Friday, November 20, 2009

Jikunsprain : When Rush Meet Sabbath


Orang Bandung. Besar di Bandung. Pernah main band di Bandung. Dan pertamakali pentas lalu kenalan dengan batu-batu yang sengaja dilemparkan penonton ke atas panggung, juga di kota Bandung. Menilik sejarah diri, ya, sudah tentu saya lebih bangga sama gitaris-gitaris rock kota Bandung daripada kota-kota lainnya. Ada banyak shredder sakti dari kota kelahiran saya, yang sudah tandang-makalangan di jagat musik rock Indonesia. Sebut saja : Babon (Rudal), Iram (U’Camp), Bengbeng (Pas Band, Air), Baron (GIGI, Baron Soulmate), Ovy (eks U’Camp, /rif) dan Jikun (/rif, Jikunsprain). Seperti juga nama panggung mereka yang unik, masing-masing mereka punya karakter unik. Babon ganas permainan handle-nya, Iram kencang di jalur rock n roll totok-nya, Bengbeng mencoba segala cara untuk mengoptimalkan gitar elektrik, Baron fleksibel keluar-masuk berbagai aliran musik, Ovy tetap kalem memainkan musik sangar, dan Jikun melaju pasti di jalur metal klasik yang ekspresif.

Karya-karya baru mereka bergiliran sampai di meja ruang hobi saya, sejak dari era Babon memainkan Dara Pusaka-nya, hingga era Bengbeng memainkan nomor-nomor paling progresif dalam sejarah musik rock Indonesia, seperti Deskripsi dan Anak Kali Sekarang. Setelah masa-masa itu, karya-karya baru mereka bisa dibilang standar-standar saja- sebatas enak didengar, asyik dipakai goyang- sampai kemudian album Indie Jikun, yang punya tajuk Sprained (2009) sampai di meja ruang hobi saya.

Sebelum menyimak materi albumnya, saya tertarik dengan font nama kelompok yang diusung Jikun sebagai label solo kariernya, Jikunsprain. Font Jikunsprain mirip dengan font Iommi, kelompok musik yang dibentuk Toni Iommi, gitaris Black Sabbath, ketika Lord Of Metal Guitar tersebut merintis solo kariernya. Karena berpikir semangat Iommi telah merasuk kedalam materi Jikunsprain, maka sebelum album itu diputar saya sudah menduga-duga, lagu-lagu didalamnya pasti memuat riff-riff dan melodi nan sangar a la Toni Iommi.

**
Album Sprained dibuka dengan nomor bertajuk Inggris, Collision Course. Nomor ini dibuka dengan intro, yang mengingatkan saya pada nomor-nomor legendaris kelompok Rush, seperti : Finding My Way atau Red Barchetta. Nomor rock instrumental ini dibalut dengan sound gitar distorsif yang tebal- to-the point menunjukkan, bahwa yang diusung Jikunsprain dalam repertoarnya kali ini adalah modernisasi sound Heavy Metal. Sebagai catatan, modernisasi yang dilakukan Jikun punya kemiripan warna, dengan corak yang dipilih kelompok Iommi-Hughes disaat menggarap album Fused. Bila sempat menyimak sound yang dipilih Toni Iommi untuk nomor-nomor seperti : Dophamine, What’s Your Living For atau Wasted Again yang termuat dalam kolaborasi albumnya dengan Voice Of Rock, Glenn Hughes itu, para penikmat metal akan sepakat : Jikun sangat terpengaruh pilihan sound Toni Iommi di era 2000-an. Sebagaimana ciri rata-rata shredder dalam dan luar negeri, Jikun juga tak lupa memainkan appregio cepat pada bagian bridge dan outro nomor Collision Course ini. Solo pada bagian outro itu tidak hanya tuntas menutup lagu pertama, namun juga punya fungsi sebagai bridging menuju nomor kedua yang diberi tajuk : Nge-Top.

Nge-Top, berbeda dengan rata-rata materi album debut Jikunsprain yang mengusung genre Instrumental Rock atau Heavy Metal, menampilkan Megadalle, yang dulu sempat dikenal sebagai vokalis Tic Band, dengan nama panggung : Ogi. Vokal pria kelahiran Surabaya 14 April ini, cukup apik menghidupkan materi Nge-Top yang secara tempo berusaha menjadi nomor Metal yang nge-beat. Megadalle punya warna suara yang bisa dibilang komersial, dan punya kans untuk diterima tidak hanya oleh penggemar musik cadas saja. Dari 7 nomor yang disajikan dalam debut album Jikunsprain, Megadalle tercatat mengisi 2 nomor lain selain Nge-Top. Yaitu, di nomor balada Untuk Dirimu dan Throwing Life. Pada dua nomor balada inilah, corak suara Megadalle menunjukkan potensi yang sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk sisi komersialisasi album Sprained. Sayang, baik secara lirik maupun pilihan beat, terutama untuk nomor balada, Untuk Dirimu, sepertinya dikerjakan separuh hati oleh yang punya hajat di album ini, Jikun, yang punya reputasi sebagai musisi atau shredder yang “rock abis”. Keberadaan lagu Untuk Dirimu, yang ditulis Jikun bersama Pongki “Jikustik” ini, agak terasa mengganggu diantara himpitan nomor-nomor keras yang dominan di album ini.



