Friday, December 27, 2013

OMNI MEDULLA OBLONGATA : ALBUM METAL BAGI PETUALANG SOUND



sebagai seorang audioslave, penggila sound, terkadang keputusan untuk membeli sebuah album rekaman bagi saya bukan semata karena lagunya enak gila atau liriknya membius. kemantapan sound yang biasanya ditandai dengan sound low frequency dari dentuman bass yang bulat padat, kekeringan sound distorsif dari petikan gitar yang mengiris menerjang, dan getar tambur inggris yang menghentak dada adalah alasan bagi saya untuk mengoleksi sebuah rekaman.

tiga alasan itu juga yang menjadi alasan utama saya mengoleksi album kelompok Omni bertajuk Medulla Oblongata. darimana saya tahu itu album bakal memberikan kepuasan sound yang maksimal ? 

selain dari reputasi sang bassist, Romy Sophiaan, waktu menggarap nomor-nomor keren di band sambilannya, Konspirasi, juga dari mantengin kegiatan mereka lewat laman FB Romy, laman Omni dan twitter mereka. sekilas saya perhatikan sound equipment yang mereka pakai dari obrolan-obrolan selewat atau postingan-postingan para personilnya. sebagai sampel saya juga sempat menyimak videoklip single mereka, P.E.N.T.A, yang un-ordinary dalam balutan karakter new wave dan rock yang mengingatkan saya pada nomor-nomor Jane's Addiction, Brian Eno dan Creed.

kejutan besar ketika album Medulla Oblongata ini dibuka dengan nomor keras a la System Of A Down berjudul : Padamu Negeri. Nomor berlirik sindiran pada koruptor ini hadir dengan permainan pedal drum yang mengagumkan dari sang drummer, Ryan Bamiftah. mengejutkan juga ada seorang drummer metal Indonesia, yang namanya asing ditelinga saya, tapi permainannya menyajikan : great timing, amazing sound dan technical knowledge yang bule banget. Gokil banget lah !... denger drummer Indonesia diera industri musik yang enggak berpihak pada musik rock, mampu meleburkan style Lars Ulrich, John Dolmayan dan Mike Portnoy secara fasih, enggak cuma di nomor pertama tapi dalam keseluruhan materi album yang Sangat Edan ini !.

kejutan besar lainnya, mengingat orang dibalik album metal nan keras ini adalah, Rully Worotikan, produser yang sukses melejitkan nama Aura Kasih, Vicky Shu, Marcell, RAN dan Armada, di industri musik pop Indonesia. Lagi-lagi Gokil banget... mengingat, beliau memainkan Lead Guitar di album ini dan memberi nuansa yang enggak kalah mengagumkannya dengan pencapaian sang drummer, Ryan Bamiftah. Rully dengan leluasa menampilkan idealismenya di album Medulla Oblongata ini. Dari mulai nomor Padamu Negeri, Generasi Pemenang, Berhala Layar Kaca hingga Politik Ini Untukmu Saja, riff demi riff, interlude demi interlude dan solo demi solo menderu bebas menggetarkan gendang telinga. Sound yang dipilihpun menunjukkan ketelitian dan detailing seorang gitaris matang, yang tahu betul bagaimana dia mesti bermain untuk memberi ruh pada lagu-lagu Omni.

kejutan-kejutan besar tersebut tampaknya enggak akan lahir jika Omni enggak dimotori oleh seorang musisi idealis seperti, Romy Sophiaan. Arwah Cliff Burton seperti merasuki bassist yang juga putra dari almarhum aktor kenamaan Indonesia, Sophan Sophiaan, itu, dalam penggarapan album ini. Mengingat nasihat bapak bassist Indonesia, Donny Fattah, bahwa bassist yang jago itu adalah bassist yang gape mengawal berbagai tempo, Romy layak disebut sukses abis menuntaskan tugasnya sebagai pengawal tempo dialbum ini. dia memberikan ruang yang besar dan mewah untuk Ryan Bamiftah dalam mengembangkan permainan drumnya, disamping sukses juga mengawinkan corak permainannya dengan warna modern rock sang gitaris, Rully Worotikan. sebagai senior dan konseptor di Omni, Romy, menurut saya bahkan lebih sukses daripada ketika ia bermain di Konspirasi.

