Thursday, June 20, 2013

EUROPE : INILAH HARD ROCK GARDA DEPAN


Rekaman rock yang paling saya tunggu-tunggu rilisnya tahun depan adalah album terbaru Europe. Sanctuary Records konon melalui press release-nya tahun 2007 bilang, album terbaru Europe bakal rilis tahun 2009. Di pertengahan 2008 ini, saya mengira-ngira, bakal seperti apa album Europe termutakhir itu nantinya. Terus terang, saya menunggu-nunggu album terbaru Europe setelah gak sengaja beli dua album terakhir mereka berturut-turut. Yang pertama, album studio ke-6, Start From The Dark, dan yang kedua, album studio mereka yang ke-7, Secret Society.
Tadinya, saya beli Start From The Dark, karena surprise aja ketika tahu bahwa Europe masih bikin album. Lebih surprise lagi, waktu ngebaca line-up mereka di album ini, yang sama dengan line-up di album epical mereka, The Final Countdown (Joey Tempest-vokal, John Norum-gitar, John Leven-bass, Mic Michaeli-kibord, Ian Haughland-drum). Cuma, penampilan atau tongkrongan para rocker asal Uppland Vasby, Swedia, ini udah lain sama sekali dengan penampilan mereka sebelum break tahun 1992 (wah udah lama banget break-nya, pantes saya surprise banget pas liat album ke-6 mereka di rak toko kaset). Rambut gondrong mereka gak lagi ditata pake jelly atau hair-spray. Joey Tempest dan kawan-kawan tampil lebih dark, mirip-mirip ama tongkrongan musisi Aggressive Metal semisal, Arch Enemy. Ian Haughland malah kelihatan lebih up-to-date dan sangar penampilannya. Dengan kacamata item, rambut plontos dan cambang a la pakar telematika, Budi Raharjo, sang drummer Europe itu tampak lebih jantan dan sangar. Citra-nya kayak citra Denzel Washington waktu maen di Training Day-lah kira-kira.
Dark clothing-nya Europe yang juga dipadu ama dark backdrop di foto belakang cover mereka, keliatannya termasuk dalam upaya merepresentasikan materi album yang mereka tawarkan lewat tajuk Start From The Dark itu. Memang sih, di nomer pertama Got To Have Faith, mereka gak tampil gelap-gelap amat. Got To Have Faith malah mengingatkan saya dengan All Or Nothing, nomer pembuka di album Europe before break, Prisoner In Paradise (1992)-ya gak mirip-mirip amat memang, hanya masih ada sedikit irisannya ama Got To Have Faith.
Setelah Got To Have Faith, Europe betul-betul tampak berupaya menampilkan sesuatu yang lain dari identitas mereka selama ini. Meskipun melodic style Joey Tempest masih di-eksplor waktu ngebawain : Start From The Dark, Flames, Hero, Wake Up Call atau Song No.12, tapi corak fusion kibord dan ritem gitar khas Norum udah gak kedengeran lagi. Start From The Dark atau list nomer 9 (Sucker),10 (Spirit Of The Underdog) dan 11 (America) di album ini sama sekali gak kedengeran seperti Europe. Saya malah menangkap ada ruh Symphony X, Dream Theater atau band-band sejenisnya yang kerap dikualifikasikan kritikus musik sebagai Progressive Metal.
Sehabis Start From The Dark (2004) rilis, Europe ngeluarin album lagi tahun 2006. Album yang dikasih judul Secret Society ini, saya download dari blogspot seorang temen asal Finland. Saya lagi bokek, gak kuat beli ke Amazon, dan keliling-keliling di sinipun gak nemu-nemu itu album. Karena gak nahan untuk cepet-cepet dengerin itu album, saya download aja itu album dari blogspot temen chatting asal Finland, yang juga kebetulan fans berat band ini. Lewat diskusi panjang untuk ngeyakinin bahwa saya cuma akan mendengarkannya sendiri, dan tanpa disebarluaskan, akhirnya saya dapet link untuk ngedonlot Secret Society di awal tahun 2007. Sampe saat ini saya pegang janji saya ama si Eklundh, untuk gak nyebar-nyebarin atau posting album tersebut di multiply.
Secret Society dibuka lewat nomer yang punya judul sama dengan tajuk album. Kalau nyidik judulnya, sebelum denger ini lagu, saya udah nebak-nebak ni lagu adalah sebuah komposisi yang prog-rock. Sehabis ngedenger, ya emang sih ada warna prog-rock-nya di bagian reff. Tapi paling durasinya hanya sekitar 30 detikan. Sehabis reff, solo guitar Norum menegaskan bahwa nomer pembuka album Secret Society ini adalah sebuah nomer heavy metal, bertempo cepat, dengan cabikan bass- hentakan drum- plus riff gitar yang saling susul di jalanan lurus. Norum, Leven, Michaeli dan Haughland betul-betul on-fire di nomor Secret Society ini. Sementara Tempest, menata vokalnya agak berbeda, sehingga sekilas lagu pembuka ini gak kayak sebuah komposisi dari Europe.
