Tuesday, September 25, 2012

CYNOMADEUS : ELECTRIC ROCK ORCHESTRA A LA INDONESIA



saya masih duduk disekolah menengah atas, waktu melihat poster kelompok yang menamakan dirinya, CYNOMADEUS ini. saya melihat poster itu ditempel di toko kaset yang saya lupa namanya, dikawasan Pasar Jamika Jalan Jenderal Sudirman Bandung. di poster tersebut yang saya kenal hanya Eet Sjahranie, gitaris yang pertama kali saya lihat dan kagumi aksinya, waktu dia memainkan riff di komposisi Fariz RM yang berjudul "Pandangan Pertama." keren banget riff di lagu itu, yang kemudian membawa saya terus tertarik menyimak riff-riff Eet yang modern seperti dalam lagu : Arena (Ekky Lamoh), Maret 1989 (God Bless) dan Bis Kota (Ahmad Albar). riff-riff ini menurut saya, menandai lahirnya Dewa Gitar baru setelah Ian Antono, dalam khazanah rock Indonesia. dengan semangat menyimak permainan Eet Sjahranie berikutnyalah, saya membeli album CYNOMADEUS. melihat tongkrongan mereka dan nama grup mereka yang unik, saya berharap setidaknya ada sesuatu yang baru buat diapresiasi.

betul saja. mendengar CYNOMADEUS sensasinya ibarat pertamakali makan di HANAMASA, ada banyak citarasa baru yang bisa diecap oleh indera pendengaran. album ini dibuka dengan nomor "PROFESI TREND MODE", yang di-intro-i sound kibord Iwan Majid, yang ke-fusion-fusion-an. komposisinya keren, walau dirasa kurang nge-rock atau mewakili spirit saya ketika itu, yang udah terbiasa dengan rock atau trash metal yang gitarnya meraung-raung, drumnya menghentak-hentak, dan vokalisnya menjerit-jerit, sebagaimana gaya Deep Purple, Rainbow, Metallica atau Megadeth. masuk ke komposisi ke-2 yang bertajuk,"CIRCUS SHOW", saya dibawa berdecak kagum dengan permainan bass Todung Panjaitan, yang nge-funk berat dan mengisi hampir disetiap elemen komposisi, dari mulai intro, bridge hingga refrain dan closing pada lagu tersebut. seingat saya, itu kali pertama saya mendengar permainan seorang bassist Indonesia yang full-technique dan begitu bergairah. gaya nge-funk Todung seperti di lagu "CIRCUS SHOW", muncul juga dikomposisi nomor 7 dalam album pertama dan terakhir CYNOMADEUS yang bertajuk "STRAWBERRY PINK". saya pikir, gak ada seorangpun bassist Indonesia yang menyamai passion seorang Todung Panjaitan dalam bermain bass, seperti ketika ia bermain pada lagu-lagu CYNOMADEUS.

masuk ke komposisi nomor 3, giliran Eet Sjahranie, sang gitaris, yang unjuk gigi. Di lagu bertajuk "CYNOMADEUS", yang rupanya diniatkan sebagai best cut dalam album rilisan JEPS Record-nya promotor musik idealis Sofyan Ali ini, Eet memainkan riff khas-nya sebelum kemudian menyajikan solo guitar mematikan dipertengahan lagu. sebuah solo yang menampilkan speed dalam sound melodic cello yang tebal, yang diakhiri dengan jeritan panjang nan menyayat pada bagian akhirnya. edanlah. momen solo guitar Eet di lagu ini sedemikian dramatik dan monumental, mengalahkan kedahsyatan solo guitar-nya di album-album keras grupnya kemudian, dari mulai God Bless hingga Edane. Eddie Van Halen dan Steve Vai seolah-olah menyurup ke raga Eet Sjahranie, begitu saya bilang, waktu bercerita soal permainan Eet Sjahranie di lagu "CYNOMADEUS", dihadapan anak-anak boys band yang sedang hendak saya insyafkan. hehehe.

mencerna tiga nomor awal album pertama dan terakhir,"CYNOMADEUS", saya mulai terbiasa mencerna nomor-nomor berikutnya.   belakangan dari Wikipedia saya dapat info : "kelompok musik ini menggunakan nama Cynomadeus, atas dasar ketertarikan personil band terhadap karya tulis Wisnu Soeyono. Sebuah komik mengenai seorang musisi yang dijuluki Cynomadeus (Cycle Neo Amadeus), dan travel di perpindahan waktu. Ketertarikan ini berlanjut dengan kesepakatan personil band untuk menunjuk Wisnu Soeyono sebagai penulis lirik tunggal untuk Cynomadeus." wah, kebayang tuh proses kreatif mereka. betul-betul berangkat dari suatu hal yang unik dan diproses dengan spirit idealis murni mengingat, album CYNOMADEUS jelas-jelas keluar dari pakem komersial, baik ketika dirilisnya bahkan saat album  itu nyaris terlupakan seperti saat sekarang.

tapi dijaman revolusi marketing atau era peralihan dari marketplace menjadi marketspace ini, kalo ada musisi muda atau anak-anak band yang ingin mengusung Electric Rock Orchestra a la CYNOMADEUS, asal mereka kreatif dalam merancang program promo albumnya, kayaknya mereka punya harapan hidup lebih lama dari sang pelopor. ada yang minat meneruskan jejak CYNOMADEUS ? kalau tidak ada, saya mau pulang ke rumah dan mendoktrin anak saya yang kini sedang aktif belajar musik untuk mengikuti jejak band yang sukses berat secara artistikal ini.(aea)

