Skip to main content

REMEMBER JOSHUA TREE



Tahun-tahun SMP adalah masa pembelajaran gue bermain musik. Tahun-tahun SMA adalah masa-masa penyaluran emosional gue lewat musik. Pada tahun-tahun kuliahan, gue mulai membuka mata, telinga dan hati lebih lebar, untuk menikmati musik sebagai seorang pemain, pendengar dan pengkritisi amatir. Dan sekarang, gue cuman jadi sekadar pendengar, pengkritisi amatir, tanpa berusaha bersusah-payah berekspresi dan membentuk sebuah band, buat menyalurkan emosi atau sekadar relaksasi.

Dari ke-empat masa itu, salah satu band yang selalu nikmat, baik untuk dimainkan, didengarkan, dihayati dan dikritisi- minimal waktu ngobrol sama sohib-sohib yang suka musik- adalah U2. U2 ini band yang paling banyak ngeraih Grammy Award, band yang sukses berat secara komersial, dan sukses sebagai para musisi, kendati menurut banyak kritikus permainan para personil U2 secara teknis betul-betul efisien. Bahasa kasarnya : mereka tuh gak jago-jago amat, kalo kita-kita merhatiin skill seorang The Edge (gitaris), Larry Mullen Jr (drum) dan Adam Clayton (bass), selama ngedenger permainan U2. Gue kira, kalo Paul Hewson, alias Bono, sang vokalis mah gak usah gue sebut. Sebab, menurut gue, karakter Bono, teknik, penghayatannya akan setiap lirik dan musik U2, adalah pantas dikategorikan maestro.

Ahmad Dhani, pentolan DEWA pernah bilang berkali-kali, bahwa bagi dia pribadi seorang musisi itu jadi besar karena karakternya. Gue setuju banget ama pendapat ini. Kalo mau ngambil contoh, maka U2 pantes banget diambil sebagai salah satu sampel dari sebuah grup yang sukses, berkat karakter permainan ke-empat personilnya. Orang belakang panggung yang nyata-nyata gape memoles mereka adalah Steve Lillywhite, sang produser. Lillywhite ini kalo gak salah memroduseri U2 di album Boy (1980),October (1981), Achtung Baby (1991),How to Dismantle an Atomic Bomb (2004),All That You Can’t Leave Behind (2000), dan beberapa lagu di album U2 terfavorit gue, Joshua Tree (1987).

Sadar bahwa secara skill para personil U2 biasa-biasa aja, Lillywhite mengeksplorasi keunikan-keunikan yang dimiliki, teristimewa dalam diri Bono, sang vokalis, dan The Edge, sang gitaris. Hasil penggalian bakat, yang kemudian dioptimalisasi oleh sang produser adalah : vibra Bono yang penuh wibawa, teknik falsetto Bono yang unique, konsistensi ritmik gitar dipadu efek echo dan delay yang menjadi jatidiri style seorang The Edge, dipadu dengan influence musik khas Irish, akar Irlandia yang erat dengan tradisi musik katedral, yang menyajikan nuansa ambient dan sound yang atmosferik. Dari ramuan tersebutlah makanya, siapapun yang ngedenger musik U2 akan sepakat, bahwa mereka tuh sebuah band yang Irish abis. Cause corak natural dari musik tradisional Irlandia yang sering memberi sensasi yang private, bikin sejuk dan mencerahkan, terangkum dalam sound dan musik U2 yang notabene merupakan band rock modern.

Jika struktur musik mereka berakar pada tradisi musik Irlandia, maka struktur lirik mereka berangkat dari tema-tema sosial, politik dan personal problematika. Gak kehitung lirik dalam lagu mereka yang diterima khalayak pendengarnya, lantas memengaruhi movement kelompok akar rumput, student, aktivis, untuk membebaskan diri dari ketertindasan secara poleksosbud- meminjam istilah orde baru. Kekuatan lirik inilah, yang kemudian menarik U2 kedalam social activity, mulai dari : Band Aid untuk kelaparan di Ethiopia (1984), pengangguran di Irlandia (1986), perang sipil El Salvador (1986), sampe pengumpulan dana pemulihan bagi korban Katrin Hurricane, tahun 2005.

Diantara bejibun kegiatan sosialnya, yang paling membekas dan berkesan bagi U2 adalah pengalaman mereka sepanjang taun 1986, waktu mereka dilibatkan oleh LSM internasional, salah satunya Amnesty International, NGO’s yang bergerak dalam lingkup pembelaan HAM dan kemerdekaan individu. Di taun yang sama, U2 maen bareng ama band/artis legendaris Irlandia – diantaranya Van Morrison, Thin Lizzy dan The Boomtown Rats- dalam konser amal Self Aid. Self Aid adalah konser amal yang diselenggarakan sebagai wujud simpati dan keprihatinan musisi Irlandia, atas angka pengangguran di negeri itu yang mencapai 250.000 kepala, akibat perang saudara yang berlarut-larut di negeri itu. Pada taun 1986 juga, U2 diundang ke Nikaragua dan El Salvador, dalam sebuah gerakan yang dikenal dengan sebutan Sanctuary Movement, yaitu gerakan yang melibatkan para penganut Katolik Roma, Presbyterians, Metodis, Baptist, Yahudi, Quakers dan Mennonites.