Kesan pertama begitu kentara gahar-nya, maka dengan melahap satu per satu materi sampe abis, saya merasa bahwa perubahan signifikan mereka di Start From The Dark cuman batu loncatan doang, demi menampilkan sound, soul dan citra Europe yang betul-betul baru di Secret Society. Hanya, sayangnya- kecuali di nomer jenius “The Getaway Plan” yang menampilkan fretwork canggih-nya Norum dan karakter kuat-nya vokal Tempest, “Let the Children Play” yang nge-groove dan renyah, “Love Is Not The Enemy” yang keras atau “Devil Sings The Blues” yang sedingin Riders On The Storm-nya The Doors- Europe gak sengaja jadi sedikit tampak terpengaruh ama elemen-elemen dari band-band modern rock macam : Godsmack, POD atau Bush di era millennium. Diluar nomer-nomer yang saya kecualikan diatas, terjebaknya Europe dalam pola-pola penyesuaian dengan aliran rock trend millennium, keliat samar atau jelas lewat pemilihan riff-riff John Norum dan vokal Joey Tempest yang kehilangan power dan miskin inspirasi. Tempest kelihatannya berusaha tampil dengan style yang betul-betul baru, tapi saya yang ngedengernya malah jadi bertanya-tanya : Tempest kok gak kayak Tempest ya ? Ya, kreatifitas seorang Joey Tempest malah menggerus jatidiri sejatinya sendiri.
Habis tuntas ngedengerin Secret Society, saya ngambil beberapa kaset Europe tempo dulu, seperti : Final Countdown, Out Of This World dan Prisoners In Paradise. Saya berusaha memantapkan argument buat kesimpulan saya tentang rahasia kekuatan Europe, yaitu : karakter vokal Joey Tempest. Final Countdown, Let’s Good Time Rock, Cherokee, Carrie, Superstitious, Tomorrow, All Or Nothing, I’ll Cry For You dan Prisoners In Paradise lewat dengan sukses di indera pendengaran saya. Yap, emang kekuatan Europe tuh ada di vokalnya Tempest ! Sehingga saya bisa menyimpulkan : boleh-boleh aja tuh Europe menaikkan tensi heavy rock yang biasa mereka mainkan, ke tensi yang lebih tinggi seperti di album Start From The Dark dan Secret Society. Cuman, baiknya karakter vokal Tempest gak usah disamarkan atau ditimpa ama teknik penataan koor vokal yang elektronis dan cenderung mendistorsi karakternya. Musik Europe boleh naik tensi, tapi biarin aja Tempest melengkingkan suaranya sejernih ia menyanyikan nomer-nomer hard rock atau balada-nya yang mendunia di paruh 80-an dan awal 90-an. Ini adalah syarat, biar Europe gak menyia-nyiakan jatidiri musik dan style yang udah mereka bangun sejak taun 1985 sampe sekarang, tanpa mengorbankan libido mereka yang keliatannya tinggi untuk nyoba sesuatu yang lain.
Kesimpulan saya tersebut sempet saya chatting-kan juga ama Eklundh, malem minggu kemaren. Eh, saya malah dapet info lebih menarik dari dia, tentang artworker dan engineer yang bekerja dibalik penggarapan Secret Society. Ternyata, semangat pembaharuan Europe juga didukung ama pilihan : siapa yang ngelakuin Mixed ama Mastering album tersebut. Di Secret, Europe menunjuk Stefan Glaumann (yang biasa ngegarap Rammstein) dan George Marino, yang dikenal luas berkat kesuksesannya ngegarap semua album Velvet Revolver, Coldplay dan U2. Untuk artwork-nyapun, Europe gak sembarangan pilih orang. Buat urusan eksklusivitas packaging albumnya, Europe menunjuk Storm Thorgeson, anggota dan pendiri kelompok pekerja grafis Hipgnosis, yang karya-karyanya bisa disimak lewat sampul rekaman grup-grup legendaris macam : Led Zeppelin, Pink Floyd, Peter Gabriel, atau yang paling gres di sampul rekaman-nya Muse. Wah, dapet informasi tambahan tentang keseriusan Europe dalam eksplorasi musik dan eksplorasi elemen pendukungnya, saya makin penasaran dan terus ngeduga-duga : seperti apa ya album terbaru mereka di 2009 nanti ?

