Skip to main content

KISAH KAUM SHREDDER

Gue adalah salah satu saksi kelahiran banyak gitaris shredder, karena gue napaki masa remaja pas jaman-jamannya pendekar-pendekar shredder muncul dan bertarung di rimba musik rock dan per-metal-an. Ngomong soal shredder pioneer, tentu aja gak bisa terlepas dari nama Yngwie J Malmsteen. Dialah guitar shredder pertama yang sukses secara komersial sebagai seorang gitaris solo (album-album solo), berkat appregio speed-nya yang dahsyat. Sound Yngwie-pun bener-bener khas, sampe-sampe dari intro doang, orang bisa langsung nebak : “Wah, Yngwie ya !”


Di jaman guitar shredder, para gitaris dikenal kedahsyatan teknik dan kecepatannya bermain lewat album-album solo maupun album mereka secara grup. Yngwie J Malmsteen naek berkat “Rising Force”-nya, Joe Satriani berkat “Surfing With Alien”-nya, Stevie Vai berkat “Passion of Warfare”-nya, atau duo Marty Friedman-Jason Becker berkat “Speedmetal Symphony” dan “Go-Off”-nya. Masih banyak juga nama gitaris lain yang rata-rata diproduserin ama Mike Varney, jurnalis dan penulis majalah bergengsi Guitar Player, yang layak disebut shredder. Sebut aja nama Greg Howe , Ritchie Kotzen, Tony McAlpine, Paul Gilbert, sampe Chris Impelliteri- gitaris bule asal Amrik yang permainannya konon paling mirip ama Yngwie J Malmsteen.

Meskipun Yngwie layak disebut guitar shredder pertama yang sukses secara solo dan secara komersial, tapi pijakan era guitar shredder tuh ditandai dengan permainan solo Eddie Van Halen dalam “Eruption” (denger di album pertama Van Halen taun 1978 yang judulnya “Van Halen”). Abis intro pendek yang didukung ama perangkat drum yang dimaenin ama Alex Van Halen dan instrumen bass yang dipegang ama Michael Anthony, Eddie meluncurkan “Eruption” lewat kombinasi scale, bending dan “dive bombs” yang dahsyat. Highlight dari solo guitar ini adalah teknik “fretboard tapping”, yaitu : dua tangan maen di neck-guitar sembari memproses appregio dalam tempo cepat. Waktu maenin karya monumental itu, Eddie pake pick-up : 1950s Gibson humbucker pickup, pake perangkat ampli : 1960s Marshall tube amp, pake tape-driven : Echoplex, juga pake perangkat untuk sound echo : Univox echo box.

Seinget gue, virus guitar shredder juga menjangkiti publik rock dan heavy metal dalam negeri. Lewat kompilasi-kompilasi band-band festival log zhelebour atau grup-grup rock terseleksi, permainan a la shredder juga sempet mewarnai permainan gitaris-gitaris muda Indonesia, pasca era dewa-dewa gitar rock klasik kayak Ian Antono (God Bless, Gong 2000), Sunatha Tanjung (AKA, SAS), Gideon Tengker (Drakhma), Albert Warnerin (Giant Step), Totok Tewel (El Pamas, Sircus Barock, Swami, Sawung Jabo) dan lain-lain, yang lebih mementingkan harmonisasi ketimbang eksplorasi sound, speed dan teknik (tapi bukan berarti sound, speed ama teknik mereka butut lho !).

Gitaris-gitaris muda jaman itu yang pantes dijuluki guitar shredder Indonesia adalah : Eet Sjahranie (Edane, God Bless, Cynomadeus), Eddy Kemput (Grass Rock), Ipung (Power Metal, Andromeda), Lucky Setyo (Power Metal), Parlin “Pay” Burman (Slank) dan gitaris Bandung, Babon, yang sempet berkibar di panggung dan festival rock nasional bareng band-nya Rudal Rock Band.

Diantara gitaris-gitaris yang disebut di atas, Eet Sjahranie, setidaknya buat gue merupakan gitaris yang paling pantes nyandang gelar shredder pioneer. Ke-shredder-an Eet mengemuka lewat album pertama Edane, The Beast. Riff Eet di lagu hits pertama mereka, Ikuti, menandai orde baru kelahiran era guitar shredder Indonesia. Nomor instrumental Opus #13 (Ringkik Turangga) di album tersebut, seolah-olah menegaskan ambisi Eet untuk menorehkan semangat baru di kancah musik rock negeri ini.

