Skip to main content

REVOLUSI A LA GRUNGE


Di siang yang panas ini, waktu anak-istri lagi liburan di rumah merto, saya memilih untuk bertahan di rumah seorang diri. Saya meriang melulu dari hari Jumat. Gak tau nih, kok fisik yang saya bina pake olahraga selama ini tiba-tiba melempem disikat pancaroba. Ya, gak apa-apalah. Namanya juga manusia, pasti punya waktu sehat dan waktu sakit.

Gak betah tiduran dan baca buku melulu, saya menuju kamar kerja dan browsing-browsing dikit. Kepikiran nge-update blog, yang ternyata udah lama banget gak saya update. Spontan aja kepikiran untuk nulis tentang grunge. Tentang beberapa album grunge yang sempet saya lahap, dari awal 90-an sampe beberapa detik setelah saya lulus kuliah.

Lagi asyik-asyiknya browsing untuk sekedar baca-baca data, saya menemukan sebuah fakta menarik, bahwa ternyata band grunge, Mudhoney, baru aja ngerilis album ke-9 di bulan Mei 2008. Gak nyangka euy, itu band ternyata masih bermusikalisasi, dan bahkan setelah membaca review dari para professional di bidang musik, album ke-9 Mudhoney bertajuk The Lucky Ones itu rata-rata dapet nilai 4,5 dari skala 5. Mojo, majalah musik yang sering saya hunting bekasnya diantara pedagang kaki lima sungai Cikapundung, ngasih rate 4 buat album Mark Arm Cs ini. Wah, lezat kayaknya nih materi album ini. Nanti coba nyari deh ke Amazon. Kalo berbagai macam tagihan berhasil ditagih bulan-bulan ini, hehehe…

Ngomong-ngomong soal grunge, aliran yang dimaenin ama Mudhoney, saya terkenang ama masa-masa SMA dulu, pas pertamakali nonton videoklipnya Nirvana, Smells Like Teen Spirit. Saya ama Dhani, yang kebetulan lagi menyantap indomie sambil ngaso sepulang sekolah, terkagum-kagum ama ritme Smells yang kedengeran lain daripada yang lain. Masuk vokalnya Cobain, kita berdua langsung bertanya-tanya, “Musik apaan nih ?”

Saya yang udah kelewat penasaran, langsung aja nglayap ke toko kaset, buat ngedapetin album Nevermind dari Nirvana, album dimana Smells Like Teen Spirit berasal. Waktu pertamakali ngedengerin album itu, saya serasa terlempar ke masa-masa dimana saya pertamakali makan rujak cingur. Pada awalnya butuh penyesuaian, merem-melek, senyum kecut waktu menyicipinya pertama kali. Tapi kesananya, jadi keterusan tuh pengen makan rujak cingur. Nah, kira-kira begitulah kesannya pas ngedenger sebuah materi grunge pertamakali. Kita gak bisa bilang enak, gak bisa bilang gak enak, sebab sisi nikmatnya sebuah musik grunge bukan di enak- gak enaknya, melainkan dalam keunikannya.

Kemudian hari, saya paham, bahwa hidangan Nevermind-nya Nirvana itu sebenernya hidangan yang paling ringan dan paling gak butuh waktu banyak buat disesuaikan ama selera kuping. Sesuai dengan definisi dari akar kata grunge, yaitu grungy, yang kira-kira diidentifikasikan secara kalimat sebagai : “shabby or dirty in character or condition”, musik rock produk komunitas underground Seattle, Amrik, ini juga menampilkan citra musik dan fashion yang berkesan “kotor”, “cuek” dan nyeleneh (kata Mark Arm, vokalis kelompok grunge pertama yang merilis album, Green River, yang kemudian berevolusi menjadi kelompok Mudhoney). Cuman gak enak ah kalo saya ikut terpatok ama pendefinisian si Mark. Maka, saya perhalus saja, bahwasanya aliran grunge itu adalah aliran yang kerap menampilkan citra musik dan fashion yang berkesan “keras”, “simpel”, “berani beda” dan “hyper-kreatif”. Nah, diantara keempat citra tersebut, yang paling saya demen adalah citra musik dan musisi grunge yang “hyper-kreatif”. Musik dan musisi grunge bisa disebut sebagai sesuatu atau person yang “hyper-kreatif” karena, mereka bener-bener udah menampilkan kreasi yang berbeda dari generasi influence mereka sendiri. Kemunculan mereka secara langsung -gak langsung telah menandai era baru, memelopori tumbuhnya budaya baru, dalam cara bermain, apresiasi dan industri rekaman musik rock.

