Skip to main content
Savannah Rock Band

Ada empat fase yang bisa digunakan untuk menandai kegiatan bermusik saya. Fase pertama, saat-saat SMP, adalah masa-masanya saya memainkan lagu-lagu tahun 70-an, baik dari band dalam maupun luar negeri. Fase kedua, waktu pake celana abu-abu, adalah masa-masa penuh gejolak ketika saya melengkingkan Gun's N Roses, Metallica, Helloween, Bon Jovi dan sejenisnya. Fase ketiga, saat-saat kuliah, adalah masa-masa ketika saya tergila-gila pada band-band atau artis-artis nyeni dari ranah rock alternative, semisal : The Doors, Stone Roses, The Verve, The Cure, Soundgarden, Pearl Jam, Screaming Trees, Mudhoney, Blind Melon dan Smashing Pumpkins. Setelah melalui tiga fase sebelumnya, sampailah saya pada fase keempat, pasca kuliah sampe sekarang, sebagai : apresiator belaka.

Pada fase pertama, dari mulai kelas 1 sampe kelas 3 SMP, tercatat udah tiga kali bikin band. Band pertama namanya : “Savannah”, band kedua : “Dalton” dan band ketiga punya nama : “Rock Kramer.”

Savannah, band pertama saya diambil dari nama sebuah tempat dalam komik McCoy terbitan Indira. Anggotanya : 1-Lukman, sang gitaris, anak Ciumbuleuit yang saat itu banyak hafal kord Beatles dan Stones. 2-Yogi, sang drummer, anak stasion hall penggemar berat Stewart Coppeland (The Police) dan Ringo Starr (The Beatles). 3-Benny, sang bassist, anak Andir yang selalu dikejar-kejar guru BP, sebab nggak mau motong rambutnya yang model John Taylor (Duran-duran). 4-Saya sendiri, anak Cibeureum yang udah hafal lagu-lagu Stones dan Beatles sejak kelas empat SD, memilih posisi Lead Vocal.

Dilihat dari kematangan dan penguasaan pada masing-masing instrumen yang dipegang, Yogi adalah personil paling matang. Maklum, semenjak duduk di kelas 4 SD dia sudah belajar main drum, dan sang ayah konon pernah jadi drummer grup Drakhma (Dodo Zakaria Cs).

Menyusul setelah Yogi adalah Benny. Temen yang satu ini, yang sempet ketemu kelak saat saya duduk di bangku kuliah, selain jago gitar dan punya cita-cita tinggi menjadi bassist ternama, juga sangat bandel dan doyan berkelahi. Sehari-hari waktunya habis buat nyari chord lagu, maen band ama anak-anak luar sekolah kami, sehingga peringkat kelasnya selalu anjlok. Benny juga punya kakak yang jago maen gitar. Dari sang kakak yang sempet keluar masuk grup-grup lokal Bandung yang udah punya nama (Rudal, Kalimaya, Essex Family) inilah, Benny menyerap semua ilmu mencabik bass.

Lukman dan saya relatif punya kemampuan rata-rata. Sebab kami kebetulan satu bangku, dengan Lukman inilah saya lebih banyak diskusi soal materi lagu. Paket latihan pertama kami didominasi lagu-lagu Koes Plus, Rolling Stones dan The Beatles. Lagu Koes Plus-nya : Bis Sekolah, Dara Manisku dan Nusantara (lupa lagi Nusantara I, II atau berapanya...). Lagu Stones-nya : Honky Tonk Woman, Brown Sugar dan Ruby Tuesday. Dan lagu Beatles-nya : I Saw Here Standing There, Get Back, Yesterday dan Paperback Writer.

Photobucket - Video and Image Hosting

Imam, kakak kelas kamilah yang banyak membantu dalam menyusun materi latihan pertama. Imam adalah gitaris dan drummer jebolan Komunitas Ranggamalela, yaitu sekumpulan penggemar classic rock yang punya base camp di JL.Ranggamalela, seberang toko kaset Aquarius. Penggemar berat Brian Jones itu sengaja memboyong majalah-majalah lama milik sang ayah, yang memuat chord lagu-lagu yang kami pilih diatas. Kelak, Imam juga yang memperkenalkan studio-studio latihan sekitar stasiun Bandung dan memboyong kami untuk tampil di parade-parade band dan pentas Agustusan, seolah-olah dia adalah manajer grup kami. Imam melakukan segalanya tanpa pamrih. Sampe-sampe, dia pinjemin Lukman efek, dia pinjemin Yogi satu set stick drum, dan yang bikin kami terharu, tiap-tiap tampil di parade Band, Imam juga yang sibuk nyari pinjeman alat. Sungguh seorang rocker yang baik hati (Well, pal...I really miss u know).

Latihan pertama kami berlangsung di studio Roxy, Gardujati-Bandung, selepas sekolah hari Sabtu. Roxy terletak pas di belakang SMP Swasta, yang sering banget berkelahi sama SMP kami. Kami pilih untuk latihan di tempat itu karena referensi Imam dan jaminan keamanan dari Nino, anak stasiun Bandung teman sekelas Imam.

