Skip to main content

BERKENALAN DENGAN SYNYSTER GATES




Nama aslinya, Brian Elwin Haner,Jr. Beberapa ponakan yang mengikuti jejak saya, jadi kolektor dan maen musik rock lebih mengenalnya dengan nama :Synyster Gates. Kalo mereka lagi ngobrolin Avenged Sevenfold (A7X), mereka biasa menyebut sang gitaris dengan panggilan singkat Syn. Darimana oom Eddy bisa tahu tentang Syn ? tanya mereka.Dari games Burn-Out keluaran EA Sport yang biasa oom maenin sama Rashif tiap Sabtu-Minggu. Wuih, pertarungan di track urban antar mobil-mobil modifikasi itu jadi tambah seru, kalo diiringi nomer "Burn It Down" from City Of Evil album-nya A7X. Gahar-lah sound yang dipilih Syn di nomer yang bikin adrenalin saya dan Rashif makin tinggi untuk menghajar dan membalap para pesaing lain di games Burn-Out tersebut.

Syn, pada mulanya adalah seorang otodidak yang tergila-gila sama improvisasi gitaris Jazz. Sehingga, untuk meng-upgrade kemampuannya bermusik, dia ikut Guitar Institute of Technology (GIT) Programme di Hollywood, ngambil jurusan khusus Jazz Guitar.Eksistensi sang ayah- Brian Elwin Haner senior,yang kerap dipanggil Papa Gates oleh fans A7X- yang gitaris Frank Zappa Band juga ikut mendorong Syn untuk total bermain musik.Selama setengah tahun Syn serius menekuni studinya, sampai kemudian ia dihubungi pihak A7X untuk masuk kedalam line-up grup tersebut yang berbasis di tempat kelahirannya, Huntington Beach, California. Ketimbang melanjutkan studinya di GIT, Syn lebih memilih untuk gabung dengan A7X dan aktif mempraktekkan kebolehannya sebagai musisi studio.

Usia Syn saat bergabung dengan A7X adalah 18 tahun (1999). Dia langsung terlibat penuh sebagai Lead Guitarist untuk album pertama A7X, Sounding The Seventh Trumpet. Dalam EP-nya A7X,Warmness On The Soul, Syn juga unjuk kebolehannya diatas tuts piano, lewat nomer-nomer seperti : The Beast and The Harlot" dan "Sidewinder."Di EP ini, selain Syn, bassist pertama A7X yang cabut dari band karena overdosis, Justin Meacham, juga memainkan beberapa part untuk keyboard, piano dan synthesizer.

Sebagaimana lazimnya musisi apalagi seorang gitaris, Syn punya beberapa orang person yang bisa dibilang major influence buat dirinya. Karakternya yang inovatif dipengaruhi oleh kekagumannya ama Django Reinhardt,musisi dan gitaris jazz kenamaan Eropa. Untuk urusan harmonisasi Syn terpengaruh berat ama gitaris klasik, Adam Aparicio. Secara performansi, meliputi fashion, model gitar dan aksi panggung, Syn punya influence Slash (eks-GNR,Velvet Revolver),almarhum Dimebag Darrell (Panthera,DamagePlan),dan John Petrucci (Dream Theater). Sama seperti Petrucci, Syn sempet juga ditahbiskan sebagai Young Shredder ama Metal Hammer Magazine pada tahun 2006. Waktu Guitar World mewawancarai Syn di edisi juni 2008 lalu, pas dia ditanya pengen sehebat siapa sebagai seorang gitaris rock, Syn menjawab : "Pastinya gue pengen sehebat Slash ! Sehebat gitaris-gitarisnya Ozzy Osbourne, kayak Alexi Laiho Children Of Bodom, kayak Jimi Hendrix juga, kayak Dimebag Darrell, Jimi Page... hahaha banyak banget kalo diabsen satu-satu, Man !"

Kekaguman Syn akan Slash, setali tiga uang sama kekaguman Zachary James Baker a.k.a Zacky Vengeance, rekannya di A7X sama eks-gitaris Guns N Roses dan pentolan Velvet Revolver itu. Chemistry keduanya dalam hal ini, bikin aksi mereka yang sempet saya saksikan Oktober lalu, punya kemiripan ama aksi Slash dan Izzy Stradlin di GNR dulu, atau aksi Slash dan Dave Kushner di Velvet Revolver sekarang. Sayang, waktu konser di Jakarta,Syn gak pake topi laken-nya yang kerap dianggap fans sebagai representasi kekagumannya ama Slash. Ya, konon sih topi laken itu lebih sering dipake Syn, kalo ada sesi foto atau video-klip, daripada waktu A7X lagi melakukan pertunjukan live.

