(foto dari Wikipedia)
(seperti dituturkan Dave Lombardo, ex-drummer Slayer pada Metal Hammer Magz)
Pertama kali saya bertemu Jeff Hanneman pada tahun 1981. Saat itu, saya dan Kerry King (gitaris Slayer), berencana untuk membuat band. Kami bertiga berlatih di rumah orangtua saya. Kerry yang mengajak Jeff. Kesan pertama, Jeff itu seperti anak surfer yang pendiam. Rambutnya panjang banget, tinggal di Long Beach, dan biasanya orang-orang situ di rumahnya punya papan selancar. Saya pikir, anak ini keren dan cocok jadi anak band.
Jeff berpengaruh banget ama Sound Slayer. Saya dan Kerry sebelumnya menyukai Judas Priest, Iron Maiden, Rainbow, dan Deep Purple. Sampai suatu hari, Jeff datang latihan dengan rambut yang dicukur bersih. Saya bertanya, “wah apa-apa lu, Jeff ?” Jeff bilang, “Gw sekarang pindah ke Punk, heavy metal sudah berakhir.” Jeff kemudian bawa berbagai vinyl dan kaset, dari kelompok-kelompok seperti Black Flag, TSOL, Minor Threat, Dead Kennedys dan Circle Jerks. Selesai mendengar itu semua, musik kami berubah menjadi lebih cepat, lebih agresif, setelah itu. Jeff lah yang membawa elemen-elemen yang menjadi khas Slayer sampai sekarang, berkat ide-idenya itu.
Waktu saya pertama kali bertemu seseorang, dan mungkin juga sebagaimana normalnya orang lain ketika pertama kali bersua dengan orang yang tidak dikenalnya, dia akan menjaga jarak atau sedikit menutup diri. Tapi tidak dengan Jeff. Dia adalah pribadi yang terbuka sejak pertamakali berjumpa. Sikapnya betul-betul seperti anak Punk, what the hell with the world, seperti itu dia bilang, terutama jika sudah menyantap bergelas-gelas bir.
Jeff juga adalah sosok yang peduli. Saya ingat waktu tour pertamakali dengan Slayer ke Kanada, dimana band tiba lebih awal ke kota tempat kami bakal menggelar pentas. Karena waktu luang saya akhirnya menghabiskan waktu untuk minum dan jalan. Sebab kebanyakan minum, saya merasa ingin pergi ke toilet. Saya pergi ke klub, duduk di toilet, dan sepertinya tidak sadarkan diri, dan tentu saja tidak ada yang tahu saat bar itu tutup. Jeff lah yang hampir menghancurkan pintu kios, sebelum dia menyadari bahwa membuka pintu itu tinggal didorong dengan tangan saja. Jeff menjemput saya ke kamar mandi. “Jeff, apakah celanaku turun?”tanya saya. “Enggak, Dave, kamu duduk di toilet dengan celana ditarik ke atas.”jawabnya sambil tertawa. Sejak itu, saya tahu, bahwa jika saya membutuhkan bantuan apapun, Jeff selalu bisa diandalkan.
Banyak orang tidak tahu bahwa Jeff tidak punya pendidikan musik dan betul-betul belum pernah bergabung dengan band yang serius, sebelum bertemu saya, Kerry, dan Tom. Jeff betul-betul seorang pemula waktu pertama gabung, dan Slayer itu betul-betul band pertamanya ! Saya sangat terkesan dengan proses belajar yang serius dan cepat, yang ditempuh oleh Jeff. Dia betul-betul ulet dan jenius, dalam pandangan saya.
Jeff juga tipe musisi yang rajin membuat demo sendiri untuk lagu-lagu yang ditulisnya. Dia bikin program drum sendiri, program bass sendiri, bermain dan merekamnya, lalu berdiskusi dengan saya dan Kerry. Saya tidak pernah melihat persaingan negatif antara Jeff dan Kerry. Mereka berdua menginginkan yang terbaik untuk band. Saya yakin Jeff terinspirasi oleh Kerry dan saya yakin Kerry terinspirasi oleh Jeff, terutama kemampuan mereka masing-masing dalam berimprovisasi. Hal ini yang paling disukai founder, bassist dan vokalis Slayer, Tom Araya. Jeff dan Kerry juga sangat terinspirasi oleh KK Downing dan Glenn Tipton dari Judas Priest. Kalau kita perhatikan baik-baik, saat Jeff manggung tongkrongannya persis seperti KK Downing, dan Kerry persis seperti Glenn Tipton.