Meskipun eksplorasi sound, teknik dan style Eet udah keliat semenjak album pertama Edane, album kedua Edane, Jabrik-lah, yang membuat Eet bener-bener layak digelari seorang shredder. Album yang dibuka lewat nomor keras, Wake Of The Storm, dan ditutup oleh nomor instrumental cadas, Kurusetra itu, bikin gue (dan tentunya seluruh rakyat metal dan biang rock jaman itu) gak ragu untuk menahbiskan Eet sebagai seorang shredder. Eet mengawinkan banyak style gitaris dunia di album ini. Ada speed-nya Yngwie, gahar-nya Ritchie Blackmore, unik-nya Jimi Page, eksperimental-nya Stevie Vai dan melodius-nya Joe Satriani dalam permainan Eet di album Jabrik ini. Menurut selera gue, best cut album ini adalah : Wake Of The Storm, Call Me Wild, Way Down, Pancaroba, Alam & Manusia en so pasti : Kurusetra. Betul-betul spesial lah. Saking spesial-nya, sampe album Time To Rock-pun, gak ada materi lagu Edane yang bikin darah gue bergejolak, seperti kalo gue dengerin 6 best cut from Jabrik album itu.

Sekarang, era shredder udah berlalu, tapi kreatifitas para gitaris rock masa kini dalam hal sound, speed, style dan teknik masih terus bergeliat. Untuk referensi luar negeri, kita bisa menikmati atau nge-up-date pengetahuan dan style dari gitaris semacam : John Petrucci (dream theater, Liquid Tension Experiment), Kenny Wayne Shepherd (gitaris solo aliran blues rock muda asal Amrik), Tom Morello (Rage Against The Machine, Audioslave) atau Buckethead (solois, ex-Guns N Roses). Jangan lewatin juga kreasi gitaris-gitaris millenium yang masih muda, penuh bakat, eksperimental, kontemporer macam : Daron Malakian (System Of A Down), Adam Jones (Tool), Brad Delson (Linkin Park), Wes Borland (Limp Bizkit), Zacky Vengeance (Avenged Sevenfold) atau citarasa post-grunge dari Mark Tremonti, gitaris keren yang sukses berat bareng Creed dan Alter Bridge.

Sayangnya, untuk Indonesia, pasca era guitar shredder kayaknya sulit untuk menemukan gitaris-gitaris yang bener-bener “niat” jadi seorang shredder atau dewa gitar. Deket ama era Eet dan kawan-kawan, gue pernah juga dengerin permainan dahsyat beberapa gitaris lokal macam : Baron GIGI, Jikun /rif, Bengbeng PAS, Jay Andry Franzzy (eks-Power Slave, Boomerang), Tjahjo Wisanggeni (Nosferatu, solo), Andra Ramadhan (Dewa, Andra & The Backbone) sampe Ezra Simanjuntak, gitaris yang sempet ngisi di album terakhir almarhum Andy Liany, yang punya speed busyet tapi sama sekali gak ke-ekspos ama media. Abis itu, udah deh, sulit banget nemuin gitaris yang soul-nya bener-bener murni di jagat industri musik Indonesia. Ya, ada sih gitaris-gitaris macam Eros (sheila on 7, jagostu), Baim (eks-Ada Band), Marshal (Ada Band), Onci (Ungu), yang nempelin style rock berikut efek distorsi untuk lagu-lagu yang mereka usung. Cuman, untuk dinobatkan sebagai guitar shredder or sekadar rock guitarist aja kayaknya hati gue gak ngasih.

