Skip to main content

TRASH METAL RASA MILLENIUM




Ada saat-saat ketika gue pengen banget punya band trash metal di masa lalu. Yang memotivasi gue adalah kegaharan sebuah band trash metal, yang jauh dari influence kekemayu-kemayuan. Musik dan attitude band trash itu simpel dan cowok banget. Hidangan trash metal bener-bener pas dan cocok nge-angetin perut, terutama kalo kuping ini berinteraksi dengan band-band trash metal bermutu macam : Megadeth, Bulldozer, Anthrax, Exodus, Napalm Death or Sepultura. Sori coy gue nggak masukin Metallica. Soalnya gue masih kesel ama perubahan konsep mereka pasca album Black. Album-album Metallica hanya menyajikan sekadar aroma hollywood, terlalu kompromistis dan komersil, tapi memupuskan harapan banyak fans fanatiknya seperti gue.

Sempet juga mikir, gimana seandainya part-part trash metal itu dikawinin ama kecepatan a la shredder. Sedikit terlepas dari dominasi nge-dep dalam permainan gitarnya, terutama di bagian riff atau interlude. Wah, gak kebayang kalo kegaharan Megadeth, Bulldozer, dan reng-rengannya dipadukan dengan teknik dan kecepatan Yngwie, Cacophony or Loudness-nya Akira Takasaki. Pasti dahsyat betul out-put-nya.

Eh, khayalan gue masa lalu itu ternyata diwujudkan ama sebuah kelompok musik asal Halmstad, Swedia, Arch Enemy. Waktu CD Doomsday Machine, album ke-6 Arch sampe di meja gue hari minggu lalu, surprise banget rasanya ngedengerin lagu-lagu mereka, yang dikawal ama keangkeran Black Sabbath plus riff-riff a la kaum shredder.Rasanya sesuatu yang progresif di aliran trash/death metal. Bahkan, sesuai ama corak dan energi permainan instrumen juga vokalnya, Arch pantes banget dikategorikan sebagai pengusung Aggressive Metal. Anak kandung dari Heavy Metal, yang lebih bertenaga tapi nyeni dari anak-anak kandung Heavy Metal yang lain, serupaning : trash/death/horror/speed metal. Glenn Tipton (gitaris Judas Priest) ama Tipton-nya, atau Rob Halford (vokalis Judas Priest) ama Fight-nya, bahkan Judas Priest sendiri di album Jugulator-nya sempet coba ngembangin corak mereka ke Aggressive Metal. Mungkin karena mereka udah kadung digemari dengan warnanya sendiri, atau mereka masih kebawa ama style tempo doeloe, Judas gak sampe mencapai apa yang dicapai ama Arch Enemy dalam ke-agresifan bermusik. Ya, iyalah, secara usia aja kayaknya para personil Judas gak mungkin menyaingi power para punggawa Arch, yang juga dikategorikan sebagai band beraliran Melodic Death Metal dari majalah Kerrang !

Ternyata, pendiri Arch bukanlah nama yang asing di benak gue. Arch dipelopori ama Michael Amott (38 tahun), gitaris berdarah Inggris yang gede di Halmstad, Swedia. Dia itu gitaris utama band legendaris dalam sejarah trash/death/horror/speed metal asal Inggris, yaitu : Carcass. Pendengar station rock di kota-kota besar Indonesia pasti kenal nama grup ini. Sebuah grup keras yang ngakunya dipengaruhi oleh brit-pop artist semacam : The Smith dan The Cure, plus dipengaruhi oleh grup legendaris : Iron Maiden. Hi hi hi, cukup unik ya…

Ide berdirinya Arch Enemy terbetik pas Michael menyimak perkembangan sang adik, Christopher Amott, ama band-nya : Armageddon. Terinspirasi dari sang kakak, Chris mengembangkan corak permainannya sendiri. Banyak belajar dari materi-materi permainan John Sykes (eks-Badland, Whitesnake, Thin Lizzy), Yngwie Malmsteen ( pahlawan Swedia kayaknya, gitaris yang gede di Sweden pasti nge-idolain dia), Uli Jon Roth (eks-Scorpions, Electric Sun), John Norum (Europe) dan Michael Schenker (pendiri UFO, eks-Scorpions), Chris kemudian dikenal berkat agresivitas, alternate picking dan fast vibrato-nya. Wuih, selain ngiler ama permainannya, gue juga ngiler ngeliat Chris berpose bareng Caparison-nya- sepucuk gitar indah buatan Jepang, seri delliner signature series-nya. Seinget gue, kalo diantara gitaris-gitaris Metal senior, gitar jenis ini dipake ama Andy LaRocque (King Diamond) dan James Murphy (Testament). Nah, kalo diantara gitaris muda era progressive metal jaman sekarang, gitar jenis gitu dipake ama Michael Romeo (Symphony X) dan Mattias Eklundh, seorang shredder muda yang cepat tapi full-melodius.

