Skip to main content

PATRON-PATRON OZZY OSBOURNE





“Maybe it's not too late to learn how to love and forget how to hate.” 
― Ozzy Osbourne, Ozzy Osbourne - Blizzard of Ozz

Akhirnya, saya tahu, darimana Ozzy Osbourne bisa bikin lirik en lagu-lagu slow yang bikin bulu kuduk merinding, seperti Goodbye To Romance, Road To Nowhere, Mama I'm Coming Home, sama I Just Want U. Ternyata influence-nya John Lennon, to, Mas.

Darimana saya tahu ? Karena ngulik chord-nya, karena lihat liriknya ? Nggak. Bukan dari materi lagu-lagu slow rock terdahulu yang ada di albumnya Ozzy. Saya ngedapetin informasi itu setelah ngedengerin materi album terbarunya Princess Of Darkness tersebut, yang baru rilis di sini, dengan judul album “Under Cover.” Di situ Ozzy nyanyiin lagunya mendiang John Lennon seperti : Woman, In My Life, dengan suaranya yang bersih dan kuul (or skull !) abis itu.

Selain dari Lennon, untuk lagu-lagu slow-nya itu, Ozzy banyak juga dipengaruhi David Bowie. Buktinya di album “Under Cover”, meski cuma satu lagu, doi masukkin lagu “All The Young Dudes” yang populer di era kejayaan Glam Rock. Keren sekali aransemen “All The Young Dudes” di album “Under Cover”-nya Ozzy.

....All the young dudes (hey dudes) Carry the news (where are ya)
Boogaloo dudes (stand up come on) Carry the news
All the young dudes (I want to hear you) Carry the news (I want to see you)
Boogaloo dudes (and I want to talk to you all of you)
Carry the news... teriak Ozzy dibarengi choir yang mirip koor-nya anak-anak UNPAR waktu ngiringi lagu “Damainya Cinta”, pas grup GIGI konser di Bandung.

Influence Ozzy untuk nomor-nomor kerasnya juga terejawantahkan dalam album “Under Cover” ini. Diantara nomor-nomor keras itu, yang saya kenal cuma dua nama : Cream dan Rolling Stones. Di side B Ozzy ngebawain Sunshine Of Your Love-nya Cream dan Sympathy For The Devil-nya Stones. Sunshine Of Your Love dibawakan Ozzy dalam tempo asli, dengan balutan aransemen bass dan distorsi gitar yang garang. Sympathy For The Devil juga nggak jauh-jauh amat kedengeran dari aslinya. Gebukan drum Mike Brodin (ex-Faith No More), gebetan gitarnya Jerry Cantrell (ex-Alice In Chains), plus cabikan bass & string-keyboard (saya lupa nama musisinya) dalam dua lagu rock legendaris itu sukses dirombak- jadi Ozzy banget pokoknya !

Disamping materi Lennon, Stones, Bowie or Cream yang dibawain Ozzy yang saya sukai, “Mississippi Queen” , “Rocky Mountain Way”, “Go Now” adalah beberapa lagu yang cukup menarik untuk diapresiasi. Yang bikin seger lagu-lagu yang belum pernah populer di Indonesia itu adalah permainan Jerry Cantrell. Mantan gitaris Alice In Chains yang dulu begitu tegar mengawal vocal Layne Staley (lo, pernah denger Again atau Rotten Apple di album terakhir Alice In Chains) bareng Michael Inez sang bassist itu, menerapkan riff-riff blues yang paten di album “Under Cover” ini. Sound-nya lebih tebel dari sound yang dipakai di album Alice atau album solonya Degradation Trips.

Kayaknya Ozzy ngebebasin banget gitaris berambut pirang ini untuk ngelakuin eksperimen sepuas hati, sampe-sampe gitaris yang banjois ini mau-maunya mengumbar speed dalam chord blues totok, yang bener-bener beda dari gitaris alumni Ozzy's Band. Cantrell bisa benar-benar hadir sebagai yang mewarnai, bukan diwarnai karena maen bareng Ozzy. Cantrell betul-betul berhasil keluar dari pola-pola Randy Rhoads (gitaris pertama Ozzy's band), atau gaya Zakk Wylde yang kayaknya udah ngerasuk banget, di album-album Ozzy Osbourne pasca mangkatnya Randy Rhoads. Waktu bareng dengerin gitaran Cantrell di album ini, salah seorang temen sempat nyeletuk,”Ternyata gitaris-gitaris grunge itu gape juga maen gitar-nya.”Tapi...tunggu dulu. Ni, album kan materinya rata-rata cover version, lagu orang lain, jadi belum bisa dijadiin ukuran buat permainan Cantrell. Paling adil kalo misalnya Cantrell didapuk sebagai gitaris jago, setelah Ozzy ngeluarin album berikutnya. Disitulah baru bisa didenger, apa saja yang udah dilakuin Cantrell untuk Ozzy's Band, dan pantes nggak dia ngegantiin seorang Zakk Wylde.

