Skip to main content

WAKTU CLEAN IAN BERMAIN TRASH



Saya datang ke konser Burgerkill pada tanggal 28 september 2013 itu, dalam hati berniat untuk merasakan atmosfer dahsyat dan epical dipenghujung rentetan konser Spit The Venom mereka, yang dihelat di Istora Senayan, Jakarta.

Burgerkill bagi saya adalah band metal paling prestisius di Indonesia, bukan hanya karena sejarahnya yang telah membentuk pergerakan massif diakar rumput metalhead tanah air, namun juga karena kebanggaan saya kepada Burgerkill yang berasal dari Bandung (kota kelahiran saya) dan telah mengibarkan bendera merah putih diajang berbagai festival metal Internasional.
Selain misi tersebut, saya hadir ke konser karena penasaran ingin menyaksikan aksi gitaris idola, Ian Antono, yang saya dengar akan ber-spesial appearance bareng Burgerkill (B.K). Dalam perjalanan menuju venue, sambil menyantap keripik sanjai yang enak diselingi dengan mereguk Oolong Tea yang dingin dan manis, saya menerka-nerka dalam benak,”Apa lagu yang kira-kira akan dimainkan Ian Antono bersama B.K ?”

Singkat kata, gelaran konser Djarum Super Rock Adventure, Burgerkill : Spit The Venom 2013 etape terakhirpun digelar. Lagu demi lagu menderu, digeber habis dari atas pentas.
Saya sibuk menikmati stage act B.K., yang rasa-rasanya lebih bergemuruh dari penampilan-penampilan mereka sebelumnya yang sempat saya saksikan. Treatment lighting dan sound system di konser ini terasa begitu ‘wah’. Nyaris mendekati treatment lighting dan sound system yang bisa disimak dalam rilisan DVD band-band metal mancanegara seperti Metallica, Megadeth, atau Kreator. Para begundal ber-headbang, ber-moshing, sementara saya yang merasa sudah tak remaja lagi manggut-manggut saja mirip seperti ketika mendengar lantunan suara Scott McKenzie di lagu San Fransisco. Udah gak ketenagaan untuk ber-moshing dan headbang. Hehehe.

Akhirnya, rundown acara sampai pada penampilan Ian Antono bersama B.K. Sosok living legend yang kreasinya dari Neraka Jahanam sampai Rumah Kita-nya begitu akrab dipendengaran saya itu, dengan gayanya yang khas hadir mengenakan kaus singlet warna hitam tematik Burgerkill : Spit The Venom. Enggak pangling sih. Hanya saja, ditemani gitar Ibanez warna putih beliau tampak sedikit lebih sangar dari biasanya.

Adrenaline saya makin bergejolak. Diantara riuh rendah penghormatan kepada sosok gitaris band rock paling berpengaruh di Indonesia, Godbless, itu, intro Seek And Destroy menyeruak kemudian. Panggung pecah. Diatas panggung Eben BK dan Agung BK tampak begitu bersemangat mengiringi sang patron memainkan part demi part nomor legendaris yang diambil dari album Metallica, Kill ‘Em All, itu. Tersimak sosok Ian Antono yang juga belum pernah saya simak sebelumnya.
Diatas stage yang bernuansa Dark, beliau jadi tampak ikut-ikutan terbawa dingin dan angker seperti tongkrongan Kirk Hammet (Metallica), Alex Skolnick (Testament) atau Michael Ammott (Arch Enemy) saat memainkan lead diatas panggung. Saya jadi hanyut terbawa suasana, tadinya manggut-manggut menjadi setengah headbang, mendengar sound permainan Ian Antono yang masih saja terdengar seksi, nge-beat dan melodius, diantara permainan para punggawa BK yang brutal menderu-deru menghajar gendang telinga.

Seek and Destroy adalah nomor yang dianggap sebagai lagu terbaik di album Kill ‘Em All, setidaknya berdasarkan polling situs terkemuka www.ultimateclassicrock.com. Permainan solo di lagu ini juga termasuk dalam polling The Best Metal Guitar Solo’s di laman situs music list terkemuka, www.digitaldreamdoor.com. Kurang lebih, artinya, siapapun gitaris yang bisa memainkan lagu ini pastilah gitaris yang jago. Tapi, bukan dititik ini sebetulnya kesan saya waktu menyaksikan aksi Ian Antono bersama B.K. di Spit The Venom Concert itu.