Kematangan Michael dan bakat Chris-lah yang kemudian menjadi nyawa Arch Enemy. Apalagi, semenjak album ke-3, mereka resmi diperkuat Sharlee D’Angelo, mantan bassist band Metal legendaris Mercyful Fate dan King Diamond, yang sebelumnya juga aktif sebagai additional player. Arch juga beruntung mempunyai seorang Daniel Erlandsson. Drummer yang dipengaruhi ama para drummer jazz dan hard rock semacam : Bill Cobham, Clive Burr, Vinny Appice, atau drummer keras semacam Dave Lombardo ini, gape banget meramu keunikan style para influence-nya ke dalam beat-beat agresif. Sound snare dan double-pedal-nya itu lho, gagah-keras-mantap !

Feeling gue, Sharlee D’Angelo-lah yang nentuin jatuhnya pilihan Arch pada vokalis cewek, Angela Gossow, mengingat pasca kehadiran Sharlee dan keberadaan Angela-lah, Arch bener-bener muncul murni sebagai Arch, ber-differensiasi dengan band-band influence para pendirinya. Kalo gue denger-denger dari sampel-sampel di album Arch pertama (Black Earth) dan ke-2 (Stigmata), pas masih diperkuat vokalis Johan Liiva, saripati Carcass masih kerasa di materi-materi Arch. Pas Angela yang juga punya alias Saint Gossow ini masuk, gue denger beberapa sampel dari Wages Of Sin, album ke-5 Arch- Anthem Of Rebellion, album ke-7 Arch- en tentu aja materi full album Doomsday Machine, Arch betul-betul mengukuhkan ciri dan kematangan musikalitas. Di Doomsday Machine-lah musik yang dulu-dulu pernah gue khayalkan bakal ada itu tampil seutuhnya. Ia mengemuka di nomor-nomor kayak : Enter the Machine, Taking Back My Soul, Nemesis, My Apocalypse, dan sebagainya. Ni album pokoknya wajib denger buat mereka yang sempet hidup di era kejayaan trash/speed/horror metal, di era-era puncak popularitas Megadeth, Bulldozer, Slayer, Panthera atau Obituary berkibar. Pasti menikmati-lah !

Sekarang, gue cabut dulu ke Aquarius ah. Siapa tau gue nemu satu-dua album Arch yang lain, terutama album terbaru mereka : Rise Of The Tyrant (2007), yang konon sempet nembus Billboard #100 di nomor : 87. Prestasi yang exciting buat sebuah band yang ditopang ama musik panas dan vokal growling yang horror abis.

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

Ritchie Blackmore : Gitaris Terkeras Pada Masanya

Dalam kumpulan cerita pendek penulis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma, yang diberi judul “Kematian Donny Osmond”, ada sebuah cerita pendek yang diberi judul unik : “Ritchie Blackmore”. Cerita pendek itu menceritakan kiprah seorang pengamen jalanan, penggemar fanatik Ritchie Blackmore, gitaris pertama Deep Purple dan pendiri grup hard rock legendaris, Rainbow. Sang pengamen yang tak jelas namanya itu mencari nafkah dari memainkan karya-karya Ritchie Blackmore, semasa salah seorang gitaris terkeras dan penulis komposisi rock legendaris ini bergabung dengan supergroup yang disebut sebelumnya. Berbeda dengan para koleganya di jalanan, yang rata-rata memainkan musik dangdut atau lirik protes penyanyi balada Indonesia,Iwan Fals, sang pengamen meneriakkan “Child In Time”, “Smoke On The Water”, “Stormbringer”, “Man On The Silver Mountain”, “Long Live Rock N Roll” dan karya-karya Blackmore lainnya, di pasar-pasar atau tempat-tempat dimana ia biasa mencari nafkah.

Dari kota ke kota, sang pen…