Dengan dikawal Nino dan tiga anak buahnya (kayak band apaan aja !), kami ber-jamming di Roxy Sound, membawakan nomor-nomor hit klasik dari Koes Plus, Stones dan Beatles. Ditatap mata pemilik studio, anak buah Nino yang menggenggam plastik berisi Martini, Nino, Imam dan kawan-kawan, untuk pertama-kalinya kami mencapai 'orgasme' pertama. Setelah berminggu-minggu ngulik dan briefing di aula sekolah, akhirnya kesampaian juga ngerasain maen satu grup secara utuh. Gagah betul rasanya, nyanyi diiringi bass, gitar elektrik dan diiringi tambur Inggris ber-merk Ludwig, yang menurut sang pemilik studio diwarisi dari Iwan Krisnawan, drummer grup Rollies angkatan 'babe gue', yang tewas tersengat morfin.

Photobucket - Video and Image Hosting

Habis kelar latihan, pemilik Roxy Studio mendekati kami dan mengatakan bahwa kami berempat punya bakat bermusik yang besar. Yang paling dia puji adalah Yogi, yang paling banyak dikritik adalah saya. Yogi, menurut beliau punya bakat nge-drum yang besar. Pukulan-pukulan dan permainan pedalnya dipuji abis sama pemilik studio. Maennya nggak ada cacat, buat ukuran drummer usia kelas 1 SMP. Yogi disanjung abis, pokoknya. Suatu saat kelak dia memang jadi drummer yang sangat disegani, dan sempet dapet julukan “Lars Ulrich”-nya band-band SMA se-Bandung Raya.

Adapun saya, lebih banyak mendapat kritikan ketimbang pujian dari bapak pemilik studio. Menurut beliau, nyanyi rock itu bukan sekedar kudu menjangkau nada-nada tinggi. Selain power, saya mesti belajar banyak untuk bisa nyanyi merdu dan nggak lempeng. Tapi, menurut beliau, kekurangan saya itu bisa diatasi dengan banyak latihan dan jam terbang manggung. Apalagi, saya punya modal power dan tampang untuk kelak menjadi rocker tulen, seorang frontman grup musik rock. So, kata sang pemilik studio, banyak olahraga dan banyakin latihan nyanyi, kalau perlu kursus sama senior yang lebih ahli.

Selama dalam perjalanan pulang, nasehat itu terus saja terngiang-ngiang. Pas di rumah, sambil memandangi poster John Lennon dengan kacamata minusnya, yang nempel anteng di sebelah karton jadwal pelajaran, saya merenungkan lagi nasehat pemilik studio. Sampai kemudian lamunan saya buyar, ketika almarhumah nenek menegur: “Di, rek bareng moal shalat Isya-na ?”-(Mau bareng nggak shalat Isya'-nya ?) (bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running.  When I woke up I forgot I had a limp,  so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'.  Then I immediately stumbled.  That showed me that if you have control over your mind,  you can do anything…” -JASON BECKER Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988...

ETHIOPIA : IAN ANTONO SEORANG ARRANGER BERWAWASAN LUAS

pengalaman apresiasi karya Ian Antono bag.3 Lagi2 dari Radio Mara Bandung saya mendengarkan hits Iwan Fals berjudul Ethiopia. Dan lagi2 usai mendengar lagu yang asyik saya akan berkunjung ke toko kaset untuk membelinya. Setelah kaset dibeli, saya dengar sambil membolakbalik cover. Eh, tertulis disitu nama Ian Antono sbg.aranger khusus lagu Ethiopia (yg lain aransemen oleh Willy Soemantri). Saya, sebagaimana diceritakan sebelumnya, sudah terpikat dgn.aransemen beliau di lagu Grace Simon dan teknik hammer-on beliau di lagu Chrisye, tambah exciting saja waktu mengetahui aransemen Ethiopia dikerjakan Ian Antono. Bgmna tdk, lagu itu dibuka dengan beat dub a la musik afro, dgn.seni vokal a la suku2 Abesinia,ditingkahi suara hewan yg kelaparan. Tone kibord yg dipilih menambah keunikan dan suasana lagu tsb. Setelah byk menyimak musik dikemudian hari, mafhumlah saya bahwa apa yg dilakukan Ian Antono dlm lagu Ethiopia adlh indikator bhw beliau seorg. Aranger yg berwawasan luas. Mengingat...

JEFF HANNEMANN DALAM KENANGAN

(foto dari Wikipedia) (seperti dituturkan Dave Lombardo, ex-drummer Slayer pada Metal Hammer Magz) Pertama kali saya bertemu Jeff Hanneman pada tahun 1981. Saat itu, saya dan Kerry King (gitaris Slayer), berencana untuk membuat band. Kami bertiga berlatih di rumah orangtua saya. Kerry yang mengajak Jeff. Kesan pertama, Jeff itu seperti anak surfer yang pendiam. Rambutnya panjang banget, tinggal di Long Beach, dan biasanya orang-orang situ di rumahnya punya papan selancar. Saya pikir, anak ini keren dan cocok jadi anak band. Jeff berpengaruh banget ama Sound Slayer. Saya dan Kerry sebelumnya menyukai Judas Priest, Iron Maiden, Rainbow, dan Deep Purple. Sampai suatu hari, Jeff datang latihan dengan rambut yang dicukur bersih. Saya bertanya, “wah apa-apa lu, Jeff ?” Jeff bilang, “Gw sekarang pindah ke Punk, heavy metal sudah berakhir.” Jeff kemudian bawa berbagai vinyl dan kaset, dari kelompok-kelompok seperti Black Flag, TSOL, Minor Threat, Dead Kennedys dan Circle Jerks. ...