Nomor Instrumental Rock lainnya, disamping nomor pembuka Collision Course adalah Veincullar Traffic, Carolus Daylight dan Sprained. Veincullar Traffic mewakili corak Instrumental Rock yang sempat populer pada awal hingga akhir 90-an. Ada lick-lick a la Joe Satriani, teknik nge-deep (lagi-lagi) a la Toni Iommi, berikut penggunaan talk-box a la Richie Sambora. Solo pendek pada bagian outro Veincullar Traffic-pun meruapkan kerinduan saya, pada era dimana para guitar shredder menguasai industri musik dan menggaungkan musik rock ke seluruh dunia. Corak yang dipilih Jikun pada nomor Veincullar Traffic, dipertegas lagi pada nomor yang menjadi tajuk album ini, Sprained. Solo pada bagian intro dan outro lagu Sprained ini agak lebih panjang durasinya bila dibandingkan dengan nomor-nomor instrumental maupun non-instrumental di album ini. Lewat Sprained, lagu yang terilhami dari sakit tulang jari yang sempat dialami Jikun dalam penggarapan album solo pertamanya ini, Jikun berusaha total menampilkan kreasi gitar yang turun-temurun menjadi ciri khas para gitaris hard rock dan heavy metal. Ada riff-riff tebal dan tajam sebagai pembuka, ada appregio dibalut sound digital delay dan penggunaan pedal, juga ada kecepatan dan penggunaan pick-tapping yang ekstrem saat memainkan solo.

Kendati rata-rata nomor Instrumental Rock di album ini bisa dibilang istimewa dan layak dengar, namun nomor paling layak dengar versi pribadi, atau nomor favorit saya di album Sprained adalah nomor instrumental berjudul Carolus Daylight. Nomor tersebut dimainkan dalam tempo sedang, dibalut chording yang akrab di telinga, plus sound distorsif yang tebal berikut bagian solo yang nge-blues. Nuansa yang dihadirkan Jikun lewat permainannya pada Carolus Daylight adalah suasana pagi yang cerah. Begitu akrab, hangat, dinamis dan menggugah mood. Dentuman bass sang bassist,Oktaf, dan ketukan drum sang drummer, Bima, di nomor itupun ikut menegaskan, chemistry antara para personil Jikunsprain yang terjalin dalam seluruh materi instrumental album debut Jikun ini.

**

Dari pengalaman album pertama, Jikun sebagai chief of project Jikunsprain harusnya sudah mengenali kelemahan dan kelebihan kelompoknya. Menurut saya, kelebihan yang dimiliki Jikun dari album pertamanya adalah : ia punya vokalis yang bagus dari segala sisi (sisi komersialitas maupun idealisme), ia punya pemain bass dan drum yang cukup solid mengawal ritme, dan iapun punya konsep yang bagus di nomor-nomor instrumental. Adapun kelemahannya hanya : kurang pas ketika memainkan nomor balada.

Dari pengalaman album pertama saya berharap, di album kedua Jikunsprain kelak Jikun bisa lebih tegas memilih konsep, apakah hendak memainkan full nomor instrumental (seperti John Paul Ivan), atau bermain musik dalam beat cepat, beat sedang, mirip dengan Andra dan The Backbone-nya. Kalau dalam hemat saya, Jikunsprain lebih asyik jikalau memilih alternatif kedua, yaitu : memainkan musik rock yang keras, dalam tempo sedang, juga dalam tempo cepat. Jikun sebaiknya berpikir dua kali untuk memasukkan materi balada bertempo pelan seperti Untuk Dirimu, yang kurang menyatu karakternya dengan band secara keseluruhan. Lagu Nge-Top bisa dijadikan semacam blue print, jikalau Jikun kelak sepakat dengan pendapat saya, memilih untuk bermain rock dalam tempo cepat dan tempo sedang. Lewat Nge-Top Jikunsprain tetap bisa bermain keras, dan bisa juga tetap Nge-Pop, sebab musik yang keras itu diisi oleh vokal Megadalle, yang bisa dibilang crossing antara musik rock yang idealis dan warna pop yang komersil. Jika konsep yang saya sarankan ini terealisir, ada peluang Jikunsprain bisa sedikit berkompromi dengan pasar, tanpa mengorbankan konsep musiknya yang konon pengejawantahan dari : pertemuan Rush dengan Black Sabbath.(rockabilia.blogspot.com)(eap)

