Skip to main content

CYNOMADEUS : ELECTRIC ROCK ORCHESTRA A LA INDONESIA



saya masih duduk disekolah menengah atas, waktu melihat poster kelompok yang menamakan dirinya, CYNOMADEUS ini. saya melihat poster itu ditempel di toko kaset yang saya lupa namanya, dikawasan Pasar Jamika Jalan Jenderal Sudirman Bandung. di poster tersebut yang saya kenal hanya Eet Sjahranie, gitaris yang pertama kali saya lihat dan kagumi aksinya, waktu dia memainkan riff di komposisi Fariz RM yang berjudul "Pandangan Pertama." keren banget riff di lagu itu, yang kemudian membawa saya terus tertarik menyimak riff-riff Eet yang modern seperti dalam lagu : Arena (Ekky Lamoh), Maret 1989 (God Bless) dan Bis Kota (Ahmad Albar). riff-riff ini menurut saya, menandai lahirnya Dewa Gitar baru setelah Ian Antono, dalam khazanah rock Indonesia. dengan semangat menyimak permainan Eet Sjahranie berikutnyalah, saya membeli album CYNOMADEUS. melihat tongkrongan mereka dan nama grup mereka yang unik, saya berharap setidaknya ada sesuatu yang baru buat diapresiasi.

betul saja. mendengar CYNOMADEUS sensasinya ibarat pertamakali makan di HANAMASA, ada banyak citarasa baru yang bisa diecap oleh indera pendengaran. album ini dibuka dengan nomor "PROFESI TREND MODE", yang di-intro-i sound kibord Iwan Majid, yang ke-fusion-fusion-an. komposisinya keren, walau dirasa kurang nge-rock atau mewakili spirit saya ketika itu, yang udah terbiasa dengan rock atau trash metal yang gitarnya meraung-raung, drumnya menghentak-hentak, dan vokalisnya menjerit-jerit, sebagaimana gaya Deep Purple, Rainbow, Metallica atau Megadeth. masuk ke komposisi ke-2 yang bertajuk,"CIRCUS SHOW", saya dibawa berdecak kagum dengan permainan bass Todung Panjaitan, yang nge-funk berat dan mengisi hampir disetiap elemen komposisi, dari mulai intro, bridge hingga refrain dan closing pada lagu tersebut. seingat saya, itu kali pertama saya mendengar permainan seorang bassist Indonesia yang full-technique dan begitu bergairah. gaya nge-funk Todung seperti di lagu "CIRCUS SHOW", muncul juga dikomposisi nomor 7 dalam album pertama dan terakhir CYNOMADEUS yang bertajuk "STRAWBERRY PINK". saya pikir, gak ada seorangpun bassist Indonesia yang menyamai passion seorang Todung Panjaitan dalam bermain bass, seperti ketika ia bermain pada lagu-lagu CYNOMADEUS.

masuk ke komposisi nomor 3, giliran Eet Sjahranie, sang gitaris, yang unjuk gigi. Di lagu bertajuk "CYNOMADEUS", yang rupanya diniatkan sebagai best cut dalam album rilisan JEPS Record-nya promotor musik idealis Sofyan Ali ini, Eet memainkan riff khas-nya sebelum kemudian menyajikan solo guitar mematikan dipertengahan lagu. sebuah solo yang menampilkan speed dalam sound melodic cello yang tebal, yang diakhiri dengan jeritan panjang nan menyayat pada bagian akhirnya. edanlah. momen solo guitar Eet di lagu ini sedemikian dramatik dan monumental, mengalahkan kedahsyatan solo guitar-nya di album-album keras grupnya kemudian, dari mulai God Bless hingga Edane. Eddie Van Halen dan Steve Vai seolah-olah menyurup ke raga Eet Sjahranie, begitu saya bilang, waktu bercerita soal permainan Eet Sjahranie di lagu "CYNOMADEUS", dihadapan anak-anak boys band yang sedang hendak saya insyafkan. hehehe.

