Friday, February 27, 2015

WAKTU CLEAN IAN BERMAIN TRASH



Saya datang ke konser Burgerkill pada tanggal 28 september 2013 itu, dalam hati berniat untuk merasakan atmosfer dahsyat dan epical dipenghujung rentetan konser Spit The Venom mereka, yang dihelat di Istora Senayan, Jakarta.

Burgerkill bagi saya adalah band metal paling prestisius di Indonesia, bukan hanya karena sejarahnya yang telah membentuk pergerakan massif diakar rumput metalhead tanah air, namun juga karena kebanggaan saya kepada Burgerkill yang berasal dari Bandung (kota kelahiran saya) dan telah mengibarkan bendera merah putih diajang berbagai festival metal Internasional.
Selain misi tersebut, saya hadir ke konser karena penasaran ingin menyaksikan aksi gitaris idola, Ian Antono, yang saya dengar akan ber-spesial appearance bareng Burgerkill (B.K). Dalam perjalanan menuju venue, sambil menyantap keripik sanjai yang enak diselingi dengan mereguk Oolong Tea yang dingin dan manis, saya menerka-nerka dalam benak,”Apa lagu yang kira-kira akan dimainkan Ian Antono bersama B.K ?”

Singkat kata, gelaran konser Djarum Super Rock Adventure, Burgerkill : Spit The Venom 2013 etape terakhirpun digelar. Lagu demi lagu menderu, digeber habis dari atas pentas.
Saya sibuk menikmati stage act B.K., yang rasa-rasanya lebih bergemuruh dari penampilan-penampilan mereka sebelumnya yang sempat saya saksikan. Treatment lighting dan sound system di konser ini terasa begitu ‘wah’. Nyaris mendekati treatment lighting dan sound system yang bisa disimak dalam rilisan DVD band-band metal mancanegara seperti Metallica, Megadeth, atau Kreator. Para begundal ber-headbang, ber-moshing, sementara saya yang merasa sudah tak remaja lagi manggut-manggut saja mirip seperti ketika mendengar lantunan suara Scott McKenzie di lagu San Fransisco. Udah gak ketenagaan untuk ber-moshing dan headbang. Hehehe.

Akhirnya, rundown acara sampai pada penampilan Ian Antono bersama B.K. Sosok living legend yang kreasinya dari Neraka Jahanam sampai Rumah Kita-nya begitu akrab dipendengaran saya itu, dengan gayanya yang khas hadir mengenakan kaus singlet warna hitam tematik Burgerkill : Spit The Venom. Enggak pangling sih. Hanya saja, ditemani gitar Ibanez warna putih beliau tampak sedikit lebih sangar dari biasanya.

Adrenaline saya makin bergejolak. Diantara riuh rendah penghormatan kepada sosok gitaris band rock paling berpengaruh di Indonesia, Godbless, itu, intro Seek And Destroy menyeruak kemudian. Panggung pecah. Diatas panggung Eben BK dan Agung BK tampak begitu bersemangat mengiringi sang patron memainkan part demi part nomor legendaris yang diambil dari album Metallica, Kill ‘Em All, itu. Tersimak sosok Ian Antono yang juga belum pernah saya simak sebelumnya.
Diatas stage yang bernuansa Dark, beliau jadi tampak ikut-ikutan terbawa dingin dan angker seperti tongkrongan Kirk Hammet (Metallica), Alex Skolnick (Testament) atau Michael Ammott (Arch Enemy) saat memainkan lead diatas panggung. Saya jadi hanyut terbawa suasana, tadinya manggut-manggut menjadi setengah headbang, mendengar sound permainan Ian Antono yang masih saja terdengar seksi, nge-beat dan melodius, diantara permainan para punggawa BK yang brutal menderu-deru menghajar gendang telinga.

Seek and Destroy adalah nomor yang dianggap sebagai lagu terbaik di album Kill ‘Em All, setidaknya berdasarkan polling situs terkemuka www.ultimateclassicrock.com. Permainan solo di lagu ini juga termasuk dalam polling The Best Metal Guitar Solo’s di laman situs music list terkemuka, www.digitaldreamdoor.com. Kurang lebih, artinya, siapapun gitaris yang bisa memainkan lagu ini pastilah gitaris yang jago. Tapi, bukan dititik ini sebetulnya kesan saya waktu menyaksikan aksi Ian Antono bersama B.K. di Spit The Venom Concert itu.

Masalah kejagoan Ian Antono sudah tidak perlu dibahas lagi. Seandainya beliau lahir di Amerika atau Inggris, membicarakan Ian Antono akan sama gregetnya seperti kita membicarakan Jimi Page atau Ritchie Blackmore, menurut kira-kira saya.