Wednesday, November 18, 2009

Billy Sheehan : Best Rock Bass Player Sepanjang Masa



Tidak seperti seorang bassist kelompok Jazz, seorang bassist band rock biasanya kurang mendapat perhatian dari audiens-nya. Padahal rata-rata band rock juga punya bassist-bassist yang canggih, yang tidak hanya mampu mengawal ritme melainkan mampu memberi warna pada musik olahan kelompoknya. Sejarah musik rock memang pernah mencatat beberapa nama kondang. Namun bila dibandingkan dengan popularitas personil lain, terutama gitaris atau vokalisnya, seorang bassist kelompok musik rock jarang mendapat ekspos. Dari tahun 1970-an, ranah musik rock sempat mencuatkan nama John Entwistle. Tapi tetap saja, ia kalah pamor dari Pete Townsend, rekannya yang gitaris di The Who. Seangkatan dengan Enwistle ada juga John Paul Jones dari Led Zeppelin. Tapi meskipun permainannya handal dan skill-nya matang, tetap saja ia berada dibawah popularitas Jimi Page yang gitaris atau bahkan John Bonham, sang penabuh drum.

Memang, tidak semua bassist handal kalah pamor dari instrumentalis lainnya. Diantara mereka yang sedikit itu, terdapat nama : Geddy Lee (Rush), Paul McCartney (The Beatles), juga Gordon Summer a.k.a Sting dari The Police. Hanya saja, banyak juga yang bilang, popularitas mereka itu dikarenakan selain bermain bass, merekapun memang nyambi atau jadi lead-vocalist kelompoknya. Lantas, apakah ada bassist yang benar-benar murni bermain bass, handal permainannya, menonjol karakternya, sehingga punya pamor dan sama-sama populer dengan instrumentalis lainnya ?

Mereka yang beranjak remaja pada awal 90-an, terutama mereka yang berasal dari Indonesia, akan menjawab satu nama saja : Billy Sheehan dari kelompok Mr.Big, ketika disodori pertanyaan diatas. Bassist yang tahun 2009 ini memasuki usia 56 tahun itu, memang tak punya tanding dalam hal kesetaraan skill dan popularitas dari bassist-bassist kelompok musik rock lain pada awal 90-an. Di era kejayaan Hard Rock, Heavy Metal, Glam Rock dan Trash Metal tersebut, memang ada nama-nama bassist rock handal seperti : James LoMenzo (White Lion), David Ellefson (Megadeth), Billy Gould (Faith No More), Jason Newsted (Metallica), Brian Wheat (Tesla), Alec Jon Such (Bon Jovi) atau Nikki Sixx (Motley Crue). Tak ada satupun yang mampu menyetarakan antara skill dan pamor, atau antara karakter dan derajat kepopulerannya dengan personil satu kelompok, dibandingkan Billy Sheehan. Kalaupun ada yang bilang Nikki Sixx juga punya derajat kepopuleran yang sama, namun itu lebih karena penampilan dan sensasi kehidupan pribadi para punggawa Motley Crue, yang memang hingga detik ini menyandang citra :“Bad Boys”. Billy Sheehan jelas berbeda dari Nikki Sixx. Billy populer karena skill dan teknik-nya yang dikenal publik rock sebagai teknik “Lead-Bass”, sampai-sampai karena kehandalannya tersebut ia punya pamor sejajar dengan rekannya di Mr.Big, Paul Gilbert, yang juga tercatat dalam sejarah rock sebagai salah seorang guitar virtuoso. Bahkan, dibanding Eric Martin, sang vokalis dan frontliner Mr.Big, polling salah sebuah majalah online, Rocka-Rolla, menunjukkan : Billy lebih identik dengan Mr.Big dan juga lebih populer. Padahal, lazimnya dalam sebuah kelompok musik, pamor seorang vokalis mengalahkan pamor personil lainnya.

**
Sebagaimana rata-rata musisi bass kenamaan, Billy Sheehan berkenalan dengan musik lewat perantara gitar akustik. Penganut kepercayaan Scientology ini, secara intensif meminjam gitar akustik mirip saudarinya, yang kebetulan jarang dimainkan. Disaat merasa sudah terampil memainkan gitar akustik, Billy mengutarakan niatnya kepada sang nenek, untuk membeli sepucuk gitar elektrik. Hasrat penggemar berat Jimi Hendrix ini ditolak mentah-mentah oleh sang nenek, empu dari rumah tempat Billy menghabiskan masa kecil menuju remajanya. Billy muda yang kendati menggandrungi musik rock namun sangat menghormati orangtua ini, dengan sukarela mengurungkan niatnya, apalagi setelah sang nenek menghardik,”Kalau kamu mau menyimpan gitar listrik di rumah ini, maka langkahi dulu mayat saya !” Selama sang nenek hidup, kenang Billy Sheehan,”...selama itu pula aku menahan niatku membeli gitar listrik.” Tak lama setelah kejadian yang sangat berkesan di hati Billy itu, sang nenekpun meninggal dunia. Sedikit satir dan ironis memang, ketika Billy menggunakan beberapa lembar uang asuransi jiwa sang nenek, untuk membeli gitar listrik pertamanya. Namun tak lama dari itu juga, Billy terpikat model Fender Precision Bass yang digunakan Tim Bogert, bassist senior dari kelompok Vanilla Fudges. Dengan modal sepucuk gitar listrik bekas, ditambah sisa uang asuransi jiwa sang nenek, Billy membeli sepucuk bass elektrik merk Hagstrom yang menurutnya mirip dengan bass milik Tim Bogert, namun sedikit lebih murah harganya.