mencerna tiga nomor awal album pertama dan terakhir,"CYNOMADEUS", saya mulai terbiasa mencerna nomor-nomor berikutnya.   belakangan dari Wikipedia saya dapat info : "kelompok musik ini menggunakan nama Cynomadeus, atas dasar ketertarikan personil band terhadap karya tulis Wisnu Soeyono. Sebuah komik mengenai seorang musisi yang dijuluki Cynomadeus (Cycle Neo Amadeus), dan travel di perpindahan waktu. Ketertarikan ini berlanjut dengan kesepakatan personil band untuk menunjuk Wisnu Soeyono sebagai penulis lirik tunggal untuk Cynomadeus." wah, kebayang tuh proses kreatif mereka. betul-betul berangkat dari suatu hal yang unik dan diproses dengan spirit idealis murni mengingat, album CYNOMADEUS jelas-jelas keluar dari pakem komersial, baik ketika dirilisnya bahkan saat album  itu nyaris terlupakan seperti saat sekarang.

tapi dijaman revolusi marketing atau era peralihan dari marketplace menjadi marketspace ini, kalo ada musisi muda atau anak-anak band yang ingin mengusung Electric Rock Orchestra a la CYNOMADEUS, asal mereka kreatif dalam merancang program promo albumnya, kayaknya mereka punya harapan hidup lebih lama dari sang pelopor. ada yang minat meneruskan jejak CYNOMADEUS ? kalau tidak ada, saya mau pulang ke rumah dan mendoktrin anak saya yang kini sedang aktif belajar musik untuk mengikuti jejak band yang sukses berat secara artistikal ini.(aea)

Comments

Popular posts from this blog

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running.  When I woke up I forgot I had a limp,  so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'.  Then I immediately stumbled.  That showed me that if you have control over your mind,  you can do anything…” -JASON BECKER Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988...

ETHIOPIA : IAN ANTONO SEORANG ARRANGER BERWAWASAN LUAS

pengalaman apresiasi karya Ian Antono bag.3 Lagi2 dari Radio Mara Bandung saya mendengarkan hits Iwan Fals berjudul Ethiopia. Dan lagi2 usai mendengar lagu yang asyik saya akan berkunjung ke toko kaset untuk membelinya. Setelah kaset dibeli, saya dengar sambil membolakbalik cover. Eh, tertulis disitu nama Ian Antono sbg.aranger khusus lagu Ethiopia (yg lain aransemen oleh Willy Soemantri). Saya, sebagaimana diceritakan sebelumnya, sudah terpikat dgn.aransemen beliau di lagu Grace Simon dan teknik hammer-on beliau di lagu Chrisye, tambah exciting saja waktu mengetahui aransemen Ethiopia dikerjakan Ian Antono. Bgmna tdk, lagu itu dibuka dengan beat dub a la musik afro, dgn.seni vokal a la suku2 Abesinia,ditingkahi suara hewan yg kelaparan. Tone kibord yg dipilih menambah keunikan dan suasana lagu tsb. Setelah byk menyimak musik dikemudian hari, mafhumlah saya bahwa apa yg dilakukan Ian Antono dlm lagu Ethiopia adlh indikator bhw beliau seorg. Aranger yg berwawasan luas. Mengingat...

JEFF HANNEMANN DALAM KENANGAN

(foto dari Wikipedia) (seperti dituturkan Dave Lombardo, ex-drummer Slayer pada Metal Hammer Magz) Pertama kali saya bertemu Jeff Hanneman pada tahun 1981. Saat itu, saya dan Kerry King (gitaris Slayer), berencana untuk membuat band. Kami bertiga berlatih di rumah orangtua saya. Kerry yang mengajak Jeff. Kesan pertama, Jeff itu seperti anak surfer yang pendiam. Rambutnya panjang banget, tinggal di Long Beach, dan biasanya orang-orang situ di rumahnya punya papan selancar. Saya pikir, anak ini keren dan cocok jadi anak band. Jeff berpengaruh banget ama Sound Slayer. Saya dan Kerry sebelumnya menyukai Judas Priest, Iron Maiden, Rainbow, dan Deep Purple. Sampai suatu hari, Jeff datang latihan dengan rambut yang dicukur bersih. Saya bertanya, “wah apa-apa lu, Jeff ?” Jeff bilang, “Gw sekarang pindah ke Punk, heavy metal sudah berakhir.” Jeff kemudian bawa berbagai vinyl dan kaset, dari kelompok-kelompok seperti Black Flag, TSOL, Minor Threat, Dead Kennedys dan Circle Jerks. ...