Tuesday, June 18, 2013

ALLAH BLESS GITO ROLLIES



Alkisah, suatu sore, gue pulang sekolah bareng bokap, dijemput pake mazda kotak. Dalam perjalanan, seorang pengendara motor edan, menyalip mobil yang kami tumpangi dari sebelah kiri. Gila, gue yang waktu itu masih es-de, kontan kaget dan berteriak, mengingat mobil bokap nyaris menghantam pantat motor yang berpacu ugal-ugalan itu. Bokap, yang biasanya alim dan pendiam, pertamakalinya menghamburkan nama salah satu hewan, yang lazim diteriakkan disaat-saat manusia dihinggapi marah.

Seredanya bokap dari kemarahan, beliau bergumam, ”Emang Gito Rollies...” Gue mengernyitkan dahi,”Emang kenapa Gito...Pak ?” Singkat kata, bokap gue langsung menceritakan sebuah peristiwa heboh, dimasa-masa bokap muda dulu. Suatu peristiwa yang juga sohor ke seantero kota Bandung, tentang seorang pengendara motor yang ugal-ugalan pulang pergi Bandung-Lembang bertelanjang bulat. Nama pengendara motor itu adalah : Bangun Sugito, yang kemudian populer sebagai : Gito Rollies, salah seorang ikon musik rock dan pelopor musik keras di tanah air.

Bokap adalah salah seorang penggemar Rollies, meskipun selagi muda beliau gak pernah nge-band, malahan sibuk maen bola dan konon salah seorang pemain Persib di masa-masa susah, dan kerap berbulutangkis ria dengan grup Iie Sumirat, pebulutangkis legendaris Indonesia. Bokap cerita, bahwa atraksi edan itu dilakuin ama Gito Rollies, dalam rangka merayakan kelulusan es-em-a. Deddy Sutansa, yang kemudian dikenal dengan nama Deddy Rollies, dan karena kekagumannya ama Mick Jagger ganti nama lagi jadi Deddy Stanzah (stones kali ya?), nyupirin mobil menguntit motor Gito, sambil menyorotnya dengan lampu jauh. Besoknya seantero Bandung heboh, bahwa semalam ada anak muda yang gila-gilaan, bermotor sambil bertelanjang ria mengitari jalan-jalan protokol kota kembang.