Ketika jari-jarinya kian kuat dan skill-nya kian mumpuni, Billy membentuk kelompok rock berformat trio bernama Talas, bersama dua rekannya sesama musisi berbakat NYC : Dave Constantino dan Paul Varga. Dave adalah salah seorang gitaris Blues Rock yang sangat disegani di New York bagian barat, terutama setelah ia merilis hits regional, “A Thing Of The Past”, bersama kelompok pertamanya The Tweed, pada tahun 1967. Paul Varga, drummer Talas, juga dikenal sebagai musisi berbakat yang tersohor diseantero regional sebagai “Keith Moon From Western New York”. Trio ini sempat menelurkan dua album yang terhitung sukses untuk lokal Amerika Serikat. Hits yang melegenda di scene Western New York dari dua album mereka itu diantaranya adalah : “See Saw”, “My Little Girl”, “Thickhead” dan “Any Other Day”. Sukses lokal Talas membawa mereka tampil sebagai opening act dari band-band yang lebih senior dan punya reputasi internasional. Diantara band-band yang pernah menggunakan Talas sebagai band pembuka adalah Aerosmith, Manfred Mann, gitaris blues Pat Travers, dan grup proyek solo Joe Perry, gitaris Aerosmith.

Kiprah Talas yang bisa dibilang menjadi jalan pembuka bagi Billy Sheehan, dalam mencapai puncak kariernya sebagai salah satu bassist terbaik di dunia adalah, terpilihnya Talas sebagai grup pembuka tour Van Halen. Momen tersebut digunakan oleh Billy untuk menyerap energi kreatif para personil Van Halen, yang memang terdiri dari instrumentalis dan entertainer berbakat. Saat itu, Billy kerap berdialog dan memerhatikan cara-cara Eddie Van Halen, gitaris Van Halen, dalam menguasai instrumen dan merancang aransemen musik. Billy sering juga bertukar pikiran dengan David Lee Roth, vokalis Van Halen, yang kelak tercatat sebagai salah satu vokalis rock dengan performa terbaik di dunia. Pengalaman bersama Van Halen-lah yang kemudian membuat bassist jangkung berjuluk “Billy Boy” ini, punya karakter berbeda dari rata-rata bassist rock sebelumnya, sejamannya ataupun sesudahnya.

Differensiasi dan ciri pertama yang membuat Billy bisa dibilang lebih unggul dari bassist rock lainnya adalah : repertoarnya yang mampu mengawinkan unsur perkusif dengan melodik (chording). Sementara bassist yang tenar sebelum dan sesudah Billy, kebanyakan hanya menggarap atau terpatok pada unsur bassist sebagai pengawal ritem yang perkusif. Ciri kedua yang membuat penggemar berat Jimi Hendrix ini layak disebut sebagai bassist virtuoso adalah : kepiawaiannya memainkan teknik two-handed tapping, yang sebelumnya hanya dikenal atau digunakan sebagai teknik permainan gitar elektrik. Bila Eddie Van Halen yang gitaris mengembangkan teknik ini dari Jimi Page, maka Billy mengembangkan teknik two-handed tapping for bassist ini dari Billy Gibbons, gitaris ZZ Top. Selain dua keunggulan tersebut, kepiawaian Billy diindikatori oleh kehandalannya dalam menerapkan teknik three-finger picking dalam mencabik dawai bass-nya. Ia juga, berbeda dengan bassist-bassist lain, kerap menyajikan sound feedback yang terkontrol, terutama dalam aksi-aksinya diatas pentas. Serupa dengan teknik two-handed tapping, kontrol feedback inipun sebelumnya hanya digunakan oleh para gitaris, bukan para pemain bass.