Grunge juga sering disebut sebagai musik alternatif, rock alternative. Beberapa tokoh pelopor dan pencetus sukses komersial aliran musik ini, seperti : Chris Cornell (vokalis dan pendiri band grunge pertama yang sign with major label, Soundgarden), Eddie Vedder (frontman kharismatik kelompok Pearl Jam) dan Kurt Cobain (gitaris/vokalis Nirvana, band grunge paling populer di dunia), ngerasa risih dan gak suka disebut sebagai musisi rock alternative. Istilah tersebut bikin grunge jadi terlalu umum, terlalu general, gak khusus lagi, kata Kurt Cobain dalam sebuah wawancara after success-nya Smells Like Teen Spirit memuncaki chart Billboard Hot Modern Track pada tahun 1991.

Terlepas dari pengkualifikasian grunge sebagai rock alternative, saya memandang bahwa musisi-musisi grunge secara factual menyajikan berbagai alternatif komposisi buat para apresiatornya. Kalau di era Trash Metal pattern band trash satu dengan band trash lainnya relatif gak ekstrim banget perbedaannya, maka di era grunge pattern music satu band grunge dengan band grunge lainnya bisa ekstrim banget perbedaannya. Nevermind-nya Nirvana akan sangat berbeda dengan Badmotorfinger-nya Soundgarden, Ten-nya Pearl Jam beda banget ama To Mother-nya Babes In Toyland, atau Jar Of Flies-nya Alice In Chains. Ya, paling-paling, sedikit persamaan band-band grunge itu adalah urusan optimalisasi sound distorsi atau teknik feedback pemain gitarnya aja.

Meskipun pattern music mereka relatif berbeda, tapi secara lirik band-band grunge rata-rata mengusung warna dan semangat yang sama. Lirik-lirik mereka biasanya bicara soal keterasingan diri, keterkungkungan, apatisme dan gairah buat ngebebasin diri dari segala macam problematika hidup. Dalam artikel “Grunge : A Success Story”-nya Rick Marin yang sempet tampil di New York Times, Simon Reynolds bilang,”…anak-anak grunge meneriakkan pemberontakan terhadap kultur lama, dan mengemukakan kekhawatiran yang sangat akan masa depan.” Tapi, gak semua juga lirik-lirik anak grunge mengemukakan kegelisahan berlebihan atau pesimistis akan diri, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Kurt Cobain, pernah nulis lirik satir dan lucu, untuk menyindir orang-orang diluar komunitas musik underground, yang sok tahu menerjemahkan pesan dalam lirik lagu-lagu yang dimaenin anak-anak underground. “He's the one/Who likes all our pretty songs/And he likes to sing along/And he likes to shoot his gun/But he knows not what it means,”ejek Cobain lewat In Bloom (Nevermind,1991). Dan buat nambah satir lagu ini, Nirvana tampil memarodikan gaya band-band tahun 1960-an dalam videoklipnya.

Buat saya, menikmati nomer-nomer grunge kayaknya gak cukup dengan menyetel keras-keras speaker atau headphone volume sendirian didalam kamar. Grunge Music kerasa lebih lezat kalo didengerin sambil headbang, moshing, ber-pogo, atau stage diving (loncat dari atas panggung). Karena para apresiator dan fanatikannya cukup merepresentasikan musik grunge lewat headbanging, ber-pogo dan lain sebagainya, sebuah konser grunge gak membutuhkan permainan dry-ice, lighting atau visual-effect (kayak yang dipake U2, Mick Jagger, Metallica, de-el-el, misalnya). Konser udah cukup meriah, ramai dan “rusuh”, tanpa embel-embel peralatan dan teknik canggih yang sebetulnya gak relasional ama komposisi musik. Mengenai hyper-active-nya musisi dan fans grunge tersebut, Jack Endino, bos label Sub-Pop (minor label pertama rekaman grunge), bilang,”… Seattle bands were inconsistent live performers, since their primary objective was not to be entertainers, but simply to ‘rock out.’”(dalam film dokumenter tentang aliran grunge, Hype !).