”Pak, kalo Rollies itu hebat ya ?”gue bertanya dengan polos, mengingat pada jaman itu, yang gue tau vokalis kharismatik di ranah rock Indonesia adalah Ahmad Albar. Wah, bokap bilang, Rollies ama God Bless-nya Ahmad Albar itu imbang, dan beliau mengatakan lagi, bahwa grup-grup sejaman ama mereka, seperti : AKA, Giant Step, Paramour itu berada dibawah Rollies dan God Bless, dalam hal popularitasnya.

Bokap ngelanjutin cerita, waktu beliau berkesempatan menyaksikan penampilan Rollies di Jawa Timur, yang bokap juga lupa di kota apa. Yang jelas, bokap waktu itu lagi ikut turnamen sepakbola, dan kebetulan Rollies lagi mentas di kota itu. Wah, bokap bilang, dalam pentas di kota itu, seabis nge-geber hits-hits James Brown dan Chicago, para personilnya tumbang satu-satu. Tergeletak di atas panggung, mirip aksi pentas Jim Morrison, vokalis kelompok The Doors. Ngeliat para personil gak bangun-bangun juga, penonton yang sebelumnya bersorak jadi curiga : jangan-jangan para punggawa Rollies itu ambruk lantaran teler Dan, gue tau baru-baru ini, setelah nge-browse sebuah media online, bahwa apa yang terjadi di atas pentas, yang belakangan gue tau menurut data berlokasi di Stadion Tambaksari taun 1973, memang bukanlah sebuah stage act. Melainkan, karena para personil Rollies yang diantaranya masih diperkuat almarhum Iwan Krisnawan, drummer yang diidolain nyokap gue, kelewat teler lantaran drugs.

Cerita bokap sepanjang perjalanan pulang sekolah itu bikin gue penasaran untuk ngedengerin album-album Rollies dengan seksama, kendati nyokap-bokap gue rada-rada aneh ama keinginan gue. Dua album, yang kini gak tentu rimbanya, tapi kalo gak salah berlabelkan Remaco dan punya judul Salam Terakhir (1972) dan Setangkai Bunga (1972), gue puter seabis rampung ngerjain pe-er. Sebagai anak ingusan yang belom banyak makan asam garam dunia, gue rada-rada bingung ngedengerin materi album itu : ”Katanya Rollies itu rock, kok, lagu-lagunya selouw euy...”

Pas gue kuliah, gue kangen lagi ngedengerin album-album Rollies yang kemudian hari gue tau digondol ama tante. Untung, album-album studio dan live Rollies di Taman Ismail Marzuki, taun 1976, diremastered lagi ama Hidayat Audio. Gue beli yang live dan studio album Rollies, Setangkai Bunga. Lumayan, dua kaset itu manjur ngeredain stress gue pas nyusun laporan akhir dan ujian semester pendek. Track favorit gue adalah Tiada Kusangka, Setangkai Bunga, Free, Love Of A Woman. Tiada kusangka dibawain ama Bonny Rollies, Setangkai Bunga dibawain ama Bonny Rollies juga, Free-nya Chicago ama Gito Rollies, serta Love Of A Woman dan Gone Are The Songs Of Yesterday yang dilantunkan dengan mantap, lewat vokal kibordis yang suara tenornya fantastic buat gue, Delly Rollies. Vokal tenornya itu kemudian dikenal luas dan mencapai puncak kepopuleran, saat Delly ngebawain masterpiece-nya Rollies, Kemarau (1979), yang juga sempet dapet penghargaan Kalpataru dari Menteri Negara Lingkungan Hidup, bapak Emil Rollies…eh Emil Salim. Saat-saat menyimak materi Rollies di dua album pas masih kuliah itu, adalah salah satu saat terindah dalam apresiasi musik yang emang merupakan hobi gue.