Kehandalan Billy yang terdokumentasi dalam album, video maupun aksi pentas grup-grup yang pernah diperkuatnya seperti Talas, David Lee Roth Band, Mr.Big dan Niacin, membuat ia berkali menduduki peringkat teratas dalam polling “Best Rock Bass Player” majalah bergengsi Guitar Player. Tak tanggung-tanggung, Billy lima kali terpilih sebagai “Best Rock Bass Player”, dari Readers Poll majalah tersebut. Prestasi itu, dalam sejarah Readers Poll yang diselenggarakan Guitar Player, hanya bisa disamai oleh para legenda rock lainnya, seperti : Jimi Hendrix, Paul McCartney, Geddy Lee bassist Rush, dan Eddie Van Halen. Disamping penghargaan Guitar Player, pada 27 Januari 1999, Billy mencetak tangan dan membubuhkan tandatangannya pada media handprints Hollywood Rockwalk yang terletak di bagian Guitar Center, Hollywood, Los Angeles. Reputasi Billy tidak hanya dihargai oleh publik Amerika saja. Majalah Player Magazine, juga majalah heavy metal nomor 1 di Jepang, Burrn !, sempat memberikan penghargaan serupa pasca penyelenggaraan Readers Poll untuk bassist rock terbaik. Billy bahkan sempat diundang juga untuk menerima penghargaan khusus dari insan musik Jepang, berikut penampilan spesial di Budokan Arena, Tokyo, sebuah balai konvensi yang kerap dianggap sebagai tempat penahbisan para seniman, khususnya musisi ternama untuk Asia dan Eropa.

**
Setelah karier gemilangnya sebagai instrumentalis di era 80 awal hingga 90 akhir, Billy Sheehan menapaki kariernya di era millenium dengan penampilannya bersama Mr.Big, dihadapan 40.000 audiens yang memadati Osaka Dome, Jepang. Setelah konser yang rekamannya menjadi salah satu best-selling album di era millenium awal itu, Billy mengemas semua talenta, skill dan pengalamannya dalam solo album pertamanya, Compression, yang dirilis pada 25 April 2001. Billy menulis lagu, bernyanyi, memainkan gitar 12-senar juga gitar 6-senar, memainkan bass, serta merancang aransemen perkusi menggunakan software drum programming. Kejutan di album ini, selain materi solo album yang mengetengahkan sisi personal Billy secara total, adalah penampilan Steve Vai dan Terry Bozio dalam lagu “Chameleon”. Hal ini menjadi teramat istimewa bagi para penggemar dan kritikus musik, mengingat momen kolaborasi Billy dan Stevie pada nomor “Chameleon” itu, adalah kolaborasi pertama setelah mereka berpisah dari David Lee Roth Band.

Kiprah solo Billy tidak menyurutkan niatnya untuk terus eksis bersama dua kelompok yang dibesarkannya, Mr.Big yang beraliran Rock dan Niacin yang beraliran Jazz. Hasrat Billy untuk memainkan sesuatu yang berbeda dan mencoba sesuatu yang baru selama ia mampu mencabik dawai bass-nya, terus terpelihara walaupun ia kini telah menjejak usia 56 tahun. Bersama Niacin-nya, Billy bahkan terus berkreasi untuk menciptakan sebuah New Musical Movement. Dengan dibantu oleh Dennis Chamber, maestro jazz drumming yang terkenal karena skill dan reputasinya di kelompok Funkadelic, Steely Dan dan Mahavishnu Orchestra, dan personil Niacin lainnya, kibordis John Novello, Billy Sheehan masih terus bereksperimen dan meliarkan akal kreatifitasnya.(rockabilia.blogspot.com)

Monday, November 16, 2009

Herman "Shred" Li : The Guitar Avatar



Adik sepupu saya yang paling kecil, sedang tergila-gila permainan Herman Li, gitaris Dragonforce. Laki-laki berdarah tionghoa berambut indah itu, telah mencuri perhatian adik sepupu lewat aksi gitarannya yang sangat-sangat full teknik dan cepat. Saya juga tahu Herman Li dari adik sepupu, dan lantas terkaget-kaget menyaksikan appregio-nya yang menurut pegamatan saya yang awam, lebih cepat dari para Speed King seperti : Yngwie J Malmsteen, Paul Gilbert, Marty Friedman atau speed king yang agak dekat era-nya dengan masa kepopuleran Li, yaitu : Jeff Loomis.

Nomor Li pertama yang disodorkan oleh adik sepupu dari menu Dragonforce adalah : Through the Fire and Flame. Cari-cari tahu soal lagu ini, ternyata memang betul-betul nomor hits yang mengantarkan Li dan Dragonforce-nya ke puncak popularitas. Lagu yang menjadi best cut di album ketiga Dragonforce, Inhuman Rampage itu, masuk di Billboard Hot 100 dan Canadian Hot 100. Pasca meledaknya nomor bercorak Power Metal –cum- Speed Metal itulah, Li dan Dragonforce melanglang-buana keliling dunia, bahkan diluar sepengetahuan saya sempat mampir di Indonesia. Wah, betul-betul ketinggalan jaman saya.