Untuk urusan pakaian-pun, para musisi dan penikmat grunge gak sampe ngeluarin berlembar-lembar dollar dari dompetnya. Band-band grunge, dari yang gak popular sampe yang paling popular kayak Nirvana, Pearl Jam dan Soundgarden, konon biasa belanja di toko pakaian bekas (disini semacam sisa ekspor-lah) yang di Washington, Amrik, sana dikenal dengan sebutan “thrift store”. Anak-anak grunge biasanya merasa nyaman memakai kemeja flannel, jeans belel, oblong tipis yang warnanya kusam or sedikit robek, dan juga celana gunung. Kemana-mana, jalan bareng pacar, kuliah, kerja, latihan band atau rock out di panggung, busana-busana kayak begitu aja yang mereka pakai. Yang saya liat sih, yang sedikit agak mahalan adalah dandanan Alice In Chains. Eh tapi, enggak juga deng, kadang-kadang luarnya pake Jas Kulit eh dalemnya pake singlet bolong (especially dandanan Layne Staley, vokalis, dan Jerry Cantrell, gitarisnya).

Setelah era grunge berakhir, sampe sekarang belum ada revolusi berarti, yang bisa dianggap memengaruhi trend musik rock dan fashion anak muda. Memang sih, beberapa waktu lalu sempet juga industri musik rock dipenuhi ama band-band Modern Rock semacam Linkin Park, Korn atau Limp Bizkit. Tapi, mereka-mereka itu baru sebatas muncul sebab faktor komersial dan keberpihakkan modal, bukan karena faktor kreatifitas tinggi, atau sebab semangat yang murni dan menggebu-gebu untuk menawarkan spirit cultural baru.

Comments

Popular posts from this blog

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running.  When I woke up I forgot I had a limp,  so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'.  Then I immediately stumbled.  That showed me that if you have control over your mind,  you can do anything…” -JASON BECKER Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988...

ETHIOPIA : IAN ANTONO SEORANG ARRANGER BERWAWASAN LUAS

pengalaman apresiasi karya Ian Antono bag.3 Lagi2 dari Radio Mara Bandung saya mendengarkan hits Iwan Fals berjudul Ethiopia. Dan lagi2 usai mendengar lagu yang asyik saya akan berkunjung ke toko kaset untuk membelinya. Setelah kaset dibeli, saya dengar sambil membolakbalik cover. Eh, tertulis disitu nama Ian Antono sbg.aranger khusus lagu Ethiopia (yg lain aransemen oleh Willy Soemantri). Saya, sebagaimana diceritakan sebelumnya, sudah terpikat dgn.aransemen beliau di lagu Grace Simon dan teknik hammer-on beliau di lagu Chrisye, tambah exciting saja waktu mengetahui aransemen Ethiopia dikerjakan Ian Antono. Bgmna tdk, lagu itu dibuka dengan beat dub a la musik afro, dgn.seni vokal a la suku2 Abesinia,ditingkahi suara hewan yg kelaparan. Tone kibord yg dipilih menambah keunikan dan suasana lagu tsb. Setelah byk menyimak musik dikemudian hari, mafhumlah saya bahwa apa yg dilakukan Ian Antono dlm lagu Ethiopia adlh indikator bhw beliau seorg. Aranger yg berwawasan luas. Mengingat...

JEFF HANNEMANN DALAM KENANGAN

(foto dari Wikipedia) (seperti dituturkan Dave Lombardo, ex-drummer Slayer pada Metal Hammer Magz) Pertama kali saya bertemu Jeff Hanneman pada tahun 1981. Saat itu, saya dan Kerry King (gitaris Slayer), berencana untuk membuat band. Kami bertiga berlatih di rumah orangtua saya. Kerry yang mengajak Jeff. Kesan pertama, Jeff itu seperti anak surfer yang pendiam. Rambutnya panjang banget, tinggal di Long Beach, dan biasanya orang-orang situ di rumahnya punya papan selancar. Saya pikir, anak ini keren dan cocok jadi anak band. Jeff berpengaruh banget ama Sound Slayer. Saya dan Kerry sebelumnya menyukai Judas Priest, Iron Maiden, Rainbow, dan Deep Purple. Sampai suatu hari, Jeff datang latihan dengan rambut yang dicukur bersih. Saya bertanya, “wah apa-apa lu, Jeff ?” Jeff bilang, “Gw sekarang pindah ke Punk, heavy metal sudah berakhir.” Jeff kemudian bawa berbagai vinyl dan kaset, dari kelompok-kelompok seperti Black Flag, TSOL, Minor Threat, Dead Kennedys dan Circle Jerks. ...