pahami, Eddie menyesuaikannya dengan teknik yang telah ia kuasai. Tanpa disengaja, cara Eddie mengatasi kendala dalam meng-copy paste teknik para gitaris yang ia gandrungi itu, malah membentuk karakter khasnya sendiri.
**
Berbekal keterampilan dan semangat menggebu-gebu untuk menjadi seorang rockstar, Eddie Van Halen mendirikan kelompok musik Mammoth, saat menapaki usia 17 tahun. Bersama dengan sang kakak, Alex Van Halen pada drum dan Mark Stone pada bass, Eddie menyanyikan lagu-lagu rock cover version maupun karya asli, sambil beraksi memainkan gitar elektriknya. Sebagaimana ketika ia benci berlama-lama duduk dibelakang piano akustik, Eddie-pun kemudian mengaku merasa frustasi jika harus bernyanyi sambil memainkan gitar. Kegusarannya diperparah oleh kewajibannya untuk membayar mahal sewa amplifikasi- yang besarannya 15 dollar per malam- kepada pemilik penyewaan sound system yang sebaya umurnya, David Lee Roth. Eddie akhirnya memutuskan untuk menarik David sebagai vokalis (1974), yang berarti juga menghemat biaya amplifikasi yang mesti disewa. Setelah resmi menjadi bagian dari Mammoth, tak hanya membebaskan biaya sewa amplifikasi, David mengajukan usul brilian untuk mengganti nama kelompok musik mereka menjadi Van Halen. “Saya kira nama keluarga Eddie dan Alex itu kedengarannya cool. Gampang diingat dan keren,”alasan David Lee Roth kelak, saat ia melakukan interview pasca merilis album debut kelompok mereka, Van Halen (1978).

Bersama Van Halen, aksi-aksi Eddie mulai menarik perhatian publik yang lebih luas. Dari publik rock Los Angeles hingga akhirnya rakyat metal seluruh negara bagian California, mulai memperbincangkan kepiawaian Eddie Van Halen muda yang nyaris menyamai kepiawaian para gitaris rock yang lebih senior. Pada masa-masa inilah, Eddie mengembangkan teknik “two-handed tap” (populer di Indonesia dengan sebutan tapping saja), yang kemudian menjadi ciri khasnya disaat beraksi diatas pentas-pentas rock. Dengan pilihan sound, kecepatan jari, melodi yang nge-pop dan teknik permainan yang revolusioner serta eksploratif, Eddie Van Halen diakui sebagai gitaris muda paling sakti diantara gitaris-gitaris muda scene musik Los Angeles.

Popularitas Eddie Van Halen berbanding lurus dengan popularitas kelompok Van Halen yang kian merebut perhatian publik Amerika. Pada tahun 1977, Paul Stanley, pendiri kelompok rock legendaris, Kiss, menyaksikan penampilan Eddie dan kawan-kawan saat beraksi di Starwood Club, Los Angeles, untuk pertamakali. Pada pertunjukan malam berikutnya di klub Gazzari’s, Hollywood, Stanley mengajak serta Gene Simmons, bassist Kiss, untuk menyaksikan aksi Van Halen. Simmons, yang selain mendunia sebagai bassist Kiss dan gaya lidah melet-nya, dikenal juga sebagai pencari bakat dan produser musik utusan Warner Brothers Record. Tertarik dengan aksi musikal yang disajikan Eddie dan Van Halen-nya, Simmons lantas memboyong mereka ke New York, untuk menjalani proses penggarapan demo di Electric Lady Studio, sebuah studio rekaman termasyhur yang didirikan oleh “Bapak Gitaris Rock Dunia”, Jimi Hendrix, pada tahun 1970. Dibawah arahan Simmons, Van Halen merekam 13 buah lagu demo-tape di studio yang terletak di sebelah barat lokasi bisnis terkemuka dunia, Lower Manhattan. Diantara demo-tape yang sempat direkam, “House of Pain” dan “Running With The Devil” adalah nomor-nomor yang kemudian mendunia dan jadi evergreen sampai sekarang. Namun, fasilitas dari Simmons dan peralatan di studio yang sempat pula digunakan oleh The Rolling Stones dan AC/DC itu, ternyata tidak cukup untuk memuaskan hasrat bermusik Eddie Van Halen. Ia merasa lebih nyaman untuk menggunakan peralatan sendiri, daripada menggunakan peralatan yang tersedia di Electric Lady. Hasil demo-tape yang direkam di studio itu dinilai Eddie terlalu kaku, terutama pada bagian part gitarnya. Kongsi Van Halen dengan Gene Simmons-pun akhirnya pecah, gagal melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, setelah Simmons menginginkan Van Halen berganti nama menjadi Daddy Shortlegs. Seluruh anggota Van Halen menolak permintaan Simmons, apalagi setelah menyimak art work Daddy Shortlegs, yang menurut Eddie dan kawan-kawannya sama-sekali tidak mewakili semangat dan karakter mereka. Demo-tape yang dikerjakan di Electric Lady Studio itupun akhirnya tidak pernah sampai ke para petinggi Warner Bros, ketika Eddie dan Van Halen-nya memilih untuk kembali ke Los Angeles.