Through the Fire and Flame, selain menyajikan intro dan tempo khas Power Metal yang batu fondasinya diletakkan sekitar medio pertengahan 80-an oleh kelompok Helloween dan gitarisnya, Kai Hansen, menampilkan bagian solo yang pasti membuat pendengar atau penyimaknya tercengang. Pada bagian solo pasca reff pertama, gitaris yang punya nama asli Li Kang Min ini, memainkan solo panjang bersahut-sahutan dengan partner-nya di Dragonforce, Sam Totman. Finger tapping, appregio, permainan tremolo dan teknik manipulasi sound, ditampilkan secara frontal dan total di nomor ini. Saya sudah tidak bisa lagi menyebut permainan Li dan Totman sebagai sekadar “permainan cepat”. Solo di bagian ini tidak bisa disebut sebagai “speed”, melainkan sudah masuk pada derajat “rapid”- sebuah aksi solo guitar yang betul-betul gila. Double guitar solo a la Marty Friedman – Jason Becker pada nomor Sword Of The Warrior ( Cacophony, album Go Off), atau solo gitar versus kibord model Yngwie J Malmsteen-Jens Johansson pada nomor Rising Force (Rising Force, album Odyssey), menurut saya kalah edan dari kolaborasi Li-Totman di nomor ini. Bahkan, dalam unsur melodik atau harmonisasi, Yngwie J Malmsteen- maaf buat penggemar Yngwie- menurut saya berada satu atau setengah tangga dibawah Li. Meskipun, memang tidak bisa dilupakan, bahwa permainan cepat Yngwie J Malmsteen secara basic amat kentara pengaruhnya pada kecepatan permainan Li. Jadi, secara kepeloporan dalam perkara eksplorasi kecepatan dalam teknik permainan metal guitar, Yngwie tentu berada satu tingkat diatas Li.

Kendati sama-sama berada di jalur gitaris cepat, ternyata Li tidak pernah menyebut-nyebut para shredder senior seperti Yngwie J Malmsteen, Chris Impelliteri atau Marty Friedman secara langsung, sebagai sosok-sosok paling berpengaruh besar. Li yang aslinya kelahiran Hongkong 33 tahun lalu, tumbuh dan besar di Inggris bersama dengan kekagumannya pada kelompok Helloween dan gitarisnya, Kai Hansen (eks-Helloween, Gamma Ray). Kai, adalah pahlawan masa kecil dan masa remaja Li, ketika ia pertama memutuskan untuk serius memperdalam jurus-jurus gitar rock & heavy metal. Pilihan Li terhadap musik Power Metal yang dipelopori Helloween, bukanlah sesuatu yang umum dikalangan remaja-remaja pendengar musik rock di wilayah Britania Raya. Maka ketika sebagian besar kawan-kawannya bermimpi untuk menjadi setenar dan bermain musik a la kelompok Radiohead, Oasis atau Blur, Li memelihara cita-citanya untuk menjadi Shredder handal termasyhur diatas jalur Power & Speed Metal, yang lahir dan berkembang dari kawasan Jerman dan Skandinavia.

Selain Kai dan Helloween-nya, Li tidak pernah menyebut secara langsung nama-nama Shredder senior lain sebagai person-person yang berpengaruh besar. Bisa jadi, permainan Li memang asli merupakan ekstremisasi dari permainan harmonic Kai Hansen, yang notabene lebih banyak cenderung mementingkan riff-riff neo-klasik dan rythm-rythm gagah daripada lick-lick atau teknik yang memukau serta futuristis. Gaya Kai yang diserap Li, disempurnakan Li dengan penggunaan Whammy Bar secara ekstrem, Sweep-Picking yang full speed, juga finger dan pick tapping, yang seringkali menjangkau fret dimana terletak nada-nada tinggi. Itulah racikan utama Li, yang membuat permainan gitar di nomor-nomor cepat Dragonforce seperti : Through The Fire and Flame, Heroes of Our Time, My Spirit Will Go On dan Cry For Eternity terdengar begitu dahsyat.

Kedahsyatan aransemen Dragonforce, especially aransemen gitarnya, tidak hanya tersimak dalam materi studio albumnya saja. Menyimak DVD Live In Japan-nya Dragonforce, saya jadi menyesal tidak sempat bahkan tidak tahu bahwa mereka pernah singgah di Indonesia. Untuk mereka yang belum pernah menyaksikan aksi mereka atau belum sempat lihat DVD-nya, bisa menyimak aksi live mereka yang memukau lewat portal Youtube. Li pernah berkata, dalam wawancaranya dengan majalah online, Metal Temple, bahwa para audiens akan disuguhi aksi-aksi yang lebih dari sekadar menonton sebuah band memainkan lagu-lagunya.”I will running around a stage, jumping in the air, playing each other’s guitars, fret it upside down, there is so much energy and we have a very strong interaction with the audience.”ucap Li meledak-ledak dalam wawancara tersebut.”...when we hit the stage we are on fire !”tegas gitaris yang juga mengambil referensi sound dan music untuk aransemennya dari PC-Game itu.