Meskipun mengagumi Slash setengah mati, hebatnya Syn, menurut saya, dia justru berhasil muncul dengan karakter khas yang memungkinkan ia secara performa bisa juga disejajarkan ama para Shredder 70-an,80-an dan 90-an. Disamping penampilan, karakter permainan Syn-pun merupakan sesuatu yang baru dan asyik disimak. Optimasi teknik dan style-nya mencapai titik puncak di album City Of Evil (2005), sementara kematangannya sebagai shredder kentara mengemuka di album A7X Live in the LBC & Diamonds In The Rough. Proses evolusi Syn menuju gelar Young Shredder bisa disimak dari materi-materi A7X seperti : Warmness On The Soul, Unholy Confessions, Burn It Down, Bat Country, Beast and The Harlot, Seize The Day, Critical Acclaim, Almost Easy, Dear God dan Scream. Untuk evolusi performansi Syn menuju guitar legend, bisa disimak lewat beberapa video live A7X. Referensi saya, tonton abis aja DVD mereka All-Excess. Selain bakal menyaksikan aksi Syn yang gahar, kita juga bisa mengikuti perjalanan sebuah grup band yang kelak bakal jadi legenda rock ketika anak saya nomer satu, Rashif, sudah menginjak bangku kuliah. Ya, moga-moga aja kelak masih banyak shredder yang lahir dan mewarnai dunia musik, meskipun era digital kerap membawa ekses negatif bagi kreatifitas musisi. Ekses yang bikin musisi malas berkarya dan cenderung jadi korban para penikmat musik yang lebih suka meng-hack, sharing file, ketimbang mengoleksi rekaman para musikus rock dengan penuh kebanggaan. Inilah yang kerap bikin musisi-musisi kesal dan trauma, sebagaimana kesalnya Synyster Gates sama situs donlot musik, Napster."I have a personal problem with napster himself because the mutherfucker is gonna die. No, I'm just kiddin'. But he's a dork and I'm gonna kill him. Nah, I'm just kiddin'. But I would really kick the shit outta him because of the way he looks. Nah I'm just kiddin'. I really dont fuckin' like napster. "kutuk Syn sama situs yang ditengarai melakukan dan memelopori pelanggaran hak cipta yang berat di dunia maya tersebut.(eap)

Comments

kerreeennn bozzz!!!!
Anonymous said…
Stunning story there. What happened after? Good luck!
Anonymous said…
Good day! I could have sworn I've been tto this website before but after checking through some of the post I realized
it's new to me. Anyways, I'm definitely delighted I found it and I'll be bookmarking and checking back
often!

Popular posts from this blog

KISAH SEJATI JASON BECKER

One night I dreamed I was running.  When I woke up I forgot I had a limp,  so I walked totally normal until I remembered, 'oh, yeah, I have a limp'.  Then I immediately stumbled.  That showed me that if you have control over your mind,  you can do anything…” -JASON BECKER Temen-temen saya yang gitaris rata-rata kenal Jason Becker. Saya termasuk yang sangat antusias mempromosikan permainan Jason, sering ngambil referensi dari dia, setiap saya dan beberapa temen yang gitaris ngobrol di studio atau ketika nyantei di kafe. Jason Becker adalah gitaris Amrik yang brilian. Usia 16 tahun dia sudah dikenal sebagai salah satu virtuoso dan gitaris berbakat besar. Saat 17-18 tahun dia sudah merilis album yang betul-betul berkualitas, seperti Speed Metal Symphony (1987) & Go Off (1988). Saya termasuk kolektor yang beruntung, bisa mengoleksi dua masterpiece Jason Becker bareng kelompoknya (Cacophony) itu, tambah mengoleksi album solonya Perpetual Burn (1988...

ETHIOPIA : IAN ANTONO SEORANG ARRANGER BERWAWASAN LUAS

pengalaman apresiasi karya Ian Antono bag.3 Lagi2 dari Radio Mara Bandung saya mendengarkan hits Iwan Fals berjudul Ethiopia. Dan lagi2 usai mendengar lagu yang asyik saya akan berkunjung ke toko kaset untuk membelinya. Setelah kaset dibeli, saya dengar sambil membolakbalik cover. Eh, tertulis disitu nama Ian Antono sbg.aranger khusus lagu Ethiopia (yg lain aransemen oleh Willy Soemantri). Saya, sebagaimana diceritakan sebelumnya, sudah terpikat dgn.aransemen beliau di lagu Grace Simon dan teknik hammer-on beliau di lagu Chrisye, tambah exciting saja waktu mengetahui aransemen Ethiopia dikerjakan Ian Antono. Bgmna tdk, lagu itu dibuka dengan beat dub a la musik afro, dgn.seni vokal a la suku2 Abesinia,ditingkahi suara hewan yg kelaparan. Tone kibord yg dipilih menambah keunikan dan suasana lagu tsb. Setelah byk menyimak musik dikemudian hari, mafhumlah saya bahwa apa yg dilakukan Ian Antono dlm lagu Ethiopia adlh indikator bhw beliau seorg. Aranger yg berwawasan luas. Mengingat...

JEFF HANNEMANN DALAM KENANGAN

(foto dari Wikipedia) (seperti dituturkan Dave Lombardo, ex-drummer Slayer pada Metal Hammer Magz) Pertama kali saya bertemu Jeff Hanneman pada tahun 1981. Saat itu, saya dan Kerry King (gitaris Slayer), berencana untuk membuat band. Kami bertiga berlatih di rumah orangtua saya. Kerry yang mengajak Jeff. Kesan pertama, Jeff itu seperti anak surfer yang pendiam. Rambutnya panjang banget, tinggal di Long Beach, dan biasanya orang-orang situ di rumahnya punya papan selancar. Saya pikir, anak ini keren dan cocok jadi anak band. Jeff berpengaruh banget ama Sound Slayer. Saya dan Kerry sebelumnya menyukai Judas Priest, Iron Maiden, Rainbow, dan Deep Purple. Sampai suatu hari, Jeff datang latihan dengan rambut yang dicukur bersih. Saya bertanya, “wah apa-apa lu, Jeff ?” Jeff bilang, “Gw sekarang pindah ke Punk, heavy metal sudah berakhir.” Jeff kemudian bawa berbagai vinyl dan kaset, dari kelompok-kelompok seperti Black Flag, TSOL, Minor Threat, Dead Kennedys dan Circle Jerks. ...