**

Sepulangnya ke Los Angeles, Van Halen kembali ke pekerjaan rutinnya sebagai home band di Starwood Club yang berlokasi di kawasan hiburan termasyhur Hollywood. Aksi impresif mereka dihadapan small crowd yang memadati Starwood, tak berapa lama dari kepulangan mereka itu, kembali mengundang perhatian serius dari tokoh industri musik terkemuka Amerika. Adalah Mo Ostin dan Ted Templeman- yang ironisnya sama seperti Gene Simmons bekerja untuk Warner Bros- yang kemudian tertarik dengan materi lagu dan performa Eddie dan kelompok Van Halen-nya. Setelah kurang lebih satu minggu menikmati aksi ciamik Van Halen yang didominasi oleh permainan gitarisnya yang dahsyat, Ted Templeman meyakinkan Mo Ostin- yang saat itu menjabat sebagai salah seorang pimpinan di Warner Bros Record- agar segera menyodorkan kontrak rekaman pada Eddie dan kawan-kawan. Tidak seperti Gene Simmons yang mengajak Van Halen untuk menggarap demo-tape langsung di kota tempat Warner Bros bermarkas, Templeman memboyong Eddie dan Van Halen-nya untuk merekam materi lagu secara intensif di Sunset Sound Recorders Studio, Hollywood, California, mulai pertengahan september hingga oktober 1977. Di studio yang pernah digunakan kelompok psychedelic rock, The Doors, untuk merekam album pertama dan keduanya itu, Templeman membimbing para personil Van Halen secara spartan dalam durasi kegiatan rekaman yang betul-betul efisien dan efektif. Berbeda dengan Simmons yang sempat masuk terlalu jauh kedalam konsep orisinil Van Halen, Templeman justru membebaskan Eddie dan kawan-kawannya untuk mewujudkan karya yang sesuai dengan cita rasa mereka. Dengan penuh pengertian Templeman memperkenankan Van Halen untuk memasukkan lagu “You Really Got Me” dari The Kinks, padahal alasan dibalik pencantuman lagu itu di album pertama Van Halen adalah : hanya untuk membuat malu kelompok Angel, saingan mereka di scene musik Los Angeles, yang punya rencana memasukkan lagu yang sama di album debutnya.

Ide Templeman yang paling brilian dalam produksi album pertama Van Halen adalah, memasukkan nomor instrumental “Eruption” sebagai lagu pembuka. Nomor instrumental ini tidak hanya menandai awal popularitas Van Halen, namun juga menandai era Guitar Shredder- era dimana para gitaris rock habis-habisan mengeksplorasi teknik permainan, fungsi equipment dan karakter sound gitarnya. Nomor “Eruption” ini juga menjadi nomor penahbisan bagi Eddie Van Halen, sebagai seorang virtuoso baru selepas era Jimi Hendrix, Eric Clapton, Jimi Page dan Ritchie Blackmore. Nomor instrumental yang menempati urutan nomor 2 dalam 100 Greatest Guitar Solo’s versi Guitar World Magazine itu, menurut Eddie Van Halen, sebetulnya bukan bagian dari materi album yang direncanakan. Templeman-lah yang memaksa lagu yang dimainkan dalam rangka pemanasan itu, agar masuk sebagai lagu pembuka debut album Van Halen, sebelum lagu “You Really Got Me”. Mengenai proses rekaman “Eruption” yang kebetulan itu Eddie Van Halen mengatakan, “Saya tidak memainkan lagu itu secara benar. Ada beberapa kesalahan terutama di bagian akhirnya. Setiap saya mendengarkan lagu itu sekarang, batin saya selalu berbisik : Ah, saya bisa melakukan lebih baik dari itu.”

Sumbangan terbesar yang diberikan Eddie Van Halen pada dunia musik rock lewat “Eruption”-nya adalah, sebuah teknik permainan gitar yang lazim disebut : finger tapping. Pada nomor instrumental “Eruption” ini, Eddie menggunakan jari-jari kedua tangannya untuk memetik dawai-dawai pada bagian guitar neck. Tone yang dihasilkan dari teknik finger tapping a la Eddie Van Halen ini terdengar begitu rumit dan fantastis, tanpa meninggalkan harmonisasi dan kecepatan. Teknik finger tapping ini sendiri adalah perkembangan dari teknik pick tapping, yang sebelum era Van Halen telah dimainkan oleh banyak gitaris rock. Steve Hackett menggunakan teknik ini pada tahun 1971, pada saat Genesis merilis album Nursery Crime. Duane Allman dari The Allman Brothers Band dan tokoh musik kontemporer, Frank Zappa, juga pernah memainkan teknik tersebut. Adapun salah satu gitaris idola Eddie Van Halen, Brian May dari Queen, menggunakan teknik tapping pada nomor “It’s Late” dari album News Of The World. Tahun 1983, dalam wawancaranya dengan majalah Guitar Player May mengatakan,”Saya mencuri teknik tersebut dari Billy Gibbons, gitaris ZZ Top.” Lain May, lain pula pendapat Ritchie Blackmore. Berkenaan dengan penggunaan pick atau jari dalam teknik tapping, Gitaris Deep Purple ini mengatakan bahwa ia dan Jimi Hendrix pernah menyaksikan Harvey Mandel, memainkan teknik finger tapping, bukan pick tapping, dalam sebuah show di klub Whisky A Go-Go pada tahun 1968. Menurut Blackmore, para gitaris jazz bahkan sudah biasa memainkan teknik tersebut sejak awal kemunculan aliran ini di New Orleans, Amerika Serikat, pada medio 1950-an.