Energi Li dalam penggarapan album dan aksi pentas Dragonforce, tidak semata-mata tumbuh dari ketekunannya mempelajari dan menguasai perangkat gitar elektrik. Li, kendati besar di Eropa Barat, amat menggandrungi ajaran kebijaksanaan timur dan seperti rata-rata lelaki Tionghoa, menyukai olahraga beladiri. Kebijaksanaan timur ia gunakan untuk merawat kesehatan ruhani, olahraga beladiri digunakan untuk merawat kesehatan jasmani. Untuk olahraga beladiri Li memilih Brazilian-Ju Jitsu. 5 hari dalam 1 minggu, gitaris yang menyebut “all about computer” sebagai minat lainnya ini, melatih keterampilan beladirinya. Itulah sebabnya, energi dan konsentrasinya diatas pentas seperti tak pernah mengenal kata habis, dan itu pula yang menjadi penyebab Li terbebas dari gaya hidup rockstar yang seringkali akrab dengan alkohol dan narkotika. Untuk mencek kepribadian Li dari jauh, kita bisa menyimak bagaimana murah hatinya ia berbagi pengalaman dan teknik dalam video-video pelajaran gitar yang bertebaran di dunia maya. Seulas senyum dan sekilas canda sudah pasti menjadi pelengkap materi pelajaran yang ia berikan, membuat sesi belajar online menjadi akrab dan jauh dari membosankan.

Performa, kreativitas dan kepribadian Herman Li pernah saya terjemahkan kedalam bahasa kanak-kanak, ketika saya bersama anak saya, Rashif, bermain game Guitar Hero III : Legends Of Rock. Ketika saya berhasil mencapai mode Expert, nomor Through The Fire and Flames tampil sebagai bonus track. Anak saya berdecak kagum mendengar musik, khususnya drum dan permainan gitar di lagu tersebut. Maka sambil beraksi mengikuti musiknya, saya bercerita panjang lebar soal Herman Li, pria berdarah Asia yang sama seperti kita, tapi mampu menaklukkan benua Eropa dan Amerika yang banyak melahirkan gitaris dan musisi-musisi tangguh. Rashif yang masih kecil namun punya minat besar terhadap musik, tentu saja belum bisa menyerap keseluruhan paparan saya dengan bulat. Tapi, ketika saya katakan Herman Li itu kira-kira seperti Aang, tokoh dalam serial kartun kolosal, Avatar : Legend of Aang, barulah anak pertama saya yang masih berusia 7 tahun itu mengangguk-angguk kagum. “Ooh, Herman Li itu pemain gitar yang sakti ya, Pa !”katanya, yang langsung saya timpali dengan berkali-kali anggukan antusias.(eap)

Sunday, November 15, 2009

Mengenang Hujan Bulan November



Musim hujan bulan november. November Rain- begitu judul salah satu hits Guns N Roses, waktu mengabadikan hujan yang turun bulan november. Tapi bulan November 2009, waktu hujan sering turun pagi-pagi, saya lebih memilih memutar nomor-nomor dari Nickelback dan Black Stone Cherry, baik ketika berkendaraan ataupun waktu santai sambil kerja, blogging atau onlen di rumah. Masa-masa November Rain sudah lewat, berganti masa-masa Photograph-nya Nickelback juga Things My Father Said-nya Black Stone Cherry. Tapi, tetap saja, masa-masa menikmati November Rain itu selalu manis untuk dikenang. Karena itu, mumpung hujan lagi turun di pertengahan November ini, saya ingin kembali, bahasa lebay-nya : mengenang, atau me-review lagu Slow Rock legendaris tersebut.

**
Saya sering banget denger November Rain, waktu duduk di bangku sekolah menengah atas. Lagu itu memang lagu mellow paling populer pada jamannya, tapi, berbeda dengan rata-rata lagu mellow, agak-agak susah dimainkan. Aransemennya megah, diawali dengan denting piano yang merintih, ditimpali dengan orkestra string yang mencekam, sehingga tuntas mengabadikan suasana tiris dan sepi selayaknya suasana musim penghujan.

Axl Roses, sang vokalis Guns N Roses-lah yang mengaransemen sendiri string orkestrasi di lagu tersebut. Ide string orchestra arrangement yang digubah vokalis bersuara tinggi dan parau itu, didapat setelah ia mendengar rekaman-rekaman orkestra dan semi-orkestra rock dari Led Zeppelin lewat Stairway To Heaven-nya, Aerosmith lewat Dream On-nya, Kansas lewat Dust In The Wind-nya, juga tidak ketinggalan rekaman band yang vokalisnya, Freddy Mercury, sangat dihormati Axl, yaitu : Bohemian Rhapsody-nya Queen. Serupa dengan nomor-nomor rock balada terdahulu itu, November Rain yang liriknya telah ditulis Axl sejak tahun 83, atau 9 tahun sebelum populernya, dimainkan dalam durasi cukup panjang, yaitu : 8 menit 57 detik. Diawali dengan denting piano dan sayatan string, diakhiri dengan solo guitar sang gitaris Guns, Slash, yang melengking-lengking, plus bersahut-sahutan dengan koor vokal yang juga ditata langsung oleh Axl Rose. Dengan aransemen istimewa semacam ini, November Rain tidak hanya menjadi evergreen hits-nya Guns N Roses, namun juga menjadi lagu hits dengan durasi terpanjang yang masuk dalam 10 besar Billboard 100. Sampai tahun 2009 ini, belum ada lagu dengan durasi lebih dari 6 menit yang bisa menyamai pencapaian November Rain.