tentu saja, berbagai kejutan dialbum ini enggak akan bisa saya paparkan satu per satu secara tuntas. untuk mendefinisikan album Medulla Oblongata ini, saya menyebutnya sebagai : album Metal untuk Petualang Sound. artinya, elu-elu yang ngaku petualang sound dan penyuka metal haram beli album bajakannya, karena elu-elu pasti enggak akan mendapatkan kepuasan apa-apa dari hasil copy-an yang enggak ter-otorisasi itu. Mending beli CD aslinya, yang bakal memuaskan petualangan dan penjelajahan kamu diantara repertoar album yang mengisyaratkan bahwa : album Metal pribumi yang berkualitas bule itu masih ada ! Ini bukan promosi. Ini suggest positif yang enggak akan mengecewakan, Bro. (aea)
   





 

DONNY FATTAH DALAM 40 TAHUN BERSAMA GODBLESS



bulan november 2013, tanpa tercium media, begawan bass Indonesia, Donny Fattah, meluncurkan biografinya "40 Tahun Dalam Godbless". biografi keren yang ditulis oleh ketua Godbless Community (GBC) yang juga sahabat baik beliau, Asriat Ginting, ini, merekam perjalanan Sang Legenda Hidup dari mulai meniti karir hingga kebersamaannya yang nyaris tak terpisahkan dengan band rock nomor satu Indonesia, Godbless. beruntung sekali saya, dapat kesempatan mendapatkan edisi khusus yang termasuk 100 cetakan pertama, lengkap dengan bubuhan tandatangan dan kaos keren bergambar beliau sendiri.

nama Donny Fattah adalah nama yang tak asing bagi saya, yang sejak kecil menyukai musik rock. musik-musik yang beliau mainkan, baik ketika memperkuat Godbless maupun album-album grup dan musisi lain yang pernah diperkuatnya, silih-berganti menggetarkan indera pendengaran dengan album-album rock legendaris seperti In Rock-nya Deep Purple, Blackout-nya Scorpions, atau 1984-nya Van Halen. dan diantara album-album yang pernah mendapat sentuhan tangan beliau yang pernah saya simak dan berkesan hingga saat ini adalah, Lagu Untukmu dari Donny Fattah & Friend.

sebagai anak ingusan, album itu memberikan wawasan dan menjadi model musik rock Indonesia yang bagaimana yang mesti saya dengarkan ketika itu. Album tersebut merupakan pengantar saya menikmati album terfenomenal dan terkomersial Godbless, yaitu Godbless 88 a.k.a Semut Hitam. kalau dicermati dan didengarkan secara teliti, dentuman bass di album Lagu Untukmu dan album Godbless 88 begitu kentara menampilkan cetak biru permainan Donny Fattah, yang aksinya panggungnya kerap saya sambut dengan sorak-sorai gila setiap saya sempat menyaksikan aksi beliau saat saya masih duduk disekolah menengah dulu.

membaca biografi beliau, ternyata sama berkesannya dengan saat mendengarkan karya-karya beliau yang menjadi mahal justru karena kesederhanaan beat-beatnya dan kedalaman liriknya. dalam lembar demi lembar biografi tersebut, yang terpancar dari beliau adalah kebersahajaan seorang maestro yang tampaknya lebih menganggap dirinya hanyalah seorang pekerja musik biasa, daripada seorang rock legend Indonesia.

padahal, jika menyimak kisah-kisah Donny Fattah dalam biografi tersebut, dari mulai berdirinya Godbless, tur panjang yang melelahkan era Nasution bersaudara, kehilangan drummer dan kibordis yang handal sebab kecelakaan tragis, hingga penemuan jatidiri di Amerika yang sampai melibatkan diskusi dengan sosok sekaliber Stanley Clarke dan salahsatu bassist terbaik dunia, Geddy Lee, maka yang terpapar bukan sekadar profil seorang bassist jago, sekadar puja-puji pada seorang rockstar, melainkan profil seorang seniman sejati yang menghargai talenta yang diberikan Robb-nya secara tulus dan sungguh-sungguh.

sikap seniman sejati dalam Donny Fattah yang saya maksudkan terpancar dari : keberanian memilih dan kegigihan dalam menyempurnakan ikhtiar.

keberanian memilih tercermin dari sikap beliau tatkala memilih untuk pulang ke Indonesia dari pengembaraannya di Amerika, guna kembali ke pangkuan Godbless. lebih dari itu, hakikatnya beliau kembali ke tanah air demi, memenuhi panggilan hatinya untuk hidup dan mati sebagai musisi. pilihan semacam ini adalah pilihan yang berani, mengingat saat itu beliau sudah establish sebagai pegawai kantoran, sementara industri musik ketika itu belum menjanjikan materi dan kemapanan. tapi toh seorang Donny Fattah tetap memenuhi panggilan hatinya itu. sampai kemudian, kita semua tahu, bagaimana kiprahnya di Godbless, Kantata Takwa atau Gong 2000, yang tanpa beliau sadari telah memberikan arti dan makna bagi rock pribumi yang mengalirkan energi positif di negeri ini.