Pasca menyaksikan jamming tersebut, yang menggelitik dibenak saya adalah pertanyaan,”…bagaimana jadinya ya, sekiranya Ian Antono ada dibalik produksi album grup-grup Trash Metal negeri ini, seperti : Rotor, Sucker Head, Dead Squad atau Burgerkill sendiri ? Persis sebagaimana beliau berdiri dibalik sukses para talenta artis solois maupun grup pada beberapa dekade lampau.” Tentu akan menjadi karya yang mahal dan unik, jikalau itu sampai terjadi. Bagaimana tidak ? Menyimak penampilan beliau yang begitu greget dalam ending tour salah satu kelompok musik terkeras di negeri ini, tampaknya tak berlebihan jika saya berharap suatu saat ada jalannya bagi tangan dingin Ian Antono, menjadi produser dan arranger sebuah album Trash Metal besutan Trasher muda dalam negeri.

Masalah passion dan spirit beliau terhadap musik jenis ini ? Barangkali testimony Robin Malau, gitaris Puppen yang juga jadi guest star malam itu, bisa mewakili pendapat saya. “Meski berumur jauh diatas gue, beliau masih begitu bertaring. Bagian lead guitar Seek And Destroy-pun disikat habis. Sampe sekarang aja, bagian ryhtm lagu itu aja belum gue selesai ulik. Lazy Bastard ! Super lefthand, Mas Ian !”tukas Robin kepada Guitarplus (aea).

SYAIR KEHIDUPAN



tadinya ingin melanjutkan tulisan sebagai apresian bagian 4 yg agak serius di page ini...tapi denting gitar Ian Antono dlm nomor Syair Kehidupan membuat saya kontan mengheningkan cipta. "disaat ini ingin ku terlena lagi, terbang tinggi di awan, tinggalkan bumi di sini. disaat ini ingin ku mencipta lagi, kan kutuliskan lagu, sambil kukenang wajahmu."lantun sang legenda, Ahmad Albar. beberapa saat denting gitar mengalun tenang, sebelum kemudian masuk ke bagian reff yg diiringi koor yang lirih itu..."malam panjaaang, remang-remang..." mata saya basah kemudian. seperti anak kecil yang cengeng, saya terisak sendirian. ya, saya terisak karena ingat ini lagu kesukaan almarhumah Mama yang baru sebulan berpulang. saya ingat, terakhir kali kami mengobrol, saya memperdengarkan hasil recording hape waktu Godbless konser Commemorate di Bandung. itulah, terakhir kami bicara agak lama soal lagu favorit Mama saya ini...

Thursday, February 26, 2015

ETHIOPIA : IAN ANTONO SEORANG ARRANGER BERWAWASAN LUAS


pengalaman apresiasi karya Ian Antono bag.3

Lagi2 dari Radio Mara Bandung saya mendengarkan hits Iwan Fals berjudul Ethiopia. Dan lagi2 usai mendengar lagu yang asyik saya akan berkunjung ke toko kaset untuk membelinya.
Setelah kaset dibeli, saya dengar sambil membolakbalik cover. Eh, tertulis disitu nama Ian Antono sbg.aranger khusus lagu Ethiopia (yg lain aransemen oleh Willy Soemantri).
Saya, sebagaimana diceritakan sebelumnya, sudah terpikat dgn.aransemen beliau di lagu Grace Simon dan teknik hammer-on beliau di lagu Chrisye, tambah exciting saja waktu mengetahui aransemen Ethiopia dikerjakan Ian Antono. Bgmna tdk, lagu itu dibuka dengan beat dub a la musik afro, dgn.seni vokal a la suku2 Abesinia,ditingkahi suara hewan yg kelaparan. Tone kibord yg dipilih menambah keunikan dan suasana lagu tsb.
Setelah byk menyimak musik dikemudian hari, mafhumlah saya bahwa apa yg dilakukan Ian Antono dlm lagu Ethiopia adlh indikator bhw beliau seorg. Aranger yg berwawasan luas. Mengingat beliau tidak mengenyam pendidikan musik scr formal, adalah sesuatu yg.jenius menggabungkan koor a la abesinia, tone kibord a la Black Moonnya ELP, dan koor Gospel a la gereja2 di Georgia, Amerika sana. Belum cukup itu semua, ada lagi ide kreatif beliau dlm aransemen, ketika menjelang closing lagu koor gospel a la gereja afro-amerika itu digunakan sbg.latar musik Iwan Fals bersajak.
Keberhasilan Ian Antono meleburkan musik dari berbagai genre dlm Ethiopia inilah, yg membuat saya kemudian merindukan karya2 aransemen beliau sampai saat ini.

berikut lagu Ethiopia dari Iwan Fals dengan aransemen Ian Antono : Iwan Fals-Ethiopia