Pada masa-masa kuliah dan pasca kuliah, gue menjadi saksi kepergian satu per satu personil Rollies, mulai dari : Delly, Deddy, Bonny dan yang wafat Kamis kemarin (28 Februari 2008), vokalis gue, aktor gue, seniman gue dan Ustadz gue yang teramat gue hormati, H. Bangun Sugito a.k.a Gito Rollies. Semenjak taun 2005, penyanyi bersuara serak dengan gaya panggung yang atraktif ini jadi lumpuh seabis terjangkiti penyakit kanker kelenjar getah bening. Gue baca di salah satu media cetak, seminggu tiga kali Ustadz Gito harus menjalani kemoterapi di National Hospital Singapura, setelah sebelumnya menjalani operasi.

Mangkatnya Gito Rollies, kontradiktif banget ama meninggalnya, Deddy Stanzah, sang sohib yang sampe menjelang kepergiannya masih dikenal ”baong” (nakal). Konon, Deddy masih dalam pemeriksaan terkait masalah obat-obatan terlarang, yang melibatkan beliau beberapa waktu sebelum kematiannya. Gue denger juga dari kabar angin, Gito, sebagaimana ia upayakan juga ama sohib-sohibnya yang laen, macam : Delly alm., Bonny alm., berusaha mengajak Deddy ke jalan yang benar. Alih-alih dapet respon positif dari Deddy, melalui lagu pertama di album terakhir sang sohib, Paradox, Gito malah dapet semprotan lewat lirik lagu yang juga digunain sebagai judul album terakhir Deddy Stanzah tersebut. Deddy Stanzah meneriakkan ”benci orang sok keren/benci orang sok suci...” dalam salah satu bait lirik lagu beraroma pschydelic itu. Hanya, gue juga menangkap, sebetulnya didalam hati kecil rocker yang gue kagumi totalitasnya di atas panggung itu, sebenarnya terpendam sebentuk kerinduan terhadap nilai-nilai ilahiah. Selain nomer-nomer keras dan beraroma LSD seperti Pencakar Langit, Paradox dan Pejalan Malam, Deddy menyanyikan nomor balada Senandung Illahi dengan larut dan khusyuk di album Paradox. Penghayatannya di lagu itu mengingatkan gue ama detik-detik ketika Deddy melantunkan hits evergreen-nya, Sepercik Air dan sebuah nomer reflektif, Siapa Aku. ”...di cermin kulihat wajahku, tak kukenali kembali. Hitam legam menyerang mata hatiku, terbakar api noda...”rintih Deddy dalam lagu yang sempat menjadi hits di pertengahan 80-an, tahun-tahun ketika ia kembali menemukan kejayaannya sebagai solois.

Kontradiktifnya kedua sahabat itu di penghujung umur gak cuman soal imej aja. Dalam album terakhir yang mereka usung, ternyata tersembul juga kekontradiktifan itu. Kalo Deddy Stanzah dengan Paradox-nya masih meneriakkan perlawanan, maka dalam album terakhirnya Kembali Pada-Nya, Gito Rollies justru mengalunkan kepasrahan total kepada Illahi. ”Semua yang ada pada-Mu membuat diriku tiada berdaya, hanyalah bagimu, untuk-Mu Tuhanku... seluruh hidup dan cintaku.”tutur lirih Gito dalam ”Cinta Yang Tulus”, lagu yang telah mengalami modifikasi lirik, dan pernah dipopulerkan oleh kibordis Rollies, sohibnya yang udah lebih dulu pergi, Delly Joko Alipin.

Akhirnya, sembari mengucap Inna Lillaahi...dan mendoakan kepergian Gito Rollies, gue juga meresapi riwayat hidup beliau, yang mengindikasikan bahwasanya Allah tuh bener-bener sayang ama dia. Bayangin aja, beliau udah mendapatkan apa yang diidam-idamkan ama banyak anak muda, yaitu : muda foya-foya, tua kaya-raya, dan mati...insya Allah masuk surga, mengingat betapa Gito Rollies bersungguh-sungguh menunaikan tobat, bahkan semenjak sebelum beliau dijangkiti kanker getah bening. Met jalan, my superstar, my Ustadz, gue yakin Allah ridla ama ente. Mudah-mudahan pergulatan ente untuk mencapai husnul khatimah, bias dijadiin pelajaran ama para fanatikan rock Indonesia. May Allah blessing you, Kang Gito.

