Skip to main content

ALLAH BLESS GITO ROLLIES



Alkisah, suatu sore, gue pulang sekolah bareng bokap, dijemput pake mazda kotak. Dalam perjalanan, seorang pengendara motor edan, menyalip mobil yang kami tumpangi dari sebelah kiri. Gila, gue yang waktu itu masih es-de, kontan kaget dan berteriak, mengingat mobil bokap nyaris menghantam pantat motor yang berpacu ugal-ugalan itu. Bokap, yang biasanya alim dan pendiam, pertamakalinya menghamburkan nama salah satu hewan, yang lazim diteriakkan disaat-saat manusia dihinggapi marah.

Seredanya bokap dari kemarahan, beliau bergumam, ”Emang Gito Rollies...” Gue mengernyitkan dahi,”Emang kenapa Gito...Pak ?” Singkat kata, bokap gue langsung menceritakan sebuah peristiwa heboh, dimasa-masa bokap muda dulu. Suatu peristiwa yang juga sohor ke seantero kota Bandung, tentang seorang pengendara motor yang ugal-ugalan pulang pergi Bandung-Lembang bertelanjang bulat. Nama pengendara motor itu adalah : Bangun Sugito, yang kemudian populer sebagai : Gito Rollies, salah seorang ikon musik rock dan pelopor musik keras di tanah air.

Bokap adalah salah seorang penggemar Rollies, meskipun selagi muda beliau gak pernah nge-band, malahan sibuk maen bola dan konon salah seorang pemain Persib di masa-masa susah, dan kerap berbulutangkis ria dengan grup Iie Sumirat, pebulutangkis legendaris Indonesia. Bokap cerita, bahwa atraksi edan itu dilakuin ama Gito Rollies, dalam rangka merayakan kelulusan es-em-a. Deddy Sutansa, yang kemudian dikenal dengan nama Deddy Rollies, dan karena kekagumannya ama Mick Jagger ganti nama lagi jadi Deddy Stanzah (stones kali ya?), nyupirin mobil menguntit motor Gito, sambil menyorotnya dengan lampu jauh. Besoknya seantero Bandung heboh, bahwa semalam ada anak muda yang gila-gilaan, bermotor sambil bertelanjang ria mengitari jalan-jalan protokol kota kembang.

”Pak, kalo Rollies itu hebat ya ?”gue bertanya dengan polos, mengingat pada jaman itu, yang gue tau vokalis kharismatik di ranah rock Indonesia adalah Ahmad Albar. Wah, bokap bilang, Rollies ama God Bless-nya Ahmad Albar itu imbang, dan beliau mengatakan lagi, bahwa grup-grup sejaman ama mereka, seperti : AKA, Giant Step, Paramour itu berada dibawah Rollies dan God Bless, dalam hal popularitasnya.

Bokap ngelanjutin cerita, waktu beliau berkesempatan menyaksikan penampilan Rollies di Jawa Timur, yang bokap juga lupa di kota apa. Yang jelas, bokap waktu itu lagi ikut turnamen sepakbola, dan kebetulan Rollies lagi mentas di kota itu. Wah, bokap bilang, dalam pentas di kota itu, seabis nge-geber hits-hits James Brown dan Chicago, para personilnya tumbang satu-satu. Tergeletak di atas panggung, mirip aksi pentas Jim Morrison, vokalis kelompok The Doors. Ngeliat para personil gak bangun-bangun juga, penonton yang sebelumnya bersorak jadi curiga : jangan-jangan para punggawa Rollies itu ambruk lantaran teler Dan, gue tau baru-baru ini, setelah nge-browse sebuah media online, bahwa apa yang terjadi di atas pentas, yang belakangan gue tau menurut data berlokasi di Stadion Tambaksari taun 1973, memang bukanlah sebuah stage act. Melainkan, karena para personil Rollies yang diantaranya masih diperkuat almarhum Iwan Krisnawan, drummer yang diidolain nyokap gue, kelewat teler lantaran drugs.

