Skip to main content

DONNY FATTAH DALAM 40 TAHUN BERSAMA GODBLESS



bulan november 2013, tanpa tercium media, begawan bass Indonesia, Donny Fattah, meluncurkan biografinya "40 Tahun Dalam Godbless". biografi keren yang ditulis oleh ketua Godbless Community (GBC) yang juga sahabat baik beliau, Asriat Ginting, ini, merekam perjalanan Sang Legenda Hidup dari mulai meniti karir hingga kebersamaannya yang nyaris tak terpisahkan dengan band rock nomor satu Indonesia, Godbless. beruntung sekali saya, dapat kesempatan mendapatkan edisi khusus yang termasuk 100 cetakan pertama, lengkap dengan bubuhan tandatangan dan kaos keren bergambar beliau sendiri.

nama Donny Fattah adalah nama yang tak asing bagi saya, yang sejak kecil menyukai musik rock. musik-musik yang beliau mainkan, baik ketika memperkuat Godbless maupun album-album grup dan musisi lain yang pernah diperkuatnya, silih-berganti menggetarkan indera pendengaran dengan album-album rock legendaris seperti In Rock-nya Deep Purple, Blackout-nya Scorpions, atau 1984-nya Van Halen. dan diantara album-album yang pernah mendapat sentuhan tangan beliau yang pernah saya simak dan berkesan hingga saat ini adalah, Lagu Untukmu dari Donny Fattah & Friend.

sebagai anak ingusan, album itu memberikan wawasan dan menjadi model musik rock Indonesia yang bagaimana yang mesti saya dengarkan ketika itu. Album tersebut merupakan pengantar saya menikmati album terfenomenal dan terkomersial Godbless, yaitu Godbless 88 a.k.a Semut Hitam. kalau dicermati dan didengarkan secara teliti, dentuman bass di album Lagu Untukmu dan album Godbless 88 begitu kentara menampilkan cetak biru permainan Donny Fattah, yang aksinya panggungnya kerap saya sambut dengan sorak-sorai gila setiap saya sempat menyaksikan aksi beliau saat saya masih duduk disekolah menengah dulu.

membaca biografi beliau, ternyata sama berkesannya dengan saat mendengarkan karya-karya beliau yang menjadi mahal justru karena kesederhanaan beat-beatnya dan kedalaman liriknya. dalam lembar demi lembar biografi tersebut, yang terpancar dari beliau adalah kebersahajaan seorang maestro yang tampaknya lebih menganggap dirinya hanyalah seorang pekerja musik biasa, daripada seorang rock legend Indonesia.

padahal, jika menyimak kisah-kisah Donny Fattah dalam biografi tersebut, dari mulai berdirinya Godbless, tur panjang yang melelahkan era Nasution bersaudara, kehilangan drummer dan kibordis yang handal sebab kecelakaan tragis, hingga penemuan jatidiri di Amerika yang sampai melibatkan diskusi dengan sosok sekaliber Stanley Clarke dan salahsatu bassist terbaik dunia, Geddy Lee, maka yang terpapar bukan sekadar profil seorang bassist jago, sekadar puja-puji pada seorang rockstar, melainkan profil seorang seniman sejati yang menghargai talenta yang diberikan Robb-nya secara tulus dan sungguh-sungguh.

sikap seniman sejati dalam Donny Fattah yang saya maksudkan terpancar dari : keberanian memilih dan kegigihan dalam menyempurnakan ikhtiar.

keberanian memilih tercermin dari sikap beliau tatkala memilih untuk pulang ke Indonesia dari pengembaraannya di Amerika, guna kembali ke pangkuan Godbless. lebih dari itu, hakikatnya beliau kembali ke tanah air demi, memenuhi panggilan hatinya untuk hidup dan mati sebagai musisi. pilihan semacam ini adalah pilihan yang berani, mengingat saat itu beliau sudah establish sebagai pegawai kantoran, sementara industri musik ketika itu belum menjanjikan materi dan kemapanan. tapi toh seorang Donny Fattah tetap memenuhi panggilan hatinya itu. sampai kemudian, kita semua tahu, bagaimana kiprahnya di Godbless, Kantata Takwa atau Gong 2000, yang tanpa beliau sadari telah memberikan arti dan makna bagi rock pribumi yang mengalirkan energi positif di negeri ini.

teguh dalam menyempurnakan ikhtiar adalah motto waktu jaman saya pesantren wirausaha dulu. tidak dinyana, dalam proses kreatifnya, Donny Fattah telah memenuhi salah satu kaidah penyempurnaan ikhtiar yang diajarkan guru dan ustadz muamalah di pesantren dulu, yaitu : 'azam. secara tidak langsung, proses penyempurnaan ikhtiar yang 'azam atau teguh atau gigih itu, mengemuka dalam penggarapan lirik-lirik yang ditulis Donny, baik untuk Godbless, Gong 2000, maupun lirik lagu Pengakuan-nya Power Metal, yang sebetulnya sangat sublim tapi luput dibahas proses kreatifnya dalam buku biografi beliau ini.