Untuk pendapat saya yang terakhir itu, pasti ada beberapa gitaris yang nggak sepakat. Tanpa gabung di Ozzy-pun Cantrell nyata udah ngebuktiin bahwa dia gitaris yang sangat kreatif. Entah di Alice atau solo karirnya. “Ama Randy Rhoads mungkin sebanding. Tapi sama Wylde ya pasti hebat Cantrell.”protes seorang teman yang hafal sebagian besar chord-chord lagu aliran grunge, dan pernah nge-jam bareng saya ngebawain “Again” dan “Beside You”-nya Alice in Chains. Yah, namanya juga opinion. Boleh dong beda ? (eap)

Comments

Anonymous said…
hi, pal. album ozzy ini metal banget man. jd bagus tuh lagu masuk jd materi
lo respek bgt ama musik rock ya ? gua ikut semangatin deh.
Anonymous said…
sy cwk, but sk sekali ozzy osburne
sy nggak tahu byk musik rock, tp mulai seneng baca2 artikel anda yg full info but still funky
email sy syastiani_host@yahoo.com
Anonymous said…
di kalimantan album itu tak masuk keliatannya, bang
coba lagu itu masukkan url saja...krn sy penasaran skl mau dengar
yang Bowie juga...gimana ? bisa ?

Popular posts from this blog

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running.  When I woke up I forgot I had a limp,  so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'.  Then I immediately stumbled.  That showed me that if you have control over your mind,  you can do anything…” -JASON BECKER Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988...

ETHIOPIA : IAN ANTONO SEORANG ARRANGER BERWAWASAN LUAS

pengalaman apresiasi karya Ian Antono bag.3 Lagi2 dari Radio Mara Bandung saya mendengarkan hits Iwan Fals berjudul Ethiopia. Dan lagi2 usai mendengar lagu yang asyik saya akan berkunjung ke toko kaset untuk membelinya. Setelah kaset dibeli, saya dengar sambil membolakbalik cover. Eh, tertulis disitu nama Ian Antono sbg.aranger khusus lagu Ethiopia (yg lain aransemen oleh Willy Soemantri). Saya, sebagaimana diceritakan sebelumnya, sudah terpikat dgn.aransemen beliau di lagu Grace Simon dan teknik hammer-on beliau di lagu Chrisye, tambah exciting saja waktu mengetahui aransemen Ethiopia dikerjakan Ian Antono. Bgmna tdk, lagu itu dibuka dengan beat dub a la musik afro, dgn.seni vokal a la suku2 Abesinia,ditingkahi suara hewan yg kelaparan. Tone kibord yg dipilih menambah keunikan dan suasana lagu tsb. Setelah byk menyimak musik dikemudian hari, mafhumlah saya bahwa apa yg dilakukan Ian Antono dlm lagu Ethiopia adlh indikator bhw beliau seorg. Aranger yg berwawasan luas. Mengingat...

JEFF HANNEMANN DALAM KENANGAN

(foto dari Wikipedia) (seperti dituturkan Dave Lombardo, ex-drummer Slayer pada Metal Hammer Magz) Pertama kali saya bertemu Jeff Hanneman pada tahun 1981. Saat itu, saya dan Kerry King (gitaris Slayer), berencana untuk membuat band. Kami bertiga berlatih di rumah orangtua saya. Kerry yang mengajak Jeff. Kesan pertama, Jeff itu seperti anak surfer yang pendiam. Rambutnya panjang banget, tinggal di Long Beach, dan biasanya orang-orang situ di rumahnya punya papan selancar. Saya pikir, anak ini keren dan cocok jadi anak band. Jeff berpengaruh banget ama Sound Slayer. Saya dan Kerry sebelumnya menyukai Judas Priest, Iron Maiden, Rainbow, dan Deep Purple. Sampai suatu hari, Jeff datang latihan dengan rambut yang dicukur bersih. Saya bertanya, “wah apa-apa lu, Jeff ?” Jeff bilang, “Gw sekarang pindah ke Punk, heavy metal sudah berakhir.” Jeff kemudian bawa berbagai vinyl dan kaset, dari kelompok-kelompok seperti Black Flag, TSOL, Minor Threat, Dead Kennedys dan Circle Jerks. ...