Skip to main content

SPIRIT GODBLESS DI ANGKOT KUPANG





Pagi itu saya naik angkot di kota Kupang. Angkotnya begitu semarak, dengan berbagai macam corak cat dan warna melekat pada bodinya. Desain interior angkot itu juga tidak kalah dahsyatnya. Terkesan macho dengan berbagai pernik yang jantan, dari mulai gantungan berbentuk tengkorak, hiasan aksesoris berbentuk gitar fender, stiker bertuliskan bastard, i like jagger, juga God Bless 36. Saya mesti juga bilang Wow, karena tak lama setelah saya duduk dalam angkot yang mengalunkan nomor keren Rock You Like A Hurricane-nya Scorpions, tiba-tiba intro keyboard dan gitar Abadi Soesman dan Ian Antono dalam nomor N.A.T.O bergema didalam sound system angkot yang suara bass-nya bikin adrenalin meningkat.

Dihadapan saya seorang nenek manggut-manggut sambil bolak-balik melihat saya. Sementara disampingnya seorang anak muda menirukan gaya memukul drum ketika ritme best cut God Bless dialbum paling akhirnya itu sampai pada lirik : Jangan lihat sepatu yang orang pakai, lihat berapa jauh dia telah melangkah, itu tandanyaaaaa.... berpikir positiiiiiiiiiif ! Kupang yang panaspun semakin bergairah bagi saya, yang tadinya sempat agak malas ketempat tujuan lantaran semalaman menikmati pantai dan kurang tidur.



Dalam perjalanan itu saya mengenang kembali masa-masa ketika SD, saya dan kawan-kawan menirukan lagu God Bless, Kehidupan, sambil tatalu (mengetuk-ngetuk meja), sementara saya berteriak-teriak melantunkan bait demi baitnya yang saya dengar karena saban diantar ke sekolah, diputarkan lagu itu oleh ayah saya. God Bless memang dahsyat. Bagi saya, kalau bicara rock yang Indonesiawi, bicara rock yang Asiatenggaranis, God Bless-lah nama yang paling layak disebut pertama. Kenapa ? Karena enggak ada satupun personil didalam grup ini yang tidak berkarakter, terutama God Bless dengan formasi : Ian Antono pada lead guitar, Ahmad Albar pada vokal, Donny Fattah pada bass, Jockie Suryoprayogo pada kibord, dan Teddy Sujaya pada drum.

Ian, Albar, Donny, Jockie dan Teddy seperti lima jiwa rock yang menyatu, dan sanggup menerjemahkan rock yang notabene berasal dari barat ke telinga orang Indonesia tanpa sedikitpun mengurangi spirit rock yang murni dari akarnya. Kuping kamu enggak akan timpang setelah dengar My Guitar Gently Weeps-nya Beatles lalu mendengar Rock Di Udara-nya God Bless. Kuping kamu enggak akan timpang setelah dengar Smoke On The Water-nya Deep Purple lalu mendengar Semut Hitam-nya God Bless. Dan kuping kamu enggak akan bakalan timpang setelah mendengar Dream-nya Van Halen lalu mendengar Bla Bla Bla-nya God Bless. Dalam faktor inilah Edane, Boomerang, Slank, Jamrud, atau grup rock masakini, Zigaz, belum sanggup menandingi kesaktian God Bless.

Saya menduga, mungkin karena Albar sempat bergaul rapat dengan Suzi Quatro juga Clover Leaf, atau Donny yang sempat lama berguru pada virtuoso bass, Stanley Clarke. Yang jelas, faktor bergaul dengan musisi luar secara intens inilah yang tampaknya belum ditempuh oleh banyak musisi yang usianya dibawah God Bless. Sehingga, ketika mereka memainkan rock, tetap saja ada kesenjangan yang jauh dalam hal spirit dengan musisi-musisi luar, tidak seperti God Bless.

Lamunan-lamunan itu terus saja berkelebatan satu per satu. Rupanya supir angkot sudah mencampur lagu-lagu God Bless yang ia putar, sehingga tidak runtut hanya dari album N.A.T.O saja yang tampil menghibur para penumpang. Angkot sudah semakin penuh. Sementara anak muda yang tadi menirukan gaya nge-drum Teddy Sujaya belum mau menghentikan aksinya, sehingga seluruh mata penumpang angkot, baik yang tampak suka, tidak suka ataupun geli terus saja memandang kearah anak muda yang saya taksir duduk dikelas 2 SMA itu. Nomor Musisi telah menghentak dari loudspeaker angkot, disaat saya menyaksikan dikejauhan papan nama tempat yang saya tuju. Sebelum turun saya tak lupa berdoa, mudah-mudahan anak muda dari Kupang itu kelak menjadi seorang drummer hebat seperti Teddy Sujaya, yang telah menerjemahkan rock dalam hentakan tambur-nya yang dahsyat. Mudah-mudahan dia tidak menjadi seorang penggiat tawuran seperti anak-anak dikota-kota metropolitan, yang kelimpungan mencari jatidiri. Aamiin... “Good Luck, Boy ! See you later !”teriak saya sambil menepuk pundaknya sebelum meloncat dari angkutan kota.

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

DRAMA TRAGIS KEMATIAN DIMEBAG DARRELL

Musicians tend to get bored playing the same thing over and over, so I think it's natural to experiment.
-Dimebag Darrell, gitaris kelompok Trash Metal legendaris Panthera

Selesai botakan waktu SMA, kawan-kawan menyebut saya mirip dengan Philip Anselmo, sang vokalis Pantera. Kendati nge-fans sama lagu-lagu dari album Cowboy From Hell dan Vulgar Display Of Power, sesungguhnya saya nggak nge-fans sama tongkrongannya beliau. Serem dan angker. Mirip seorang tetangga saya yang oknum berseragam, yang galak dan egois sama tetangga kanan-kiri (suka parkir mobil sembarangan dan bikin mobil bokap susah masuk garasi rumah sendiri- red). Tiap lihat Philip Anselmo jadi inget juga sama beliau. Oknum edan yang lupa, bahwa bikin susah tetangga itu sama dengan penyelewengan sumpahnya sebagai pengayom.

Untunglah wajah personil Pantera nggak semuanya mirip Anselmo. Sehingga yang lainnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kebencian saya. Malahan, ada kakak beradik Abbott- Darrell “Dimebag” Lance &…