dalam proses penulisan lirik saja, seorang Donny Fattah tampak tidak berani asal-asalan dan mengerjakannya dengan penuh dedikasi. lain sama sekali dengan musisi-musisi jaman sekarang, yang lirik-liriknya berupa bait-bait klise belaka. yang enggak kena di kuping dan enggak masuk di hati. bagi saya, lirik-lirik beliau untuk Huma Diatas Bukit, Musisi, Anak Adam dan lain-lainnya, berisi bait-bait reflektif yang secara implisit meng-affirmasi diri saya untuk berpikir dan berbuat sesuatu yang baik. Huma Diatas Bukit contohnya, menginspirasi saya untuk senantiasa menjalin hubungan batin yang erat dan terus meningkat kualitasnya dengan pasangan hidup. adapun lirik Musisi, meskipun saya bukan seorang Musisi, namun liriknya menginspirasi saya untuk selalu berpedoman pada suara hati dalam bekerja dan menekuni profesi yang diamanahkan Allah kepada saya. Lirik Anak Adam lebih gila lagi efeknya bagi saya. Terinspirasi dari lirik Anak Adam ini, dalam pergaulan sehari-hari saya diajak untuk senantiasa menghayati sesama sebagai saudara, karena toh kita manusia yang "...datang dari satu rahim". namanya saudara, mata hati ini harus sama-sama terbuka mencari persamaan dan memaklumi perbedaan. begitulah kira-kira, muhasabah kerennya dari lirik Anak Adam yang lagunya beraransemen progresif itu.

selain kesejatiannya sebagai seorang seniman, menyimak Bab I dari buku biografi beliau, saya diajak untuk menelusuri sebuah peristiwa yang bagi saya sangat esoteris sifatnya dan penuh hikmah bagi siapapun yang mengaku orang beriman. pada bab itu diceritakan, bagaimana peristiwa demi peristiwa disaat Donny Fattah mengalami serangan jantung. hati saya trenyuh disaat membaca paragraf yang menuturkan : "...Tak lama kudengar suara Mati ! Mati !... Saat itu timbul kesadaran, bahwa memang aku sudah berpulang kehadapanNya. Saat itu pula aku merasa lega. Hatiku terus berdzikir. Berpasrah diri, "Ya Allah-ku, jika memang sekarang waktunya pergi, bawalah diriku beserta keikhlasanku." Haru tapi merasa gokil juga, mengingat bagaimana seorang rocker yang terkadang punya imej ugal-ugalan bagi sebagian orang, tapi ternyata mampu merepresentasikan dirinya dihadapan Sang Pencipta dengan begitu Mukhlis-nya.
 
pada tiga titik itulah saya kira, buku biografi DONNY FATTAH 40 TAHUN BERSAMA GODBLESS ini menjadi sesuatu yang sangat bernilai. pada titik inilah saya kira, saya mesti memberikan penghargaan yang layak pada Asriat Ginting, sang penulis biografi, yang telah berhasil menyajikan sisi-sisi kehidupan seorang Donny Fattah dengan begitu moderat, sehingga ketika membaca kisah sang legenda, seorang penggemar seperti saya jadi merasa lebih dekat dengan beliau, seolah-olah mendengar tuturan seorang Paman saat saya berkunjung dan menikmati Teh Manis beserta makanan ringan di beranda rumahnya. Gokilnya, sampai saya tidak menyadari bahwa ini 'kan kisah seorang Rocker, bukan kisah seorang Guru Ngaji atau Pengasuh Ponpes, yang biografinya mendominasi rak buku saya,  lho ! (aea)





Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

SMOKE ON THE WATER : HITS YANG MEMISAHKAN PARA PENCIPTANYA

Nggak ada atau jarang anak rock yang nggak tahu lagu Smoke On The Water. Yang nggak tahu bisa-bisa dikatain sok rocker, kalo sampe nggak tahu atau ngaku belum pernah denger itu lagu, padahal dia sendiri ngakunya rocker. Smoke On The Water bagaikan materi inagurasi. Syarat pentahbisan bagi siapapun yang ngaku musisi atau simpatisan heavy rock. Gitaris rock kudu hafal riff atau chord lagu ini, vokalisnya mesti hafal lirik lagu ini, dan minimal musisi-musisi pendukung band yang lain kudu bisa mengawal beat dan pattern lagu ini diatas panggung atau studio.

Smoke On The Water adalah lagu kelompok musik Deep Purple, salah satu dari triumvirat legenda band rock (Led Zep, Deep Purple, Black Sabbath), yang tidak hanya memegang rekor penjualan rekaman, melainkan juga pemegang rekor gonta-ganti personil. Saking seringnya gonta-ganti personil, sudah lumrah kalau hingga saat ini, sesama penggemar Deep Purple akan bertanya : “Sekarang sudah Mark berapa ya ?”-ketika mereka membicarakan eksistensi g…

ALLAH BLESS GITO ROLLIES

Alkisah, suatu sore, gue pulang sekolah bareng bokap, dijemput pake mazda kotak. Dalam perjalanan, seorang pengendara motor edan, menyalip mobil yang kami tumpangi dari sebelah kiri. Gila, gue yang waktu itu masih es-de, kontan kaget dan berteriak, mengingat mobil bokap nyaris menghantam pantat motor yang berpacu ugal-ugalan itu. Bokap, yang biasanya alim dan pendiam, pertamakalinya menghamburkan nama salah satu hewan, yang lazim diteriakkan disaat-saat manusia dihinggapi marah.

Seredanya bokap dari kemarahan, beliau bergumam, ”Emang Gito Rollies...” Gue mengernyitkan dahi,”Emang kenapa Gito...Pak ?” Singkat kata, bokap gue langsung menceritakan sebuah peristiwa heboh, dimasa-masa bokap muda dulu. Suatu peristiwa yang juga sohor ke seantero kota Bandung, tentang seorang pengendara motor yang ugal-ugalan pulang pergi Bandung-Lembang bertelanjang bulat. Nama pengendara motor itu adalah : Bangun Sugito, yang kemudian populer sebagai : Gito Rollies, salah seorang ikon musik rock dan pelop…