Cerita bokap sepanjang perjalanan pulang sekolah itu bikin gue penasaran untuk ngedengerin album-album Rollies dengan seksama, kendati nyokap-bokap gue rada-rada aneh ama keinginan gue. Dua album, yang kini gak tentu rimbanya, tapi kalo gak salah berlabelkan Remaco dan punya judul Salam Terakhir (1972) dan Setangkai Bunga (1972), gue puter seabis rampung ngerjain pe-er. Sebagai anak ingusan yang belom banyak makan asam garam dunia, gue rada-rada bingung ngedengerin materi album itu : ”Katanya Rollies itu rock, kok, lagu-lagunya selouw euy...”

Pas gue kuliah, gue kangen lagi ngedengerin album-album Rollies yang kemudian hari gue tau digondol ama tante. Untung, album-album studio dan live Rollies di Taman Ismail Marzuki, taun 1976, diremastered lagi ama Hidayat Audio. Gue beli yang live dan studio album Rollies, Setangkai Bunga. Lumayan, dua kaset itu manjur ngeredain stress gue pas nyusun laporan akhir dan ujian semester pendek. Track favorit gue adalah Tiada Kusangka, Setangkai Bunga, Free, Love Of A Woman. Tiada kusangka dibawain ama Bonny Rollies, Setangkai Bunga dibawain ama Bonny Rollies juga, Free-nya Chicago ama Gito Rollies, serta Love Of A Woman dan Gone Are The Songs Of Yesterday yang dilantunkan dengan mantap, lewat vokal kibordis yang suara tenornya fantastic buat gue, Delly Rollies. Vokal tenornya itu kemudian dikenal luas dan mencapai puncak kepopuleran, saat Delly ngebawain masterpiece-nya Rollies, Kemarau (1979), yang juga sempet dapet penghargaan Kalpataru dari Menteri Negara Lingkungan Hidup, bapak Emil Rollies…eh Emil Salim. Saat-saat menyimak materi Rollies di dua album pas masih kuliah itu, adalah salah satu saat terindah dalam apresiasi musik yang emang merupakan hobi gue.

Pada masa-masa kuliah dan pasca kuliah, gue menjadi saksi kepergian satu per satu personil Rollies, mulai dari : Delly, Deddy, Bonny dan yang wafat Kamis kemarin (28 Februari 2008), vokalis gue, aktor gue, seniman gue dan Ustadz gue yang teramat gue hormati, H. Bangun Sugito a.k.a Gito Rollies. Semenjak taun 2005, penyanyi bersuara serak dengan gaya panggung yang atraktif ini jadi lumpuh seabis terjangkiti penyakit kanker kelenjar getah bening. Gue baca di salah satu media cetak, seminggu tiga kali Ustadz Gito harus menjalani kemoterapi di National Hospital Singapura, setelah sebelumnya menjalani operasi.

Mangkatnya Gito Rollies, kontradiktif banget ama meninggalnya, Deddy Stanzah, sang sohib yang sampe menjelang kepergiannya masih dikenal ”baong” (nakal). Konon, Deddy masih dalam pemeriksaan terkait masalah obat-obatan terlarang, yang melibatkan beliau beberapa waktu sebelum kematiannya. Gue denger juga dari kabar angin, Gito, sebagaimana ia upayakan juga ama sohib-sohibnya yang laen, macam : Delly alm., Bonny alm., berusaha mengajak Deddy ke jalan yang benar. Alih-alih dapet respon positif dari Deddy, melalui lagu pertama di album terakhir sang sohib, Paradox, Gito malah dapet semprotan lewat lirik lagu yang juga digunain sebagai judul album terakhir Deddy Stanzah tersebut. Deddy Stanzah meneriakkan ”benci orang sok keren/benci orang sok suci...” dalam salah satu bait lirik lagu beraroma pschydelic itu. Hanya, gue juga menangkap, sebetulnya didalam hati kecil rocker yang gue kagumi totalitasnya di atas panggung itu, sebenarnya terpendam sebentuk kerinduan terhadap nilai-nilai ilahiah. Selain nomer-nomer keras dan beraroma LSD seperti Pencakar Langit, Paradox dan Pejalan Malam, Deddy menyanyikan nomor balada Senandung Illahi dengan larut dan khusyuk di album Paradox. Penghayatannya di lagu itu mengingatkan gue ama detik-detik ketika Deddy melantunkan hits evergreen-nya, Sepercik Air dan sebuah nomer reflektif, Siapa Aku. ”...di cermin kulihat wajahku, tak kukenali kembali. Hitam legam menyerang mata hatiku, terbakar api noda...”rintih Deddy dalam lagu yang sempat menjadi hits di pertengahan 80-an, tahun-tahun ketika ia kembali menemukan kejayaannya sebagai solois.