teguh dalam menyempurnakan ikhtiar adalah motto waktu jaman saya pesantren wirausaha dulu. tidak dinyana, dalam proses kreatifnya, Donny Fattah telah memenuhi salah satu kaidah penyempurnaan ikhtiar yang diajarkan guru dan ustadz muamalah di pesantren dulu, yaitu : 'azam. secara tidak langsung, proses penyempurnaan ikhtiar yang 'azam atau teguh atau gigih itu, mengemuka dalam penggarapan lirik-lirik yang ditulis Donny, baik untuk Godbless, Gong 2000, maupun lirik lagu Pengakuan-nya Power Metal, yang sebetulnya sangat sublim tapi luput dibahas proses kreatifnya dalam buku biografi beliau ini.

dalam proses penulisan lirik saja, seorang Donny Fattah tampak tidak berani asal-asalan dan mengerjakannya dengan penuh dedikasi. lain sama sekali dengan musisi-musisi jaman sekarang, yang lirik-liriknya berupa bait-bait klise belaka. yang enggak kena di kuping dan enggak masuk di hati. bagi saya, lirik-lirik beliau untuk Huma Diatas Bukit, Musisi, Anak Adam dan lain-lainnya, berisi bait-bait reflektif yang secara implisit meng-affirmasi diri saya untuk berpikir dan berbuat sesuatu yang baik. Huma Diatas Bukit contohnya, menginspirasi saya untuk senantiasa menjalin hubungan batin yang erat dan terus meningkat kualitasnya dengan pasangan hidup. adapun lirik Musisi, meskipun saya bukan seorang Musisi, namun liriknya menginspirasi saya untuk selalu berpedoman pada suara hati dalam bekerja dan menekuni profesi yang diamanahkan Allah kepada saya. Lirik Anak Adam lebih gila lagi efeknya bagi saya. Terinspirasi dari lirik Anak Adam ini, dalam pergaulan sehari-hari saya diajak untuk senantiasa menghayati sesama sebagai saudara, karena toh kita manusia yang "...datang dari satu rahim". namanya saudara, mata hati ini harus sama-sama terbuka mencari persamaan dan memaklumi perbedaan. begitulah kira-kira, muhasabah kerennya dari lirik Anak Adam yang lagunya beraransemen progresif itu.

selain kesejatiannya sebagai seorang seniman, menyimak Bab I dari buku biografi beliau, saya diajak untuk menelusuri sebuah peristiwa yang bagi saya sangat esoteris sifatnya dan penuh hikmah bagi siapapun yang mengaku orang beriman. pada bab itu diceritakan, bagaimana peristiwa demi peristiwa disaat Donny Fattah mengalami serangan jantung. hati saya trenyuh disaat membaca paragraf yang menuturkan : "...Tak lama kudengar suara Mati ! Mati !... Saat itu timbul kesadaran, bahwa memang aku sudah berpulang kehadapanNya. Saat itu pula aku merasa lega. Hatiku terus berdzikir. Berpasrah diri, "Ya Allah-ku, jika memang sekarang waktunya pergi, bawalah diriku beserta keikhlasanku." Haru tapi merasa gokil juga, mengingat bagaimana seorang rocker yang terkadang punya imej ugal-ugalan bagi sebagian orang, tapi ternyata mampu merepresentasikan dirinya dihadapan Sang Pencipta dengan begitu Mukhlis-nya.
 
pada tiga titik itulah saya kira, buku biografi DONNY FATTAH 40 TAHUN BERSAMA GODBLESS ini menjadi sesuatu yang sangat bernilai. pada titik inilah saya kira, saya mesti memberikan penghargaan yang layak pada Asriat Ginting, sang penulis biografi, yang telah berhasil menyajikan sisi-sisi kehidupan seorang Donny Fattah dengan begitu moderat, sehingga ketika membaca kisah sang legenda, seorang penggemar seperti saya jadi merasa lebih dekat dengan beliau, seolah-olah mendengar tuturan seorang Paman saat saya berkunjung dan menikmati Teh Manis beserta makanan ringan di beranda rumahnya. Gokilnya, sampai saya tidak menyadari bahwa ini 'kan kisah seorang Rocker, bukan kisah seorang Guru Ngaji atau Pengasuh Ponpes, yang biografinya mendominasi rak buku saya,  lho ! (aea)