Sebagaimana lagu-lagu repertoar rock orkestra nan keren seperti : Stairway To Heaven, Dream On, Dust In The Wind dan Bohemian Rhapsody, November Rain punya lirik yang istimewa. Sebagaimana umumnya repertoar-repertoar slow rock klasik bertutur soal pengalaman sejati dalam hidup, November Rain menuturkan pengalaman-pengalaman manusia dalam menjalani percintaannya.

Axl, mengawali lirik yang ia tulis dalam lagu tersebut dengan sebuah pertanyaan akan kesungguhan para pecinta. 'Cause nothin' lasts forever and we both know hearts can change, and it's hard to hold a candle in the cold November rain... karena tak ada yang abadi dan hati selalu berubah, maka alangkah sulit menjaga nyala dian, dibawah dingin november yang hujan.... bisik Axl menerjemahkan kegundahannya dalam lirik hits yang solo-nya sempat diisi dua gitaris berbeda : Tracii Guns (LA Guns) dan Slash (Guns N Roses, Velvet Revolver) itu. We've been through this such a long long time, just tryin' to kill the pain....but lovers always come, and lovers always go, and no one's really sure who's lettin' go today... kita lalui panjangnya waktu untuk membunuh rasa nyeri.... tapi pecinta selalu datang, pecinta selalu pergi dan tak seorangpun tahu siapa yang ‘kan pergi hari ini... erang Axl mempertegas kegelisahannya. So if you want to love me then darlin' don't refrain, or I'll just end up walkin'....in the cold November rain.... bila kau ingin mencintaiku janganlah ragu, atau kita akhiri saja perjalanan ini.... dibawah dingin november yang hujan.... bisik Axl mengakhiri lirik pembuka.

Lirik-lirik awal dari bait pembuka yang menyiratkan kegelisahan itu, dinetralisir oleh Axl lewat bait-bait penuh penghiburan dan nasehat pada bait-bait berikutnya. I know it's hard to keep an open heart when even friends seem out to harm you, but if you could heal a broken heart, wouldn't time be out to charm you... sungguh berat membiarkan hati terbuka ketika seseorang menyakiti dirimu, tapi bila kau hendak mengobati hati yang luka, tak akan ada waktu yang bisa mencegahmu... nasehat Axl pada bagian bridge. And when your fears subside and shadows still remain, i know that you can love me when there's no one left to blame.... bila takutmu lenyap sedang kelam masih membayang, aku tahu kau sanggup mencintai, tanpa harus melupakan yang pernah hilang... sambung Axl lagi. So never mind the darkness, we still can find a way...’cause nothin' lasts forever even cold november rain.... jangan pikirkan kegelapan selama kita tetap temukan jalan... sebab tidak ada yang abadi dingin november yang hujan.... tutup Axl dengan manis, sebagai lirik pengantar menuju bagian paling mendebarkan dalam nomor November Rain. Bagian paling mendebarkan yang saya maksudkan adalah : koor vokal apik melantunkan lirik don't ya think that you need somebody, don't ya think that you need someone... everybody needs somebody, you're not the only one, you're not the only one, yang ditimpali dengan emosional oleh permainan solo guitar Slash yang begitu melodius, begitu penuh energi.

**
Masa-masa November Rain sudah lewat, berganti masa-masa Photograph-nya Nickelback juga Things My Father Said-nya Black Stone Cherry. Tapi, tetap saja, masa-masa menikmati November Rain itu selalu manis untuk dikenang. Karena itu, ketika saya teringat lagi lirik demi lirik cantik yang ditulis Axl, terkenang lagi solo guitar Slash yang diabadikan Guitar Player sebagai solo nomor 6 diantara 100 Greatest Guitar Solo’s Ever, saya selalu berniat untuk menyimpannya di mp3 player buat menemani perjalanan keesokan hari. Sayang, saya selalu lupa melakukannya, dikarenakan rutinitas keseharian yang kadang-kadang melupakan hal-hal “remeh” namun “nikmat” semacam ini. Saya sudah jadi orang kota, yang cenderung lebih banyak ingat hal-hal “serius” namun "tidak nikmat” semacam ini (sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah beberapa dokumen piutang yang kadang sulit sekali ditagih). (eap)