Gue justru menaruh harapan ama beberapa gitaris band Indie atau band baru kayak : Bayu Indrasoewarman (The Brandals), Pupun (Kapten), Iman Fattah (LAIN) dan Iman Taufik Rahman (Funky Kopral, J-Rock’s). Bayu, secara tongkrongan maupun style permainan udah bener-bener ngejiwain kemurnian rock. Pupun, sebagai otodidak permainannya kelewat dahsyat. Iman Fattah punya semangat bereksperimen. Sedangkan Iman J-Rock’s, bener-bener gape untuk urusan kreatifitas dan ngawinin permainannya di atas fret ke lagu-lagu yang dia tulis sendiri. Seiring waktu, moga-moga aja mereka terus semangat buat belajar, berlatih, berkarya, dan kelak jadi jagoan yang rendah hati.(eap)

Comments

Anonymous said…
Saya 100% setuju dengan pemikiran Bang Eddie. Soal guitar shredder, soal sheila on7, soal Mas Ipunk, Mas Lucky, dan juga soal pupun. Saat tidak tahu banyak soal musik tapi melihat gitaris bermain whammy bar dengan ritme musik 80'an sangat memukau rasanya. Setahu saya, saat ini cuma pupun dengan Kapten-nya yang main kyk gitu. Tulisan Bang Eddie menjadi rujukan buat saya, smoga ada lebih banyak "rujukan" lagi ke depannya disini. Salam kenal, semoga sukses selalu dengan Ramones Purba.
Anonymous said…
Wah,tampilannya ganti ni Bang, baru ini sempet mampir lagi, oya mungkin bisa cerita soal totok tewel/ian antono, kalo eet referensinya banyak, kalo yg 2 itu agak kurang kayaknya, atau mungkin cerita satu2 persatu deh masing2 guitar shredder jaman 80'an
Anonymous said…
bisa cerita tentang Lucky Setyo gak...???
saya seneng banget ma permaenannya... tapi sulit banget nyari informasi tentang gitaris yang satu ini...

Popular posts from this blog

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running.  When I woke up I forgot I had a limp,  so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'.  Then I immediately stumbled.  That showed me that if you have control over your mind,  you can do anything…” -JASON BECKER Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988...

ETHIOPIA : IAN ANTONO SEORANG ARRANGER BERWAWASAN LUAS

pengalaman apresiasi karya Ian Antono bag.3 Lagi2 dari Radio Mara Bandung saya mendengarkan hits Iwan Fals berjudul Ethiopia. Dan lagi2 usai mendengar lagu yang asyik saya akan berkunjung ke toko kaset untuk membelinya. Setelah kaset dibeli, saya dengar sambil membolakbalik cover. Eh, tertulis disitu nama Ian Antono sbg.aranger khusus lagu Ethiopia (yg lain aransemen oleh Willy Soemantri). Saya, sebagaimana diceritakan sebelumnya, sudah terpikat dgn.aransemen beliau di lagu Grace Simon dan teknik hammer-on beliau di lagu Chrisye, tambah exciting saja waktu mengetahui aransemen Ethiopia dikerjakan Ian Antono. Bgmna tdk, lagu itu dibuka dengan beat dub a la musik afro, dgn.seni vokal a la suku2 Abesinia,ditingkahi suara hewan yg kelaparan. Tone kibord yg dipilih menambah keunikan dan suasana lagu tsb. Setelah byk menyimak musik dikemudian hari, mafhumlah saya bahwa apa yg dilakukan Ian Antono dlm lagu Ethiopia adlh indikator bhw beliau seorg. Aranger yg berwawasan luas. Mengingat...

JEFF HANNEMANN DALAM KENANGAN

(foto dari Wikipedia) (seperti dituturkan Dave Lombardo, ex-drummer Slayer pada Metal Hammer Magz) Pertama kali saya bertemu Jeff Hanneman pada tahun 1981. Saat itu, saya dan Kerry King (gitaris Slayer), berencana untuk membuat band. Kami bertiga berlatih di rumah orangtua saya. Kerry yang mengajak Jeff. Kesan pertama, Jeff itu seperti anak surfer yang pendiam. Rambutnya panjang banget, tinggal di Long Beach, dan biasanya orang-orang situ di rumahnya punya papan selancar. Saya pikir, anak ini keren dan cocok jadi anak band. Jeff berpengaruh banget ama Sound Slayer. Saya dan Kerry sebelumnya menyukai Judas Priest, Iron Maiden, Rainbow, dan Deep Purple. Sampai suatu hari, Jeff datang latihan dengan rambut yang dicukur bersih. Saya bertanya, “wah apa-apa lu, Jeff ?” Jeff bilang, “Gw sekarang pindah ke Punk, heavy metal sudah berakhir.” Jeff kemudian bawa berbagai vinyl dan kaset, dari kelompok-kelompok seperti Black Flag, TSOL, Minor Threat, Dead Kennedys dan Circle Jerks. ...