Monday, June 17, 2013

TRASH METAL RASA MILLENIUM




Ada saat-saat ketika gue pengen banget punya band trash metal di masa lalu. Yang memotivasi gue adalah kegaharan sebuah band trash metal, yang jauh dari influence kekemayu-kemayuan. Musik dan attitude band trash itu simpel dan cowok banget. Hidangan trash metal bener-bener pas dan cocok nge-angetin perut, terutama kalo kuping ini berinteraksi dengan band-band trash metal bermutu macam : Megadeth, Bulldozer, Anthrax, Exodus, Napalm Death or Sepultura. Sori coy gue nggak masukin Metallica. Soalnya gue masih kesel ama perubahan konsep mereka pasca album Black. Album-album Metallica hanya menyajikan sekadar aroma hollywood, terlalu kompromistis dan komersil, tapi memupuskan harapan banyak fans fanatiknya seperti gue.

Sempet juga mikir, gimana seandainya part-part trash metal itu dikawinin ama kecepatan a la shredder. Sedikit terlepas dari dominasi nge-dep dalam permainan gitarnya, terutama di bagian riff atau interlude. Wah, gak kebayang kalo kegaharan Megadeth, Bulldozer, dan reng-rengannya dipadukan dengan teknik dan kecepatan Yngwie, Cacophony or Loudness-nya Akira Takasaki. Pasti dahsyat betul out-put-nya.

Eh, khayalan gue masa lalu itu ternyata diwujudkan ama sebuah kelompok musik asal Halmstad, Swedia, Arch Enemy. Waktu CD Doomsday Machine, album ke-6 Arch sampe di meja gue hari minggu lalu, surprise banget rasanya ngedengerin lagu-lagu mereka, yang dikawal ama keangkeran Black Sabbath plus riff-riff a la kaum shredder.Rasanya sesuatu yang progresif di aliran trash/death metal. Bahkan, sesuai ama corak dan energi permainan instrumen juga vokalnya, Arch pantes banget dikategorikan sebagai pengusung Aggressive Metal. Anak kandung dari Heavy Metal, yang lebih bertenaga tapi nyeni dari anak-anak kandung Heavy Metal yang lain, serupaning : trash/death/horror/speed metal. Glenn Tipton (gitaris Judas Priest) ama Tipton-nya, atau Rob Halford (vokalis Judas Priest) ama Fight-nya, bahkan Judas Priest sendiri di album Jugulator-nya sempet coba ngembangin corak mereka ke Aggressive Metal. Mungkin karena mereka udah kadung digemari dengan warnanya sendiri, atau mereka masih kebawa ama style tempo doeloe, Judas gak sampe mencapai apa yang dicapai ama Arch Enemy dalam ke-agresifan bermusik. Ya, iyalah, secara usia aja kayaknya para personil Judas gak mungkin menyaingi power para punggawa Arch, yang juga dikategorikan sebagai band beraliran Melodic Death Metal dari majalah Kerrang !

Ternyata, pendiri Arch bukanlah nama yang asing di benak gue. Arch dipelopori ama Michael Amott (38 tahun), gitaris berdarah Inggris yang gede di Halmstad, Swedia. Dia itu gitaris utama band legendaris dalam sejarah trash/death/horror/speed metal asal Inggris, yaitu : Carcass. Pendengar station rock di kota-kota besar Indonesia pasti kenal nama grup ini. Sebuah grup keras yang ngakunya dipengaruhi oleh brit-pop artist semacam : The Smith dan The Cure, plus dipengaruhi oleh grup legendaris : Iron Maiden. Hi hi hi, cukup unik ya…