Untuk mengetahui darimana sebetulnya Eddie Van Halen mengembangkan teknik finger tapping tersebut, para kritikus dan pemerhati musik sempat meneliti foto, demo dan bootleg Van Halen yang direkam sebelum tahun 1976. Tapi mereka tidak pernah mendapatkan satupun momen yang mengindikasikan, bahwa Eddie pernah memainkan teknik revolusioner itu pada tahun-tahun sebelum debut album Van Halen dirilis. Ace Frehley, gitaris dan pendiri Kiss, sempat mengklaim bahwa teknik finger tapping Eddie itu berasal dari dirinya. Menurut Frehley, Eddie memraktikkan teknik tersebut sebelum pembuatan demo tape yang disponsori oleh Gene Simmons, setelah melihat Frehley memainkan teknik pick tapping tersebut saat rehearsal di studio. Ace Frehley sendiri pernah menampilkan teknik pick tapping tersebut pada khalayak umum, disaat Kiss tampil membawakan nomor hits-nya, She, dalam acara televisi The Midnight Special yang disiarkan secara live oleh stasiun televisi NBC.

Eddie Van Halen sendiri mengatakan bahwa teknik finger tapping yang ia mainkan, dikembangkan dari teknik pick tapping-nya Jimmy Page. “Saya mendapatkan ide tapping ini setelah menyaksikan apa yang dilakukan Jimmy Page pada solo di nomor legendaris Led Zeppelin, Heartbreaker. Saya melihat Page memainkan teknik tersebut dengan menggunakan pick. Saya lalu berpikir untuk menggunakan jari dalam memraktekkan teknik tersebut. Dan, setelah berlatih secara intensif akhirnya saya bisa melakukannya dengan baik.” Saat melakukan finger tapping ini, Eddie biasa mengepit pick-nya diantara jari jempol atau diantara jari tengahnya. Teknik Eddie ini kemudian tidak hanya diadopsi oleh gitaris rock dan metal di Amerika ataupun Eropa saja. Corak permainannya yang menandai awal dari era Guitar Shredder, yaitu suatu era dimana para gitaris rock meleburkan kecanggihan teknik, kegarangan sound dan kecepatan jari dalam permainannya, dipelajari dan diadopsi oleh banyak gitaris rock dari berbagai belahan dunia. Diantara gitaris rock luar Amerika dan Eropa yang kemudian menerapkan finger tapping secara intensif ini adalah Akira Takasaki, pionir supergroup beraliran speed & heavy metal asal Jepang, Loudness. Gitaris rock paling berpengaruh dikawasan Asia ini, tercatat pernah memainkan teknik yang kerap membuat peminat rock berdecak kagum itu dalam nomor-nomor hits Loudness, seperti : “Soldier of Fortune”, “Demon Disease”, atau “Red Light Shooter”. Style seorang Eddie Van Halen secara menyeluruh juga sampai memengaruhi corak permainan gitaris rock kenamaan dalam negeri, seperti Ian Antono dan Eet Syahranie. Gitaris rock senior Indonesia, Ian Antono, tampak banyak menyerap style Eddie terutama dalam album ke-3 kelompok God Bless, Semut Hitam. Sementara Eet Syahranie, gitaris rock papan atas Indonesia yang mulai dikenal publik pada awal 80-an, secara sporadis mengadopsi style gitaris berdarah Belanda-Indonesia ini pada album pertama kelompok Edane, The Beast.

Aksi Eddie Van Halen yang memukau lewat nomor instrumental “Eruption”-nya, ikut mewarnai corak lagu-lagu non-instrumental Van Halen yang disebut-sebut khalayak musik sebagai revolusi dalam Modern Rock N Roll Show. Kreasinya yang impresif dan mendobrak itu tersebar mulai dari nomor hits pertama Van Halen, Runnin’ With The Devil, ‘Aint Talkin’ About Love, Jamie’s Crying dan You Really Got Me (album Van Halen), Dance The Night Away dan Beautiful Girls (album Van Halen II), And The Cradle Will Rock dan Everybody Wants Some (album Women and Children First), Mean Street dan Unchained (album Fair Warning), Oh, Pretty Woman, Dancing In The Street, Secrets, The Full Bug dan Little Guitars (album Diver Down). Dari nomor-nomor hits ini, yang kemudian mengemuka tidak hanya kecanggihan permainan seorang Eddie Van Halen. Hits-hits Van Halen yang rata-rata punya beat keras namun riang itu, juga menyajikan lengkingan vokal David Lee Roth, yang tidak hanya bertenaga namun juga mempunyai karakter tersendiri.(eap)