Sunday, September 23, 2012

GETAH self-titled album : MUSIK DARI ALAM GAIB

foto : publiceye.com

musik-musik pada tahun 90-an sarat dengan varian genre dan varian lirik. tidak seperti masa sekarang, yang kurang variatif dan gak begitu menarik disimak. diantara genre dan lirik yang variatif dipertengahan 90-an itu, terselip sebuah kelompok musik yang gak ada duanya di Indonesia, yang secara mengejutkan masuk major label dengan menawarkan komposisi yang betul-betul aneh bin ajaib. kelompok itu menamakan dirinya : GETAH. 

saya tertarik beli album pertama GETAH, selain karena namanya, juga karena sempat mencoba dengar salah satu komposisi awal di album pertama mereka, yaitu : Shy Princess. musik band ini lain, dan sukar ditelusuri pancakakinya diantara berjubel-jubel rekaman rock Indonesia. seolah-olah, musik mereka ditulis dan dimainkan oleh siluman-siluman atau mahluk gaib yang kebetulan mahir memainkan musik rock.

pasca beli kaset, semalaman saya mendengar sampai habis lagu demi lagu yang dimainkan oleh para musisi yang keliatannya sering bergaul dengan berbagai jenis dedemit ini. ada lagu berjudul Air, berjudul Api, yang lagunya dibawakan dalam tempo kalem tapi menyajikan sosok vokal yang misterius. vokalis kelompok ini, Jodie Gondokusumo, mantan vokalis legend trash Indonesia, ROTOR, bernyanyi dengan vokal jernihnya, tanpa growl sebagaimana dia bernyanyi di ROTOR, pada dua nomor tersebut. seeet, dah, itu vokal rasanya belum ada penyanyi Indonesia yang bernyanyi seperti itu. jernih, mengalun, kadang terdengar seperti derit pintu, hembusan angin, atau rintik hujan yang turun satu-satu diatas atap fiber pada tengah malam atau dinihari. 

daya magis musik GETAH menyeret dan menyayat inderawiah saya, disaat masuk pada nomor berjudul Dedication. diawali dengan suara jernih Jodie, lagu Dedication ini terdengar begitu mengiris ketika Beoy Faisal (alm), sang gitaris, memainkan solonya dipertengahan lagu. alangkah getirnya melodi di lagu tersebut. meningkahi lagu yang tampaknya semacam ungkapan cinta kepada gadis yang penuh ragu, sementara sang jejaka sudah sedemikian letih membujuk dan nampaknya punya keinginan bunuh diri dengan cara menenggelamkan dirinya ke dasar danau disaat salju turun dengan lebatnya.

sebagaimana lazimnya musik rock, tentu saja ada nomor-nomor nge-beat yang ditampilkan oleh GETAH. nomor-nomor nge-beat itu diantaranya : Small Man, 1 Of A Tale dan Unavoidable. diantara ke-3 nomor ini, saya pilih Unavoidable, yang tampaknya paling gape komposisinya. menampilkan riff distorsif yang cepat akrab ditelinga, nomor yang satu ini menyajikan pula sensasi etnik lewat bunyi gamelan Bali. Beoy Faisal kembali memancarkan talentanya dipertengahan lagu, dengan memainkan atraksi blues a la Jimi Hendrix pada part solo gitar. permainan Beoy dari awal hingga akhir lagu ini seolah membawa GETAH sedikit keluar dari nuansa gotik dan murung yang dibangun dalam album self-titled rilisan 1996 ini. 

tahun 2008, setelah sempat vakum gara-gara sang vokalis, Jodie Gondokusumo dan Beoy Faisal memenuhi panggilan Pencipta-nya, GETAH kembali merilis album bertajuk Release Is Peace. Yang bertahan dari formasi awal, tinggal Marcel Wetik, sang bassist. materi dialbum ini, tidak sekelam dan semurung album GETAH yang pertama. materi dalam album Release Is Peace malah terdengar lebih macho dan gagah, mungkin karena para personilnya sudah lebih sehat dan jauh dari "asap surgawi", sebagaimana saya duga telah membuat GETAH dialbum awal membumbungkan musikalisasinya ke alam gaib yang pernah didatangi pula oleh Syd Barrett, icon supergroup PINK FLOYD.  

vokal Odie, vokalis GETAH sekarang, terdengar seperti vokal lelaki matang yang tidak mudah patah hati, tak seperti karakter vokal Jodie pada album pertama yang menyajikan nuansa patah hati berkeping-keping (bukan patah hati a la melayu ya, a la melayu mah bukan berkeping-keping, tapi kebanjiran). coba saja simak nomor-nomor seperti : 1000 Tahun, Segitiga Bermimpi, Karam, Kembali Putih dan Parasit Hati. vokal Odie yang cowok banget melebur dengan aransemen GETAH yang didominasi raungan gitar Peter St.John yang merupakan sinkretisasi dari Slash dan Toni Iommi, pada keseluruhan materi album rilisan 2008 itu.

kesinambungan GETAH, tampaknya membuat tahun 2013 menjadi tahun yang layak saya tunggu. konon menurut salah satu artikel dari wikipedia, tahun 2013 nanti GETAH bakal merilis album ke-3 yang sementara diberi tajuk  "In Mortem Libertas".  penantian saya menjadi tambah menarik, mengingat GETAH saat ini diperkuat oleh salah satu prodigy drummer Indonesia, yaitu : Richard Mutter, eks-PAS band. sungguh menarik dan mengundang penasaran, bagaimana style Richard mewarnai musik yang bakal diusung GETAH dialbum ketiganya nanti. akankah Richard kembali tampil secemerlang ia tampil di album IndiViduality-nya PAS band, yang sesak dengan pukulan-pukulan dan ketukan-ketukan yang fantastik, abnormal dan tak terduga ? yaaaah, rasanya lama banget nunggu 3 bulan lagi. (aea)