Jeff dan saya sempat bikin band sampingan bernama Pap Smear di tahun 90-an. Kami jadi anak-anak punk rock waktu itu. Dia pengen bermain bass, jadi kami ajak Rocky George dari Suicidal Tendencies, untuk bermain gitar di Pap Smear. Jeff kagum banget dengan soul yang dimiliki Rocky dalam bermain gitar. Vokalisnya sendiri adalah Joey Fuchs. Dia menyebut dirinya sendiri sebagai Joey Hannemann. Karena mereka berdua memang mirip satu sama lain, dan Joey senang berpura-pura jadi saudara Jeff. Bersama Pap Smear kami menulis sekitar lima atau enam lagu. Tapi kami tidak benar-benar bikin konser yang serius waktu itu. Karena khawatir kesibukan kami bersama Pap Smear betul-betul mengganggu dinamika Slayer.
Seperti semua orang, kita tumbuh berkembang, lalu mengambil jalan sendiri. Setelah jalan sendiri, saya bergabung kembali dengan Slayer di awal tahun 2000-an. Kami semua sudah sedikit lebih dewasa saat itu, yang masih sama adalah Jeff. Dia masih tetap seseorang yang periang dan selalu bercanda. Saya senang bisa terhubung kembali dengannya. Kami menghabiskan banyak waktu di bus tour, ngobrol ngalor-ngidul, tetapi bukan tentang masalah-masalah serius.
Sebelum memutuskan mundur dari Slayer, Jeff merasakan kondisi fisik dan mentalnya sudah tidak bisa mengimbangi personil-personil lainnya. Kecanduan alkoholnya sudah jauh berkurang, tapi operasi yang dia jalani merampas kekuatan fisiknya. Demi kesehatannya, manajemen Slayer kemudian memutuskan untuk berdiskusi dengan Jeff. Keputusan mundur itulah yang dirasakan paling baik untuk semua. Untuk Slayer, untuk Jeff Hannemann sendiri.
Tak lama setelah itu terjadi, Tom Araya tampaknya sudah memikirkan untuk pensiun juga. Tapi, saya dan Kerry tidak tahu kapan tepatnya Tom ingin pensiun. Jadi kami memberi ide untuk segera menyatukan band lagi, pasca kepergian Jeff yang menyedihkan semua keluarga dan manajemen Slayer. Gary Holt kemudian kami rekrut untuk menggantikan Jeff. Holt, dari band Exodus, adalah gitaris favorit lainnya diantara banyak gitaris favorit Jeff. Bahkan, Jeff sering mengatakan bahwa dia penggemar berat Gary Holt.
Slayer akan segera pamit dari panggung musik Metal. Jika saja masih hidup, saya pikir Jeff tidak ingin Slayer berhenti menyapa metalhead. Dia sangat mencintai Slayer dan merasa hidup saat tampil diatas panggung. Passion itu sudah seperti racun yang mengalir di darah Jeff.
Jika ada satu lagu Slayer yang benar-benar mendefinisikan Jeff, itu adalah Necrophobic dari album Reign In Blood. Itu adalah salah satu lagu tercepat yang kami buat : agresif dan brutal, seolah lurus monoton. “Yang ini kita mainkan secara cepat, ini brutal, kita akan membawanya ke batas, ke titik di mana kita tidak bisa memainkannya lebih cepat lagi.” Dan itulah yang kami lakukan.
Saya sering mengenang Jeff. Bukan hanya ketika orang-orang bertanya kepada saya tentang dia dalam wawancara, tetapi juga pada waktu saya sendirian. Ketika muda kami ingin mati lebih cepat, tapi kemudian kita sama-sama berpikir bagaimana kalau kita berumur panjang bahkan abadi. Saat mengenang itu semua, tahu-tahu datang bisikan,”dia sudah pergi.” Hati saya menjadi kosong setelah itu.
Menjelang tahun-tahun terakhir, mungkin enam bulan terakhir ia mengadakan tur dengan band, Jeff sering duduk di tour bus dan merenungkan sakit yang diidapnya. Tapi saat tour terakhirnya, dia tiba-tiba menjadi begitu bersemangat, saat konser berakhir dia berseloroh, "Sial, Sob, Angel Of Death (judul tour dan album Slayer) hebat banget malam ini." “I wrote that shit, Dave. I wrote that shit.” Dia selalu bangga dengan karya-karyanya bersama band ini.

Comments