Ide berdirinya Arch Enemy terbetik pas Michael menyimak perkembangan sang adik, Christopher Amott, ama band-nya : Armageddon. Terinspirasi dari sang kakak, Chris mengembangkan corak permainannya sendiri. Banyak belajar dari materi-materi permainan John Sykes (eks-Badland, Whitesnake, Thin Lizzy), Yngwie Malmsteen ( pahlawan Swedia kayaknya, gitaris yang gede di Sweden pasti nge-idolain dia), Uli Jon Roth (eks-Scorpions, Electric Sun), John Norum (Europe) dan Michael Schenker (pendiri UFO, eks-Scorpions), Chris kemudian dikenal berkat agresivitas, alternate picking dan fast vibrato-nya. Wuih, selain ngiler ama permainannya, gue juga ngiler ngeliat Chris berpose bareng Caparison-nya- sepucuk gitar indah buatan Jepang, seri delliner signature series-nya. Seinget gue, kalo diantara gitaris-gitaris Metal senior, gitar jenis ini dipake ama Andy LaRocque (King Diamond) dan James Murphy (Testament). Nah, kalo diantara gitaris muda era progressive metal jaman sekarang, gitar jenis gitu dipake ama Michael Romeo (Symphony X) dan Mattias Eklundh, seorang shredder muda yang cepat tapi full-melodius.

Kematangan Michael dan bakat Chris-lah yang kemudian menjadi nyawa Arch Enemy. Apalagi, semenjak album ke-3, mereka resmi diperkuat Sharlee D’Angelo, mantan bassist band Metal legendaris Mercyful Fate dan King Diamond, yang sebelumnya juga aktif sebagai additional player. Arch juga beruntung mempunyai seorang Daniel Erlandsson. Drummer yang dipengaruhi ama para drummer jazz dan hard rock semacam : Bill Cobham, Clive Burr, Vinny Appice, atau drummer keras semacam Dave Lombardo ini, gape banget meramu keunikan style para influence-nya ke dalam beat-beat agresif. Sound snare dan double-pedal-nya itu lho, gagah-keras-mantap !

Feeling gue, Sharlee D’Angelo-lah yang nentuin jatuhnya pilihan Arch pada vokalis cewek, Angela Gossow, mengingat pasca kehadiran Sharlee dan keberadaan Angela-lah, Arch bener-bener muncul murni sebagai Arch, ber-differensiasi dengan band-band influence para pendirinya. Kalo gue denger-denger dari sampel-sampel di album Arch pertama (Black Earth) dan ke-2 (Stigmata), pas masih diperkuat vokalis Johan Liiva, saripati Carcass masih kerasa di materi-materi Arch. Pas Angela yang juga punya alias Saint Gossow ini masuk, gue denger beberapa sampel dari Wages Of Sin, album ke-5 Arch- Anthem Of Rebellion, album ke-7 Arch- en tentu aja materi full album Doomsday Machine, Arch betul-betul mengukuhkan ciri dan kematangan musikalitas. Di Doomsday Machine-lah musik yang dulu-dulu pernah gue khayalkan bakal ada itu tampil seutuhnya. Ia mengemuka di nomor-nomor kayak : Enter the Machine, Taking Back My Soul, Nemesis, My Apocalypse, dan sebagainya. Ni album pokoknya wajib denger buat mereka yang sempet hidup di era kejayaan trash/speed/horror metal, di era-era puncak popularitas Megadeth, Bulldozer, Slayer, Panthera atau Obituary berkibar. Pasti menikmati-lah !

Sekarang, gue cabut dulu ke Aquarius ah. Siapa tau gue nemu satu-dua album Arch yang lain, terutama album terbaru mereka : Rise Of The Tyrant (2007), yang konon sempet nembus Billboard #100 di nomor : 87. Prestasi yang exciting buat sebuah band yang ditopang ama musik panas dan vokal growling yang horror abis.