Masalah kejagoan Ian Antono sudah tidak perlu dibahas lagi. Seandainya beliau lahir di Amerika atau Inggris, membicarakan Ian Antono akan sama gregetnya seperti kita membicarakan Jimi Page atau Ritchie Blackmore, menurut kira-kira saya.

Pasca menyaksikan jamming tersebut, yang menggelitik dibenak saya adalah pertanyaan,”…bagaimana jadinya ya, sekiranya Ian Antono ada dibalik produksi album grup-grup Trash Metal negeri ini, seperti : Rotor, Sucker Head, Dead Squad atau Burgerkill sendiri ? Persis sebagaimana beliau berdiri dibalik sukses para talenta artis solois maupun grup pada beberapa dekade lampau.” Tentu akan menjadi karya yang mahal dan unik, jikalau itu sampai terjadi. Bagaimana tidak ? Menyimak penampilan beliau yang begitu greget dalam ending tour salah satu kelompok musik terkeras di negeri ini, tampaknya tak berlebihan jika saya berharap suatu saat ada jalannya bagi tangan dingin Ian Antono, menjadi produser dan arranger sebuah album Trash Metal besutan Trasher muda dalam negeri.

Masalah passion dan spirit beliau terhadap musik jenis ini ? Barangkali testimony Robin Malau, gitaris Puppen yang juga jadi guest star malam itu, bisa mewakili pendapat saya. “Meski berumur jauh diatas gue, beliau masih begitu bertaring. Bagian lead guitar Seek And Destroy-pun disikat habis. Sampe sekarang aja, bagian ryhtm lagu itu aja belum gue selesai ulik. Lazy Bastard ! Super lefthand, Mas Ian !”tukas Robin kepada Guitarplus (aea).

Comments

Popular posts from this blog

MUSIK STONES DAN ORANG KITA

Pertamakali saya melihat gambar lidah melet ukuran besar itu, dikamar paman saya. Dibawahnya ada tulisan yang ketika itu saya eja : de ro ling setun, kol me sir, yu ar bastard. Waktu itu saya mengira-ngira, apa kira-kira arti dari kalimat yang tertulis dibawah lidah melet itu. Apa pula logo lidah melet itu ? Logo toko blue jeans langganan paman-kah ? Atau stiker yang sengaja dibuat untuk sekadar ditempel di angkot dan oplet ?

Imej lidah melet itu, akhirnya saya kaitkan dengan imej paman, yang kerap berpakaian ngoboy, dan kerap datang ke rumah kakek dalam keadaan teler. Pernah suatu kali, saya menyaksikan paman menghardik kakek-nenek, karena minta dibelikan motor. Belum cukup segitu, paman yang anak bungsu itu mengejar-ngejar nenek dalam keadaan mabuk, sambil mengancam. Wah, nenek saya langsung berkata,”Dasar anak nakal, kau ...tak bahagia kau seumur hidup nanti !” Maka, kontan saja saya beranggapan, ooooh, lidah melet itu logo seseorang, atau tanda kelompok orang-orang yang melawan o…

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running. 
When I woke up I forgot I had a limp, 
so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'. 
Then I immediately stumbled. 
That showed me that if you have control over your mind, 
you can do anything…”
-JASON BECKER

Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988). Di album Perpetual Burn inilah Ja…

Ritchie Blackmore : Gitaris Terkeras Pada Masanya

Dalam kumpulan cerita pendek penulis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma, yang diberi judul “Kematian Donny Osmond”, ada sebuah cerita pendek yang diberi judul unik : “Ritchie Blackmore”. Cerita pendek itu menceritakan kiprah seorang pengamen jalanan, penggemar fanatik Ritchie Blackmore, gitaris pertama Deep Purple dan pendiri grup hard rock legendaris, Rainbow. Sang pengamen yang tak jelas namanya itu mencari nafkah dari memainkan karya-karya Ritchie Blackmore, semasa salah seorang gitaris terkeras dan penulis komposisi rock legendaris ini bergabung dengan supergroup yang disebut sebelumnya. Berbeda dengan para koleganya di jalanan, yang rata-rata memainkan musik dangdut atau lirik protes penyanyi balada Indonesia,Iwan Fals, sang pengamen meneriakkan “Child In Time”, “Smoke On The Water”, “Stormbringer”, “Man On The Silver Mountain”, “Long Live Rock N Roll” dan karya-karya Blackmore lainnya, di pasar-pasar atau tempat-tempat dimana ia biasa mencari nafkah.

Dari kota ke kota, sang pen…