Pengalaman mereka di taun 1986 itulah yang melahirkan, salah satu album terbaik dalam sejarah musik rock, Joshua Tree (1987). Rolling Stones Magazine menempatkan Joshua Tree pada posisi ke-26, dari 500 album terbaik sepanjang masa versi majalah tersebut. Di album inilah terdapat lagu Bullet The Blue Sky, nomer yang didedikasikan untuk perjuangan rakyat El Salvador. Lirik lagu ini memaparkan tentang akibat intervensi militer Amerika Serikat, dalam perang di negeri yang berbatasan dengan Samudera Pasifik, dan terletak antara Honduras dan Guatemala itu. Dengan covered musik yang lebih trengginas dan membara, grup Trash Metal Sepultura, sempat membawakan lagu ini dalam materi studio album-nya, Revolusongs (2002).

Kenang-kenangan lainnya dari 1986’s movement-nya U2 adalah lagu Running To Stand Still. Lagu ini ditulis Bono, setelah sang vocal maestro menyaksikan kehidupan para penghuni rumah susun, di daerah yang terkenal dengan sebutan Ballymun Seven Tower di kota Dublin, Republik Irlandia. Running To Stand Still bercerita tentang suasana hati seorang cewek pecandu heroin, di tempat dimana kaum papa di ibukota Irlandia itu bertinggal. "I see seven towers/But I only see one way out."ucap Bono dalam lagu ini. "She runs through the streets/With her eyes painted red…She will suffer the needle chill."bisik Bono merefleksikan kecanduan parah yang dialami si cewek.”You've got to cry without weeping, talk without speaking, scream without raising your voice."ucap Bono, merefleksikan betapa besar rasa frustasi, hopeless dan kebingungan si cewek, dalam lagu yang merepresentasikan keadaan kaum miskin dan pengangguran di ibukota Republik Irlandia tersebut, pada pertengahan taun 80-an.(eap)

Comments

Popular posts from this blog

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running.  When I woke up I forgot I had a limp,  so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'.  Then I immediately stumbled.  That showed me that if you have control over your mind,  you can do anything…” -JASON BECKER Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988...

ETHIOPIA : IAN ANTONO SEORANG ARRANGER BERWAWASAN LUAS

pengalaman apresiasi karya Ian Antono bag.3 Lagi2 dari Radio Mara Bandung saya mendengarkan hits Iwan Fals berjudul Ethiopia. Dan lagi2 usai mendengar lagu yang asyik saya akan berkunjung ke toko kaset untuk membelinya. Setelah kaset dibeli, saya dengar sambil membolakbalik cover. Eh, tertulis disitu nama Ian Antono sbg.aranger khusus lagu Ethiopia (yg lain aransemen oleh Willy Soemantri). Saya, sebagaimana diceritakan sebelumnya, sudah terpikat dgn.aransemen beliau di lagu Grace Simon dan teknik hammer-on beliau di lagu Chrisye, tambah exciting saja waktu mengetahui aransemen Ethiopia dikerjakan Ian Antono. Bgmna tdk, lagu itu dibuka dengan beat dub a la musik afro, dgn.seni vokal a la suku2 Abesinia,ditingkahi suara hewan yg kelaparan. Tone kibord yg dipilih menambah keunikan dan suasana lagu tsb. Setelah byk menyimak musik dikemudian hari, mafhumlah saya bahwa apa yg dilakukan Ian Antono dlm lagu Ethiopia adlh indikator bhw beliau seorg. Aranger yg berwawasan luas. Mengingat...

JEFF HANNEMANN DALAM KENANGAN

(foto dari Wikipedia) (seperti dituturkan Dave Lombardo, ex-drummer Slayer pada Metal Hammer Magz) Pertama kali saya bertemu Jeff Hanneman pada tahun 1981. Saat itu, saya dan Kerry King (gitaris Slayer), berencana untuk membuat band. Kami bertiga berlatih di rumah orangtua saya. Kerry yang mengajak Jeff. Kesan pertama, Jeff itu seperti anak surfer yang pendiam. Rambutnya panjang banget, tinggal di Long Beach, dan biasanya orang-orang situ di rumahnya punya papan selancar. Saya pikir, anak ini keren dan cocok jadi anak band. Jeff berpengaruh banget ama Sound Slayer. Saya dan Kerry sebelumnya menyukai Judas Priest, Iron Maiden, Rainbow, dan Deep Purple. Sampai suatu hari, Jeff datang latihan dengan rambut yang dicukur bersih. Saya bertanya, “wah apa-apa lu, Jeff ?” Jeff bilang, “Gw sekarang pindah ke Punk, heavy metal sudah berakhir.” Jeff kemudian bawa berbagai vinyl dan kaset, dari kelompok-kelompok seperti Black Flag, TSOL, Minor Threat, Dead Kennedys dan Circle Jerks. ...