Kontradiktifnya kedua sahabat itu di penghujung umur gak cuman soal imej aja. Dalam album terakhir yang mereka usung, ternyata tersembul juga kekontradiktifan itu. Kalo Deddy Stanzah dengan Paradox-nya masih meneriakkan perlawanan, maka dalam album terakhirnya Kembali Pada-Nya, Gito Rollies justru mengalunkan kepasrahan total kepada Illahi. ”Semua yang ada pada-Mu membuat diriku tiada berdaya, hanyalah bagimu, untuk-Mu Tuhanku... seluruh hidup dan cintaku.”tutur lirih Gito dalam ”Cinta Yang Tulus”, lagu yang telah mengalami modifikasi lirik, dan pernah dipopulerkan oleh kibordis Rollies, sohibnya yang udah lebih dulu pergi, Delly Joko Alipin.

Akhirnya, sembari mengucap Inna Lillaahi...dan mendoakan kepergian Gito Rollies, gue juga meresapi riwayat hidup beliau, yang mengindikasikan bahwasanya Allah tuh bener-bener sayang ama dia. Bayangin aja, beliau udah mendapatkan apa yang diidam-idamkan ama banyak anak muda, yaitu : muda foya-foya, tua kaya-raya, dan mati...insya Allah masuk surga, mengingat betapa Gito Rollies bersungguh-sungguh menunaikan tobat, bahkan semenjak sebelum beliau dijangkiti kanker getah bening. Met jalan, my superstar, my Ustadz, gue yakin Allah ridla ama ente. Mudah-mudahan pergulatan ente untuk mencapai husnul khatimah, bias dijadiin pelajaran ama para fanatikan rock Indonesia. May Allah blessing you, Kang Gito.

Comments

Anonymous said…
Jalan hidup seseorang belum tentu sama bandingkan dengan sohibnya dedy stanzah, sebaik-baiknya selagi muda do the best thing.
Semoga artikel yang dijagokan untuk lomba blogging dimyflexiland
ini dapat menjadi juara,
salam.

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

SMOKE ON THE WATER : HITS YANG MEMISAHKAN PARA PENCIPTANYA

Nggak ada atau jarang anak rock yang nggak tahu lagu Smoke On The Water. Yang nggak tahu bisa-bisa dikatain sok rocker, kalo sampe nggak tahu atau ngaku belum pernah denger itu lagu, padahal dia sendiri ngakunya rocker. Smoke On The Water bagaikan materi inagurasi. Syarat pentahbisan bagi siapapun yang ngaku musisi atau simpatisan heavy rock. Gitaris rock kudu hafal riff atau chord lagu ini, vokalisnya mesti hafal lirik lagu ini, dan minimal musisi-musisi pendukung band yang lain kudu bisa mengawal beat dan pattern lagu ini diatas panggung atau studio.

Smoke On The Water adalah lagu kelompok musik Deep Purple, salah satu dari triumvirat legenda band rock (Led Zep, Deep Purple, Black Sabbath), yang tidak hanya memegang rekor penjualan rekaman, melainkan juga pemegang rekor gonta-ganti personil. Saking seringnya gonta-ganti personil, sudah lumrah kalau hingga saat ini, sesama penggemar Deep Purple akan bertanya : “Sekarang sudah Mark berapa ya ?”-ketika mereka membicarakan eksistensi g…